Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
12. Berhasil


__ADS_3

Apa yang terjadi kemudian sangat mencengangkan bagi Dokter Ditya. Ia bahkan sampai mengucek matanya berkali-kali melihat hasil pemeriksaan golongan darah dari anjing yang Runi bawa tersebut, seusai ia memeriksanya menggunakan toolkit golongan darah khusus manusia.


Betul-betul di luar nalar, anjing tersebut memiliki golongan darah AB! Golongan darah seperti manusia pada umumnya!


"Di mana kamu menemukan anjing ini, Runi?" Tanya Dokter Ditya dengan kening yang berkerut.


"Aku cuma menemukan dia tergeletak di atap rumahku, Dok. Dan saat aku temukan, dia sudah terluka seperti ini," jawab Runi. Namun ia merasa sangat heran dengan ekspresi yang Dokyer Ditya tampilkan. Runi bertanya, "Memangnya ada apa, Dok?"


"Tidak apa-apa," ucap Dokter Ditya masih dengan wajah herannya.


"Bagaimana, Dok? Apa tranfusi ini bisa dilakukan?" tanya Runi yang juga merasa khawatir.


"Ya, herannya, bisa." Dokyer Ditya menjawab dengan kerutan di dahinya.


"Hah? Kok bisa?" Runi bertanya heran.


"Entahlah." Dokter Ditya menjawabnya disertai kedikan di bahunya. Maka untuk mempersingkat waktu, ia meminta Runi berbaring di sebuah brankar pasien agar tranfusi darah itu bisa segera dilakukan.


Dan tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahwa dalam sejarahnya menjadi dokter dalam kurun waktu lima tahun ini, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sesuatu yang sangat ajaib.


Seekor anjing memiliki golongan darah yang sama dengan manusia! Dan tranfusi itu, berhasil ia lakukan dengan lancar!


"Dari mana ia berasal?" pikirnya heran.

__ADS_1


***


Runi tersenyum senang saat melihat anjing kecil itu selesai diberikan perawatan. Meski tubuhnya masih terlihat lemas, namun mata bulat kemerahan anjing itu sudah mulai mengerjap lemah.


"Hai anjing kecil, kamu sudah lebih baik, kan?" Tanya Runi dengan membelai lembut bulu halus anjing kecil itu. Terdapat beberapa jahitan di bagian-bagian tertentu tubuhnya, dan bekas darah berwarna kecoklatan sudah mulai mengering.


"Guk!" Lirih, anjing kecil itu mengeluarkan suara untuk pertama kali. Ia bahkan sudah bisa mengangkat kepalanya. Runi bisa bernafas lega sekarang.


"Karena ini bukan rumah sakit hewan, maka kami tidak memiliki obat-obatan untuk hewan, Mbak Runi," kata seorang perawat penuh sesal. Dokter Ditya sedang menangani pasien lainnya sehingga perawat yang Runi ketahui bernama Bu Asih itulah yang kini melayani Runi dan anjing kecilnya.


"Ah, tidak apa-apa, Bu. Seperti ini saja saya sudah sangat berterima kasih pada panjenengan dan Dokter Ditya. Karena kalian berdua, kondiai anjing ini membaik," ucap Runi tulus.


Bu Asih mengangguk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran, karena Runi terlihat sepeduli itu bahkan hanya kepada seekor hewan. Ia pun kembali menjawab, "Tapi kami berikan beberapa obat dengan dosis seminimal mungkin yang kami harapkan bisa digunakan untuk mengobati anjing kecil ini. Jika Mbak Runi mau, Mbak Runi bisa pergi ke kota. Di sana kota ada banyak pilihan dokter hewan. Dan juga, vitamin dan obat-obatan untuk hewan dengan segala jenisnya tersedia dengan lengkap."


Bu Asih berlalu setelah memberikan tepukan pelan di pundak Runi.


Kini, Runi berada di ruang perawatan bersama anjing kecil itu. Dipandangnya mata bulat kecil kemerahan hewan bertubuh nungil itu. Meski masih sesekali mengerjap lemah dengan tubuh bergelung meringkuk.


Runi berpikir sendiri dalam diam. Desa Merbayu sangat terpencil. Jarak antara desa ini dengan kota sangat jauh, mungkin bisa sepuluh jam perjalanan. Anjing kecil ini pasti tidak akan bertahan dalam perjalanan selama itu. Dan lagipula, ia masih memiliki tanggung jawab berupa beberapa orderan jahitan. Ia tidak mungkin melalaikan kepercayaan dari para pelanggan yang sudah mempercayakan jahitan mereka kepada Runi. Jadi, meninggalkan desa ini dalam jangka waktu yang lama, bukanlah pilihan yang bagus baginya.


"Sebetulnya kamu harus pergi ke kota, anjing kecil." Runi berkata pelan. "Tapi sayang, kota sangat jauh. Aku juga tidak mungkin diijinkan pergi ke kota sendiri tanpa suamiku."


"Guk!" Anjing kecil itu menyalak lagi. Kali ini dengan suara yang lebih kuat dari sebelumnya. Dan tanpa Runi duga, anjing itu menggeliat pelan, lalu bangun dan mendudukkan diri. Ia bahkan menggoyang-goyangkan ekornya, seolah berkata pada Runi bahwa ia sudah baik-baik saja.

__ADS_1


"Hei, Popo, jangan bangun dulu!" Larang Runi padanya. Ia bahkan sudah memberikan nama panggilan untuk anjing kecil itu. Tentu saja, si anjing sedikit memiringkan wajahnya begitu mendengar nama baru yang Runi sematkan untuknya. Bola matanya yang berwarna kemerahan itu terlihat berpijar semakin terang, seolah tengah meresapi nama barunya.


Runi tidak tahu sama sekali apakah anjing kecil ini cukup terlatih untuk bisa mengerti instruksi manusia, hanya saja, setidaknya ia sedang berusaha berkomunikasi dengannya.


Bukannya menuruti perintah Runi, anjing itu justru bangun. Empat kaki kecilnya menapak sempurna pada meja kecil beralaskan tumpukan kain dan dilapisi oleh selembar perlak. Lalu, ia unjuk diri pada Runi dengan melompat-lompat dengan sesekali mengangkat dua kaki depannya. Ekornya berkibar semakin kuat, seolah tengah menunjukkan pada Runi bahwa kini ia betul-betul telah sehat.


"Astaga, bukannya menurut malah goyang-goyang nggak kelas kamu ini!" Runi tertawa lebar. Ia mencubit gemas hidung kecil anjing itu lalu bangkit dari kursinya untuk memanggil Bu Asih. Ia harus melaporkan perkembangan kondisi si anjing.


"Lho, dia udah sembuh kok, Mbak Runi! Luar biasa, kemajuannya pesat sekali!" komentar Bu Asih seraya berdecak heran. "Okelah kalau begitu, setelah mengurus administrasi Mbak Runi sudah bisa membawanya pulang.


Runi bisa bernafas lega karena rupanya si anjing itu sudah boleh ia bawa pulang kembali. Bahkan perkiraan Runi bahwa anjing itu harus dirawat inap agar kembali sehat, salah total. Anjing itu bahkan sudah bisa melompat-lompat gembira kembali hanya dalam waktu tiga jam sejak ia dirawat.


"Okey, okey. Aku tahu kamu sudah sehat. Nggak usah bergaya gitu deh!" omel Runi seraya tertawa. Maka, dengan motor maticnya, ia membawa pulang anjing kecil itu dan kali ini tentu saja tanpa bantuan kardus bekas.


***


"Apa yang terjadi?" Tanya Raka dengan terkejut. Ia pulang dengan segera di jam istirahat saat Runi mengabarinya tentang hancurnya genting dapurnya. Runi memintanya untuk mencari tukang yang bisa memperbaiki genting mereka. Sekarang sedang musim hujan, jadi sangat riskan membiarkan genting tersebut dalam keadaan rusak parah seperti ini.


Dan tentu saja, amarah Raka meluap seketika saat melihat apa penyebab ia harus pulang mendadak. Apalagi jarak antara perkebunan sawit Pak Baskara dengan rumahnya bisa memakan waktu sekitar dua puluh menit. Ia bisa kehabisan waktu istirahat yang hanya dijatahi satu jam saja.


"Jadi ini semua gara-gara anjing?!" Gerutunya kesal. "Kok bisa? Dari mana anjing ini berasal, Dek?!"


***

__ADS_1


__ADS_2