
"Ada berapa nama Widuri di desa ini, Mas?" tanya Runi keesokan paginya saat sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya, yaitu seporsi lontong opor panas dengan kuah mengepul nan menggugah selera. Saat itu baru pukul tujuh pagi, dan Raka sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Hah? Widuri?" Tanya Raka seraya mengernyitkan keningnya, heran. Pipi Raka menggembung karena sedang mengunyah sarapannya, namun terhenti karena harus menjawab pertanyaan dari istrinya. "Ngapain tanya-tanya begitu?"
"Cuma pengin tanya aja, Mas." Runi menjawab dengan wajah yang datar, menatap lamat-lamat kedua bola mata suaminya untuk mencari kebenaran di sana. Jujur saja, sejak kejadian Raka mengigau tadi malam dengan memanggil nama Widuri, Runi merasakan kelalutan dalam hatinya yang begitu luar biasa.
"Di desa ini? Ya cuma satu. Cantika Widuri, temanmu itu," jawab Raka seraya kembali melanjutkan kunyahannya yang tertunda, membuat bola besar dalam pipinya kembali mengempis.
"Ah, pertanyaanku salah rupanya," ucap Runi jengah dengan memutar bola matanya. Ia merasa tidak begitu puas dengan jawaban yang Raka berikan sehingga ia mengulang kembali pertanyaannya. "Aku koreksi pertanyaanku, Mas. Ada berapa Widuri yang kamu kenal selama ini?"
"Kamu nanya apa sih, kok aneh begitu?" Tanya Raka sambil meraih gelas berisi air putih yang sudah disiapkan oleh Runi di depannya. Ia hampir tersedak rupanya. Diteguknya sekali air itu untuk meredakan rasa tercekatnya di tenggorokan.
"Udah deh, tinggal dijawab aja. Orang cuma tanya ini," pinta Runi lagi.
Runi memang sengaja tidak mengatakan bahwa ia telah mencuri dengar obrolan antara Raka dan ibunya beberapa minggu yang lalu. Ia juga mencoba bersikap polos dan tak tahu apa-apa, karena berharap bisa mengorek informasi yang akurat tentang Widuri, juga apa hubungannya dengan Raka. Karena jika ia bersikap seperti sedang menyelidik, kemungkinan besar Raka akan berkelit darinya. Akibatnya, Runi tak akan mendapatkan jawaban dan hanya akan dibohongi terus-menerus.
Sebetulnya, tak masalah jika Raka dan Widuri memiliki masa lalu bersama. Namun pertanyaan terbesar di benar Runi adalah, jika memang mereka pernah menjalin kisah di masa lalu, apakah kini kisah tersebut telah usai sepenuhnya? Jika memang sudah usai, mengapa sikap Raka dan ibunya seperti tak biasa?
"Memangnya ada lagi yang bernama Widuri di sini?" Bukannya menjawab dengan benar, Raka justru bertanya balik dengan ekspresi cueknya.
"Lha kok malah tanya sih, Mas? Kan aku orang baru di sini, makanya aku tanya sama kamu." Runi berkata dengan begitu sabar menunggu jawaban Raka. Ia berharap apa yang Raka katakan tidak seperti apa yang ia duga, bahwa ada Widuri lain yang Raka kenal, yang mana Raka diminta oleh Aswini untuk menjalin hubungan kembali dengan Widuri yang dimaksud, dan meminta berpisah dengan--dengan kata lain menyingkirkan--Runi.
__ADS_1
"Nggak ada, sayang. Widuri yang aku kenal ya cuma satu, Widuri Cantika itu," jawab Raka tanpa beban. Ia menelan suapan terakhir lontong opor lezat buatan istrinya, lalu menggelontor makanan dalam mulutnya dengan air putih yang masih tersisa di dalam gelasnya.
Deg!
Jadi benar apa yang Runi pikirkan, bahwa Widuri yang ini adalah Widuri yang itu?
Dan benarkah bahwa Cantika yang ia kenal adalah Widuri? Widuri yang merupakan wanita idaman bagi Aswini, ibu mertuanya, sebagai wanita yang pantas untuk mendampingi Raka?
Tidak, tidak! Mengapa otak Runi kali ini mulai terasa berputar?!
"Aku berangkat kerja dulu, sayang!" Raka yang sangat innocent dan tidak tahu apa-apa itu bangkit dari kursi makannya dengan tergesa. Ia mengangkat pergelangan tangan kanannya untuk mengintip waktu. Ucapnya dengan terkejut, "Ah, masih jam 07.15. Santai aja dulu deh."
Ia melangkah ke rak sepatu untuk mulai mengenakan kaos kaki dan sepatu kerjanya. Ada beberapa jenis sepatu yang biasa Raka kenakan. Jika ia terjadwal bekerja di kantor maka ia akan mengenakan sepatu pantofel, namun jika ia memiliki jadwal untuk mengontrol kondisi lapangan, ia akan mengenakan sepatu dengan sol karet yang akan mempermudah mobilitasnya.
"Hati-hati, Mas. Semalam hujan, jalannya licin," Pesan Runi pada suaminya.
"Tentu, sayang!" Raka mengecup lembut puncak kepala Runi sebelum betul-betul berpamitan dan berlalu dengan mengendarai motor besarnya.
Melepas keberangkatan suaminya, Runi melambai kecil. Tatapnya masih mengawasi punggung Raka yang mengecil, bersama motor besarnya yang kini mulai menghilang di tikungan jalan. Runi menghela nafas panjang untuk melepas beban yang akhir-akhir ini menghantam pikiran dan mengacaukan jiwanya.
Beberapa minggu ini betul-betul ujian yang sangat berat bagi Runi. Fakta yang ia ketahui selama ini yaitu tidak disukai oleh ibu mertua dan kakak iparnya sendiri bahkan sebelum menikah dengan Raka, tentu bukan merupakan sebuah masalah serius baginya. Kegigihan cinta Raka selama ini-lah yang sanggup meluluhkan hati Runi dan membuatnya bersedia menerima pinangan Raka.
__ADS_1
Bagi Runi, tak masalah semua orang menghujatnya, asal bukan Raka. Tak masalah seluruh dunia membencinya, karena toh ia adalah seorang gadis yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Namun asal ada Raka di sisi, maka Runi tetap bisa berdiri dengan kokoh menghadapi kejamnya dunia.
Namun bagaimana dengan sekarang? Di saat sebuah nama mulai datang mencuat di antara dirinya dan Raka, dan pendirian suaminya itu terlihat mulai goyah?
Runi berusaha untuk tidak berpikiran negatif. Namun nyatanya, ia tak bisa! Bagaimana ia bisa berpikir positif sementara tadi malam, Raka dengan polosnya mengigau dengan suara lantang nan serak memanggil nama seorang wanita dalam tidurnya. Hanya dalam kurun waktu beberapa menit seusai mereka bercinta dengan begitu menggebu-gebu! Dan wanita itu, bukan dirinya!
Runi menutup pintu rumahnya perlahan. Hatinya masih begitu gundah, tersiksa oleh ribuan pertanyaan yang makin menghimpit dadanya. Menyesakkan saluran nafasnya.
Duduk di kursi kerja yang menghadap mesin jahit kesayangannya, Runi bermaksud kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi malam sempat tertunda karena Raka menggeretnya ke sebuah pertempuran penuh peluh. Ingin segera kembali fokus bekerja, namun entah mengapa air mata Runi mulai tumpah.
"Ah, tidak! Sensitif banget sumpah, dasar aku!" keluh Runi seraya terkekeh menertawakan dirinya sendiri. Ia pun menghapus air mata yang jatuh membasahi wajah dengan punggung tangannya.
"Kerja, Runi! Kerja! Bukan waktunya lagi buat galau-galau kaya anak muda begini!" omel Runi pada dirinya sendiri. Ia juga memberi tamparan kecil pada pipinya, sekedar untuk menyadarkan diri bahwa pekerjaan kini lebih utama daripada sekedar menuruti kegalauan hatinya.
Putus asa dengan rasa kalut yang semakin mengganggunya, kini Runi menyeduh secangkir teh melati untuk menemani paginya yang sedikit berantakan. Ia menyeruput sepucuk minuman yang masih terasa sedikit panas itu dan merasakan perutnya sedikit merasa nyaman. Tak lupa diraihnya sebuah tabloid yang berisi resep masakan di rak buku, dibacanya halaman demi halaman agar referensi masakan yang bisa ia suguhkan untuk Raka semakin beragam. Ya, meskipun ia sedang merasa sedikit jengkel pada Raka, namun biar bagaimanapun, Raka tetaplah suaminya yang harus ia layani dengan sepenuh hati.
Sedang asyik menikmati secangkir teh dan membaca resep-resep masakan untuk memperbaiki mood paginya yang berantakan, tiba-tiba sebuah suara keras terdengar di atas genting rumahnya.
BRAAAKKKKK!!!
Runi terkesiap. Suara apa itu?
__ADS_1
***