Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
37. Pertengkaran Hebat


__ADS_3

"Pulang?" Ulang Widuri tak terima.


"Iya. Maafin aku, Duri. Aku harus pulang."


"Enggak boleh," larang Widuri seraya mengerucutkan bibirnya. Ia juga menggamit jemari Raka, menahannya di sini agar tidak oergi meninggalkannya. "Kamu kan janji, malam ini mau tidur di sini! Aku kesepian, Raka!"


"Tapi aku harus pulang, Duri. Runi ... Runi ..." ucapan Raka terputus.


"Kenapa sama cewek cupu itu?" hardik Widuri dengan mata melotot kesal. "Bukannya kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu akan memilihku dan meninggalkan Runi? Lalu, kenapa sekarang kamu terlihat ragu, Raka?"


Raka mematung, tak menjawab pertanyaan Widuri. Gadis itu mulai meradang. Ia bertanya dengan mata yang terlihat nanar dan suara yang meninggi. "Raka, coba jawab pertanyaanku dengan jujur, lugas, dan tegas. Siapa yang kamu pilih, aku atau cewek cupu sok polos itu?!"


"A-aku ..." Jawaban Raka terpotong. Keraguan yang terlihat jelas di mata Raka membuat Widuri kembali meradang.


"Tidak usah dijawab! Aku sudah tahu jawabannya, Raka! Ternyata apa yang kamu janjikan selama ini semua bohong!" Widuri berseru dengan berapi-api.


"Ini semua butuh waktu, Duri. Aku tidak serta merta bisa meninggalkan dia begitu saja. Kamu tahu, kan? Dia yatim piatu dan sebatang kara. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi," kata Raka dengan nada memohon.


"Apa hanya karena dia sudah tidak punya siapa-siapa, lalu kamu harus terus menjadi milik dia?" Widuri kembali meradang. Ia juga sudah hampir menangis sekarang. Matanya terlihat begitu merah.


"Tidak, sayang." Raka meraih jemari Widuri yang menggantung di sisi tubuhnya. Namun Widuri yang tengah kesal tidak mau disentuh oleh Raka.


"Jangan pegang-pegang!" Sergah Widuri kesal. "Kamu selalu berjanji padaku, katamu akan segera meninggalkan dia. Tapi nyatanya, kamu masih selalu condong padanya! Kamu bahkan akan meninggalkanku! Mau sampai kapan aku bersabar?"


Widuri yang tengah kesal ini pun masuk ke ruang tamu dengan langkah yang cepat, meninggalkan Raka di teras.

__ADS_1


Raka menghela nafas panjang. Ia hembuskan secara perlahan. Raka menengadah menatap langit yang kini ronanya sudah betul-betul hitam. Entah sudah berapa lama Runi meninggalkan rumah ini, ia harap saat ini Runi sudah tiba di rumah mereka. Ingin ia pulang untuk sekedar memastikan apakah Runi baik-baik saja, namun Widuri saat ini tengah marah padanya. Sudah pasti, Widuri merasa amat cemburu pada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


"Duri, sayangku." Suara lembut Raka kembali terdengar saat ia mengekor langkah Widuri ke dalam rumah. Tiba di ruang tamu, ia bisa meraih jemari Widuri yang mengayun ke depan dan ke belakang di sisi tubuhnya.


"Lepasin tanganku!" Pinta Widuri tanpa mau memalingkan wajahnya ke arah Raka. Ia meronta, meminta agar Raka mau melepas kaitan jemari mereka.


Tanpa putus asa, Raka melepas jari Widuri. Namun segera setelah itu, ia memeluk erat tubuh Widuri dari belakang. Ia berkata, "Jangan ngambek, sayang. Aku selalu memilih kamu."


Widuri menghentikan langkahnya. Wajah dan tubuhnya masih menghadap ke arah depan dan Raka sama sekali tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya. Namun, kini Widuri tengah tersenyum.


"Jangan marah, sayang. Aku pulang dulu. Aku memastikan kondisi, aman atau tidak jika aku pergi lagi."


"Tuh, kan? Kamu masih memilih Runi. Buktinya, kamu masih memperhatikan perasaan dia?" Widuri memutar tubuhnya menghadap Raka, lalu mencebik kesal.


Raka tersenyum. Bibir mencebik Widuri terlihat begitu menggemaskan untuknya. Ia berkata, "Aku butuh waktu, Duri. Secepatnya aku akan menceraikan dia, lalu berpisah darimu."


Raka pergi dengan kecepatan sedang saat meninggalkan rumah Widuri, begitu kekasih hatinya itu tidak merajuk lagi. Begitu banyak janji yang Raka ucapkan untuk membuat hati Widuri merasa yakin akan cintanya. Dan janji itu, bermakna meninggalkan Runi lalu akan segera kembali pada Widuri.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Raka memasuki rumahnya dengan perasaan yang was-was. Ia mencari Runi, istrinya. Dan ia ingin melihat kondisi Runi. Apakah Runi betul-betul telah memergokinya sedang berc 1nta dengan Widuri, atau tidak?


"Runi!" panggilnya dengan suara yang lantang.


Tak ada jawaban. Seharusnya, Raka merasa gelisah. Namun sekejap kemudian, indera penciuman Raka menangkap aroma sedap dari pintu belakang--dari dapur mereka.

__ADS_1


"Lagi masak apa, sayang?" Suara lembut Raka terdengar mendayu. Seharusnya mengagetkan Runi, namun nyatanya tidak. Ia sudah mendengar derit pintu ruang tamu yang terbuka, tetapi ia tidak merasa memiliki kewajiban untuk menyambut suaminya pulang.


"Hmmm," gumam Runi sekenanya.


"Udah mau mateng, ya?" Tanya Raka seraya meneguk saliva. Soto Betawi yang Runi masak di hari yang syahdu pasca hujan ini terasa begitu menggugah seleranya. Ia menengok sebentar ke arah panci, lalu berkata, "Mau dong sotonya. Aku lapar banget."


"Memangnya kamu belum makan?" tanya Runi cuek dan tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali dari masakannya yang belum begitu matang.


"Belum, sayang." Raka menjawab sembari melingkarkan kedua tangannya di perut Runi.


"Lepasin, kamu basah." Runi meronta pelan untuk melepaskan pelukan Raka pada pinggangnya. Ia membalikkan tubuh dengan sendok sayur teracung tepat di depan wajah Raka. Ia bertanya, "Kamu belum makan di rumah selingkuhanmu itu?"


"Se-selingkuhan?" Raka tergagap begitu mendapatkan pertanyaan yang begitu telak itu.


"Hahaha!" Runi tertawa sumbang. Melihat Raka yang berpura-pura bodoh ini, terlihat begitu lucu di matanya. "Lalu harus aku umpamakan dia sebagai apa, Raka? Sebagai kekasih gelap? Ular berbisa? Wanita bermuka dua? Serigala berbulu domba? Bukannya itu sama saja?"


Raka terkesiap. Runi tidak pernah memanggilnya nama. Istrinya itu selalu sopan padanya. Ia selalu memanggil 'Mas'. Tapi, mengapa sekarang berubah?


"A-apa kamu datang ke rumah Duri?" tanya Raka dengan terbata.


"Kenapa memangnya kalau aku datang ke sana?" Tanya Runi dengan pandangan nyalang. Sungguh, kini ia memiliki sedikit keberanian, setelah pulang dan merenung sebentar, lalu melakukan hal kesukaannya--memasak, meski sebetulnya lambungnya tidak bisa menerima aroma makanan. Lain halnya dengan saat pertama kali memergoki Raka sedang bercum8u dengan wanita lain. Saat itu ia terlihat begitu shock, sedih, hancur, tak berdaya, dan hanya bisa menangis. Namun berkebalikan dengan saat itu, Runi sekarang sudah merasa jauh lebih kuat.


"Ah, kamu pasti ke sana," ucap Raka dengan nada lirih. Ia mendengkus dan terlihat begitu kesal, meski entah kesal pada siapa. Namun si4lnya ia bertanya, "Kamu melihat apa tadi, sayang?"


"Hmmm, lihat apa ya?" Bukannya menjawab, justru Runi bertanya balik dengan menyungging seringai miring. Ia memutar-mutar sendok sayurnya kembali, lalu mengacungkannya tepat di depan wajah Raka dan berkata, "Kamu pikir aku bodoh? Yang jelas aku cukup tahu permainan menjijikkan apa yang kamu lakukan di belakangku selama ini bersama wanita j4lang itu!"

__ADS_1


***


__ADS_2