Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Jatuh cinta.


__ADS_3

Tepat pukul 14.00 Wib, Karang terlihat sibuk mengecek keadaan pasien yang berada di bangsal 12. Kini langkahnya terhenti pada ranjang nomor 4 yang ditempati oleh pasien yang bernama Annisa penderita usus buntu.


"Bagaimana keadaannya hari ini?" Tanya Karang ramah.


"Sudah lebih baik dok!" Jawab Annisa dengan berusaha memamerkan senyuman terbaiknya.


"Bagus, apa ada rasa sakit lainnya? Tiba-tiba pening atau mual?" Tanya Karang memastikan.


"Nggak dok." Jawab Annisa.


"Okay, saya akan berikan resep obat nanti, kalau perkembangannya semakin pesat gini, mungkin besok atau lusa kamu akan saya bolehkan pulang!" Jelas Karang.


"Apa? Pulang? Kan baru kemaren operasi kok langsung pulang sih dok?" Tanya Annisa.


"Kan tadi sudah saya jelaskan, kamu pulih dengan cepat, jadi kamu bisa cepat pulang!" Jelas Karang.


"Tapi aku betah lama-lama disini." Jelas Annisa.


"Lah bukankah seharusnya kamu senang bisa cepat keluar dari rumah sakit?" Tanya Karang heran.


"Tapi aku lebih betah disini, soalnya bisa lihat dokter terus." Jelas Annisa.


"Kamu ini, udah ntar kalau udah sembuh total kamu tetap masih bisa ketemu sama aku kok, tapi ingat jaga kesehatan dengan baik." Jelas Karang.


"Tapi tetap aja aku lebih senang disini, bisa dapat perhatian dokter tiap hari." Jelas Annisa.


"Nisa kamu..." Ujar Karang karena mendapat tatapan dari para perawat yabg ikut bersamanya, bukan hanya perawat bahkan pasien lainnya juga ikut menjadikan Karang dan Annisa sebagai tontonan yang tidak bisa dilewatkan.


"Aku suka sama dokter, aku jatuh cinta sama dokter!" Jelas Annisa pasti.


"Nisa..." Tegur sang mama yang sejak tadi berdiri disamping ranjang sang putri.


"Nisa, jaga kesehatan mu baik-baik, aku permisi!" Jelas Karang dan lekas keluar dengan langkah yang terburu-buru.


"Siang dokter ganteng!" Sapa beberapa perawat yang dilintasi oleh Karang.


"Siang!" Jawab Karang dengan senyuman lalu buru-buru kembali ke ruangannya.


"Waaaaah, langsung memerah aja nih pipi, waaaah, aku meleyot!" Ujar Karang dengan senyuman lebar.


"Dapat bonus atau apa sih? Senang banget keliatannya?" Ranya Vee dengan tangan yang langsung menepuk kasar lengan kanan Karang.


"Lebih dari sekedar bonus, kayak dapat harta karun!" Jelas Karang masih begitu girang.


"Apaan sih? Ayo cerita!" Pinta Vee.

__ADS_1


"Nggak boleh! Yang jelas saat ini serasa dunia milik ku seorang, aku bahagia banget!" Jelas Karang.


(Apaan sih? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa abang terlihat sangat bahagia, aku kira dia tidak akan sebahagia ini selain bersama ku, ternyata aku keliru, aku salah, aku benar-benar dibuat penasaran, sebenarnya apa yang membuat dia begitu bahagia, atau mungkin....?" Gundah hati Vee dengan segudang rasa penasaran yang menggerogoti aka sehatnya.


"Senang kenapa sih?" Tanya Vee lalu duduk di samping karang.


"Rahasia!" Tegas Karang.


"Abang, aku sedang jatuh cinta!" Jelas Vee tiba-tiba.


"Jatuh cinta? Waaah, sama! Abang juga sedang jatuh cinta. Lalu? Siapa cowok yang membuat hati mu luluh lantah gini?" Tanya Karang.


"Aku jatuh cinta sama ..." Penjelasan Vee menggantung dengan mata yang terus menatap Karang.


"Gimana kalau kita beritaunya secara bersamaan aja, gimana?" Tawar Karang.


"Hmmm, ayo!" Ujar Vee.


"Satu, dua tiga....aku jatuh cinta sama...." Ujar keduanya serentak.


"Annisa!" Lanjut karang lantang.


"Annisa?" Ulang Vee dengan suara yang melemah sempurna.


"Iya Annisa, pasien abang yang paling cantik dan kalem. Terus kamu? Kamu jatuh cinta sama siapa?" Tanya Karang.


"Siapa?" Ulang Karang.


"Vikar..." Jawab Vee ngasal dan wajah yang tertunduk kebawah.


"Kamu ini, aku kira kamu nggak bakal jatuh cinta, tapi akhirnya setelah sekian lamu, kamu bisa juga jatuh cinta, selamat! Kirim salam abang untuk pacar mu!" Jelas Karang.


"Hmmm, nanti akan aku sampaikan, kalau gitu aku pamit pulang!" Ujar Vee.


"Loh, kenapa buru-buru?"  Tanya Karang.


"Aku harus pulang sekarang, bye!" Jelas Vee dan langsung keluar dari ruangan Karang.


Karang masih saja duduk di sofa.


"Kenapa tiba-tiba perasaan aku nggak enak banget gini ya? Kenapa rasanya dada ini sesak sekali? Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa aku mejadi serba salah begini?" Keluh Karang pada dirinya sendiri.


______


Vee langsung meluncur pulang ke rumahnya. Ternyata diteras rumah sana ada Anggie yang sedang ngobrol bersama Tuti, saat Vee terlihat keduanya langsung menoleh kearah Vee yang terus melangkah mendekat ke teras. Semakin dekat semakin terlihat jelas bahwa saat ini Vee sedang kesal, wajahnya dipenuhi dengan amarah yang siap meledak.

__ADS_1


"Kesel, kesel, kesel..." Teriak Vee dengan suara lantang dan muka masam.


"Kenapa? Apa kamu berkelahi lagi di sekolah?" Tanya Anggie yang paham dengan kelakuan sang anak.


"Siapa yang berkelahi coba? Ini tuh ulah dokter kesayangan mami!" Gumam Vee semakin kesal.


"Karang buat ulah apa lagi? Ayo cerita sama tante." Pinta Tuti.


"Tau deh tuh orang, hobi banget buat orang kesel dan emosi." Cetus Vee.


"Mami yakin kamu yang nyari gara-gara, pasti kamu yang gangguin Karang kan?" Tuduh Anggie.


"Ah mami, terus saja belain selingkuhan mami!" Cetus Vee.


"Udah sayang tenang aja, ntar biar tante yang ajarkan sopan santun sama tuh anak, biar lembut sama cewek, jangan asal caplas ceplos aja." Jelas Tuti dan langsung memeluk erat tubuh Vee dengan penuh kasih sayang, lalu Vee segera masuk ke dalam.


"Mbak jangan terpengaruh sama omongan Vee, dia aja yang cengeng, suka gangguin Karang, bahkan setiap hari kerjaannya ngerepotin Karang, gimana Karang nggak kesal coba." Jelas Anggie yang justru berpihak pada Karang.


"Anggie, yang salah itu Karang, selalu aja memperlakukan Vee dengan kasar, emang tuh anak harus di ajarin bersikap lembut dan baik bukan malah jadi brandalan gitu." Jelas Tuti.


"Aku jadi bingung sama mereka berdua, saling membutuhkan tapi setiap hari terus aja bertengkar." Jelas Anggie.


"Entahlah, aki juga nggak paham dengan mereka berdua, ya udah aku pamit pulang ya!" Jelas Tuti lalu pulang ke rumahnya.


Tepat pukul sepuluh malam, dengan penuh rasa lelah dan letih, Karang baru saja sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Karang lekas masuk kedalam rumah.


"Malam ma, pa!" Sapa Karang saat melintasi ruang Tv dimana kedua orang tuanya sedang bersantai menikmati tontonan malam.


"Ayo duduk sini sebentar!" Pinta Tuti.


"Iya ma!" Jawab Karang dan langsung duduk disamping sang papa.


"Karang, kamu apakan lagi Vee?" Tuti langsung menyerang Karang yang pertanyaan yang sontak membuat Karang kaget.


"Maksud mama apa? Aku nggak ngerti! Emangnya apa yang aku lakukan?" Tanya Karang.


"Tadi siang habis ketemu kamu, dia pulang dengan sambil nangis dan marah-marah, itu pasti ulah kamu kan?" Tuduh Tuti.


"Karang, jangan kasar sama Vee, dia itu adik kamu, kalian tumbuh sama-sama sejak dia masih SD dulu, jadi sedikit saja kamu bicara kasar dia pasti akan terluka." Jelas Antoni yang tak lain adalah papanya Karang.


"Ma, pa, benaren aku nggak melakukan apapun sama dia, aku nggak salah!" Jelas Karang membela diri.


"Kalau kamu nggak buat ulah mana mungkin Vee nangis-nangis." Cetus Tuti.


"Terserah mama aja deh, aku lelah, butuh istirahat." Jelas Karang yang yang langsung menuju kamarnya yang ada di lantai dua sana.

__ADS_1


Setelah mengganti baju dan celana, Karang bergegas keluar menuju balkon kamar dengan pandangan yang langsung tertuju kearah balkon kamar Vee, berharap ia bisa melihat Vee, namun kenyataannya Vee sama sekali tidak ada di sana.


________


__ADS_2