
"Mas Raka!" Runi berteriak histeris memanggil suaminya yang dalam waktu secepat kilat sudah menghilang ditelan kegelapan malam.
Runi menangis, jelas. Ia yang tak tahu apa kesalahannya, kini harus melihat betapa Raka sangat marah terhadapnya.
Tak tahu ke mana arah Raka menghilang, Runi masuk ke dalam ruang jahitnya setelah mengunci pintu depan. Ia meraih ponselnya yang ia letakkan di samping mesin jahit, lalu dicarinya kontak Raka.
Tuuut ...
Tuuut ...
Tuuut ...
Panggilan yang ia tujukan pada Raka terhubung, tanda nomor itu masih aktif. Hanya saja, Raka tidak mengangkatnya.
'Ah, mungkin Mas Raka lagi di jalan' pikir Runi menenangkan diri. Tapi nyatanya, sekuat apapun ia berusaha mengontrol perasaannya sendiri, ribuan pertanyaan terus muncul mengganggu pikiran Runi.
Apa yang terjadi dengan Mas Raka?
Mengapa ia semarah itu?
Apa dia marah padaku? Tapi, apa alasannya?
Kesalahan apa yang sudah aku lakukan padanya?
Pergi ke mana dia, semalam ini?
Malam nanti akan pulang, kan?
Pikiran buruk terus berkecamuk di benak Runi. Namun ia masih berpikir positif, suaminya pasti akan pulang sebentar lagi. Dia hanya akan pergi sebentar saja untuk menghilangkan penat pikirnya, yang entah karena sebab apa.
Melangkah pelan ke dapur yang menyatu dengan ruang makan, Runi mengambil piring sendiri. Ia mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauknya, lalu mulai memasukkan suapan pertama makan malamnya dalam diam. Sebetulnya, Runi sudah merasa lapar sejak petang tadi. Hanya saja ia ingin makan bersama suaminya. Ia tahu, Raka tidak pernah mau makan sendiri. Itulah mengapa ia bersikukuh makan setelah Raka pulang.
Membayangkan hal itu, setetes air mata jatuh di pipi Runi.
__ADS_1
Namun sebersit tawa kecil muncul di bibir Runi saat Popo berjalan pelan melewati kakinya, menggesekkan bulu halusnya di sana. Popo seperti ingin menghibur Runi, menjaga agar tuannya tidak sedih lagi.
"Sini, Popo! Duduk di sampingku!" Pinta Runi pada Popo seraya menepuk pelan kursi di sebelahnya, sebuah kursi yang biasa diduduki oleh Raka.
Popo mengangguk. Ia melompat dan hanya dalam sepersekian detik saja, anjing kecil berbulu abu-abu itu sudah duduk sejajar Runi.
Runi tertawa. Sedikit banyak, kehadiran Popo di sini bisa mengusir kegalauan hatinya. Ia yang memang seringkali merasa kesepian karena Raka sering pulang malam, dan kebetulan ia juga belum diberi momongan yang bisa turut mengisi kekosongan hari-harinya, kini menyadari bahwa kehadiran Popo rupanya bisa sedikit menghibur dirinya.
"Guk!" Popo menyalak pelan. Ia berdiri dengan dua kaki berada di tepi meja, mengawasi bagaimana Runi makan hasil masakannya sendiri--ayam betutu-- dengan lahapnya.
"Kenapa, Popo?" Tanya Runi keheranan. "Kamu mau?"
"Guk!" Popo menyahut dengan menggoyang-goyangkan ekornya. Pupil matanya juga terlihat melebar.
"Lho, bukannya kamu udah makan tadi sore?" Tanya Runi lagi. Namun reaksi yang Popo tampilkan cukup membuat Runi tertawa gemas. Ia justru terduduk lemas dengan ekor menjubtai ke bawah.
"Ih, jangan ngambek! Iya deh iya, aku ambilkan makan lagi untukmu, ya?"
Runi bangkit dengan mengambil piring yang tadi ia gunakan untuk makan Popo. Diambilnya nasi dan beberapa jumput daging cincang, lalu ia berikan pada Popo.
Popo tidak merespon. Ia menggoyangkan ekornya yang menjuntai ke bawah dengan malas, serta tidak melirik sama sekali hidangan yang Runi berikan untuknya.
"Lho, tadi katanya kepengin makan lagi? Gimana sih, Po?!" Runi mengernyit bingung.
Popo kembali berdiri. Kedua kaki depannya menapak di atas meja makan. Kepalanya menoleh ke arah mana ayam betutu hasil masakan Runi berada. Matanya berbinar.
"Oooh! Kamu kepengin ayan betutu juga?" tebak Runi. Ia tertawa lebar saat melihat respon menyenangkan dari Popo. Anjing kecil itu melonjak dan menggoyang-goyangkan ekornya dengan gembira.
"Owalah, kepengin ayam betutu toh? Kenapa nggak bilang dari tadi!" Seru Runi seraya tertawa. "Hahaha, oke! Aku ambilkan! Tunggu sebentar, ya!"
***
Raka melajukan motor besarnya dengan kecepatan tinggi, tanpa tujuan. Rasa frustasi menyergapnya sedari siang tadi karena pertengkaran hebatnya dengan Widuri. Bukan bertengkar, namun lebih tepatnya Widuri menolak dirinya. Widuri meminta pembuktian akan cintanya. Jika Raka tidak bisa memberi bukti apapun, maka Widuri mengancam akan pergi lagi, meninggalkan dirinya. Sama seperti empat tahun yang lalu.
__ADS_1
Dan rasanya, Raka tak mungkin bisa mengulang situasi empat silam. Waktu di mana dia betul-betul jatuh dan terpuruk karena Widuri pergi begitu saja dari hidupnya.
Berputar-putar tanpa arah, Raka melajukan motornya semakin cepat. Hembusan angin malam rupanya tidak bisa menghilangkan rasa kalut yang semakin menyiksa batinnya. Dadanya terasa makin sesak, seolah-olah seluruh masalah menyeruak, menumpuk dan tertimbun tepat di jantungnya. Penuh, rasanya benar-benar Penuh.
Titik-titik air hujan mulai berjatuhan dari langit yang pekat. Raka kembali melajukan motornya, namun ia tak ingin pulang. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba motornya berhenti di halaman luas sebuah rumah mewah. Bercat putih. Sebuah ayunan kayu jati dengan ukiran unik berada di halaman.
Lama berdiam diri di atas motor besarnya, ia mengawasi pergerakan penghuni rumah itu dari balik jendela. Ya, Widuri ada di dalam sana. Raka bisa melihat bayang tubuh gadis itu dari korden kamarnya, sesekali berjalan di balik jendela, melakukan sesuatu yang entah apa.
"Duri ..." Bisik Raka pelan. Pedih membayangkan seseorang yang tidak bisa kita miliki. Bukan karena faktor restu. Bukan juga karena bertepuk sebelah tangan. Tapi hanya karena dirinya kurang sabar menunggu Widuri sedikit lagi. Widuri pergi selama empat tahun, sementara ia baru menikah dengan Runi satu tahun yang lalu. Andai saja ia bisa bersabar satu tahun lagi untuk menunggu Widuri kembali, tentu saja kini ia bisa kembali menjalin kembali hubungan mereka yang pernah kandas!
Namun sayang semua sudah terlambat. Dirinya sudah terlanjur ada yang memiliki! Ia sudah menikah!
Putus asa, Raka berjalan gontai menuju pintu rumah itu. Entah apa tujuan Raka datang kemari, tapi yang jelas ia sangat ingin melihat senyum Widuri, detik ini juga!
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Raka mengetuk pintu rumah Widuri perlahan. Harapnya sangat tinggi untuk bisa bertemu, atau bahkan hanya sekedar melihat sekilas wajah wanita pujaannya.
Krieeeet.
Pintu pun terbuka. Wajah ayu rupawan dengan mahkota kepala panjang ikal menyambutnya di ambang pintu.
"Raka? Ngapain malam-malam ke sini?"
Raka tidak menjawab. Ia memandang Widuri dengan tatapan sayu. Lalu ia melangkah mendekat menuju titik di mana Widuri berdiri, mendorongnya dengan kuat. Pintu ruang tamu ditutupnya perlahan dengan kaki sementara ia tetap mendorong tubuh Widuri dengan kedua tangannya. Gadis itu mundur merepet ke tembok ruang tamu, tak bisa berkutik.
"Ada apa, Raka?" Tanya Widuri bingung. Ia melihat tetesan air dari baju Raka yang basah. Ia berkomentar, "Raka! Bajumu basah! Kamu kehujanan?"
Raka tak menjawab pertanyaan Widuri. ia hanya berkata singkat, "Aku merindukanmu, Duri."
__ADS_1
Lalu sedetik setelah itu, sebuah c1uman datang meraup bibir merah Widuri dengan begitu buasnya.
***