Diantara Galang Dan Karang

Diantara Galang Dan Karang
Mengadu


__ADS_3

"Dasar pengecut! Cuman bisa ngandalin kekuasan dan harta orang tua doang! Elo itu cuma sampah!" Cela Wesvy dengan menatap tajam wajah Vee.


"Kamu menghina aku?" Tanya Vee dengan wajah yang mulai kesal.


"Menurut mu??" Tanya Wesvy.


Spontan Vee bangun lalu memegang kerah baju Wesvy, menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam dan mematikan.


"Eh anak baru blagu! Kamu pikir aku cuma numpang tenar sama kekuasaan orang tua ku doang? Kamu pikir aku nggak berani sama kamu? Jangan sok jagoan di depan aku!" Gumam Vee.


"Veeliria Agnesia Kanayya Rajaksa, mau aku panggil nyonya sekolah? Agnesia? Kanayya? Atau nyonya Rajaksa? Aku bukan sok jagoan, aku cuman nggak suka dengan cara kamu yang sok berkuasa di sekolah ini? Okay fine! Kamu itu anak donatur terbesar di sekolah ini, tapi bukan berarti kamu itu tuan putri di sini! Kamu sadar nggak sih, kalau sikap kamu sangat menjengkelkan, membuat semua orang enek dengan tingkah laku minim moralitas kamu itu!" Jelas Wesvy.


Pelan-pelan Vee melepaskan tangannya dari kerah baju Wasvy, mata Vee mulai memerah, tangan Vee langsung meraih ranselnya dan melangkah untuk pergi.


"Vee tunggu!" Pinta Wesvy mencegah kepergian Vee.


"Apa lagi? Kamu mau menginjak-injak harga diri aku lagi? Belum cukup? Belum puas? Atau sekalian aja kamu umumkan pada semua orang kalau aku ini pengecut." Jelas Vee.


"Vee, aku tidak bermaksud..." Jelas Wesvy dengan tangan yang hendak menyentuh wajah Vee.


"Aku muak dengan tingkah mu yang menilai orang dari luar doang!" Tegas Vee dan lekas keluar dari kelas.


Vee buru-buru berlari menuju halaman belakang sekolah, melempar ransel melewati pagar lalu ia pun langsung bersiap, memasang kuda-kuda dan akhrinya melopati pagar.


Setelah berhasil dengan misi manjat pagar, Vee langsung mengambil ranselnya dan lekas mencari taxi. Dengan penuh amarah dan rasa kesal serta air mata yang perlahan ikut menetes namun Vee tetap melangkah menelusuri trotoar berharap segera mendapatkan taxi. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih tujuh menit, akhirya Vee mendapatkan taxi dan lekas pergi menuju tempat tujuan. Taxi berhenti di depan sebuah rumah sakit megah dan besar, Vee buru-buru turun setelah membayar tagihan taxi dan lekas berlari masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Dengan kasar Vee membuka pintu salah satu ruangan pribadi dokter, namun mendapati ruangan yang kosong semakin membuat Vee kesal, ia kembali menutup pintu ruang tersebut dan lekas mencari sosok yang ingin ia temui. Langkah Vee terhenti di ruang UGD, lalu menerobos masuk dan langsung berdiri di sebuah ranjang dimana sedang terbaring seorang pasien dengan luka di tangan kanan dan juga wajahnya, pasien tersebut sedang ditangani oleh seorang dokter yang terlihat begitu piawai dalam menangani pasiennya.


"Apa kamu keluarga pasien?" Tanya seorang perawat.


"Kamu pasti baru kan?" Vee malah balik bertanya.


Vee langsung menggeserkan tubuh perawat tersebut ke sisi kiri, lalu ia kembali melangkah mendekati dokter tersebut lalu langsung mendekapnya dari belakang.


"Vee, aku lagi kerja!" Jelas Karang dengan tangan yang masih menjahit luka pada tangan pasien.


"Aku butuh abang sekarang!" Tegas Vee yang bahkan memebuat beberapa perawat yang sedang membantu langsung agak menjauh dari Karang.


"Dengarkan abang, sekarang kembali ke ruangan abang, tunggu disana, abang akan segera menemui mu!" Jelas Karang.


Meski agak kesal namun Vee menurut ia kembali ke ruangan Karang. Sedangkan Karang melanjutkan kembali aktivitasnya mengobati pasiennya.


"Aku sudah menjahit lukannya, pastikan keadaan pasien tetap stabil, dan bawa pasien ke ruang rawat." Jelas Karang.


"Baik dok!" Jawab ketiga perawat yang sejak tadi membantu Karang.


"Dokter..." Panggil pasien dengan suara lemah.

__ADS_1


"Iya? Apa ada keluhan lainnya? Nanti saya akan kembali memeriksa setelah hasil ronsen keluar." Jelas Karang.


"Hmmm, terima kasih banyak!" Ucapnya lagi.


Karang tersenyum kearah pasien tersebut dan lekas keluar dari UGD dan bergegas kembali ke ruangannya. Karang memasuki ruangannya sambil melepas jas kedokteran lalu menyengkutnya di sandaran kursinya.


"Kamu bolos lagi?" Tanya Karang lalu melangkah mendekati Vee yang sedang duduk di sofa.


"Aku bukannya bolos!" Tegas Vee membela diri.


"Kalau bukan bolos, lalu apa? Cabut? Tidak mengikuti pelajaran?" Jelas Karang lalu duduk di samping Vee.


"Selalu saja ngomel-ngomel nggak jelas! Aku lagi kesal, baru juga tadu dengar ocehan nggak jelas di sekolah, dan sekarang abang juga ikutan." Jelas Vee dengan air mata yang mulai menetes.


Vee hendak bangun namun langsung dicegah oleh Karang.


"Maafkan abang, abang juga lagi lelah soalnya, sorry!" Pinta Karang lalu perlahan memeluk Vee.


"Janji jangan ulangi lagi!" Pinta Vee yang masih saja sesugukan.


"Iya abang janji! Dan sekarang tolong kembali ke sekolah!" Jelas Karang.


"Antarin!" Pinta Vee manja.


"Tapi abang lagi banyak pasien, bentar lagi ada jadwal operasi." Jelas Karang.


"Okay, ya udah ayok!" Ajak Karang yang langsung bangun dari sofa.


Karang mengambil kunci mobil dan lekas keluar dengan diikuti oleh Vee. Karang langsung mengantarkan Vee kembali ke sekolah.


Mobil Karang berhenti tepat di depan gerbang sekolah.


"Muter!" Perintah Vee.


"Kenapa lagi?" Tanya Karang.


"Lewat belakang, mana bisa masuk sekolah lewat gerbang kalau lagi jam pelajaran." Jelas Vee.


"Kamu benar-benar!" Ujar Karang dan langsung menjalankan mobil ke lorong pagar belakang sekolah.


"Turun gih! Ingat, jangan keluyuran lagi!" Jelas Karang.


"Nanti jangan lupa jemput!" Pinta Vee


"Loh kok jemput! Mobil mu mana?" Tanya Karang.


"Di pinjem kawan, pokonya jemput!" Tegas Vee.

__ADS_1


"Benar-benar sangat menyusahkan!" Cetus Karang.


"Gimana? Bisa kan?" Pinta Vee dengan senyuman andalannya.


"Iya. Udah sana gih masuk!" Jelas Karang pasrah.


"Makasih abang ku tersayang!" Jelas Vee dan lekas keluar dari mobil.


Vee kembali memanjat dan segera berlari menuju kelasnya. Vee berusaha mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh pak Ferdi yang sedang menjelaskan soal di papan tulis.


"Vee, dari mana aja kamu?" Tanya Ferdi tepat setelah Vee duduk di kursinya.


"Maaf pak, aku habis dari rumah sakit." Jawab Vee.


"Siapa yang sakit?" Tanya Ferdi.


"Sayang pak, habis cek up!" Jelas Vee sekenanya.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan pelajaran kita." Jelas Ferdi lalu kembali melanjutkan pelajaran fisika.


"Kamu pasti bohong kan? Ayo ngaku, keluyuran kemana tadi?" Tanya Tsania setengah berbisik.


"Ya kan nggak mungkin juga aku yang sakit, lihat nih aku baik-baik aja kan." Jelas Vee dengan senyuman.


"Kamu ini!" Jelas Tsania.


"Okay, penjelasannya udah selesai, dan sekarang giliran kalian yang mengerjakannya, Wesvy, siswa baru ayo silahkan ke depan!" Jelas Ferdi.


"Aku?" Tanya Wesvy menunjuk kedirinya sendiri.


"Siapa lagi kalau bukan kamu, emang ada siswa lain disini yang namanya Wesvy!" Jelas Vee.


Wesvy langsung bangun dan segera menyelesaikan soal yag ada di papan.


"Wesvy, coba kamu cek ulang, aoa sudah benar?" Tanya Ferdi setelah memperhatikan jawaban Wesvy.


"Kan ikut rumus yang bapak jelas tadi." Jelas Wesvy.


" Itu mah rumus tukang buah ngitung dagangannya." Cetus Vee sombong.


"Vee, ayo bangun, perbaiki jawaban Wesvy sampai benar!" Pinta Ferdi.


"Siap pak!" Jawab Vee lantang dan bergegas ke depan, ia langsung menuliskan jawabannya di samping jawaban yang Wesvy tuliska tadi, hanya butuh beberapa detik saja Vee sudah selesai menuliskan jawaban yang membuat setengah papan tulis penuh dengan angka-angka.


"Jawaban yang sangat memuaskan!" Puji Ferdi setelah memeriksa jawaban Vee.


Perlahan Vee sedikit bergeser mendekat pada Wesvy yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya, lalu mulai berbisik dengan suara yang begitu pelan namun penuh dengan penekanan.

__ADS_1


💜💜💜


__ADS_2