Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
27. Protes untuk Raka


__ADS_3

Waktu di jam dinding baru pukul enam pagi. Namun, entah sudah berapa kali Runi memuntahkan isi lambungnya. Perut Runi betul-betul terasa tak enak, apapun yang ia konsumsi pasti akan segera berbalik. Bahkan jika diingat-ingat, sejak bangun tidur pukul lima lagi tadi ia belum memasukkan makanan atau minuman apapun ke dalam perutnya. Ya, karena semua yang ia masukkan selalu keluar saat itu juga.


"Apa aku kebanyakan begadang kali ya?" Pikir Runi seraya menyeka keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya.


Ya, memang sudah beberapa hari ini ia lembur sampai malam dan terlalu memforsir tenaganya. Ia sedikit kewalahan karena deadline beberapa jahitannya semakin dekat. Para pelanggan banyak yang mengirim pesan kepadanya, sekedar mengingatkan jika pakaian yang mereka pesan akan segera dipakai. Tentu saja, Runi harus bisa menyelesaikannya. Semua ini terkait dengan nama baiknya sebagai seorang penjahit.


Sebenarnya, Runi sungguh merasa tak kuat. Tubuhnya begitu lemas. Namun tentu saja ia harus mengisi tenaganya. Sekali lagi, ia menengok ke arah sarapan pagi yang ia masak sendiri di meja makan. Satu mangkuk lele mangut berkuah santan dengan kuah mengepul di atasnya.



Runi menyiapkan dua buah piring. Satu untuknya, lalu piring lainnya tentu saja untuk Raka, suaminya tercinta yang tadi malam tidak pulang dari kantornya. Ya, seperti biasa, jika Runi tanya, pasti jawabannya sama dengan sebelum-sebelumnya. 'Sedang lembur'.


Sebetulnya Runi bisa saja mencari tahu, apakah Raka benar lembur seperti yang ia katakan. Namun, untuk apa? Ia bukan tipe wanita yang mudah curiga kepada pasangannya. Lagipula, pikiran buruk justru akan membuatnya semakin overthinking. Padahal, beban hidup sudah begitu banyak dibanding harus memikirkan kecurigaan terhadap sesuatu yang belum pasti bukan?


Makanan yang terhidang di atas meja makan berlihat begitu menggugah selera. Namun sayang, kuah mengepulnya semakin menguarkan aroma sedap yang justru terasa mengocok lambung Runi. Ia bangkit lagi dari kursi makannya untuk yang ke sekian kali, lalu kembali berlari terbirit-birit ke belakang untuk memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu depan pun terbuka. Runi tengah terengah-engah setelah mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi saat itu, namun ia mengetahui jika suaminya baru saja pulang. Yah, meskipun ia tahu Raka datang hanya untuk berganti pakaian kerja lalu akan segera berangkat kembali ke kantor, setidaknya Raka masih ingat untuk pulang.


Runi menyambut suaminya dengan langkah yang limbung. Dilihatnya, lagi-lagi, sama seperti hari-hari yang lalu, pakaian yang Raka kenakan berbeda dari yang ia pakai sebelumnya. Namun Runi tak ambil pusing. Untuk apa ia harus bertanya ini itu sementara jawaban yang muncul dalam otaknya adalah jawaban yang menyakitkan?


"Lembur lagi, Mas?" Tanya Runi dengan suara lesu.


"Iya." Raka menjawab singkat. Ia melepas sandal di teras lalu berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya.


"Aku masak mangut lele buat kamu, Mas," kata Runi yabg kini mengekor langkah Raka menuju ke kamar, mencoba menawarkan sarapan untuk Raka. Meski sebetulnya Runi tahu jika Raka akan menolaknya. Ya, sudah beberapa hari ini Raka jarang sekali mau mencicipi atau bahkan hanya sekedar melirik hasil masakannya.


"Kamu sekarang jarang makan hasil masakanku, Mas." Runi memberanikan diri untuk bicara. Ia juga melayangkan lirikan jengkel pada suaminya itu. Ia berkata untuk mulai melamcarkan protesnya, "Aku lagi nggak enak badan, tapi aku tetap memaksakan diri memasak untuk kamu. Aku selalu mau mencari ide masak ini dan itu, semata-mata agar kamu kangen dengan semua masakanku. Aku kepengin kamu selalu ingat rumah, juga ingat sama aku! Tolong lah, hargai usahaku sedikit saja. Aku istrimu, Mas! Kita sudah menikah. Jangan anggap aku sebagai patung!"


"Lho, siapa yang nyuruh kamu masak?" Raka menghardik dengan nada yang meninggi. "Tidak usahlah kamu masak kalau pada akhirnya kamu ungkit-ungkit tentang hal itu, Runi!"

__ADS_1


"Apa?!" Runi membelalakkan matanya. Ia sedikit terkejut dengan reaksi yang Raka berikan padanya. Ia sungguh tak terima. Ia sudah melalukan segala hal untuk Raka, tetapi apa yang kini ia terima? Maka ia berkata juga dengan nada yabg sedikit lebih tinggi dari biasanya. "Aku cuma minta kamu hargai, Mas! Aku kan nggak pernah minta macam-macam! Apa susahnya sih, menyenangkan hati istri, atau hanya sekedar melegakan hatinya dengan memuji hasil masakanku?"


"Kamu nggak dengar, Runi? Aku nggak lapar! Kalau mau makan, makan aja sendiri!" Raka berseru ketus. Tentu saja ucapan keras Raka membuat Runi terlonjak kaget. Ia bahkan merasa sebuah titik di perutnya berkedut nyeri.


"Kamu kenapa berubah sih, Mas?!" Runi ikut meninggikan suaranya. Air mata yang sepuluh hari ini ia tahan agar tidak tertumpah, kini luruh sudah semuanya.


"Berubah apa?" Raka bertanya ketus. Ia melepas kaus santai yang ia kenakan dengan sekenanya, hingga dada bidang dan kekar Raka terekspose sempurna. Runi meneguk saliva melihat tubuh suami yang sudah satu minggu ini tidak menyentuhnya. Dan si4lnya, Runi begitu merindukan sentuhan Raka!


"Kamu lembur terus, Mas! Kamu jarang tidur di rumah! Kalaupun tidur di sini, kamu pasti selalu pulang malam di saat aku sudah tertidur. Kamu sering pergi di waktu tengah malam dan pulang saat matahari sudah terbit. Kamu jarang makan hasil masakanku. Kamu aneh, kamu berubah menjadi begitu dingin padaku, jarang mengajak mengobrol, jarang memeluk dan menc1umku, dan kamu juga tidak pernah lagi mengajakku berc1nta!" seru Runi dengan menggebu-gebu. Air matanya meluruh begitu deras tanpa bisa ia cegah sama sekali.


"Oh, jadi kamu merindukan aku?" Raka bertanya dengan menyeringai. Ia mendekatkan diri dan menyentuhkan tangan besarnya di rahang Runi, mengusapnya denan halus sehingga menimbulkan sensasi geli yang menggelenyar aneh di sekujur tubuh Runi. Ia kembali bertanya dengan bibir yang berada persis di depan wajah Runi sehingga hangat nafas Raka terasa begitu memburu, "Kamu menginginkanku, sayang?"


Runi menatap nanar wajah suaminya dengan mata yang kini telah berkaca. Ia tak bisa menjawab, sungguh! Ia begitu merindukan Raka, namun ia juga tidak suka dengan perlakuan Raka padanya yang menyebalkan ini.


Raka melirik ke arah jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya. Ia berkata, "Baru pukul enam pagi. Masih cukup waktu bagi kita untuk berc1nta sebelum aku berangkat bekerja, sayang."

__ADS_1


Raka menyeringai. Runi merasa begitu terhina. Ia begitu membenci dirinya sendiri karena sesungguhnya Runi ingin menolak! Namun ia tak bisa berbuat apa-apa begitu Raka mulai mendekatkan wajahnya, menyapukan bibir hangatnya ke bibir Runi yang diam, menyambutnya dengan pasrah. Diam tanpa bisa melawan. Karena jauh di dasar hati, Runi sangat merindukan Raka.


***


__ADS_2