
"Abang..." Panggil Vee dengan suara lembut lalu perlahan duduk berlutut tepat dihadapan Karang.
"Ada apa lagi? Ngapain kamu ke sini? Apa lagi yang ingin kamu dengar dari abang?" Tanya Karang lalu melepaskan tangan dari rambutnya yang sejak tadi ia genggam.
"Aku, aku..." Keluh Vee dengan suara yang terdengar jelas begitu gemetar.
Perlahan Vee memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan Karang lalu menggenggamnya dengan erat.
"Ada apa lagi? Hmmmm?" Tanya Karang.
"Aku, aku, aku..." Vee terus saja mengulang kata "aku" ia terlihat begitu takut untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku apa? Sebenarnya apa sih mau kamu? Bicara!" Gumam Karang yang terlihat mulai kesal.
"Aku, aku mencintai abang..." Tegas Vee bahkan dengan menutup rapat keduanya matanya.
"Haaaah! Vee aku tau!" Tegas Karang dengan senyuman sinis.
"Benarkah?" Tanya Vee yang sontak membuka matanya lalu menatap dalam wajah Karang yang berada dihadapannya.
(Tunggu, barusan dia bilang 'aku' apa maksudnya? Sejak dulu dia tidak pernah bicara seperti itu dengan ku, dia selalu menyebutkan dirinya dengan kata 'abang', lantas apa yang terjadi? Kenapa jadi tambah parah gini? Apa dia marah dengan pernyataan aku barusan? Tapi...)
Gundah hati Vee yang sibuk menerka perubahan sikap Karang secera mendadak terhadapnya.
"Loh? Kenapa jadi melamun nggak jelas? Vee, abang tau kalau kamu mencintai abang Galang mu itu kan? Abang tau semuanya!" Jelas Karang yang langsung menyadarkan Vee dari lamunannya.
"Abang Galang?hmmmm..." Ujar Vee dengan terbata-bata.
"Iya, abang tau kalau kamu dan doktwr Galang saling mencintai." Tegas Karang.
"Lalu, apa abang Karang mencintai ku? Apa abang punya perasaan terhadap ku?" Tanya Vee.
__ADS_1
"Mencintai mu? Haaaah! Kenapa? Jawaban apa yang ingin kamu dengar?" Karang justru balik mengajukan pertanyaan.
"Jawab! Ayo jawab! Apa abang Karang mencintai ku sebagai seorang wanita?" Ulang Vee kini dengan suara yang lebih jelas dan lantang.
"Abang sama sekali tidak mencintai mu, abang tidak pernah menganggap kamu sebagai seorang wanita. Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu jatuh cinta sama abang?" Jelas Karang dengan kembali mengajukan pertanyaan yang sama untuk Vee.
"Aku? Abang bertanya tentang perasaan aku terhadap abang? Jangan gila, untuk apa aku harus mencintai cowok yang modelnya kayak abang!" Gumam Vee.
(Huuuf, kenapa rasanya ingin nangis! Bagus dong kalau dia benar-benar mencintai Galang!) Ungkap hati Karang sambil terus berusaha menahan diri.
(Setelah memastkan dengan jelas, kenapa malah semakin sesak rasanya saat tau kalau dia benar-benar tidak pernha sedikit mu memiliki rasa cinta pada ku? Sakit banget, tapi, mau tidak mau aku tetap harus bisa menerima kenyataan bahwa dihati dia sama sekali tidak ada aku!) Tegas hati Vee menyakinkan dirinya untuk tetap bisa baik-baik saja meski harapannya dihantam kasar oleh kenyataan yang baru saja ia alami.
Kedunya terdiam seribu bahasa dengan mata saling menatap satu sama lainnya. Vee berusaha untuk tersenyum dia tidak ingin Karang melihat sisinya yang sedang terluka dan menangis pilu. Seketika Karang bangun dari duduknya dan tanpa menunggu lebih lama lagi kedua tangan Karang langsung mendekap erat tubuh Vee kedalam dekapannya dengan diikuti dengan air mata yang perlahan lolos dari pertahanannya.
(Pelukan ini rasanya hangat sekali, membuat aku tidak ingin lepas, aku merasa sangat tenang saat berada dalam dekapannya, perasaan ku tidak bisa aku bohongi sama sekali, aku benar-benar sangat bergantung padanya, aku terlanjur jatuh cinta padanya, aku sangat mencintainya, laly bagaimana sekarang, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa tetap waras?) Gundah hati Vee yang semakin kalang kabut karena mendapat pelukan dari Karang.
"Kita memang tidak saling mencintai, tapi setidaknya kita tetangga dan kita masih bisa sahabatan terus kan?" Tanya Karang lalu sedikit melonggarkan dekapannya.
Karang melepaskan pelukannya lalu kedunya kembali saling menatap satu lama lain.
"Best friend!" Ujar Karang lalu mengecup lembut kening Vee.
"Hmmmm, aku..." Ujar Vee yang dibuat salah tingkah karena perlakuan Karang.
"Vee, abang...!" Ujar Karang tertahan.
"Aku harus pulang, bye!" Tegas Vee dan langsung melarikan dari dari kamar Karang.
_______
Setelah memastikan bahwa malam ini Galang ada di rumah sakit, secepat kilat Vee langsung meluncur menuju rumah sakit untuk menemui Galang.
__ADS_1
Di dalam ruang kerja sana, tepatnya diatas sofa terlihat sosok Vee yang duduk dengan di dampingi oleh Galang yang berada di sisi kanannya.
"Abang Galang, sekatang aku harus gimana? Keadaannya benar-benar kacau, semunya berantakan, tidak berjalan sesuai dengan rencana kita, aku bingung harus gimana! Aku benar-benar ketakutan jika aku harus hidup tanpa abang Karang di samping ku." Keluh Vee dengan wajah yang terlihat jelas begitu sedih dan juga gelisah.
"Vee, tenanglah dulu! Aku janji, kalau aku akan menyatukan kalian berdua, percayalah padaku." Jelas Galang berusaha memghibur Vee.
"Abang tau nggak? Kalau saat ini abang Karang berpikir kalau kita sedang pacaran, dan dia justru mengingatkan aku agar selalu setia sama abang. Keadaan ini sungguh menyiksa ku! Abang tau sendiri kan, kalau aku sangat mencintai abang Karang, aku takut dia malah akan menjauh dari aku untuk menjaga perasaan abang." Jelas Vee yang mulai meneteskan air mata.
"Ini semua terjadi karena rencana ku, maka aku yang akan bertanggung jawab atas semua kelacauan ini, aku akan bicara dengan Karang." Jelas Galang lalu perlahan menyentuh pundak Vee, mengusapnya pelan, agar Vee bisa sedikit lebih tenang.
"Terima kasih!" Ucap Vee.
Di saat kedunya saling diam dengan menatap sama sama lain dan tangan Galang yang masih menempel pada pundak Vee, disaat itu pula pintu ruangan tersebut di buka dari luar dan muncullah sosok Karang yang mengenakan Hoodie abu-abu dan celana pendek.
"Khhmmmmmm! Ini masih ruangan kerja kan? Kalian tidak berniat untuk mengubah ruangan ini menjadi tempat kencan kan?" Cetus Karang yang langsung duduk di kursi kerjanya.
"Abang Karang..." Ujar Vee dengan perlahan mengusap air matanya.
"Kenapa? Apa aku mengganggu suasana romantis kalian? Apa aku harus cari ruang kerja lain?" Tanya Karang dengan tangan yang mulai membuka data pasien yang ingin ia temui malam ini.
"Nggak kok, tenang aja, kamu sama seki nggak ganggu kok." Jelas Galang.
"Harusnya emang gitu kan! Toh ini bukan tempat kencan." Cetus Karang lalu kembali fokus kerja setelah tadi sempat melirik kearah Vee.
"Abang Galang, sebaiknya aku pulang aja, aku pamit, assalamualaikum." Ujar Vee lalu bangun dari sofa.
"Pulang? Apa itu karena kedatangan aku? Kalau memang aku ganggu kalian, fine! Biar aku yang keluar jadi kalian tidak perlu bubar, lanjutkan kencan romantis kalian!" Jelas Karang lalu menutup data yang ada ditangannya dan hendak melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Karang, tunggu!" Pinta Galang yang membuat langkah Karang terhenti dan Vee juga ikut menoleh kearah Galang.
💜💜💜
__ADS_1