
"Apa maksud kamu, Runi?" Raka bertanya tak mengerti. Ia mengernyitkan alisnya.
"Hahaha!" Runi terbahak keras sekali. Terdengar nada miris dalam suaranya. "Nggak usah ngeles, Mas. Aku punya mata, dan mataku masih berfungsi dengan sangat jelas. Bahkan perbuatan tak senonohmu dengan wanita si4lan itu, aku tahu semuanya!"
Raut wajah Raka terlihat begitu pucat pasi. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Runi. Istrinya itu terlihat begitu terluka. Meski bicara dengan berapi-api, namun mata istrinya itu terlihat begitu merah seakan tengah menahan tangis.
"I-itu ..." Raka terlihat begitu putus asa untuk menjelaskan kepada Runi dengan cara bagaimana. Ia ingin mengelak, namun ia tidak tahu sejauh apa yang Runi lihat dan ketahui dari hubungannya dengan Widuri. Ia takut jika ia bicara sembarangan, maka justru akan membongkar kedoknya yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
Runi menghembuskan nafas dengan kasar. matanya terlihat begitu merah, sembab, dan sedikit berkaca. Entah sudah berapa lama ia menangis, Raka tidak tahu. Yang jelas, sejak ia menemukan bingkisan di ruang tamu Widuri hingga saat ini, waktu sudah berselang satu jam. Namun entah sudah berapa lama pula bi gkisan itu tergeletak di sana.
Dengan menatap nyalang wajah Raka, Runi bertanya, "Mas, coba jawab pertanyaanku dengan jujur!"
Mendadak, Raka merasa tertuding. Padahal, belum juga Runi melontarkan tanya untuknya, namun rasanya senapan Runi sudah mengarah tepat ke jantungnya.
Runi sempat melelan saliva karena tenggorokannya terasa tercekat. Ia menghela nafas panjang lalu bertanya dengan tatapan tajam, "Sudah berapa kali kamu tidur dengan Widuri si4lan itu, Mas?!"
Raka betul-betul merasa tertohok kini. Ia speechless, tak tahu harus menjawab pertanyaan Runi dengan jawaban seperti apa, agar bisa menenangkan hati istrinya itu. Ia meraih bahu Runi dan menariknya ke dalam dekapannya. "Runi, sayangku. Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu bayangkan!"
"Jangan sentuh aku dengan tubuh kotormu!" hardik Runi yang memekik dengan suara melengking tinggi. Ia menepis kedua tangan Raka yang terarah pada bahunya, tak sudi Raka menyentuhnya barang seujung kuku pun. Ia tidak tahu mengapa bisa semarah ini, namun rasanya dadanya seperti akan meledak. Runi juga tidak bisa lagi menahan emosi yang makin menyiksa dadanya.
Runi mematikan kompornya, karena kuah soto yang tengah ia masak itu sudah terlihat mengepul dan menimbulkan gelembung-gelembung kecil di permukaannya. Aroma kuah soto itu makin terasa menyengat dan itu sukses membuat perut Runi terasa bagaikan diaduk-aduk. Ya, Runi memang masih merasa begitu mual. Ia benci dengan aroma makanan. Tetapi saat ini, melakukan hobinya--memasak--terbukti efektif menghilangkan risau yang mengguncang jiwanya.
__ADS_1
"Makan dulu. Aku masak soto buat kamu," kata Runi dengan ekspresi datar, mencoba mengabaikan pertengkaran hebat mereka baru saja. Jujur saja, ia tak bernafsu lagi untuk bicara banyak-banyak dengan suaminya. Bahkan bertatap muka seperti ini, membuatnya merasa semakin mual.
Tanpa bicara, Runi mengambilkan nasi dan isian soto ke dalam satu buah mangkuk. Ia juga menuang beberapa sendok kuah mengepul dengan aroma menyegarkan itu di mangkok tadi, lalu menghidangkannya di depan Raka.
"Kamu nggak makan?" tanya Raka kebingungan melihat Runi berlalu meninggalkannya usai menghidangkan makan malam. "Kenapa hanya mengambilkan nasi makan malam untukku saja?"
"Aku nggak lapar. Aku mual setelah melihat tontonan menjijikkan tadi sore," kata Runi seraya berjalan menjauh.
Raka menelan saliva. Sedari, Runi hanya bicara tentang 'perbuatan menjijikkan'. Lalu, apakah Runi betul-betul melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang sudah Raka lakukan bersama Widuri?
Mendadak, Raka kehilangan nafsu makannya. Soto betawi dengan kuah mengepul dan aroma sedap yang menguar dan menggelitik indera penciuman Raka, kini hilang kenikmatannya seketika.
Raka bangkit dengan segera untuk menyusul Runi ke dalam kamar. Tetapi, ia tak menemukan istrinya di sana. Ia mencari keberadaan Runi di seluruh penghujung rumah, lalu langkahnya berhenti saat mendengar suara seseorang yang sedang memuntahkan isi lambungnya secara berulang--dari arah belakang.
Runi menggelengkan kepalanya pelan. Menatap wajah Raka meski secara tak sengaja, membuat rasa mual yang menyiksa lambungnya terasa semakin menjadi-jadi.
"Sepertinya kamu perlu memeriksakan diri ke dokter, sayang." Raka melangkah mendekat. Ia hampir meraih tubuh Runi ke dalam dekapan, namun Runi mengangkat satu tangannya untuk mencegah Raka datang padanya.
"Jangan dekat-dekat. Badanmu bau dia. Aku alergi bau cewek si4lan itu, Mas!" Runi menatap nyalang wajah Raka. Matanya terlihat begitu merah, entah karena menangis atau karena baru memuntahkan seluruh isi perutnya.
Raka menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia merasa salah tingkah, lalu hanya berdiri mengawasi Runi dari jarak tertentu, tidak berani mendekat padanya.
__ADS_1
"Ka-kalau begitu, aku mandi dulu," kata Raka. Ya, siapa tahu setelah ia mandi dan aroma tubuhnya terbebas dari aroma tubuh Widuri, Runi kembali mau disentuh olehnya.
***
"Kamu pikir aku mau dekat-dekat denganmu meskipun kamu sudah mandi, Mas?" Runi yang tengah duduk bersandar dengan tubuh berselubung selimut tebal di dipan kamarnya karena lemas, melemparkan pandangan mencemooh.
"Jangan bicara terus," kata Raka seraya datang mendekat. Ia meraih botol minyak angin di atas nakas, lalu menuangkannya sedikit ke telapak tangannya. "Perut kamu mungkin kembung, Sayang. Sini, aku pijitin dulu."
"Nggak perlu!" sergah Runi kasar. Ia merebut minyak angin miliknya dari tangan Raka, lalu mengoleskan sendiri beberapa tetes minyak angin ke telapak tangannya.
Raka menghembuskan nafasnya kasar. Ya, ia kini pasrah. Melihat sikap Runi yang begitu ketus dan kasar padanya, sembilan puluh sembilan persen ia menebak, bahwa Runi sudah mengetahui hubungan gelapnya dengan Widuri. Namun yang ia tak tahu, apakah Runi telah melihat semuanya tadi sore, mengingat bingkisan yang terletak di ruang tamu Widuri saat petang tadi?
"Aku takut kamu salah paham, sayang. Aku dan Duri tidak ada hubungan apa-apa," kata Raka mencoba mengelak.
"Hahaha! Kamu pikir aku bodoh, Mas?" Sergah Runi dengan raut wajah penuh amarah. "Tidak mungkin tidak memiliki hubungan apa-apa jika kalian sampai berc1nta dengan begitu gilanya, Mas!"
"A-apa kamu melihat semuanya?" Raka bertanya dengan suara terbata.
Sungguh, meskipun ia sempat menjanjikan pada Widuri untuk segera meninggalkan Runi, namun nyatanya, ia tak siap. Runi adalah sosok wanita yang selalu hadir di saat hidupnya tengah terpuruk akibat putus cinta dari Widuri. Ia tak bisa serta merta meninggalkan Runi!
"Ya, aku melihat semuanya! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana kamu dan dia bertingkah bagai lintah yang saling menempel satu sama lain, Mas! Jadi, percuma saja kamu mengelak!" Mata Runi nyalang dan berkaca menatap Raka dengan jutaan rasa kecewa yang menembus jantungnya.
__ADS_1
Runi melanjutkan cercaannya dengan suara bergetar menahan tangis, "Sungguh, kalian berdua sangat menjijikkan!"
***