Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
34. Hancur


__ADS_3

Dunia Runi terasa gelap. Darahnya terasa mendidih. Ia ingin segera mengamuk untuk membubarkan tingkah asusila dua makhluk sampah di hadapannya, namun entah mengapa rasanya seluruh kekuatan lenyap sudah dari tubuhnya. Persendian terasa begitu lunglai, seluruh tulang serasa lepas dari tempatnya.


Tubuh Runi gemetar. Keringan dingin membanjir di sekujur tubuhnya, membuatnya merasa begitu lemas. Sungguh, ingin ia maju untuk merusak momen menjijikkan dua insan yang ada di balik tirai itu. Saling berc umbu dan bergelut seperti dua ekor bekicot yang saling menempel dan memelintir satu sama lain. Sungguh, betapa menjijikkan!


Runi ingin meringsek maju. Ingin ia cakar wajah cantik namun menyebalkan gadis jah4nam itu. Ingin ia jambak kuat-kuat rambut panjang kecoklatan Widuri, gadis yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya. Ingin ia tarik sekuat tenaga dan dilemparnya kuat-kuat ke dinding ruangan itu. Namun, Runi sungguh tak berdaya. Tubuhnya terasa begitu lemas!


Dan Raka? Sungguh. Ingin Runi kumpulkan seluruh kekuatan di telapak tangannya, lalu ia tamparkan kuat-kuat di wajah suami bejatnya itu. Bahkan kini Runi sedang mengandung buah hati mereka tercinta, yang sudah mereka tunggu selama satu tahun lamanya. Lalu kini, apa yang terjadi? Ayah dari buah hati tercinta yang sudah mereka tunggu-tunggu ini, telah berkhianat dengan begitu gil4nya dengan sahabat istrinya sendiri! Di mana otak lelaki si4lan itu?


Saking terkejutnya, Runi merasa perutnya berkedut nyeri. Seolah-olah, jabang bayi mereka yang tak tahu apa-apa itu melakukan protes begitu merasa jika sang ayah telah mengkhianati ia dan ibunya. Ia yang begitu polos, suci dan tak berdosa itu kini harus menjadi saksi bisu betapa bejat ayah kandungnya dan tega memadu kasih dengan wanita lain!


Namun, Runi yang tengah banjir air mata itu tak ingin terlihat begitu rapuh di hadapan mereka. Ia menghela nafasnya panjang. Dan meski terasa berat dan sesak, namun ia hembuskan secara perlahan melalui mulutnya.


Runi tahu betapa rapuh dirinya saat ini. Ia tahu, jika ia meringsek maju, nantinya hanya akan menangis seperti orang gila dan berakibat mempermalukan dirinya sendiri. Ia hanya mengambil ponsel yang ia bawa dalam genggamannya, lalu ia abadikan pose menjijikkan dua makhluk di hadapannya itu yang kini sudah tak mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka. Entah akan ia gunakan untuk apa gambar yang ia abadikan itu nantinya, yang jelas kini ia memilih saja untuk segera pergi dari sana.


Ya, ia butuh ketenangan! Ia tak mau berteriak seperti orang gila di saat kini ia memang betul-betul gila!


"Nggak jadi ketemu Non Duri, Neng?" tanya penjaga rumah itu kepada Runi yang melangkah limbung menuju motornya.


Runi menggeleng. Tadi ia sempat menangis, namun kini ia berhadapan dengan orang asing. Ia tidak mau terlihat rapuh dan terluka. air matanya sudah ia hapus dengan punggung tangannya.


"Iya, Pak. Saya baru ingat kalau saya belum beli gas. Takutnya kehabisan, nanti malam takutnya nggak bisa masak," jawab Runi spontan sesuai jawaban yang terlintas di benaknya.

__ADS_1


"Owalah. Ya sudah kalau gitu. Hati-hati Neng, pulangnya."


"Iya, makasih banyak, Pak," sahut Runi pelan.


Kini ia sudah sampai di motornya yang terparkir di samping pos penjaga. Ia duduk sebentar di atas jok motor untuk menetralkan rasa gusar, gelisah, sekaligus kecewa yang tiba-tiba menyeruak membuncah dalam dadanya.


"Ada masalah apa, Neng?" Penjaga itu bertanya khawatir. Pak penjaga itu melihat sedikit keanehan di wajah Runi yang terlihat merah dan sembab.


"Eh, enggak ada apa-apa, Pak." Runi menjawab gugup lalu segera menyunggging sebuah cengiran lebar di wajahnya. Namun meski ia berusaha tersenyum, tetap saja wajah sedih itu terlihat jelas. Ia berpesan pada pak penjaga, "Pak, nitip jahitan buat Tika, ya? Ada di ruang tamu. Saya nggak sempat ketemu sama Tika tadi."


"Siap, Neng! Mau pulang sekarang?"


"Iya, Pak." Runi menyalakan mesin motornya. meski sebetulnya tubuhnya masih merasa gemetar, namun rasanya tetap bertahan di sini justru akan membuatnya semakin terluka lebuh dalam lagi. Ia lebih memilih menjauh secepat mungkin dari dua manusia sampah yang telah mengkhianatinya itu. Dan dengan suara yang masih gemetar, Runi berpamitan. "Mari, Pak. Saya pulang dulu."


***


ISTANA CENDANA (Flashback satu hari yang lalu)


Candra telah menyelesaikan hukuman yang ia jalani atas perintah Raja Suryapati, ayahnya sendiri. Ia telah membersihkan satu demi satu paviliun halaman istana yang ayahnya minta, dan tentu saja ia tak berani sedikitpun menggunakan kekuatannya.


Candra hampir nekat untuk menjajal sedikit kekuatannya tadinya. Ya, hanya dengan sedikit jentikan jemari, maka seluruh dedaunan kering dan beberapa ranting patah itu tentu akan menyingkir dengan sendirinya.

__ADS_1


Namun tanpa disangka sama sekali, saat ia tengah mencoba mengangkat jari telunjuk kanannya, tiba-tiba Bayu yang sedari tadi mengawasinya di sudut taman seperti seorang mandor, berbisik pelan padanya. "Tuan!"


"Astaga!" Candra melonjak kaget karena suara Bayu. Meski terdengar begitu pelan, namun rupanya tepat berada di depan telinganya. "Sejak kapan kamu berdiri di belakangku? Ngagetin aja!"


"Sejak lima detik yang lalu, Tuan."


"Uhhh!" Candra merengut sebal. "Ngapain kamu dekat-dekat? Sana, duduk di pojokan! Daripada dekat-dekat, tapi nggak ada gunanya sama sekali!"


"Siapa bilang saya tidak berguna, Tuan? Saya ada di sini untuk mengawasi Anda. Saya takut Anda kenapa-kenapa sehingga saya harus selalu stand by di sini," jawab Bayu dengan wajah polosnya. Namun Candra tahu, Bayu sebetulnya tengah mengerjainya.


"Bilang saja kamu ingin menertawakanku yang sedang menjalani hukuman dari ayah. Betul, bukan?" sergah Candra dengan raut wajah luar biasa jengkel. "Bukannya membantu, kamu justru menggangguku!"


"Saya tidak mengganggu, Tuan. Saya hanya mengingatkan kepada Anda untuk berhati-hati," ucap Bayu dengan serius.


"Berhati-hati? Kenapa aku harus berhati-hati, Bayu?" tanya Candra tak mengerti.


"Apa Anda ingin Yang Mulia Raja Suryapati menyegel kekuatan Anda selama satu tahun penuh?" Bayu melemparkan pandangan tengil pada Tuannya. "Saya tahu Anda sedang ingin menyelesaikan hukuman dengan bantuan kekuatan Anda. Jadi, saya mencoba mengingatkan Anda tentang pesan dari Yang Mulia Raja. Saya tidak mau Anda harus kehilangan kekuatan Anda selama satu tahun penuh."


"Si4lan!" Candra yang mengira jika Bayu akan mengatakan hal serius, kini mengumpat kesal pada asistennya itu. "Kamu pergi aja deh, sono! Daripada di sini tapi nggak ada gunanya! Dasar mata-mata tukang ngadu!"


"Hahaha!" Bayu terbahak begitu keras sebelum akhirnya ia melangkah menjauhi Candra. Ia kembali duduk di sebuah kursi taman berbahan tembaga dengan ukiran unik yang terpasang di sudut taman, lalu kembali mengawasi tuan mudanya yang sedang menjalani hukuman. Ini adalah kesempatan langka. Kapan lagi kesempatan ini akan ia nikmati?

__ADS_1


***


__ADS_2