
Setelah tiga puluh menit Bidan Atun memeriksa Runi, Raka mengantarnya pulang. Namun begitu kembali ke rumah, rupanya ia membawa tiga bungkus nasi uduk untuknya, Runi, dan juga Aswini. Tak lupa, ia membawa pula dua bungkus bubur kacang hijau. Tadinya ia berniat membeli tiga bungkus, namun Aswini menolaknya.
"Aku bawakan kamu bubur kacang hijau, sayang!" seru Raka. Ia masuk ke dalam kamar seraya membawakan seporsi bubur kacang hijau yang sudah ia tuangkan ke dalam mangkuk.
Runi hanya diam saja. Melihat Raka yang mendadak terlihat begitu antusias, sama sekali tidak meluluhkan rasa kesal dan jijiknya. Bayangan adegan menjijikkan antara Raka dan Widuri tidak sedikitpun pupus dari ingatannya. ingatan itu pasto akan senantiasa membekas, entah sampai kapan.
Raka menyendokkan bubur itu pada Runi. Lalu ia diamkan sebentar agar uap panas bubur itu menghilang. Ia suapkan ke mulut Runi setelah merasa hangatnya pas untuk dikonsumsi.
"Enak nggak sayang?" Raka bertanya dengan lembut. Ia tersenyum lega melihat sang istri mau menerima bubur suapannya, meski sedikit demi sedikit.
"Iya." Runi mengangguk dan menyahut pelan. Sebetulnya, keinginan untuk memakan bubur kacang hijau ini sudah menghilang sedari tadi. Ia hanya mengangguk karena menghargai usaha Raka yang mau mencarinya sesuatu yang ia suka. Tentu saja, usaha Raka perlu diapresiasi.
Sebelum ia pingsan, memang lembut kacang hijau senantiasa terbayang di benak Runi. Namun, begitu ia pingsan karena rasa mual dan pusing yang terlalu parah, asam lambung yang naik itu membuat kerongkongannya terasa pahit. Rasanya, makan apapun terasa membuat perutnya mual.
"Aku makan sendiri aja, Mas." Masih dengan wajah sama ketusnya dengan tadi malam, Runi menolak bantuan Raka. "Kamu makanlah dengan ibumu. Kasihan kalau ibu kalau harus makan sendiri."
"Nggak, sayang. Aku pengin nyuapin kamu." Raka kembali menyuapkan seseondok bubur ke mulut Runi. Ia tersenyum saat lagi-lagi menerima suapannya.
"Dia lagi apa di dalam?" tanya Raka dengan telapak tangan yang tiba-tiba mendarat di perut Runi yang masih terlihat datar. Rasa tak percaya masih mendominasi benar Raka mengetahui sang istri hamil, mengingat merwka berdua sudah menunggu kehadiran si jabang bayi dalam waktu satu tahun ini.
Runi tak menjawab. Ia hanya melirik datar pada tangan Raka yang kini mengelus lembut perutnya. Apakah karena ia hamil, maka sikap Raka berubah? Namun, ini semua tak akan mengembalikan rasa cinta dan sayang Runi yang sudah terlanjur patah oleh perbuatan bejat suaminya.
Bagaikan secarik kertas yang sudah diremas, entah dikembalikan dengan cara apapun, kertas itu tidak akan pernah bisa kembali mulus seperti semula. Ya, begitu pula dengan hatinya. Sejauh dan sesulit apapun Raka mencoba, Runi sudah terlanjur benci dan jijik padanya.
"Pergilah. Ivumu lagi makan sendirian. Temani saja dia," kata Runi lirih.
__ADS_1
"Enggak, sayang. Aku mau deket sama kamu dan bayi kita," elak Raka. Ia tampak berusaha sekali mencoba memperbaiki hubungannya dengan Runi. Namun sayang, perasaan Runi pada Raka sudah terlanjur mati, meski hanya dalam waktu satu malam saja.
"Masalahnya ... Aku mual dekat kamu, Mas." Runi mengusir Raka dengan wajah tanpa ekspresi. Raka diam mengeryit dibuatnya. ia berusaha mencerna apa yang Runi katakan, namun sedetik kemudian ia berusaha mengerti.
Raka membuang nafasnya kasar. Namun ia terus mencoba bersabar. Raka berkata, "Aku di depan, sayang. Panggil aku kalau kamu butuh sesuatu, ya?"
Runi mengangguk. Ia menerima mangkuk berisi bubur kacang hijau dari tangan Raka, lalu membuang muka ke arah jendela begitu tangan Raka mendarat dan mengelus wajahnya. Oh, sungguh memuakkan!
'Dia pikir, aku akan luluh mendapat lerlakuan lembut seperti ini?' Batin Runi dengan perasaan sengit.
***
Raka menghempaskan tubuhnya di sofa begitu ia keluar dari kamar. Runi ia tinggalkan di dalam, karena istrinya itu tidak mau berlama-lama berada di dekat Raka.
Pikirannya kembali berkecamuk. Ya, ini memang sesuatu yang terasa begitu rumit dalam hidupnya. Ia masih mencintai Widuri, sangat. Ia bahkan baru menyadari apa yang ia rasakan pada Runi bukanlah cinta. Runi hanya menjadi tempat pelarian baginya sejak empat tahun yang lalu saat Widuri pergi meninggalkannya. Dan begitu melihat Widuri kembali, perasaan Raka terhadap mantan kekasihnya itu kembali berkobar dengan begitu gilanya.
Tapi, bagaimana dengan Widuri? Raka jelas tak akan tega meninggalkan gadis itu, karena Raka masih sangat mencintainya!
Raka menghela nafas gusar. Untuk menghilangkan rasa gundah, Raka membuka buku catatan kehamilan Runi yang sempat ia raih sebelum keluar dari kamar. Tadi, Bidan Atun sempat menulis beberapa coretan tentang hasil pemeriksaan kehamilan Runi pagi ini. Raka membuka satu demi satu halaman di buku itu. Senyumnya merekah begitu melihat apa yang Bidan Atun tuliskan di sana.
...Tekanan darah : 100/70...
...Berat badan ibu : 47 kilogram...
...Usia kehamilan : 9 weeks 6 days...
__ADS_1
...Denyut jantung per menit : 140x/menit...
...Nasihat yang disampaikan : Istirahat cukup, makan porsi kecil dan sering, perbanyak buah dan sayur, hindari stress, dan jangan terlalu lelah....
Kedua mata Raka pun kian membelalak lebar. Mulutnya melebar sempurna, dan rasa bahagia menyeruak begitu saja begitu semua informasi yang tertuang dalam lembaran itu ia cerna seluruhnya.
"Runi! Kamu beneran hamil, sayang?" Raka bertanya dalam hati sambil menutup buku itu, lalu membawanya ke dekapan dada. Sebuah senyum terkembang tulus di bibirnya.
"Raka!" Bu Aswini bertanya dengan mata melotot dan suara yang meninggi saat tiba-tiba muncul di sisi Raka.
"Ada apa, Bu?"
"Istri kamu yang kucel itu beneran hamil?!" Tanya Bu Aswini saat mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Iya, Bu," jawab Raka dengan wajah yang sumringah. "Untunglah. Sudah satu tahun aku dan Runi menunggu. Akhirnya dia hamil juga. Aku bahagia banget, Bu!"
"Hih! Ibu mah nggak mau punya cucu dari wanita kucel nggak punya apa-apa itu," gerutu Bu Aswini seraya mencebik. Ia merebut buku KIA yang sedang Raka baca, lalu melemparnya ke sembarang arah.
Raka melompong meluhat buku pink itu tergeletak begktu saja di lantai. Ia meraihnya, lalu menatap ibunya dengan pandangan penuh tanya, lalu bergantian menatap ke arah buku yang baru saja ibunya buka. "Ibu kok gitu, sih? Runi kan istriku, Bu."
"Pokoknya ibu nggak suka sama dia, titik!" Aswini kembali mencebik seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ibu mah berharapnya kamu kembali dama Widuri. Kalau Runi belum hamil, kamu masih bisa menceraikan dia, Raka! Lalu bagaimana sekarang? Istri kamu malah hamil!"
***
Rekomendasi cerita menarik :
__ADS_1