
"Kania, kamu tidak sedang memikirkan sesuatu kan? Aku masih normal!" Jelas Karang kali ini bahkan ia langsung berdiri dari kursinya.
"Waaah, kalau lagi panik gini kegantengan kamu nambah loh!" Ujar Galang dengan senyuman lebar.
"Dasar, ciiiih!" Cetus Karang yang dengan spontan mendorong tubuh Galang agar menjauh darinya.
"Udah nggak usah malu gitu, santai aja..." Ujar Galang semakin menggoda.
"Benar-benar!" Gumam Karang yang kini mengarahkan tinjunya kearah Galang.
"Dokter Karang tenanglah, aku tau kalau dokter Galang hanya sedang menggoda dokter Karang, lagi pula semua orang disini juga tau kok kalau dokter Karang itu pacaran sama Vee bukan sama dokter Galang." Jelas Kania panjang lebar.
"Hufff!" Ujar Karang mencoba untuk tenang.
"Apa ada pasien baru?" Tanya Galang yang kini kembali ke kursinya.
"Ah, hampir aja lupa! Iya, ada pasien yang baru saja masuk." Jelas Kania.
"Kecelakaan?" Tanya Galang.
"Bukan dok, pasien yang ditransfer dari rumah sakit lain." Jelas Kania.
"Apa pasiennya bernama Hesti?" Tanya Karang.
"Iya dok." Jawab Kania.
Jawaban Kania membuat Karang langsung berlari keluar untuk menemui pasien tersebut.
"Apa dia saudara Karang?" Tanya Galang yang heran dengan sikap Karang.
"Saya juga kurang tau dok, kalau gitu saya permisi." Jelas Kania.
Kania yang hendak melangkah keluar dari ruangan tersebut malah tertinggal oleh Galang yang justru langsung berlari mengikuti Karang yang telah lebih dulu pergi.
______
"Apa kamu gila?" Tanya Karang yang terlihat jelas begitu marah.
posisinya yang masih berada di ruang inap, perlahan keluar dari sana karena pertanyaannya barusan sukses membuat beberapa perawat dan juga Galang yang berada di ruangan tersebut seketika menatap kearahnya. Karang terus melangkah mencari tempat yang lebih sepi agar bisa lebih leluasa berbicara dengan Kenzo yang sejak tadi terus menghubungi dirinya.
"Lakukan operasinya besok, jika tidak maka aku tidak bisa menjamim keselamatan Vee!" Tegas Kenzo.
"Haaaaah! Kamu pikir aku sedang menangani pasien yang lagi sakit demam! Ini kanker hati, banyak proses tahapan yang harus kita jalani, transplantasi organ hati tidak semudah yang kami bayangkan!" Tegas Karang.
__ADS_1
"Karena aku tau ini akan sulit makannya aku memilih mu Karang." Jelas Kenzo.
"Gila! Kamu gila Ken!" Cela Karang.
"Yah, aku memang sedang gila. Sejak awal semua orang yang aku sayang dan cintak satu persatu pergi dari aku sedangkan kamu, kamu justru bisa memiliki orang yang kamu cintai dengan begitu mudahnya. Ingat, jika aku harus kembali kehilangan maka kamu juga harus merasakannya." Jelas Kenzo.
"Jangan pernah sentuh Vee, atau aku sendiri yang akan menggagalkan operasi ini!" Jelas Karang.
"Lakukan apapun yang kamu mau, jika Hesti tidak bisa sembuh maka Vee juga akan ikut mati!" Tegas Kenzo lalu memutuskan panggilan begitu saja.
"Kurang ajar! Haissssshhh! Sial...!" Gumam Karang dengan tangan yang terus memukul dinding rumah sakit.
Keadaan Karang benar-benar hancur berantakan saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan! Haissssshhh?" Gumam Karang untuk yang kesekian kalinya.
Karang buru-buru ke ruangan perawat, ia segera mencari Andri.
"Dokter Karang..." Ujar Andri saat Karang tiba dalam kondisi yang begitu berantakan.
"Masukkan Hesti dalam lits penerima donor hati, dan cek keadaan dia setiap jam dan juga, besok kita akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjut pada Hesti." Jelas Karang.
"Baik dok." Jawab Andri.
"Baik dok." Jawab Andri sigap.
Karang kembali ke ruangannya dimana Galang sedang duduk menunggu kedatangannya.
Saat Karang masuk, Galang segera menghampiri Karang.
"Kenapa?" Tanya Karang karena tau kalau saat ini Galang sedang menatap dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Karang langsung menghempaskan tubuhnya keatas sofa, sejenak menarik nafas berat lalu kembali menatap pada Galang yang masih saja betah berdiri dengan terus menatap kearah Karang.
"Apa?" Tanya Karang yang paham kalau tatapan Galang saat ini di penuhi dengan berbagai pertanyaan.
"Aku ikut!" Jelas Galang.
"Siapa yang mau liburan sih? Orang nggak kemana-mana, ikut kemana coba?" Jelas Karang.
"Aku tau apa yang sedang terjadi, aku yang akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang bernama Hesti." Jelas Galang.
"Aku akan melakukannya." Tegas Karang.
__ADS_1
"Aku sudah membaca rekam medis dari rumah sakit dia sebelumnya, dan kemungkinan besar kita harus melakukan transplantasi hati, aku akan memastikannya besok, apa cukup dengan operasi saja atau gimana, sebaiknya kamu cari pendonornya lebih dulu, bukankah bekerja akan lebih mempercepat dari pada kerja seorang diri." Jelas Galang.
"Huuuuf!" Ujar Karang mencoba untuk tenang.
"Apa Vee tau?" Tanya Galang.
"Tidak, aku tidak ingin dia tau!" Jelas Karang.
"Sebaiknya memang begitu, dan satu lagi, untuk beberapa hari ini, selama proses pengobatan Hesti pastikan kalau Vee aman. Aku harus mengecek pasien, bye!" Jelas Galang dan pergi begitu saja meninggalkan Karang yang masih begitu kebingungan.
Galang bukannya ke ruang rawat pasien ia justru pergi menuju taman lalu memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman rumah sakit.
"Apa lagi yang harus aku lakukan? Bagaimana cari aku agar bisa melindungi mereka berdua? Bagaimana kalau ternyata penyakit Hesti justru sudah masuk stadium akhir, lalu jika gagal menyelamatkannya apa itu artinya aku gagal melindungi Vee dan Karang, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar buntu!" Gumam Galang yang terlihat begitu khawatir.
Sejak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, Galang kerap kali tidak bisa berpikir dengan tenang, setiap hari rasa khawatir dan gelisah seakan membunuhnya perlahan.
"Aku tidak ingin cerita lama kembali terulang, aku takut ditinggal sendiri lagi." Ujar Galang dengan mata terpejam dan mencoba menenangkan perasaannya.
"Dokter Galang..." Panggil Risma, dia merupakan salah satu pasiennya Galang.
"Risma, ayo sini duduk!" Ajak Galang lalu sedikit bergeser ke kanan agar Risma bisa duduk di sisi kirinya.
Risma menurut ia langsung duduk.
"Gimana keadaan kamu hari ini?" Tanya Galang.
"Jauuuuuuh lebih baik dari kemaren, kayaknya aku harus segera meninggalkan rumah sakit ini dek dokter, lihatlah! Aku benar-benar udah sembuh, dan itu berkat tangan ajaib dokter." Jelas Risma dengan senyuman lebar.
"Bagus! Dokter senang mendengarnya, besok cekup ulang biar kita pastikan kapan kamu bisa pulang." Jelas Risma.
"Baik dok! Hmmmmm, apa dokter sedang ada masalah?" Tanya Risma.
"Nggak ada kok, dokter baik-baik aja." Jawab Galang.
"Tapi wajah dokter malah mengatakan yang sebaliknya. Dokter, aku bisa menjadi pendengar yang baik kok, kalau dokter butuh teman curhat aku siap banget." Jelas Risma.
(Bagaimana kalau aku meminta Risma untuk menjadi pendonor untuk Hesti? Apa dia mau? Sebaiknya aku harus mencobanya!) Bisik hati Galang dengan tatapan yang begitu dalam.
"Dokter...!" Panggil Risma.
"Ah iya! Risma, apa kamu mau jadi...ah lupakan, dokter duluan ya!" Jelas Galang yang langsung kabur dari sana.
(Kamu gila Galang! Kamu benar-benar gila, bisa-bisanya kamu kepikiran menjadikan Risma sebagai pendonor! Kamu gila) Maki Galang pada dirinya sendiri sambil terus berlari kecil menuju ruangannya.
__ADS_1
💜💜💜