
[Duri, kenapa sejak tadi pagi kamu mendiamkanku?]
Pesan singkat Raka pada Widuri sudah terkirim sekitar sepuluh menit yang lalu. Hanya saja, Widuri tak juga membalasnya. Padahal pesan tersebut sudah bertanda centang dua warna biru, tanda pesan tersebut sudah jelas terkirim.
Raka tentu saja merasa sangat frustasi. Sejak kembalinya Widuri ke desa ini, mereka memang sempat bertengkar hebat. Raka yang sangat terkejut akan kemunculan Widuri yang sangat tiba-tiba hingga mengguncangkan akal sehatnya, merasa begitu dilema akan hatinya sendiri.
Ya, ia sudah menikah. Runi adalah istri yang selain lembut dan baik hati. Ia juga sangat cantik. Runi lah satu-satunya wanita yang selama ini bisa membuat perhatian Raka teralihkan dari rasa sakit hatinya akibat ditinggalkan oleh Widuri secara mendadak. Hanya Runi yang sanggup menggeser posisi Widuri dari hatinya.
Namun setelah empat tahun berlalu dan Widuri kembali muncul di depan matanya, mendadak hati Raka goyah. Cintanya kepada Runi mulai terombang-ambing bahkan saat nama Widuri baru didengungkan lagi oleh ibunda tercintanya.
Pertemuan pertama antara Runi dan Raka setelah empat tahun berlalu menjadi titik balik hubungan mereka. Sorot mata kedua insan dengan masa lalu yang belum usai tersebut menjelaskan semuanya. Widuri masih mencintainya, sangat. Bahman Raka, meski ia sudah menjalani satu tahun pernikahan dengan Runi, nyatanya rasa cintanya terhadap Widuri masih begitu nyata.
Lama, pesan Raka tak dibalas oleh Widuri. Namun status online yang tertera di layar ponsel Raka menerangkan bahwa sebbenarnya Widuri saat ini tengah membaca pesan tersebut.
[Aku belum makan, Duri. Aku kelaparan. Perutku sakit.]
Lagi, Raka mengirim pesan pada Widuri untuk yang berkian kalinya. Kali ini bernada merengek.
[Makan dulu, Raka. Jangan seperti anak kecil.]
Satu kalimat balasan dari Widuri seketika membuat senyum Raka mengembang. Ia kembali menuliskan balasan,
[Aku lagi nggak nafsu makan.]
Tak lama kemudian, sebuah balasan kembali masuk ke ponsel Raka. Raka kembali tersenyum karena meskipun ia tahu Widuri sedang marah akibat cemburu, gadis itu tetap perhatian yang begitu besar pada dirinya.
__ADS_1
[Jangan seperti itu. Cepat makan dulu, Raka. Nanti kamu bisa sakit.]
Raka : [Aku ingin makan masakanmu.]
Di seberang sana, Widuri berdecak kesal. Ia sedang merasa sangat jengkel pada Raka, namun kini pria itu--dengan tanpa tahu malu--merengek padanya seperti anak kecil, mengadu bahwa ia belum makan.
'Bukankah dia sudah menikah,? Lalu, di mana istrinya? Mengapa aku harus mengurusi suami orang?' pikir Widuri jengah.
Widuri pun membalas dengan begitu malas. [Aku lagi malas ngapa-ngapain, Raka. Aku nggak masak.]
Raka (mengetik dengan ekspresi kecewa karena tanggapan Widuri tidak seperti yang ia harapkan) : [Ya sudah, aku nggak usah makan aja. Lagian aku udah nggak lapar.]
Raka menekan tombol off di ponselnya. Lalu ia letakkan begitu saja di atas nakas, merasakan kecewa yang teramat sangat. Ia menyugar rambutnya kasar. Tak satu kalipun bayang-bayang Widuri sirna dari pikirannya, namun kali ini gadis itu bahkan terlihat tak peduli sama sekali padanya, tak seperti dulu.
Namun sebuah balasan dari Widuri tiba-tiba membuat keceriaan Raka bangkit kembali.
Raka (tersenyum lebar saat membaca pesan tersebut. Ia pun mengetik balasan.) : [Sekarang?]
Widuri : [Ya, sekarang. Mau nggak?]
Raka (berseru heboh dengan tangan terkepal mengacung ke udara): [Mau!]
Begitu balasan pesan itu ia kirimkan, maka secepat kilat Raka menyambar kunci motornya. Ia berlari secepat kilat hingga terlihat seperti setengah melayang menuju ke parkiran motornya. Lalu dengan semangat, ia mengendarai motornya menuju rumah Widuri, menjemput pujaan hatinya.
***
__ADS_1
"Kamu punya istri, Raka! Seharusnya kamu makan di rumah, atau mengajak istrimu makan di luar! Bukannya aku!" Cela Widuri dengan raut wajah tak suka. Kali ini mereka tengah makan siang di sebuah cafe di desa seberang, sedikit jauh dari kantor Raka.
Raka mendengkus kasar. Soto daging yang terhidang di hadapannya dengan asap mengepul itu tiba-tiba terasa tak lagi enak, padahal ia baru menghabiskan setengah porsi dan perutnya masih terasa lapar. Ia kehilangan selera makannya. Namun apa yang Widuri katakan baru saja, rupanya benar adanya. Ia tidak bisa menampik atau menyalahkan tudingan Widuri padanya.
"Aku ... Aku selalu teringat padamu, Duri! Selama empat tahun pergi, bayangmu tak pernah hilang dari benakku. Sama seperti empat tahun yang lalu. Aku masih sangat mencintaimu!"
"Bohong!" sergah Widuri sengit. Ia menunggu sejenak saat seorang pramusaji datang menyusul membawa makanan dan minuman pesanannya. Ia menatap semua makanan yang terhidang di atas meja makannya dengan tak berselera.
Pramusaji itu telah berlalu. Widuri melanjutkan bicaranya dengan nada rendah yang terdengar sedikit menggeram, "Kamu selalu berkata bahwa kamu masih mencintaiku. Tetapi nyatanya, kamu sudah menikah, Raka! Mungkin benar jika hatimu masih untukku. Tapi sayangnya, ragamu sudah milik Runi, si cewek culun sok baik itu!"
Raka menelan saliva. Perutnya sudah sangat keroncongan, tapi Widuri tengah menyerocos tiada henti. Niatnya untuk makan enak dengan ditemani oleh wanita yang ia cintai rupanya tidak berjalan seseuai dengan kenyataan.
"Duri ..." panggil Raka lirih. Dilihatnya, Widuri melirik ke arahnya dengan netra basah penuh air mata.
Raka menelan saliva yang terasa tercekat di tenggorokannya. Ia melanjutkan bicara, "Empat tahun berlalu, kupikir aku sudah bisa melupakanmu. Aku mencari cara agar aku bisa menghapus namamu dari hatiku. Tapi, aku tak bisa. Dan rasa ini, meskipun aku tahu bahwa aku sudah menikah, masih sama, Duri. Hatiku masih bergetar setiap kali aku memikirkan dirimu!"
"Tapi kamu sudah menjadi milik dia! Percuma kamu berkata masih mencintaiku. Percuma kamu berkata tak pernah bisa melupakanku! kenyataan yang terjadi sekarang adalah ..." Widuri menghela nafasnya panjang lalu ia hembuskan dengan kasar. Air matanya bercucuran, emosinya meluap begitu saja. Ia melanjutkan, "... Kamu sudah menikah. Aku tidak bisa memilikimu, Raka! Semua yang kamu katakan adalah bullsh1t!"
"Maafkan aku yang tak sabar menunggumu kembali, Duri! Aku tahu, aku salah." Raka menunduk pasrah.
"Tapi, Duri. Pernikahan yang aku jalani ini tidak berlandaskan cinta. Aku sama sekali tak merasa bahagia hidup dengannya. Aku masih sangat mencintaimu," ucap Raka dengan wajah memelas.
"Apa? Tidak bahagia kamu bilang?" Widuri melempar pandangan menghina pada Raka. Ia menyunggingkan senyum miring karena sama sekali tak percaya atas apa yang baru saja Raka ucapkan. Ia melanjutkan bicara dengan bertanya, "Lalu, apa yang membuat kamu bahagia, Tuan Raka yang terhormat?"
"Kamu, Duri. Kamulah satu-satunya wanita yang bisa membuatku bahagia." Raka menjawab lirih.
__ADS_1
"Hah? Yang benar saja?!"
***