
Mata Vee yang terlihat mulai melemah namun terus menatap dalam wajah Karang membuat Karang seketika mendekap wajah Vee dengan kedua tangannya. Galang terus berusaha mengecek keadaan Vee, dia terus saja mencoba untuk menyelamatkan Vee dari keadaan kritis yang saat ini membuat seisi ruangan panik dan mulai ketakutan.
Vee masih saja memamerkan senyuman termanisnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Anggie mulai menyentuh tangan kanan Vee dengan penuh kelembutan.
"Mami, tolong jaga abang Karang dengan baik, teruslah menyayanginya..." Ucap Vee pelan.
"Hmmmm, mami akan terus menyayanginya, dia kan anak kasayangan mami." Jelas Anggie dengan berusaha menahan isak tangis.
"Tante, ini bukan salah abang, jadi jangan salahkan dia. Aku titip abang." Ucap Vee.
"Tidak, tante tidak akan menerimanya, jangan titipkan dia pada tante, kamu sendiri yang harus menjaga dan mengurusnya, tante tidak mau, jadi cepatlah sembuh." Tegas Tuti dengan air mata yang lolos dari pertahanannya.
"Tante..." Ujar Vee dengan suara yang semakin pelan.
"Berhenti bicara omong kosong! Galang apa yang terjadi, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya?" Tanya Karang yang semakin panik.
"Tidak ada yang harus dilakukan. Abang Galang tolong jaga dia ya! Aku dan kak Rena percaya kalau abang Galang bisa menjaga abang Karang dengan lebih baik. Tolong, kalian jangan menangis lagi, biarkan aku pergi dengan tenang, hmmmm." Jelas Vee bersamaan dengan seulas senyuman manis lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
___________
"Buruan....!" Teriak Galang yang terus menyeret Karang untuk segera ikut bersamanya ke ruang operasi.
Meski dengan wajah yang dipenuhi rasa kesal, namun langkah Karang terus mengikuti Galang tanpa protes sama sekali.
Sejak tadi pemandangan antara kedua dokter tersebut cukup mencuri perhatian seorang dokter muda yang baru beberapa hari ini magang di rumah sakit tersebut.
"Begitulah cerita tentang hubungan mereka berdua, jadi kamu jangan terkejut kalau sering melihat mereka berdua dengan dunianya yang terkadang membuat kita salah paham dengan hubungan antara mereka berdua." Jelas Andri setelah mengakhiri cerita panjang tengang Vee, Karang dan Galang.
"Beruntung sekali cewek yang bernama Vee tersebut, sampai dia sudah pergi untuk selamanya pun mereka masih memberikan tempat terindah dihati mereka untuknya, aku jadi iri padahal aku sama sekali tidak mengenalnya." Jelas Devia setelah mendengar kisah Diantara Galang dan Karang dari Andri.
__ADS_1
"Hmmmm, diantara mereka berdua akan selalu ada Vee, sampai selamanya." Ujar Andri dengan menarik nafas dalam sertas tersenyum penuh rasa bangga terhadap kedua dokternya.
"Aku hampir saja salah paham, aku kira mereka berdua nggak normal!" Ujar Devia pelan lalu tertawa cekikikan.
"Ups, jaga ucapan mu, jangan sampai mereka dengar kalau tidak awas saja, dokter Karang pasti tidak akan membiarkan magang mu berjalan dengan lancar." Jelas Andri lalu pergi meninggalkan Devia yang masih berdiri didepan meja resepsionis.
"Beruntung sekali kamu, Vee. Dicintai dan disayangi sama dua orang baik sekaligus, pasti hidup mu sangat menyenangkan. Huffffff, ayo Dev, kamu juga beruntung, semangat!" Tegas Devia pada dirinya sendiri dan lekas pergi dari sana.
Karang dan Galang baru saja keluar dari ruangan operasi secara bersamaan, lalu menuju ke ruang ganti. Karang perlahan duduk dilantai dengan menyandarkan punggungnya pada loker milik dirinya sendiri.
"Hufffff, capek banget, dari pagi sampe sore kerjaannya keluar masuk ruang operasi doang, huffff!" Keluh Karang dengan menekuk wajahnya ke bawah.
"Lalu kami kira kerjaan dokter itu apa? Syuting? Modeling? Aneh-aneh aja deh!" Celetuk Galang yang mulai mengganti baju.
"Kamu aja yang gila kerja, auw ah pusing aku!" Gumam Karang kesal.
"Kenapa lagi? Kamu bakal nyeret aku kemana lagi? Aku mau istirahat!" Tegas Karang yang bahkan sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Bukankah hari ini kita bakal kencan?" Tanya Galang.
"Aaah ah! Ini semua gara-gara kamu, hampir saja aku lupa sama kencan yang ke tiga bulan." Jelas Karang yang langsung secepatnya kilat bergerak lalu ganti pakaian lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Ciiiih, giliran waktu kencan aja langsung main nyosor sendiri, dasar bocah gila!" Gumam Galang yang segera mengikuti langkah karang.
"Dokter mau pulang?" Tanya Devia saat berpas-san dengan Karang tepat dipintu keluar rumah sakit.
"Iya." Jawab Galang dengan senyuman.
"Aaaah hmmm!" Ujar Devia karena mendapat jawaban dari Galang yang muncul tepat dibelakang Karang padahal pertanyaan tersebut ia ajukan untuk Karang.
__ADS_1
"Buruan ntar telat!" Tegas Karang yang segera menuju mobilnya yang ada di parkiran sana.
"Bye! Maaf, karena kami lagi buru-buru soalnya janjian buat kencan, bye bye!" Jelas Galang dengan senyuman dan lekas menyusul Karang yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Waaaaaah! Siapa yang nggak bakal mikir yang aneh-aneh sih, mereka aja yang membuat kita kebingungan. Kencan? Mereka berdua, haissssshhh aufffff! Lama-lama bisa gila benaran aku! Gila karena magang, no! Gila karena tingkah dokter, yes! Huffff" Ujar Devia pada dirinya sendiri dengan mengusap pelan dadanya agar bisa berpacu denhan normal.
________
Tubuh nan tinggi dan kekar milik Karang kini terlihat berdiri tegak dengan mata yang terus saja menatap pada nisan yang bertuliskan #Veeliria Agnesia Kanayya Rajaksa Binti Salman Rajaksa# perlahan tangan Karang mengulurkan setangkai mawar putih lalu meletakkannya diatas makam gadis yang begitu ia cintai. Dari sisi kiri Galang juga meletakkan setangkai mawar tepatnya disamping mawar yang baru saja beberapa detik diletakkan oleh Karang.
"Sayang Abang datang!" Ucap Karang dengan tatapan yang tak karuan.
"Sudah tiga bulan, tapi rasanya kamu beru pergi tadi pagi. Vee, aku sangat merindukan mu." Jelas Galang lalu perlahan duduk dengan tangan yang menyentuh batu nisan tersebut.
"Ini kencan kita yang ke tiga bulan. Yap, hubungan kita sudah tiga bulan lamanya, ternyata udah lama ya kita jadian. Besok mau abang bawakan bunga apa lagi? Hmmm?" Jelas Karang.
"Vee, lihatlah kami, kami udah bekerja keras dan berkerja dengan sangat baik sebagai seorang dokter, kamu pasti sangat bangga sama kami, iya kan?" Jelas Galang.
"Kami? Ciiiih! Aku doang!" Tegas Karang.
"Tuh ka, kamu lihat sendiri kan Vee, betapa sabarnya aku menjaga titipan mu itu? Dia benar-benar nyusahin hidup aku, harusnya kamu dan Rena tidak menitipkan bocah gila ini pada ku, harusnya kalian sendiri yang menjaganya. Re, abang sudah menjaga teman mu dengan baik dan kamu Vee, aku sama sekali tidak ingkar janji kan? Pacar mu benar-benar aku rawat dengan penuh kasih sayang. Jadi tolong, beristirahat lah dengan tenang! Aku mencintaimu kalian berdua." Jelas Galang dengan menitikkan air mata.
"Re...(Sejenak mata Karang menatap pada makam Renata yang terletak tepat di sisi kiri makam Vee) terima kasih sudah mengirimkan orang aneh ini dalam hidup aku, dan kamu Vee, terima kasih karena telah menitipkan abang pada orang yang tepat, abang janji abang akan hidup seperti harapan mu, abang mencintai mu, Vee." Jelas Karang lalu beranjak melangkah meninggalkan kedua makan tersebut.
Matahari mulai beranjak tenggelam, membuat Galang juga ikut beranjak menyusul Karang yang perlahan melangkah dari sana.
"Sampai jumpa besok, abang sayang kalian berdua! Bye bye gadis-gadis cantik ku."Ucap Galang dengan senyuman.
_________
__ADS_1