Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
11. Tranfusi Darah


__ADS_3

"Maaf, Mbak Runi. Kondisi anjing kecil ini lemah sekali. Dia kehilangan darah dan harapan hidupnya sangat kecil," kata dokter umum yang menangani anjing itu dengan penuh sesal.


"Astaga, kasihan sekali, Pak Dokter!" Runi mendesah pelan. Ia melirik ke arah anjing kecil itu tergeletak, di atas sebuah meja kecil yang dilapisi tumpukan kain dan perlak berwarna merah hati. Anjing itu bergelung lemas di sana, dalam keadaan betul-betul tak berdaya. Panah itu sudah dilepas dan kini sudah Runi simpan di dalam tasnya. Panah tadi menyisakan lubang menganga tepat di dada anjing itu. Meski sudah dijahit dan dibalut perban, namun darah segar masih merembes di sana.


Tubuh kecil itu terlihat sangat lemas. Jangankan binar mata yang terlihat redup. Bahkan mata bulat dengan pijar merah yang tadi sempat terbuka itu kini betul-betul terpejam. Maka, bagaimana Runi bisa tega membiarkannya begitu saja?


Runi bertanya, "Apa bisa ditranfusi saja, Dok? Saya rela kok memberikan darah saya untuk dia."


"Hah, tranfusi darah?" Dokter yang Runi ketahui bernama Ditya itu mengerutkan keningnya.


Runi mengangguk. Ia merasa tak tahu lagi harus melakukan hal apa untuk membantu anjing kecil itu agar ia selamat.


"Sepertinya tidak bisa, Runi. Manusia hanya bisa melakukan tranfusi darah dengan sesama manusia saja. Itupun yang memiliki golongan darah atau rhesus yang sama. Jika terdapat perbedaan dari dua hal tersebut, tranfusi darah yang dilakukan antar sesama manusia saja tidak akan berhasil. Apalagi jika hewan?" jelas Dokter Ditya pelan-pelan.


Ia melanjutkan, "Dalam tubuh manusia terdapat sel darah putih yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Sel darah putih ini menghasilkan antibodi yang bisa memerangi alergen yang datang dalam tubuh kita. Dan hewan, tidak memiliki susunan sel yang sama dengan sel-sel darah dalam tubuh manusia."


"Aduh, jadi nggak bisa nih Dok? Terus gimana dong? Masa iya anjing ini mau dibiarkan begitu saja?" Runi kembali mencebik gelisah. Ia melirik sedih pada tubuh anjing kecil ini, yang kini terlihat begitu menyedihkan. Beruntungnya, Dokter Ditya sudah menutup dan membersihkan beberapa luka terbukanya. Dokter muda itu juga memasangkan infus pada salah satu kaki depan anjing itu untuk memberinya asupan makanan.


"Coba nanti saya minta Warno, penjaga puskesmas untuk menghubungi beberapa warga yang memiliki anjing peliharaan. Siapa tahu, ada anjing yang memiliki golongan darah yang sama dengan anjing ini. Itu satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk menolong anjing ini," kata Dokter Ditya memberi opsi. Melihat Runi yang tampak putus asa, setidaknya ia tidak terlalu pasrah tanpa menberikan solusi.


"Ah, iya. Makasih banyak, Dok." Runi hanya menghela nafas pasrah menerima opsi dari Dokter Ditya, yang menurutnya adalah pilihan terbaik yang bisa ia terima saat ini. "Pokoknya tolong usahakan yang terbaik, ya? Saya mau bayar berapapun asal dia selamat, Dok!"


"Hahaha. Tentu saja, Runi. Yang penting saya dan Warno usahakan dulu. Kamu tenanglah dulu di sini," jawab Dokter Ditya, menatap Runi dengan simpati.


Runi tak pernah berubah. Gadis yang baru ia kenal selama satu tahun sejak tinggal di desa ini memang memiliki hati yang lembut. Gadis ini bahkan pernah datang ke puskesmas karena menolong seekor burung yang patah sayapnya akibat ditembak oleh pemburu liar. Alangkah bahagianya lelaki yang bisa memikat hati Runi. Gadis penyayang seperti dia pasti akan memperlakukan kekasih atau suaminya dengan begitu lembut.

__ADS_1


"Ya sudah. Aku bertugas dulu menangani pasien lainnya, Runi. Tunggulah di sini. Aku juga akan meminta Warno untuk mencarikan anjing-anjing yang tinggal di sini. Siapa tahu bisa menolong anjing kamu ini," kata Dokter Ditya.


"Pokoknya makasih banyak, Dok!" ucap Runi girang.


Seraya berlalu, Dokter Ditya tersenyum. "Sama-sama, Runi!" sahutnya tulus.


Runi menoleh kembali ke arah anjing kecilnya. Ia menghela nafas panjang saat tak melihat adanya pergerakan dari tubuh mungil ini. Ah, rasanya Runi semakin frustasi!


"Hei, anjing kecil! Pak dokter lagi nyariin darah buat kamu. Semangat, ya? Setelah ini cepatlah sembuh, lalu pulang lagi ke tuanmu," ucap Runi dengan membelai lembut bulu halus si anjing di bagian wajah.


***


Dokter Ditya menepati janjinya. Warno, penjaga puskesmas datang dengan membawa hasil. Ia bolak-balik kesana dan kemari dengan membawa sekitar lima ekor anjing berbeda-beda ras ke puskesmas. Tentu saja, kedatangan anjing-anjing itu adalah sebuah harapan bagi Runi.


"Tidak ada darah yang cocok dengan anjing kamu, Runi!" ucap Dokter Ditya seraya berdecak heran.


Hati Runi mencelos. Netranya berkaca-kaca melirik anjing yang sudah ia anggap sebagai miliknya itu. Dalam keadaan masih menelungkup dan bergelung di atas meja yang diberi tumpukan kain dan dilapisi perlak kecil di bagian atasnya. Cukup nyaman, setidaknya untuk ukuran seekor anjing. Namun hingga kini, anjing itu masih diam tak bergerak.


"Dokter," panggil Runi lirih kepada Dokter Ditya yang masih belum beranjak dari sisinya.


"Ya, Runi? Ada apa?"


"Karena kelima anjing itu tidak bisa memberikan darah untuk anjingku, maka cobalah dengan darahku, Dok. Aku mohon!"


"Hehehe! Mana mungkin bisa!" Dokter Ditya terkekeh pelan. Lanjutnya, "Prosedur itu mustahil dilakukan karena darah kalian berbeda, Runi!"

__ADS_1


"Yang penting, setidaknya kita sudah mencoba, Dok!" kekeh Runi.


Dokter Ditya mengangkat bahu menyangsikan. Ia kembali menamping usul Runi. "Percuma saja tranfusi itu dilakukan, karena struktur darah hewan dan manusia itu sangat berbeda!"


"Tapi kita belum mencobanya kan, Dok?" lagi-lagi, Runi memaksa.


Dokter Ditya kembali mengernyitkan alisnya. Ia hampir menolak, namun tak tega pada Runi yang terlihat memelas.


"Ayo dong, Dok? Please?!" pinta Runi dengan sedikit memaksa. Jika biasanya ia paling tidak suka dipaksa, namun entah mengapa kini ia merasakan berada dalam posisi memaksa seseorang.


"Tapi ini mustahil berhasil, Runi!" Dokter Ditya menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian, karena tak habis pikir dengan ide gila bin nyeleneh yang baru saja Runi lontarkan.


"Setidaknya kita sudah mencoba, Dok. Entah apa hasilnya, saya tidak akan merasa penasaran lagi!" pinta Runi bersikukuh.


"Hadeh," Dokter Ditya memutar bola matanya jengah.


Ia berdecak gemas pada gadis keras kepala ini, karena menuntutnya untuk melakukan sesuatu yang di luar logika. Padahal sebagai seorang dokter, ia sangat tahu dengan pasti bahwa secara medis, prosedur tersebut tidak mungkin berhasil dilakukan. Dan selama ini pun ia pantang untuk melakukan hal yang mustahil dan berada di luar nalar manusia.


Tapi mau bagaimana lagi? Gadis keras kepala di hadapannya ini betul-betul memohon padanya dengan memasang wajah yang memelas.


"Okey Runi, okey." Sanggupnya seraya menghela nafas panjang. "Biasanya saya tidak akan pernah mau mengabulkan permintaan aneh dari pasien. Apalagi jika di luar logika seperti ini. Tapi demi kamu, ya oke deh."


"Betulkah?" Kedua netra Runi membola dengan binar harapan yang indah. Ia berkata dengan sumringah, "Makasih banyak, Dok!"


***

__ADS_1


__ADS_2