Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Masa Lalu (Part_2)


__ADS_3

Pertanyaan yang Renata ajukan, membuat suasana membeku seketika, mereka terdiam tanpa suara. Karang masih mematung dengan perasaan kacau sedangkan Vee terlihat begitu larut dalam isak tangisnya. Kenzo perlahan memgambil alih pembicaraan antara Karang dan Renata. Suara tawa Kenzo tiba-tiba memecah kesunyian.


"Renata, Renata, apa saat ini kamu sedang mengkhawatirkan selingkuhan pacar mu? Konyol sekali kalian berdua! Apa sejak awal kamu memang tau kalau Karang tidak tulus pada mu?" Tanya Kenzo.


"Ken, kamu akan menyesal karena melakukan semua ini, kamu akan menyesal Ken." Jelas Renata yang langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Re, Renata...! Sial." Gumam Kenzo dan langsung berlari keluar dari kamar tersebut.


Perlajan Vee melangkah mendekati Karang yang masih berdiri termenung menatap kepergian Kenzo.


"Abang...!" Panggil Vee di sela isak tangisnya.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Karang dengan tangan yang perlahan menyentuh tangan Vee lalu menggenggamnya dengan erat.


"Hmmmm." Jawab Vee dengan terus berusaha menghentikan tangisnya.


"Ayo pulang!" Ajak Karang, lalu keduanya melangkah meninggalkan lokasi tersebut.


Motor Karang berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Vee, Karang melepaskan helm lalu perlahan menoleh kebelakang tepat di mana Vee berada.


"Kenapa tidak menjemput kak Renata?" Tanya Vee.


"Abang akan segera menjemputnya setelah mengantar mu pulang." Jelas Karang.


"Sampai di sini aja, aku bisa masuk sendiri." Jelas Vee yang mencoba untuk turun dari motor.


"Vee..." Ujar Karang dengan menyentuh tangan Vee membuat Vee menghentikan tubuhnya yang hendak turun dari motor.


"Kenapa?" Tanya Vee.


"Kejadian hari ini, tolong rahasiakan dari mama dan tante Anggie, kamu bisa kan?" Tanya Karang memastikan.


"Hmmmm, aku janji, kalau aku akan merahasiakannya dari semua orang." Jelas Vee.


"Terima kasih, kalau gitu cepat masuk gih sana! Bilang sama mama kalau abang ada urusan mendadak jadi nggak bisa ngantar sampe rumah." Jelas Karang.

__ADS_1


"Hmmm, hati-hati dan...tolong bawa kak Renata kembali ke rumahnya juga." Jelas Vee penuh harap lalu turun dari motor.


"Hmmm, buruan gih masuk!" Ujar Karang yang membuat Vee langsung berlari memasuki gerbang rumahnya.


Setelah memastikan Vee benar-benar telah aman barulah Karang bergegas mencari keberadaan Renata.


Berbagai cara Karang lakukan untuk bisa menemukan posisi Renata saat ini, hingga akhirnya ia sadar kalau ia bisa melacak keberadaan Renata lewat ponsel milik Kenzo karena dapat di pastikan saat ini Kenzo pasti membawa Renata bersamanya.


Karang segera meluncurkan aksinya, ia terlihat begitu fokus pada ponsenya lalu beberapa menit kemudian motornya kembali menelusuri setiap jalanan kota hingga ia sampai tepat di depan sebuah bangunan tua yang lebih terlihat bak pabrik yang terbengkalai tanpa menunggu lebih lama lagi karang segera masuk ke dalam pabrik kumuh tersebut, berlari kesana-sini mencati sosok sang ke kekasih.


"Re, Renata..." Panggil Karang dengan suara lantang dan kaki yang masih berlari kesetiap sudut yang ada.


"Renata, jawab aku! Re...!" Suara teriakan Karang menggelegar di seluruh penjuru bangunan.


Keringat yang mulai membasahi wajah tak pula membuat langkah Karang terhenti, ia terus mencari hingga matanya menemukan sosok Renata yang terduduk lemah dengan keadaan yang begitu kacau.


"Re...!" Panggil Karang dengan suara pelan dan langsung mendekat pada Renata.


"Karang, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?" Tangis Renata pecahlah sudah dari pertahanannya.


Suara tangis Renata terdengar begitu memilukan, membuat Karang ikut hanyut dalam kesedihan yang begitu menyiksa.


"Aku akan membunuhnya!" Gumam Karang dengan tatapan yang penuh ambisi.


"Tidak Karang, jangan lakukan itu, walau bagaimanapun dia adalah..."


"Cukup Re! Kali ini aku tidak akan lagi mendengar ucapan mu! Dia menyakiti mu, dia haissssshhh!" Gumam Karang penuh amarah.


"Untuk saat ini, tolong antarkan aku pulang! Aku benar-benar lelah, aku ingin istirahat." Jelas Renata dengan tatapan yang begitu lemah.


Karang mengeratkan pelukannya dengan tangan yang mengusap lembut pucuk kepala Renata.


"Ayo pulang, aku akan mengantarkan mu pulang sampai rumah." Jelas Karang lalu membantu Renata bangun dan keduanga segera keluar dari pabrik kumuh tersebut.


______

__ADS_1


Seperti hari biasa, hari ini pun sama, semua murid mulai mengikuti pelajaran begitu pula dengan Karang yang duduk di bangku paling belakang pojok kanan dan Kenzo disisi pojok kiri, namun bangku Renata tak terisi sama sekali, hari ini dia tidak datang ke sekolah seperti biasanya.


Sejenak menatap bangku kosong tersebut lalu Karang kembali menempelkan wajahnya pada meja lalu memejamkan matanya. Suara pintu kelas yang di buka dari luar tidak membut Karang bangun dari tidurnya, ia masih pada posisi semula hingga suara sang wali kelas mulai terdengar berbicara.


"Innalilahi wainnailaihi Raji'un! Hari ini sekolah kita berduka, terutama kelas kita..." Ujar Bu Yanti yang sejenak terdiam dengan air mata yang menetes perlahan, suasana kelas jadi terdiam seketika.


Bu Yanti mencoba menenangkan dirinya lalu melanjutkan ucapannya.


"Salah seorang teman kalian, murid terbaik di kelas ini baru saja di kabarkan meninggal dunia, dia adalah Renata Atmaja." Jelas Bu Yanti.


Nama yang baru saja di sebut oleh bu Yanti membuat Karang dan Kenzo bangkit dari kursi mereka secara bersamaan.


"Lulucon apa yang sedang ibu mainkan?" Gumam Kenzo.


"Ibu bari saja menerima kabar dari mamanya Renata, dan jenazah akan di makamkan pagi ini." Jelas Bu Yanti.


"Omong kosong!" Gumam Karang yang langsung berlari keluar dari kelas tersebut dengan perasaan yang begitu kacau, meski terjatuh beberapa kali, Karang terus bangkit dan bergegas keluar dari gerbang sekolah, naik taksi dan lekas pergi menuju rumah Renata. Di sepanjang perjalanan hanya ada air mata yang isak tangis yang begitu menyiksa jiwa, bayangan tentang masa lalu tersebut perlahan memudar dari ingatan Karang. Jemarinya perlahan mengusap air mata yang ikut menetes menyesali masa lalu yang begitu menyakitkan.


"Apa kamu baru saja menangis?" Tanya Galang yang sejak tadi terus memperhatikan Karang yang sedang duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam, kedatangan Galang ke ruangan tersebut sama sekali tidak di sadari oleh Karang.


Pertanyaan Galang seketika membuat Karang terperanjat kaget lalu buru-buru membenarkan posisi duduknya.


"Nangis kata mu? Ciiih!" Cetua Karang lalu bangun dan kembali ke kursi kerjannya.


"Emang kalau nangis kenapa? Apa cowok nggak boleh nangis?" Tanya Galang dan segera duduk ke kursi kerja miliknya.


"Ya itu karena memang aku tidak sedang menangis?" Tegas Karang.


"Benarkah? Tapi...!" Ujar Galang menggantungkan ucapannya.


Kini Galang bangun lalu perlahan melangkah mendekati Karang, tangan Galang memutar kursi Karang agar berhadapan dengan dirinya, mata bening Galang langsung menatap dalam bola mata Karang dengan jemari yang perlahan menyentuh pipi sembab Karang disaat itu pula pintu ruangan tersebut dibuka dari luar dan Kania yang menyaksikan kemesraan antara kedua dokternya langsung berbalik badan.


"Haissssshhh!" Gumam Karang kesal dan langsung menepis dengan kasar tangan Galang dari wajahnya.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2