Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Marah


__ADS_3

Vee baru saja selesai dengan rutinitas mandi, lalu mengenakan kemeja kotak-kotak, celana kulot serta jilbab yang ia lilitkan begitu saja di kepalanya, ia beranjak keluar menuju balkon kamar. Awalnya mata Vee fukos menikmati keindahan langit yang begitu cerah namun seketika pandangnya langsung mengarah ke balkon kamar milik Karang dan ternyata disana terlihat jelas sososk Karang yang sedang duduk menikmati secangkir kopi dengan kepala yang justru masih tertutup dengan handuk putih.


"Jadi benaran nih abang marah sama aku? Tentang kejadian tadi?" Tanya Vee dengan suara lantang dengan tubuh yang menempel pada besi pembatas.


"Ngomong sama siapa? Emang disini ada dokter incaran mu itu? percuma ngomong nggak guna, gebatan mu nggak ada disini!" Jelas Karang.


"Aku tuh lagi ngomong sama dokter Karang! Dasar begok!" Cetus Vee kesal dengan sikap Karang.


"Bukannya sudah abang tegaskan kalau hubungan kita udah the and, berakhir!" Jelas Karang.


"The And? Berakhir? Macam kita lagi pacaran aja! Udah ah, aku serius, soal tadi, aku minta maaf." Pinta Vee.


"Nggak perlu!" Jawab Karang tegas.


"Loh, kok nggak perlu? Kenapa?" Tanya Vee yang memang tidak bisa memahami Karang yang saat ini.


"Abang sama sekali nggak butuh kata maaf kamu!" Tegas Karang kali ini dengan suara kasar.


"Lalu aku harus bagaimanapun?" Tanya Vee yang mulai merendahkan intonasi bicaranya.


"Jangan lagi ganggu abang, jangan repotkan abang dengan segala masalah mu, apapun itu." Jelas Karang.


"Jadi abang benaran marah sama aku?" Tanya Vee memastikan dengan rasa sedih yang sekuat tenaga ia coba tahan agar tidak terlihat oleh Karang.


"Berapa kali lagi harus abang tegaskan? Abang muak sama semua tingkah kamu yang selalu saja memperlakukan abang sesuka selera mu." Jelas Karang dan langsung masuk ke kamarnya.


Tanpa terasa perlahan air mata mulai menetes membasahi pipinya, seketika suasana hati Vee mendadak berubah menjadi begitu suram, ada rasa sakit dan kecewa yang menyerang secara bersamaan membuat dada Vee sesak dan seluruh tubuh bergetar hebat, langkah seakan melemah bahkan ia harus tertatih hanya untuk kembali ke kamarnya.


Rasanya lebih perih dari pada di putuskan oleh sang kekasih, tanpa sebab yang jelas, dunia Vee seketika gelap gulita, ia hanya bisa menangis dengan terus mencela bahkan memaki dirinya sendiri. Semenjak tadi hingga malam hari Vee hanya menghabiskan waktunya dengan menangis di kamarnya.


_______


Karang yang baru saja tiba di ruang kerjanya langsung di datangi oleh seorang suster membuat Karang yang hendak duduk kini masih saja berdiri di depan meja kerjanya.


"Apa ada pasien darurat?" Tanya Karang.


"Hmmm, Annisa pasien dokter Karang yang baru saja pulang kemaren, malam ini kembali masuk rumah sakit dan keadaannya justru lebih parah dari sebelumnya." Jelas Suster tersebut.

__ADS_1


"Apa? Okay, aku kesana sekarang!" Jelas Karang yang segera bergegas menuju UGD.


Annisa terlihat terbaring lemah tanpa tenaga sama sekali, Karang perlahan mendekat dan segera memeriksa keadaan sang pasien.


"Dokter Karang..." Panggil Annisa dengan suara pelan dan tertahan.


"Nisa, kenapa tiba-tiba kamu jadi drop gini? Padahal keadaan kamu kemaren sudah cukup membaik!" Tanya Karang khawatir.


"Sudah aku katakan kalau aku tidak ingin pulang!" Jelas Annisa.


"Nisa..." Ujar Sang ibu yang berdiri tepat disisi kiri Annisa.


"Jujur, katakan yang sebenarnya terjadi? Kenapa penyakit kamu bisa kambuh gini?" Tanya Karang.


"Aku tidak meminum obat dan aku melanggar semua larangan dokter!" Jelas Annisa.


"Nisa, kamu...!" Gumam Ibunya yang terlihat jelas begitu marah.


"Apa? Nisa kamu tau kalau sikap kamu ini sangat berbahaya, kalau gini caranya kamu akan sulit sembuh!" Jelas Karang.


"Nisa!" Gumam Karang.


"Bila sakit adalah satu-satunya cara agar aku bisa dekat sama dokter, maka aku lebih memilih sakit, aku rela sakit asal bisa dekat terus sama dokter!" Jelas Annisa dengan tangan yang perlahan menyentuh lengan Karang.


"Vee...!" Ujar Karang.


"Vee? Siapa Vee? Aku Nisa bukan Vee!" Jelas Annisa.


"Maaf, maksud aku Nisa, aku mohon kamu jangan nekat, itu bahaya!" Jelas Karang.


"Apa dia pacar dokter?" Tanya Karang.


"Siapa maksud mu?" Tanya Karang lalu perlahan menarik lengannya dari genggaman Annisa.


"Vee!" Tegas Annisa.


"Sudahlah, tidak penting siapa Vee, yang jelas kamu harus sembuh." Tegas Karang.

__ADS_1


"Apa dia begitu penting bagi dokter?" Tanya Annisa.


"Nisa, jangan keterlaluan kamu!" Ujar Ibunya mengingatkan.


"Istirahatlah! Sus, bawa dia ke ruang inap, setelah pemeriksaan labnya keluar, aku akan kembali menemui mu, Nisa. Bu, saya permisi." Jelas Karang yang bahkan langsung berjalan keluar dari UGD.


Karang terus saja berjalan dengan penuh kebingungan, langkah yang terasa rapuh, perasaan campur aduk semua hal itu cukup membuat sisi waras Karang menghilang entah kemana. Tangan yang perlahan membuka pintu ruangannya seketika terhenti begitu pula dengan langkah kakinya, pandangannya tertuju tepat kearah sofa sana dimana Vee sedang menangis terisak di dalam pelukan Galang. Pemandangan yang sukses membuat hatinya terluka, tangannya kembali menutup rapat pintu lalu pergi begitu saja.


"Udah dong Vee, jangan nangis terus. Ini bukan masalah besar, kamu tenang dulu!" Pinta Galang dengan terus mencoba menenangkan keadaan Vee yang terlihat begitu kacau berantakan.


"Aku takut banget, aku takut kalau sampai abang Karang akan terus menerus marah sama aku, padahal aku sendiri nggak tau dimana letak salah aku, lantas bagaimana cara aku memperbaikinya?" Jelas Vee.


"Vee, untuk saat ini Karang hanya terbawa emosi saja, kamu tenanglah, percaya sama aku, semua pasti akan segera membaik seperti semula." Jelas Galang.


"Tapi bagaimana kalau abang Karang benar-benar tidak ingin bertemu dengan aku lagi? Aku harus bagaimana?" Tanya Vee dengan tangis yang kembali pecah seketika.


"Vee, dengarkan aku! Karang bukanlah orang yang akan dengan mudah melepaskan miliknya, aku tau persis bagaimana sikap Karang, aku tau kalau dia tidak akan pernah bisa marah sama kamu, jadi aku mohon berhentilah menangis!" Jelas Galang dengan jemari yang perlahan mengusap air mata Vee.


"Aku benar-benar takut!" Jelas Vee.


"Tenangkan diri mu, percayalah, kalau semuanya akan baik-baik saja!" Jelas Galang dengan senyuman.


"Hmmmm!" Ujar Vee pelan.


"Nah, sekarang pulanglah! Lalu temui Karang besok, ingat tenangkan diri dulu, baru kembali bicara dengan Karang." Jelas Galang.


"Hmmm, baiklah! Aku pulang!" Ujar Vee.


"Vee...!" Panggil Galang yang kembali membuat Vee menoleh kearahnya yang masih duduk di sofa.


"Hati-hati dan semangat!" Ujar Galang.


"Hmmm, semangat! Terima kasih banyak abang Galang!" Ujar Vee dengan berusaha untuk tersenyum sebelum ia kembali melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Vee keluar dari ruang kerja Galang lalu perlahan melangkah menelusuri setiap lorong rumah sakit menuju pintu keluar, di saat Vee terus saja melangkah secara tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Vee dengan begitu kuat hingga membuat tubuh Vee tertarik ke salah satu lorong yang sedang ia lewati.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2