Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
20. Ada Apa dengan Raka?


__ADS_3

Suara ayam berkokok saling bersahutan saat Runi membuka mata. Sedikit terlonjak karena ia sedang menunggu Raka pulang dengan menyicil orderan menjahitnya yang menumpuk, namun ia dikejutkan dengan sebuah fakta bahwa bahwa tubuhnya kini tengah berbaring di dalam ranjang kamarnya--bukan di ruang jahitnya.


Padahal, Runi ingat betul ia berjanji untuk tidak tidur sebelum Raka pulang. Dan selagi menunggu, ia bisa lembur untuk bekerja. Lumayan, waktu satu malam bisa untuk menyelesaikan satu buah jahitan.


Runi teringat, ia masih terjaga saat jam dinding menunjukkan pukul satu malam. Lalu saat ini, ia terbangun di pukul empat pagi. Yah, Runi sudah tidur selama tiga jam dan menurutnya itu sudah lebih dari cukup. Tumpukan pekerjaan menanti dan ia tak punya banyak waktu untuk bersantai.


Tapi, bagaimana ia bisa tidur di atas kasur empuknya?


"Apakah aku tidur sambil berjalan?" pikir Runi bingung. Tapi ia segera menggeleng kencang. Ia tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Meskipun tengah berada dalam keadaan yang sangat mengantuk, ia pasti sadar saat akan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.


"Lalu, apa Mas Raka semalam pulang dan memindahkanku ke dalam kamar?" batin Runi masih dengan kebingungan yang sama.


Misalpun Raka pulang, di pagi hari buta seperti ini biasanya Raka masih bergelung di sampingnya, memeluk tubuhnya.


Tapi nyatanya? Raka tidak ada di sampingnya!


Runi menggeliat pelan. Ia mendudukkan tubuhnya di ranjang dan terkejut saat melihat sesosok makhluk berbulu abu-abu muda terlihat melingkar persis di sampingnya.


"Hey, Popo!" Rubi tertawa melihat anjing kecilnya yang masih memejamkan mata itu. Dengan usil, ia mengusap pelan wajah Popo, bermaksud untuk membangunkannya. Namun sepertinya Popo masih mengantuk. Ia hanya menggoyangkan ekornya dua kali ke kanan dan ke kiri tanpa mau membuka matanya.


"Ishhh, lucu banget sih!" kata Runi sambil memencet gemas perut Popo yang empuk dan lembut.


Runi membiarkan Popo terus tertidur. Ia bangkit dari dipannya, lalu mulai berjalan mencari suaminya. Ia yakin, Raka pasti sudah pulang entah jam berapa tadi malam.


"Mas?!" Runi memanggil sambil berjalan memasuki setiap ruangan dalam rumah mungil minimalisnya.


"Mas Raka? Kamu di mana?"


Tak ada sahutan. Runi makin khawatir dan bertanya-tanya. Apakah suaminya tidak pulang malam tadi? Mengapa sepagi ini, di waktu cahaya matahari sama sekali belum tampak dan belum terlihat aktivitas manusia sama sekali di luar sana?

__ADS_1


***


Runi sedang memasak dengan ditemani oleh Popo yang kini sudah bangun. Namun anjing malas itu tetap saja menggelar tubuhnya di samping Runi, bergelung seolah memeluk kakinya.



"Geli, Popo!" Runi tertawa geli saat Popo dengan sengaja mengibaskan ekornya untuk menggitik kaki Runi. Runi pun tak mau kalah, ia menunduk sejenak untuk menyapa anjing kecilnya itu, lalu berpura-pura mengomel padanya.


"Popo, aku lagi masak! Apa kamu mau makan daging cincang mentah lagi kaya kemarin sore?" Ancam Runi berpura-pura galak.


Sontak, Popo mengerutkan tubuhnya. Daun telinganya terlihat menurun.


"Makanya, duduk anteng dan jangan gangguin aku lagi masak, ya!" perintah Runi. Popo mengangguk. Ia duduk dengan mata bulatnya seolah menyimak ucapan Runi baru saja.


"Nah, anjing pintar! Duduk diam yang anteng, ya! Aku lagi masak sop buntut sapi, mau nggak?"


Guk!


"Yah, niatnya masakin untuk suami, tapi yang makan malah anjing peliharaan!" Batin Runi dengan menyimpan sedikit kecewa.


Terdengar suara handle pintu depan terbuka. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lagi saat itu. Runi yang sedang menyelesaikan hasil masakannya segera mematikan kompor. Kebetulan sekali, ia sudah selesai memasak saat Raka pulang!


"Mas, kamu ke mana semalam?" Tanya Runi berbasa basi. Ia memicingkan mata saat melihat apa yang Raka kenalan saat ini. Sebuah kaus santai dan celana panjang yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya!


"Ke kantor, lembur." Raka masuk begitu ia melepas sandal mainnya, lalu masuk ke dalam rumah.


"Tapi, ini baju siapa, Mas? Perasaan kamu nggak pernah pakai baju ini?" Tanya Runi seraya mengekor ke arah mana Raka melangkah.


"Bajuku lah, memang baju siapa lagi?" Jawab Raka dengan ketus, dan sontak Runi merasa begitu terkejut dibuatnya. Raka tidak pernah bersikap seperti ini kepadanya!

__ADS_1


"Kapan kamu membelinya?" selidik Runi yang tak habis pikir dengan pengakuan Raka.


"Sudah lama, Runi! Memangnya apa setiap aku membeli sesuatu, aku harus melapor padamu? Aku bukan suami takut istri, Runi!"


"Apaaa?!" Runi melongo saking terkejutnya. Raka tidak pernah memanggilnya nama. Raka juga tidak pernah membentaknya. Lalu, apa ini?


Maka ia semakin bertanya-tanya. "Kamu nggak pernah membawa baju dan celana yang kamu pakai ini di rumah, Mas! Dan satu lagi, bukankah semalam turun hujan? Lalu, ke mana baju basahmu?"


"Haish, berisik amat sih? Bajunya aku loundry! Jangan bawel deh!" Raka mengibaskan tangannya di depan Runi. Ia menyambar handuk lalu tanpa memedulikan eksistensi Runi yang masih tepat di belakangnya, kini ia masuk ke kamar mandi.


***


"Sarapannya, Mas! Aku sudah masak sop buntut sapi buat kamu," tawar Widuri saat menghidangkan semangkuk sop panas mengepul ke atas meja makan. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi saat ini. Dilihatnya, Raka sedang bersiap-siap dengan kemejanya yang rapi. Ini bukan hari libur, tentu saja suaminya itu akan segera pergi bekerja.



Raka melirik sekilas hasil masakan istrinya. Ia menengok jam tangannya lalu berkata, "Aku sarapan di kantor aja."


Runi mengernyitkan wajahnya. Ia menampik, "Ini masih jam tujuh pagi, Mas! Kamu masih bisa sarapan dulu sebelum berangkat, kan?"


"Aku lagi nggak kepengin makan. Nanti aja, gampang. Kamu makan sendiri aja dulu," kata Raka seraya berlalu menuju rak sepatu. Tentu saja, ia akan segera memakai sepatu kerjanya.


"Aku semalam masak ayam betutu, dan sekarang masak sop buntu khusus buat kamu, Mas! Setidaknya, cicipilah dulu masakanku!"


"Udah siang, Runi. Aku ada meeting pagi-pagi banget. Takut telat." Raka berkata seraya membuka pintu ruang tamu lalu berjalan menuju motornya yang sudah terparkir di luar. Setelah menarik gas motornya selama beberapa saat, Raka menjalankan motornya. Lalu, tubuh Raka menghilang di balik tikungan.


Ya, Raka berangkat tanpa sempat menc1umnya. Bahkan setelah Runi ingat-ingat, Raka juga sama sekali tidak melirik padanya!


Runi memegangi dadanya yang kini mulai terasa nyeri. Mengapa hanya dalam waktu satu malam suaminya berubah sedrastis ini? Apa yang telah terjadi? Namun sayangnya, ia hanya bisa membatin dalam kebingungan yang nyata.

__ADS_1


"Ada apa dengan Mas Raka?"


***


__ADS_2