
"Siapa Widuri, Mas?" tanya Runi ribuan tanya yang mulai terasa berkecamuk dalam benaknya.
"Emmm, Anu. Kami teman SMA," jawab Raka dengan terbata. "Namanya Cantika Widuri. Biasa dipanggil Widuri."
"Oh," sahut Runi dengan mulut membulat. Ia pun mengalihkan pandang pada Widuri yang duduk di sebuah kursi. "Pantas saja aku bingung, aku tahunya namamu Cantika atau Tika. Aku bahkan sama sekali tidak tahu kalau nama belakangmu adalah Widuri, Tik!"
"Iya, Runi. Biasanya keluarga atau teman dekat memang memanggilku Widuri. Nama Cantika hanya digunakan oleh teman-teman sekolah atau yang baru kenal saja," jelas Widuri dengan menyeringai.
"Ka-kalau gitu aku masuk dulu, sa-sayang." Raka berkata terbata saat berpamitan dengan Runi. Dan anehnya, ia melirik Widuri pula melalui ekor matanya. Sedikit perasaan bersalah terbit di hatinya saat menemukan ekspresi kecewa yang tercetak jelas di wajah Widuri.
"Ma-mari, Duri." Raka mengangguk lalu berlalu dari hadapan mereka berdua. Diiringi oleh senyum pahit Widuri yang mengiringi kepergiannya, Raka berlalu pergi.
Runi menghela nafas panjang. Ia hembuskan perlahan melalui mulutnya dengan mata terpejam. Entah mengapa, hatinya sungguh sakit. Jika sikap Raka baik-baik saja, atau mungkin jika ia tidak pernah mendengar nama Widuri diucapkan dengan begitu santainya oleh ibunda Raka tercinta dan ditambah anjuran untuk berpisah dari Runi, tentu saja rasanya tak akan sesakit ini.
Pikirannya juga sedari tadi berkecamuk. Apakah Widuri ini adalah Widuri yang itu?
Ah, tidak! Belum tentu Widuri yang ibu mertuanya itu maksud adalah Cantika Widuri, bukan? Mungkin di luar sana, masih banyak Widuri-Widuri yang lain, yang pernah menjadi mantan kekasih suaminya.
"Sepertinya bahan kain yang kamu bawa terlalu lebar untuk kamu buat gaun sendiri, Tika?" kata Runi saat ia mengukur lebar bahan yang Widuri bawa.
"Oh, memang iya, Runi! Aku hampir saja lupa!" seru Widuri seraya menepuk keningnya keras-keras. Ia berkata seraya kembali membuka tasnya, lalu menyerahkan bungkusan yang lain yaitu bungkusan dalam kertas koran yang dilipat dengan rapi. Ucapnya, "By the way, aku juga mau sekalian jahitin kemeja untuk pacarku. Biar bisa couple-an gitu lho. Dan ini, aku bawa contoh ukuran kemejanya."
"Oh, gitu." Runi menerima bungkusan tersebut dan dibukanya, yang ternyata sebuah kemeja batik yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Runi tersenyum. Sedikit rasa lega mulai muncul dalam hatinya karena rupanya, Widuri sudah memiliki kekasih. Jadi ia merasa aman karena suaminya tidak mungkin melirik wanita yang sudah memiliki kekasih. Bahkan ibu mertuanya pun tidak akan berani menjodohkan putra kesayangannya dengan wanita ini.
Runi berkata dengan nada menggoda, "Ternyata kamu sudah punya pacar, ya? So sweet banget, mau kondangan pakai baju couple."
"Hehehe, bisa aja, Runi!" sahut Widuri seraya tersipu. "Memangnya yang udah menikah aja? Aku juga kepengin dong, pakai baju couple, biar mesra gitu! Hehehe."
"Iya deh, iya. Besok aku selesaikan sebelum hari Sabtu depan. Aman, pokoknya!" Kata Runi berjanji.
__ADS_1
"Pacar kamu orang mana, BTW?" tanya Runi menggoda. Tentu saja, yang ditanya hanya tersipu malu.
"Nggak jauh-jauh kok, Runi. Orang sini aja."
"Oh ya? Siapa memangnya?" selidik Runi, lagi-lagi dengan wajah menggoda.
"Hahaha. Ah, ada deh! Jadi malu kan, aku!" Widuri tertawa lebar. Wajahnya terlihat bwgitu merah.
Runi berkata dengan tulus, "Siapapun itu, semoga hubungan dengan dia kamu lancar ya, Tika! Mungkin kali ini kamu akan menghadiri pernikahan sahabatmu. Tapi semoga secepatnya aku dan sahabat-sahabatmu yang akan datang ke pernikahanmu sendiri."
Widuri menyeringai lebar. Wajahnya berseri-seri dengan rona kemerahan yang terlihat begitu cantik, namun salah satu sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia berkata, "Makasih banyak atas doa kamu ya, Runi!"
"Iya, sama-sama," jawab Runi.
"By the way, kapan kamu nikah dengan Raka? Empat tahun merantau, aku sama sekali nggak tahu kabar yang beredar di desaku!" Tanya Widuri dengan binar menyelidik.
"Oh, udah punya baby?" tanya Widuri lagi. Sedari tadi netranya berkeliling menyapu seisi rumah, ia tidak melihat keberadaan seorang bayi di sini, ataupun sebuah foto bayi. Ia juga sesekali melirik ke arah perut Runi, yang mana masih terlihat begitu ramping untuk ukuran seorang wanita yang sedang hamil.
"Oh, belum. Aku pernah hamil, dulu. Tapi keguguran." Runi tersenyum dengan sedikit masam. Ia pun teringat dengan kata-kata Aswini, ibu mertuanya, yang mengatakan bahwa meskipun Runi mengandung anak dari Raka, Aswini tidak akan pernah mengakuinya. Mungkinkah karena ucapan Aswini itu Tuhan belum rela menitipkan seorang jiwa mungil dalam rahimnya?
"Ah, maaf kalau aku mengingatkanmu tentang musibah itu, Runi! Aku tidak tahu!" ucap Widuri simpati.
"Tak masalah, Tika. Semua sudah ada yabg mengatur." Menghela nafas sejenak, Runi berkata kembali, "Tolong doakan aku dan Mas Raka agar segera diberi keturunan ya, Tika!"
Widuri menjawab, "Ya. Tentu saja, Runi!"
"Astaga, terlalu asyik ngobrol denganmu, aku sampai lupa kalau tidak menguguhkan apa-apa untukmu!" seru Runi seraya menepuk keras-keras keningnya sendiri. Ia menawarkan, "Kamu mau minum apa, Tika? Teh, kopi, atau yang lain?"
"Ah, nggak usah. Udah sore juga kok, Run!" tolak Widuri dengan halus. Ia melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Ia berkata, "Tuh, udah jam setengah enam sore. Udah hampir petang, aku mendingan pulang dulu, deh!"
__ADS_1
"Lho, kok malah pulang? Aku masih kangen lho ini, Tika! Kita udah lama banget nggak ketemu, kan?" Runi berkata setengah mencebik.
"Ah, tenang aja. Kapan-kapan aku bisa main lagi ke sini. Atau, kamu main ke rumahku juga boleh kok, Run! Dengan senang hati, aku akan menyambutmu! Aku juga akan memasak yabg enak-enak untukmu," kata Widuri seraya tersenyum.
"Ah kalau gitu aku pasti akan mengabarimu. Biar aku bisa makan yang enak di sana. Hahaha," seloroh Runi dengan terbahak. Ia melanjutkan, "Tapi, ngomong-ngomong, aku pendatang baru di sini. Meskipun sudah satu tahun, tapi aku cenderung tertutup orangnya. Aku jarang keluar, jadi kurang paham rumah siapa ada di mana. Memangnya rumahmu di mana?"
"Oh, rumahku gampang banget dicari kok, Runi!" kata Widuri antusias. "Ayahku kebetulan sudah membuatkan rumah untukku. Dan letak rumahku bersebelahan dengan rumah ayahku, hanya dibatasi oleh satu pekarangan kosong."
"Wah, hebat sekali! Jadi kamu sudah tinggal sendiri?" tanya Runi takjub.
"Iya, aku sudah terbiasa hidup sendiri di kota, Runi! Jadi meskipun ayah dan ibuku tinggal di sebelah dan aku masih single, aku memang lebih memilih tinggal di rumahku sendiri. Lebih bebas aja, gitu!"
"Asyik! Jadi kalau aku main, bisa bebas dong!" Seru Runi antusias. "Kalau begitu, kasih perkiraan arahnya dong, Tik!"
"Okey, okey. Kamu penggilingan padi Uwak Tino?" Tanya Widuri. Runi mengangguk.
Widuri melanjutkan, "Nah, perkiraan arahnya, dari rumah penggilingan padi Uwak Tino lurus terus ke arah timur. Nanti jika ada pertigaan, kamu tinggal belok kanan saja. Rumah ayahku ada di sana, dengan cat tembok berwarna coklat muda. Sedangkan rumahku ada di sebelahnya lagi dengan cat tembok berwarna putih. Ciri khasnya, ada ayunan kayu jati di halaman rumah."
"Okeylah kalau begitu. Besok saat baju kamu sudah selesai aku jahit, aku akan mengantar sendiri baju kamu ke sana!" kata Runi.
"Wah, betulkah?" Oke, Runi! Makasih banyak!" timpal Widuri dengan senyum miringnya.
"Sama-sama, Tika!"
"Oh ya, Runi!" Widuri berkata dengan seringai tipis. "Kalau kamu bingung dengan arah rumahku, kamu bisa tanyakan pada Raka. Dia tahu kok, di mana rumahku. Dia sering datang ke sana."
"Hah? Se-sering datang ke sana? M-mas Raka?"
***
__ADS_1