
Pagi itu diawali dengan suara gedoran mengejutkan di pintu depan. Fajar telah lama menyingsing, namun dua penghuni rumah belum juga terlihat beraktivitas di sudut rumah manapun. Bahkan lampu teras masih terlihat menyala. Jendela pun belum ada yang terbuka.
"Raka, Runi!" Suara seorang wanita paruh baya terdengar menggelegar di pagi saat matahari sudah berada di sepenggalah naik. "Buka pintunya!"
Namun, hening. Tidak ada sahutan dari dalam rumah.
"Lho, ada Bu Aswini?" Tetangga samping rumah, Bu Saroh, datang mendekat untuk menyapanya. Ia mengulurkan tangan dan bertanya, "Tumben datang pagi-pagi begini?"
"Oh, iya, Bu Saroh! Saya habis belanja di pasar. Sekalian aja mampir kemari bawain lauk sama sayuran," sahut Bu Aswini seraya menyambut uluran tangan Bu Saroh. "Ini lho Bu, saya mau nengokin Raka sama Runi, tapi kok kaya nggak ada orang ya?"
"Kayanya ada di rumah sih. Tadi malam saya lihat Mas Raka pulang kemari soalnya. Mbak Runi juga pasti di rumah, soalnya sudah sebulan ini dia cerita kalau pesanan jahitannya menumpuk banget. Nggak mungkin lah kalau ditinggal liburan," tebak Bu Saroh. Ia menambahkan, "Duh, ngomong-ngomong, perhatian banget sih sama menantu, pakai dianterin lauk dan sayuran segala," puji Bu Saroh seraya tersenyum.
"Ah, biasa aja, Bu. Soalnya Raka itu hobi banget makan. Kalau lagi pulang, saat makan, pasti bisa habis sampai dua piring. Jadi saya bawain sayuran dan lauk pauk buat Raka. Kasihan kan Bu, udah capek kerja, sering lembur, pulang malam, tapi jarang dikasih makan. Kaya nggak keurus gitu, kan, anak saya?" curhat Bu Aswini.
"Oh, masa gitu sih, Bu?" Bu Saroh mengerutkan keningnya tak percaya. "Padahal Mbak Runi itu hampir setiap hari belanja sayur di tukang sayur langganan. Masa iya sih nggak pernah masak?"
"Lha buktinya tho, Bu?" Bu Aswini kembali mencebik. "Kalau si Raka udah kenyang, nggak mungkin selahap itu kan, makan di rumah saya?"
"Bisa jadi karena kerjanya memang capek, Bu." Bu Saroh mencoba membela Runi. "Biasanya kalau orang cape kerja, makannya memang lahap."
"Nggak lah, Bu. Kalau menurut saya sih Runi masaknya nggak bergizi. Atau jangan-jangan, Raka cuma dikasih tempe sama tahu doang?" tebak Bu Aswini sembarangan.
"Aduh, Bu Aswini. Jangan mikir yang enggak enggak, kasihan dong Mbak Runi. Kalau saya lihat, Mbak Runi itu rajin kok. Dia hampir setiap hari belanja, jadi ya sepertinya juga masak setiap hari. Sekali belanja pun macam-macam lauknya. Kadang tongkol, ayam, udang, ikan, lele, dan sebagainya," sergah Bu Saroh berusaha meluruskan pemikiran tetangganya ini. "Dan kalau saya lihat, Mbak Runi itu orangnya sabar banget kok, Bu. Nggak pernah marah sama sekali. Sama tetangga juga sering bagi-bagi rejeki."
"Ah, Bu Saroh mah gitu. Runi aja dibelain," ujar Bu Aswini seraya mencebik. Ia pun berniat tak memperdulikan lagi wanita paruh baya itu karena tidak satu suara dengannya, lalu kembali mengetuk pintu rumah anaknya.
"Raka, Raka! Buka pintunya, Nak! Ibu datang!"
__ADS_1
"Kayaknya Mbak Runi sama Mas Raka belum pada bangun, Bu! Mumpung hari Minggu toh, ini. Bisa jadi sih, tadi malam habis lembur tujuh ronde. Biasa lah, mereka kan bisa disebut sebagai pengantin yang masih terbilang baru. Apalagi, kaya Mas Raka dan mbak Runi mah masih muda banget. Jadi kalau mau tempur setiap malam sih masih kuat-kuat aja, hehehe," seloroh Bu Saroh seraya berlalu dari halaman rumah itu.
"Ih, apa sih Bu Saroh, nggak jelas banget!" Omel Bu Aswini seraya mencebikkan bibirnya. Maka setelah Bu Saroh betul-betul menghilang dari pandangan, Bu Aswini kembali mengetuk pintu rumah putranya keras-keras.
Namun sayang, sekian menit berlalu tak jua ada jawaban. Saking gemasnya, Bu Aswini mulai melangkah ke samping rumah, mencoba mengetuk jendela kamar Runi dan Raka. Siapa tahu, sepasang suami istri berusia muda itu memang belum terbangun.
"Raka, Runi! Bangun! Ibu datang!" seru Bu Aswini seraya mengetuk pintu jendela kamar.
"Raka, Runi! Sudah siang! Tolong bukakan pintu, ibu sudah lapar!" bu Aswini berseru lagi.
Tiba-tiba, korden jendela pun terbuka. Terlihat di balik jendela, wajah menantunya masih terlihat berantakan. Rambut panjang hitamnya pun masih terurai dengan awut-awutan.
"Astaga, Runi! Apa kamu baru bangun?!" Bu Aswini melotot kaget melihat menantunya masih terlihat seberantakan ini. "Jam berapa ini?!"
Di balik kaca jendela, Runi menyengir masam. Ia membuka jendela kamarnya, lalu mengaitkan besi penyangga untuk menahan daun jendela terbuka.
"Bukain pintu, cepat! Ibu udah lapar banget!" omel Bu Aswini seraya melangkah kembali ke teras rumah.
"Kamu beneran baru bangun jam segini, Runi?!" Bu Aswini kembali bertanya dengan suara menggelegar begitu pintu rumah dibuka oleh Runi.
"I-iya, Bu. Maaf, aku agak nggak enak badan," ucap Runi lirih.
"Halah, alasan aja kamu ini!" Bu Aswini masuk ke dalam rumah. Runi menutup pintu depan, membuka korden dan daun jendela ruang tamu, lalu segera melangkah mengikuti jejak ibu mertuanya ke dalam rumah.
"Di mana Raka?!" Bu Aswini mengernyit bingung setelah melihat kamar Runi yang sudah kosong. Tak terlihat sama sekali putranya di sana. "Bukannya ini hari Minggu? Apa dia berangkat kerja? Atau pergi ke mana?!"
"A-ada, Bu." Runi kembali memasang wajah bingung. Semalam, ia dan Raka bertengkar hebat. Ia bahkan mengusir Raka dari kamarnya karena merasa kesal setiap kali berada berdekatan dengan suami br3ngs3knya itu. Wajar saja, dikhianati dengan sedemikian gilanya, wanita mana yang rela?
__ADS_1
"Di mana dia? Kenapa ibu nggak lihat Raka di kamar?!" tanya Bu Aswini. Ia melangkah ke dapur, ke kamar mandi, dan ke manapun. Namun ia tak melihat keberadaan putranya di sudut manapun di rumah ini.
Runi menghela nafas. Entah mengapa, rasanya berat sekali. Mungkinkah Raka pergi ke rumah Widuri setelah malam tadi ia mengusirnya dari kamar?
"Se-sebentar. Saya cek dulu, Bu."
Runi melangkah pelan ke garasi di samping ruang tamu. Ia ingin memastikan apakah motor besar Raka ada ataukah tidak. Namun akhirnya ia bernafas lega saat melihat motor Raka masih berdiri tegak di sana.
"Di mana Raka?!" Bu Aswini kembali bertanya saat Runi datang mendekat padanya.
Runi masih belum menjawab. Ia kembali melangkah melewati ibu mertuanya sejauh beberapa meter dan meraih handle pintu kamar yang jarang ia sambangi--kamar tamu.
Kriieeeet.
Pintu kamar tamu pun terbuka. Terlihat di sana, Raka masih meringkuk memeluk bantal guling.
"Rakaaaa!" Suara Bu Aswini menggelegar memanggil putranya. Dan tentu saja, suara keras itu sukses membuat Raka melonjak terbangun.
"Ibu kapan datang?"
Tanpa menjawab, Bu Aswini kembali bertanya, "Ngapain kamu tidur di kamar tamu?! Apa kalian bertengkar?!"
"Enggak kok, Bu." Runi mencoba mengelak.
Namun Bu Aswini yang melihat adanya kejanggalan di antara anak dan menantunya, tak percaya sama sekali dengan elakan Runi. Ia justru berkata dengan penuh emosi karena tak terima anaknya terusir dari kamarnya yang nyaman.
"Seharusnya wanita ini yang tidur di situ! Bukan kamu!"
__ADS_1
***