
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Suara ketukan di pintu depan membuat Runi terlonjak kaget. Ia menegakkan punggung dengan tiba-tiba dengan mata yang mengerjap lesu. Jantungnya berdebar tak karuan.
Ah, rupanya Runi ketiduran setelah menyelesaikan beberapa progres menjahitnya. Setelah bekerja mengebut demi mengganti waktu yang terbuang semalam dan tadi pagi, rupanya ia ketiduran di atas mesin jahitnya.
"Bu Runi, perbaikan atapnya sudah selesai!" Seru seorang pria, yang Runi kira adalah salah satu dari tukang yang Raka sewakan untuk memperbaiki atap rumah mereka.
Suara ketukan itu terdengar lagi. Mungkin pria itu tak tahu jika Runi ketiduran dan butuh waktu beberapa saat lamanya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
Merasa dipanggil, Runi segera bangkit dari duduknya di kursi kerjanya, namun terkejut saat meligat sesuatu jatuh dari tubuhnya--sebuah selimut!
'Selimut? Siapa yang menyelimutiku?' Tanya Runi dalam hatinya penasaran. Di rumah ini jelas tak ada siapa-siapa selain dirinya. Para tukang memperbaiki atap dapur mereka sejak siang, dan mereka berada di luar rumah. Mereka tak mungkin selancang atau seberani itu masuk ke dalam rumah, apalagi untuk sekedar menyelimuti tubuh Runi.
'Lalu, siapa yang melakukannya? Apa Mas Raka pulang lagi?' Tanya Runi dengan mengerutkan keningnya.
"Bu Runi! Halo!" Suara dari luar rumah itu memanggil lagi.
Runi baru ingat jika ia harus menyelesaikan pembayaran para tukang itu. Sedari tadi ia memang terlalu santai, karena biasanya yang menyelesaikan urusan pertukangan adalah Raka, suaminya, sedangkan selama ini ia hanya terima beres. Namun rupanya hari ini ia mendadak lupa jika Raka pergi bekerja.
Runi yang baru saja sadar dari lamunannya segera menyahut, "Iya, Pak! Tunggu sebentar!"
***
Tiga orang tukang itu sudah pergi setelah Runi menyelesaikan pembayarannya. Runi melirik ke atas televisi, di mana jam dinding di ruang keluarga bertengger dengan cantik.
__ADS_1
"Wah, sudah pukul lima sore," ucap Runi. Ia mendadak teringat jika mulai hari ini ia memiliki seekor hewan peliharaan. Dicarinya Popo karena khawatir dengan keadaan anjing kecil itu. Popo masih belum sepenuhnya sehat, karena itu Runi masih merasa begitu khawatir jika keluar rumah sembarangan. Ia takut luka Popo akan terbuka kembali.
"Popo, kamu di mana, sayang?" Runi berseru memanggil Popo.
"Guk!" Popo menyalak dan berlari kecil menyongsong Runi setelah muncul dari ruang jahit Runi.
"Hei, rupanya kamu di sini!" Runi menunduk menyambut Popo. Popo melompat ke pelukan Runi, membuat gadis itu tertawa geli karena ekor Popo menggelitik perutnya. Runi berkata seraya meremas gemas wajah Popo. "Sudah aku bilang, Popo! Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kamu masih terluka dan lukamu juga belum sepenuhnya kering!"
Popo mengusel ke dalam gendongan Runi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya di sana, seolah ingin mengatakan 'tidak apa-apa'.
"Aku pikir kamu pergi, Popo." Runi berkata sendu. Meskipun belum genap satu hari ia bertemu dengan Popo, tetapi entah mengapa ia merasa sangat bahagia dengan kedatangan anjing itu. Lanjut Runi, "Pokoknya selama kamu masih sakit, aku mohon sekali agar kamu masih mau tetap tinggal di sini."
"Guk!"
Popo menggoyang-goyangkan ekornya. Anjing itu menegakkan kepala lalu menatap Runi, tuannya saat ini. Tampaklah bola mata dengan pijar warna hitam kemerahan milik Popo, menatap Runi ceria.
***
Malam ini, Raka pulang agak terlambat. Tidak seperti kemarin sore yang on time, Raka tiba di rumah pukul sembilan malam. Runi yang dengan setia menunggu suaminya pulang sambil terus merampungkan satu demi satu orderan jahitnya, selepas petang ia menyempatkan diri untuk memasak makanan kesukaan Raka. Ya, hitung-hitung sebagai penebus kesalahannya tadi pagi karena lupa memasakkan suaminya.
"Pulang malam, Mas?" Sapa Runi saat menyambut Raka di pintu masuk rumahnya.
"Iya, Dek." Raka menjawab dingin. Runi mendekat dan terkejut saat mencium aroma alkohol yang menguar dari tubuh suaminya.
"Mas, kamu baru minum?" Tanya Runi demgan pandangan menyelidik.
"Hmmm." Raka berjalan sempoyongan masuk untuk melepas sepatu dan kaos kakinya.
Runi menghela nafas. Raka datang seolah membawa beban yang sangat berat malam ini. Tapi apa? Mungkinkah pekerjaannya sedang banyak-banyaknya? Atau mungkin aktivitasnya tadi cukup menguras energi? Atau mungkin, hanya karena keributan kecil tadi siang karena atap rumah mereka berlubang? Atau karena Runi lupa memasak? Ah, tidak mungkin hanya karena hal seremeh itu Raka sampai terlihat begktu stres.
__ADS_1
"Mau makan atau mandi dulu, Mas?" Tanya Runi masih memberikan perhatian. Ia mengekor di belakang suaminya.
"Aku mau tidur." Raka menjawab dengan begitu dingin dengan melenggang gontai ke dalam kamar mereka.
"Tapi kamu belum makan, Mas. Aku juga sudah memasak untukmu, ayam betutu. Kamu suka, kan?" Runi membujuk suaminya yang kini sudah merebahkan diri ke atas ranjang.
"Aku nggak lapar." Singkat, padat, dan jelas. Jawaban ketus yang Raka lontarkan untuk Runi.
Runi hanya mengela nafas panjang melihat kelakuan suaminya. Setahun bersama, Raka tidak pernah bersikap seperti ini. Maka ia lebih memilih untuk menjauh dari Raka. Menyelesaikan lemburan jahit mungkin lebih bermanfaat baginya. Waktu adalah emas, ia sudah banyak menghambur-hamburkan waktu akhir-akhir ini. Semalam bertanding gulat dengan Raka, pagi ke puskesmas, lalu sore hari ia ketiduran. Beruntungnya, siang hari Runi sudah berhasil menyelesaikan satu jahitan pesanan salah satu tetangganya.
Yah, lagipula Raka terlihat seperti tidak ingin diganggu. Mungkin pria itu sedang ingin sendirian. Saat Runi melangkah ke luar kamarnya dan mungkin mencoba memberikan waktu pada Raka untuk istirahat, tiba-tiba ia merasakan tangannya ditarik dengan kuat.
Runi terjatuh di atas ranjang. Tubuh kekar Raka mengungkung di atasnya. Mata nanar Raka memandangnya penuh nafsu, dengan nafas kasar yang terdengar memburu.
Wajah Raka mendekat. Ia bermaksud menyambar bibir ranum Runi yang sangat membuatnya tergoda. Namun sayangnya, Runi yang masih terbayang racauan hebat Raka tadi malam saat tertidur lelap dengan memanggil nama wanita lain, kini menolak c1uman Raka dan membuang mukanya.
"Kenapa, Runi?" Tanya Raka sambil meneguk saliva saat melihat penolakan Runi untuknya. "Kamu menolak suamimu?"
Runi, di bawah kungkungan tubuh Raka, menatap dalam wajah suaminya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, ingin bicara namun suaranya serasa tercekat di tenggorokan. Matanya mulai terasa panas seakan ingin menangis, namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak keluar begitu saja.
"Kamu semalam menyebut nama Widuri dalam tidurmu, Mas," ucap Runi lirih dengan mata masih menatap dalam kedua bola mata suaminya secara bergantian. Rasa pedih menjalar di hatinya dengan begitu tiba-tiba.
Raka mendengkus kasar. Sorot matanya masih terlihat sebuas tadi, namun kini ia melengos. Ia melepaskan diri dari kungkungannya kepada Runi, lalu berjalan cepat menuju belakang pintu, meraih sebuah jaket. Ia juga menyambar kunci motornya yang tergeletak di atas nakas.
"Mas, mau ke mana?" Tanya Runi panik melihat Raka terlihat seperti akan pergi saat ini juga. Ia bangkit dari ranjang lalu menyusul Raka yang berjalan cepat menuju pintu depan. Ia mendadak menyesal, mengapa tadi bersikap seolah menolak Raka.
Tanpa memberikan jawaban, Raka membawa motornya melesat meninggalkan Runi, membelah gelapnya malam.
***
__ADS_1