
"Iya, Raka," tegas Widuri memberi penekanan. "Dia sering datang kok ke rumah. Kalau kamu mau main ke sana dan bingung arah, kamu bisa tanyakan pada Raka."
"Ta-tapi, untuk apa dia sering datang ke sana?" Tanya Runi yang mulai merasa sedikit panas dan sesak di dalam dadanya. Serasa ada duri tak terlihat yang menancap dalam jantungnya, namun entah apa.
"Hahaha!" Tak disangka, Widuri tertawa keras. Menangkap ekspresi panik dari Runi rupanya terasa sedikit lucu baginya. Widuri melanjutkan, "Ah, kamu! Nggak usah panik gitu, Runi! Memangnya kamu lupa kalau ayahku itu atasan Raka? Raka bahkan merupakan salah satu pegawai yang sudah sangat dipercaya oleh ayahku. Otomatis, dia sering datang ke rumah untuk urusan bisnis dengan ayah!"
"Ohhh, maaf! Aku sampai lupa!" Runi membulatkan mulutnya. Jantungnya mulai berdetak normal kembali. Di satu sisi, ia merasa sedikit berlebihan. Rasa takut yang menggelitik batinnya sedikit kelebihan porsi, terutama karena bujukan ibu mertuanya beberapa minggu lalu kepada Raka. Karena hasil curi dengar itulah, ia menjadi sedikit trauma dengan nama Widuri. Sepertinya, bisikan itu sedikit-banyak sudah mempengaruhi otak Runi. Dan kekhawatiran ini sepertinya tidak beralasan.
"Ck, apa kamu curiga sama suamimu sendiri, dan bahkan kepadaku, yang notabene adalah sahabat masa kecilmu?" omel Widuri seraya berdecak.
"Emmm, bukan begitu maksudku, Tika! Aku cuma ..."
Runi tak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena jujur saja, dalam hal ini ia merasa sangat kekanak-kanakan. Sikapnya juga sangat memalukan karena bahkan Widuri sudah menyadari sikap anehnya. Seperti sedang curiga pada suaminya sendiri, juga sahabatnya.
Widuri menyeringai melihat ekspresi Runi yang terlihat panik. Lalu ia kembali melihat jam tangannya dan menyadari jika waktu sudah semakin petang saja.
"Ah, sudahlah. Tak usah dipikirkan!" Sergah Widuri cepat. Ia melanjutkan, "Udah petang, Runi. Aku pulang dulu. Besok kalau sudah jadi, kabari aja. Nanti aku ambil gaunku ke sini."
"Eits, kan tadi aku sudah berjanji, kalau aku sendiri yang akan mengantar gaunmu ke rumah?" ujar Runi mengingatkan. Ia sudah melupakan ekspresi paniknya tadi dan kembali bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Lanjut Runi, "Pokoknya aku juga kepengin main ke rumah barumu, Tika! Rumah baru putri juragan sawit pasti sangat menyenangkan!"
"Halah, ada-ada saja!" sergah Widuri dengan senyum lebarnya. Dengan antusias, ia mengambil secarik kertas dari buku kecil yang ia bawa di dalam tasnya, lalu menuliskan sesuatu di sana. Ia sodorkan ke atas meja tepat di hadapan Runi dan berkata, "Ini nomor Hp-ku. Jangan sampai hilang. Hubungi aku kalau kamu mau ngantar jahitan ke rumah. Pokoknya aku tunggu secepatnya ya, Runi!"
Runi menerima secarik kertas dengan deretan angka-angka kecil tersebut. Ia tersenyum dan menyambut tawaran Widuri dengan begitu semangat.
"Tentu saja, Tika sayang! Tunggu aku ya, semoga gaunmu selesai tepat waktu!" harap Runi seraya tersenyum.
__ADS_1
"Pokoknya, nanti chat aku! Jangan lupa! Dan akan aku ingatkan kamu untuk menyelesaikan gaunku dan kemeja pacarku dengan segera, oke!" kata Widuri.
"Siap, Tika!"
"Kalau gitu aku pamit dulu, Runi! Kasihan Pak Untung, supir keluargaku, sudah menunggu."
Setelah memberikan lambaian tangan kepada Runi dan sedikit cipika-cipiki, maka Widuri pun keluar meninggalkan teras Runi dan melangkah masuk ke mobilnya, di mana Pak Untung sudah menunggu di sana.
"Jalan, Pak. Cepat!" titah Widuri di balik kaca mobilnya yang gelap, menatap dengan raut wajah tanpa ekspresi ke arah Runi yang melambai diiringi senyum tulus kepadanya.
***
"Masih lembur, Dek?" Tanya Raka yang menemui Runi di ruang jahitnya. Dilihatnya, Runi sedang duduk menunduk dengan kaki berayun-ayun pada mesin jahit, menyatukan kain dan benang demi menjadikannya sebuah pakaian utuh.
"Iya, Mas. Lagi lumayan jahitannya, aku nggak enak kalau nolak orderan."
Aktivitas Runi yang sedang menjalankan mesin jahit pun terhenti. Ia mendongak menatap suaminya dan menjawab, "Iya, Mas. Katanya untuk seragam menjadi bridesmaid di pernikahan sahabatnya."
"Oh, gitu." Raka diam setelah berkomentar.
"Iya. Kenapa kok tanya-tanya?" pancing Runi yang heran melihat ekspresi aneh Raka.
"Ealah, nggak kok Dek. Orang cuma tanya aja, masa nggak boleh?" kilah Raka dengan senyum kikuk. Runi mengernyit sejenak untuk menilai ekspresi apa yang Raka tampilkan, namun akhirnya ia mengedikkan bahunya, berusaha cuek. Ia pun kembali melanjutkan aktivitas menjahitnya.
"Dek, mau njahit sampai kapan?" Bisik Raka yang kini tiba-tiba menunduk memeluknya dari belakang. Tangan besar Raka sudah mendarat di tempat yang seharusnya, di dada Runi, memberikan sentuhan dan pijatan kecil yang menggelitik indra peraba Runi.
__ADS_1
"Eh, ma-mau lembur ini, Mas. Bi-biar cepat selesai." Runi berkata tersendat-sendat karena merasakan sentuhan Raka yang mulai menggerayang di beberapa bagian tubuhnya yang lain. Runi pun merasakan sensasi geli dan nikmat di saat yang bersamaan, lalu ia melirik kesal pada Raka karena mengganggu pekerjaannya. "Mas, aku lagi kerja nih!"
"Aku udah lumayan ngantuk, sayang," keluh Raka dengan wajah yang terlihat sayu dan mata memerah.
"Kalau ngantuk bobok dong, sayang?" sahut Runi sebal. Ia mencubit pelan pipi suaminya dengan gemas.
"Udah ngantuk tapi kepengin," pinta Raka dengan tangan mendarat di dagu Runi, menarik wajah cantik istrinya itu agar semakin mendekat ke arahnya.
"Se-sebentar, Mas," kata Runi yang kini tersenyum menanggapi permintaan Raka. Suaminya sedang meminta haknya. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan yaitu godaan pelakor di luar sana, maka harus ia layani dengan baik, bukan?
Runi meletakkan alat-alat kerja yang masih berada di tangannya, lalu kembali memfokuskan pandangnya kepada suami tampannya.
Didapatinya saat ini, Raka menatapnya penuh damba. Dan hanya dalam waktu sepersekian detik saja, wajah Raka mendekat dan menyambar bibir ranum Runi yang sedari tadi menggoda imannya.
Tak bisa membiarkan bibir Raka bergerilya sendiri, kini Runi menyambut sapuan lidah Raka dalam mulutnya dengan semangat. Tangannya pun tak ingin berdiam saja. Ia menyentuh rahang kokoh Raka untuk membuat c1uman mereka semakin dalam.
Runi mengeluarkan suara des4han indah tatkala c1uman Raka mulai memporak-porandakan mulutnya. Bahkan tangan Raka telah bergerilya ke setiap titik sensitif di tubuh Runi, membuatnya merasa dilema antara rasa ingin dan tak ingin. Menjadikannya tak kuasa menolak, padahal sudah jelas tumpukan kain di ruang ini telah menantinya dengan setia, meminta untuk diselesaikan.
C1uman ini meskipun lembut seperti biasanya, namun kali ini terasa sangat menuntut. Namun sentuhan-sentuhan Raka yang tak kalah memabukkan dari yang lalu-lalu, sepertinya tak perlu membuat risau hati Runi. Karena ia yakin, suaminya tak akan pernah memikirkan wanita selain dirinya.
Malam itu Runi dan Raka habiskan dengan berbagi peluh bersama. Des4han dan rintihan nikmat menggema indah di ruang kerja Runi. Meski tadinya sempat curiga karena akhir-akhir ini sikap Raka terlihat sedikit aneh terutama setelah Aswini menyampaikan informasi tentang Widuri, namun Runi mencoba meyakinkan dalam hati bahwa, 'Tidak perlu merasa khawatir yang berlebihan. Raka adalah suami yang baik dan setia, dan lagipula Tika juga sudah memiliki seorang kekasih. Bujukan yang ibu mertuamu sampaikan kepada Raka tidak berarti apa-apa bagi suamimu, Runi!' Bisik Runi di dalam hati kecilnya.
Aktivitas panas itu telah usai. Raka tertidur pulas di atas sofa ruang jahit itu dengan bertelanjang dada. Runi yang masih berpeluh-peluh itu pun mengenakan pakaiannya kembali, lalu mengecup singkat pipi suaminya sebelum bekerja kembali, sekedar berterima kasih karena sudah membuatnya puas malam ini. Yah, deadline menjahitnya sudah melambai-lambai di depan mata dan harus segera ia selesaikan.
Namun rasa tenang di dada Runi lenyap seketika ketika tiba-tiba Raka meracau dengan hebat dalam tidurnya memanggil sebuah nama,
__ADS_1
"Widuri!"
***