
"Di mana ibunda?" Tanya Candra yang melangkahkan kaki dengan segera begitu para pengawal menyambutnya di gerbang istana Cendana.
"Di ..." salah satu pengawal terdengar akan menjawab pertanyaan Candra. Namun ia sempat mengerling beberapa saat kepada teman sesama pengawalnya yang lain.
"Di mana? Jawab ya tinggal kalian jawab saja!" Candra mengomel ketus melihat pengawalnya itu terlihat meragukan. "Tak usah pakai lihat-lihatan segala!"
"A-anu. Yang Mulia Ratu ada di kediamannya, di Paviliun Kenanga, Tuan Pangeran."
"Oke." Candra menyahut seraya berlalu. Ia berjalan dengan langkahnya yang lebar demi menemui ibunda tercintanya yang-- menurut informasi dari Bayu-- sedang sakit keras.
"Ibunda!" Raka maju menerobos kerumunan pengawal yang tengah berkumpul di depan paviliun Kenanga, tempat tinggal ayah dan ibunda tercinta Candra.
Namun bertolak belakang dengan informasi yang Bayu sampaikan, Yang Mulia Ratu Dahayu terlihat segar bugar di hadapannya. Ia bahkan sedang bercanda tawa dengan salah satu dayangnya yang entah sedang mengobrolkan apa.
"Ibunda!" Candra memekik memanggilnya. Wajahnya terlihat merajuk karena ia merasa Bayu telah membohonginya. Ibunda tercintanya segar bugar begini, mengapa dikatakan tengah sakit keras?
Ratu Dahayu mengerling sejenak merespon panggilan dengan suara khas putranya itu. Lalu ia menoleh kembali kepada para dayangnya, memberi isyarat agar mereka segera berlalu meninggalkan ia hanya berdua saja dengan putranya.
"Ibunda!" seru Candra memanggil ibunya dengan disertai rasa khawatir. Ia datang mendekat dan duduk tepat di hadapan sang ibunda. Ia bertanya dengan sangat hati-hati, "Menurut informasi dari Bayu, ibunda sedang sakit keras. Betulkah demikian?"
Tanpa menjawab, Ratu Dahayu bangkit dari duduknya. Ia berdiri lalu menoleh pada putranya dan berkata, "Buka bajumu!"
"Hah?!" Candra menyengir bingung. Alisnya bertaut tanda tengah dilanda kebingungan sekaligus ngeri secara bersamaan karena pandangan Ratu Dahayu padanya seperti seekor serigala kelaparan yang tengah mencari mangsa. "Ke-kenapa harus buka baju, Ibunda?"
"Buka, cepat! Kalau tidak, maka akan ibunda paksa!" titah Ratu Dahayu dengan mata melotot.
"Ba-baiklah, Ibunda," sanggup Candra mengiyakan dengan pasrah. Lalu, ia mulai membuka bajunya.
Begitu tubuh bagian atas Candra terekspose seluruhnya, emosi Ratu Dahayu bukannya mereda. Ia justru terbelalak kaget dan semakin melotot tak karuan melihat dada bidang Candra terbungkus kain perban dengan noda darah yang merembes di bagian dada.
__ADS_1
"Dari mana luka ini?" Tanya Ratu Dahayu dengan amarah yang bergejolak di wajahnya. Sementara Candra mengkerut di hadapannya, tak berkutik sama sekali.
Ratu Dahayu berseru kepada siapapun yang berada di luar kamarnya, entah pengawal atau pelayan. Ia berseru, "Pengawal! Pelayan! Panggilkan tabib istana!"
"Baik, Yang Mulia!" salah seorang pelayan di kuar kamar mengiyakan perintah Sang Ratu.
"Dasar Serigala bandel!" Ratu Dahayu menolahkan lagi wajah penuh amarahnya kepada sang putra. Ia melanjutkan setelah mendaratkan satu cubitan pelan di lengan purtanya. "Pergi dari rumah berbulan-bulan lamanya tanpa kabar, tanpa pengawal, dan tidak menghidupkan telepati. Apa itu sikap yang baik sebagai seorang putra mahkota, Candra?"
Candra tampak meringis kesakitan. Meskipun pukulan Ratu Dahayu tidak terasa keras sama sekali, namun ia harus berpura-pura sakit agar sang ibunda tidak terlalu keras menyiksanya. Apalagi jika ia harus bertahan lebih lama dalam suasana mencekam ini. Bisa-bisa seluruh tubuhnya akan penuh dengan bekas cubitan kecil dari ibundanya.
"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Ratu Dahayu kesal karena Candra tampak melempem, tidak menjawab satu pun pertanyaannya. "Coba jawab, apa itu sikap yang benar sebagai seorang putera mahkota?!"
"Ti-tidak, Bunda. Tolong ampuni saya. Saya betul-betul anak yang tidak berguna, Ibunda," ucap Candra penuh sesal.
"Bunda tidak perlu penyesalan, Candra! Bunda hanya perlu perubahan sikapmu agar kamu bisa berubah lebih dewasa!" Seru Ratu Dahayu mewanti-wanti. Sedangkan lawan bicaranya kini masih tampak mengkerut ketakutan. Padahal, Keganasan Ratu Dahayu mungkin baru seujung kuku dari sikap otoriter dan protective Raja Suryapati, ayah Candra, dan ia sudah ketakutan setengah mati seperti ini.
"Dari mana kamu dapatkan luka ini?!"
"Jawab!" Ratu Dahayu kembali mendelik emosi.
"Sa-saya berantem dengam Gentala, Ibunda," jawab Candra jujur.
"Gentala lagi, Gentala lagi!" Ratu Dahayu menggeram marah. Lalu ia menebak, "Apa semua ini gara-gara Putri Narlita?"
"Betul, Ibunda," jawab Candra.
"Astaga, kalian ini!" Ratu Dahayu tampak menggeleng-gelengkan kepala. Lanjutnya, "Cuma gara-gara cewek kalian sampai berantem sedemikian hebohnya?"
Candra meringis.
__ADS_1
"Apa Gentala tidak tahu jika Putri Narlita adalah kekasihmu?" Ratu Dahayu bertanya lagi.
Candra mengepalkan tangan lalu menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia berkata, "Narlita bukan kekasih saya, Bunda. Saya tidak menyukainya sama sekali."
"Tapi di antara bunian serigala, hanya dia yang memiliki kualifikasi yang bagus sebagai calon istri putra mahkota, Candra! Dia pintar, cantik, teladan, terpelajar, dan sangat santun. Dia yang nantinya akan menjadi ratu, teman hidupmu yang tidak hanya dalam urusan rumah tangga, tetapi juga urusan negara!"
"Tapi saya tidak mencintainya, Bunda!" Candra menggeram marah. Ia sudah sangat bersabar selama ini karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan dirinya. Narlita juga yang menjadi alasan bagi Candra pergi meninggalkan istana. Semata-mata adalah agar ayah dan ibunya sadar, bahwa ia tidak suka dengan perjodohan ini.
Tok ... Tok .. Tok ...
Suara pintu terdengar diketuk dari luar. Seorang pelayan tampak menunduk di luar sana, menunggu jawaban dari Ratu Dahayu.
"Tabib Istana datang, Yang Mulia Ratu," ucap sang pelayan memberi tahu.
"Baiklah," sahut Ratu Dahayu dengan suara yang melunak. "Minta tabib segera masuk untuk memeriksa luka putraku."
"Sendiko dawuh, Yang Mulia."
***
"Tuan Muda Candra terkena panah tepat di dada, namun panah ini bukanlah panah biasa, Yang Mulia Ratu," ucap Tabib Arman saat memeriksa kondisi Candra. Saat itu Candra merebahkan diri dengan sangat terpaksa di pembaringan kamar ayah dan ibundanya.
Ratu Dahayu mengerutkan keningnya. Ia bertanya, "Bukan panah biasa? Panah seperti apa yang dimaksud?"
"Panah emas yang diolesi dengan sedikit racun, Yang Mulia Ratu. Racun ini biasa digunakan oleh musuh kita dari golongan bunian ular," tebak sang tabib.
"Ya, merekalah yang menyerang Candra, Tabib," timpal Ratu Dahayu.
"Wah pantas saja," komentar Tabib Arman seraya menganggukkan kepalanya. Ia melanjutkan, "Biasanya jika terkena panah biasa, tubuh Tuan Muda Candra akan segera beregenerasi dengan sendirinya dalam waktu yang tak terlalu lama, tergantung dengan jenis lukanya. Namun dengan panah dan racun jenis ini, tubuh Tuan Muda tidak bisa mengatasi sendiri. Ia butuh pengobatan dan perawatan yang cukup intensif agar bisa segera sehat seperti sedia kala. Tuan Muda masih sangat beruntung karena panah ini, meskipun menembus dadanya, namun tidak sampai melukai jantungnya. Karena jika iya, maka saya yakin tuan Muda tidak akan berada di sini bersama kita, seperti saat ini."
__ADS_1
Ratu Dahayu mengepalkan kedua tangannya penuh amarah melihat apa yang terjadi dengan putranya. ia berkata, "Apa Gentala dan orang-orangnya tidak tahu siapa kita, Candra? Jika ayahandamu sampai tahu, habislah mereka!"
***