
Suara benturan atau benda jatuh di atap belakang rumahnya, tak ayal membuat Runi ketakutan setengah mati. Mengapa seperti itu seperti suara sesuatu yang jatuh terbanting dengan keras ke genting? Seketika rasa merinding menjalari tengkuk Runi. Ia takut jika yang datang adalah guna-guna atau santet, sementara saat ini ia hanya sendiri di rumah. Tidak ada Raka yang saat ini menemaninya. Maka, berusaha untuk tidak menghiraukan suara itu, ia kembali asyik dengan cangkir tehnya.
Namun, suara kedua kembali mengganggu ketenangan Runi. Di mana suara pertama adalah suara benda jatuh, dan suara kedua adalah seperti suara ketukan pelan. Masih di atap rumahnya. Terdengar sedikit jauh, sepertinya berasal dari dapur.
Dug ...
Dug ...
Dug ...
Runi kembali menajamkan pendengaran. Ia sedikit curiga sekaligus waspada, suara apakah itu? Suara kedua ini seperti tengah mengetuk atap rumahnya. Tidak, tidak. Suara ini tidak seperti suara ketukan, justru lebih mirip suara pukulan pelan pada genting rumahnya. Seperti sesuatu yang pasrah tanpa tenaga. Namun, apa itu?
Tidak menganggapnya sesuatu yang penting, Runi tak mengindahkan suara itu dan kembali asyik dengan secangkir teh panasnya. Jujur saja, semakin memikirkannya, rasa merinding semakin menjalar di benak Runi. Ia tengah sendirian dan ia tidak memiliki Raka untuk dimintainya mengintai keadaan di atap rumahnya.
Namun setelah beberapa saat Runi mengabaikan suara itu dengan kembali mencoba fokus dengan tabloidnya, tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Dug ...
Dug ...
Dug ...
__ADS_1
Apa itu?
Karena semakin penasaran disertai rasa merinding yang aneh, Runi menyerah. Ia tak bisa lagi mengabaikan suara yang baginya cukup mengganggu tersebut. Setidaknya jika memang itu adalah sesuatu yang berbahaya, maka ia bisa menghadapinya atau minimal meminta pertolongan tetangga terdekat, bukannya membiarkannya begitu saja.
Runi melangkahkan kakinya dengan penuh rasa ingin tahu ke pintu belakang. Ia merasa semakin panik saat berjalan melewati dapur, di mana beberapa pecahan genting berserakan di lantai. Rumahnya memang masih semi permanen, sehingga bagian dapur belum dipasang eternit.
"Apa ini?" tanyanya seraya mendongak ke atas. Genting dapurnya tidak berlubang, namun ia bisa melihat dengan jelas adanya sedikit retakan di sana.
Rasa penasaran membuatnya melangkah ke luar. Diambilnya tangga bambu di samping rumah, lalu ia pasang tangga tersebut dengan ujung menyentuh tepi genting rumahnya. Dengan hati-hati, Runi mulai menaiki satu demi satu anak tangga dengan bahan bambu tersebut.
Setibanya di atas, suara itu terdengar kembali. Kali ini terdengar lebih nyata, karena memang Runi sudah berada tepat di ujung tangga, di tepi atap rumahnya. Runi kembali menajamkan pendengaran dan suara itu kembali terdengar. Suara seperti ketukan, namun sangat pelan. Lemah sekali. Tak berirama, namun terdengar teratur.
Runi mulai mengedarkan pandangannya, mencari titik di mana retakan tadi berada. Matanya mulai beredar menyapu seluruh permukaan atap rumahnya. Lalu, terkejutlah ia dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
"Hei, anjing kecil! Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Runi sekali lagi. Ia berteriak panik memanggil hewan yang pastinya tidak bisa memberinya tanggapan karena tak sadarkan diri.
Susah payah, Runi menaiki puncak terakhir anak tangga miliknya itu. Lalu, sampailah ia di atap rumahnya. Ia merambat perlahan ke titik di mana anjing kecil itu tergeletak. Meski tak jauh dari posisi terakhirnya tadi, namun karena tak pernah sama sekali naik ke atap rumah dan ditambah dia juga memiliki phobia terhadap ketinggian, tentu saja Runi merasa sedikit takut.
Runi tiba di sana. Titik di mana anjing kecil itu tergeletak tak berdaya dan bersimbah darah dengan sebilah panah tertancap di dadanya. Titik itu menjadi kemungkinan tempat ia terjatuh atau terbanting entah dari mana. Buktinya, setelah ia mengamati dengan seksama, genting rumahnya kini pecah berkeping-keping. Tampak begitu porak poranda. Runi bahkan bergidik ngeri, sekeras apa anjing semungil ini terlempar dan dari mana, sehingga genting rumahnya terlihat seberantakan ini?
Runi mulai menduga-duga. Pastilah anjing ini terlempar dengan begitu jauh. Mungkinkah dari atas pohon? Tapi mengapa harus dalam keadaan terpanah begini?
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu? Dari mana asal panah ini?" Tanya Runi tak mengerti tanpa peduli dengan kondisi atap rumahnya. Pikirnya, ia bisa memanggil tukang untuk membetulkannya. Yang terpenting saat ini adalah, ia fokus dengan kondisi anjing kecil yang terlihat sangat tak berdaya ini.
Namun, lagi-lagi Runi dibuat begitu terkejut. Ia mengernyitkan alis saat memperhatikan ujung anak panah itu. Menurutnya, anak panah ini sangat tidak biasa. Ujung panahnya terbuat dari bulu merak yang sangat indah dan mewah. Bahkan siapapun yang melihatnya akan tahu hanya dengan sekali lirik, bahwa anak panah ini adalah anak panah yang terlihat unik dan langka.
"Hei, kamu nggak papa?" Tanya Runi khawatir. Meski ia tahu anjing itu tak mungkin menjawab pertanyaannya, namun ia tetap merasa harus bertanya.
"Hei, bangun!" Runi menggoyang-goyangkan tubuh itu, namun respon yang Runi lihat sangat mengkhawatirkan. Anjing kecil itu sempat bergerak, namun sangat pelan. Mungkin suara ketukan di genting tadi ia lakukan dengan sisa-sisa tenaganya. Yang entah meminta pertolongan atau hanya sekedar menandai kepada si pemilik rumah bahwa ia ada di sini, nyata, terdampar di atapnya, sedang sekarat, dan membutuhkan pertolongan.
"Ayo, ikut aku turun!" Kata Runi yang kini membawa anjing kecil itu dengan sangat hati-hati dalam gendongan tangan kirinya. Dibawanya menuruni tangga bambu dengan tangan kanan berpegangan pada salah satu sisi tangga untuk menyangga bobot tubuh mereka berdua.
Hap!
Runi merasa sangat lega begitu ia berhasil tiba di tanah dengan selamat. Diliriknya anjing kecil dalam gendongannya itu, dan ia tersenyum penuh semangat saat merasakan geliat kecil dalam rengkuhan dadanya.
"Hei, bertahanlah! Aku yakin kamu kuat!" Seru Runi. Namun ia kembali panik saat anjing kecil itu kembali memejamkan mata, dengan kaki dan ekor yang terkulai begitu lemas tak berdaya.
Runi yang merasa panik bukan kepalang kini mencari sebuah kardus bekas. Ia meletakkan anjing itu di sana, lalu secepat kilat mengeluarkan motor maticnya. Ia tak peduli lagi dengan tumpukan pekerjaan yang menunggunya di ruang jahit. Ia juga tak peduli lagi jika baju yang ia kenakan sudah bersimbah darah. Untuk saat ini, ada satu nyawa yang membutuhkan pertolongannya.
"Aku bawa ke puskesmas, ya!" pinta Runi seraya meletakkan kardus yang berisi tubuh lemas itu di dashboard motornya. Lalu, sambil sesekali mengerling menunduk ke bawah kakinya, ia mengendarai motornya dengan perlahan.
"Tolong bertahanlah!" pinta Runi pada tubuh tak bergerak itu, mengendarai motornya dengan hati-hati menyusuri jalanan berbatu menuju ke puskesmas, satu-satunya tempat pelayanan medis di sana.
__ADS_1
***