Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
28. Hukuman untuk Candra


__ADS_3

Seperti biasanya, naluri kelaki-lakian Raka bergerilnya menyusuri setiap inci tubuh Runi dengan sentuhan yang memabukkan. Dan Tak kalah dengan Widuri, kerinduan Runi pada Raka pun bisa membuat Raka merasa sangat puas pagi itu. Namun, tidak lebih dari sekedar rasa puas semata. Raka tidak bisa memberikan cintanya lagi untuk istrinya.


Pagi itu berlalu dengan Runi yang kembali mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Sentuhan Raka masih sama seperti sebelumnya, selalu bisa membuatnya mabuk kepayang. Namun sayangnya, hati Runi merasa begitu hampa. Sekelumit rasa dalam hatinya seolah terus bergejolak, melancarkan protes padanya untuk tidak terlalu mendamba pada cinta Raka.


Namun tentu saja, Runi segera menepisnya. Semua pikiran jelek tentang Raka hanyalah kecurigaan semata. Raka adalah suami yang baik, penyayang, dan selalu melindungi dirinya dari kebencian Aswini, ibu mertuanya. Raka tidak mungkin bertindak macam-macam di belakang Runi.


"Sarapan dulu, Mas." Runi menggandeng tangan Raka lalu mendudukkannya di kursi makan mereka, menghadapkan Raka pada makan pagi hasil dari masakannya.


Runi bisa melihat sorot mata yang Raka tampilkan. Nafsu makan Raka begitu tergugah begitu aroma lele mangut dengan asap yang menguar itu menggelitik indera penciumannya.


"Makan dulu, Mas," Tawar Runi setelah mengambilkan sepiring nasi panas di hadapan suaminya.


***


Di sebuah sudut Bumi, Istana Cendana.


Beberapa hari ini, Candra merasa tubuhnya sudah terasa lebih bugar. ia sudah bisa bangkit dari ranjangnya, beraktifitas ini dan itu, berjalan-jalan ke taman, atau bahkan joging dan berolahraga lainnya untuk kembali melemaskan ototnya yang terasa kaku setelah beberapa hari ini ia terperangkap di atas ranjang.


Kali ini, Bayu menemaninya. Mereka berjoging bersama di sekitaran taman istana, namun baru beberapa kali putaran rupanya Candra sudah merasa begitu lelah.


"Anda kalah, Tuan, padahal Anda yang ngajakin joging," olok Bayu dengan wajah datar. Si4lnya, asistennya itu masih lari di tempat sedangkan Candra tengah berdiri terengah-engah dengan memegang kedua lututnya. Kesannya betul-betul seperti mengejek.


"Nggak usah sombong," sergah Candra kesal. Ia tak tahu mengapa ia menjadi mudah lelah akhir-akhir ini. Tenaganya mudah sekali habis. Ia juga mudah mengantuk.


"Anda tidur lagi saja, Tuan. Sepertinya Anda masih harus beristirahat. Tenaga Anda belum stabil. Anda masih terlihat loyo dan lemah, padahal baru lari kecil dua puluh putaran," kata Bayu sadis.

__ADS_1


"Si4lan!" Candra yang tak terima kini mendelik kesal.


"Biasanya Anda akan tahan sebanyak ratusan putaran, Tuan. Tapi sepertinya memang tenaga Anda belum terlalu pulih. Anda harus banyak istirahat," saran Bayu.


"Enggak. Udah sepuluh hari berlalu, seharusnya racun itu itu sudah hilang, Bayu." Candra menggerutu kesal. Ia memendam kesal dalam hati, seandainya saja ia memiliki racun, ia pasti sudah membalas perlakuan yang sama untuk Gentala. Membuat pria itu lemah, letih, lesu, dan loyo seperti dirinya. Namun sayang, yang Candra punya hanyalah kuku dan taring yang panjang, yang bisa ia gunakan untuk mencabik musuhnya.


"Untuk kali ini, biarkan saya menjadi pemenang. Jarang-jarang kan, saya lebih unggul dari Anda," ucap Bayu dengan datar. Namun sedatar apapun ucapan Bayu, Candra merasa begitu jengkel dibuatnya.


"Diam kamu!" candra kembali mendelik. Ia kembali menegakkan tubuhnya, lalu mulai membentuk ancang-ancang untuk berlari kembali. Ia butuh membaut tubuhnya kembali bugar. Ia tidak suka orang lain mengalahkannya, meskipun itu adalah Bayu, bunian asistennya yang sebetulnya hampir sama kuat dengannya.


"Hahaha! Anakku, kamu sudah sembuh?" Suara bariton membahana terdengar menyapa pendengaran Candra. Sontak, kedua pemuda kekar dengan tubuh tinggi menjulang itu tunduk untuk memberikan penghormatan.


"Seperti yang ayahanda lihat, saya sudah sehat, Yang Mulia," jawab Candra mantap. Ia berharap, saat tubuhnya benar-benar fit dan bugar lagi, maka sang ayah bisa memberinya kebebasan lagi untuk berpetualang kesana dan kemari. Karena jika hanya tinggal berdiam diri di dalam istana, rasanya sungguh menyebalkan.


"Kesembuhan saya tidak lain adalah berkat perhatian dan limpahan kasih sayang dari ayahanda dan ibunda," kata Candra penuh gombal. Ya, ia harus bicara selembut dan segombal mungkin agar ayahnya luluh dan bisa kembali memberinya kebebasan.


"Ya, tapi ayah dengar, tenagamu belum sepenuhnya pulih. Betul begitu, tabib Arman?" tanya Raja Suryapati pada Tabub Arman yang kebetulan ikut di belakangnya. Saat itu Tabib Arman sedang berkunjung untuk memeriksa kondisi Candra, namun rupanya putra mahkotanya itu sedang tidak berada di paviliunnya.


"Betul, Yang Mulia. Efek dari bisa ular itu masih ada mungkin hingga empat puluh hari sejak mulai tertancapnya panah berbisa itu. Selama empat puluh hari, Tuan Muda masih akan merasa mudah lelah, letih, lesu, dan tidak bergairah," jelas Tabib Arman.


"Astaga, apakah itu artinya aku masih harus menunggu satu bulan lagi agar sembuh betul, Tabib?" tanya Candra dengan hati yang dongkol.


"Betul, Tuan Muda. Namun Anda bisa mempercepat masa pemulihan dengan cara rajin berolahraga ringan seperti ini. Ingat, ringan saja dan jangan terlalu berlebihan," kata Tabib Arman memberi saran.


"Baik, baik, ayah setuju," kata Raja Suryapati sambil menyeringai. Ia juga mengeluarkan suara kekehan aneh. Netranya memicing menatap wajah putranya, membuat Candra merasa begitu merinding dan terintimisasi.

__ADS_1


"Ada apa melihat saya seperti itu, ayahanda?" tanya Candra dengan ekspresi kikuk.


"Ayah sudah pernah berkata padamu bukan, saat tubuhmu sudah mulai sehat, maka ayah akan memberimu hukuman?" kata Raja Suryapati.


Secara refleks, Candra memegang dadanya, tepat di atas bekas luka panahnya. Ia mengaduh kesakitan. "Aduh, lukaku!"


"Hahahaha!" Raja Suryapati yang sudah sangat hafal dengan gelagat putranya, kembali terkekeh. Candra sedang berpura-pura sakit. Ia tahu persis hal itu.


"Ayah, saya serius! Saya masih sakit, ayah! Tolong, jangan hukum saya!" pinta Candra setengah merengek. Ia sangat tahu sifat ayahnya. Raja Suryapati selalu memberikan hukuman di luar nalar, yaitu berupa hukuman fisik disertai menyegel kekuatannya untuk sementara, saat hukuman telah berlangsung.


"Tidak, tidak. Kamu sudah sehat, anakku sayang. Kamu justru membutuhkan beberapa hukuman fisik agar pemulihanmu lebuh cepat dari waktu yang sudah dijelaskan okeh Tabib Arman."


Candra terdiam pasrah. Wajahnya mencebik dan cemberut. Ia jengkel karena sang ayah seperti sedang pilih kasih. Namun, pilih kasih dengan siapa? Sementara, ia adalah anak tunggal.


"Tolong bersihkan halaman istana di Paviliun Kenanga, " kata Raja Suryapati diiringi mata melotot dari sang putra. Ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan, "... Namun tolong diingat, anakku sayang. Jangan sekali-sekali kamu menggunakan kekuatanmu, dan jangan pula dibantu oleh siapapun termasuk Bayu."


Candra mencebik kesal. Namun rupanya hukumannya belum berhenti sampai di situ.


Raja melanjutkan, "Oh ya, sekalian juga Paviliun Kamboja, Mawar, Melati, Kantil, Cempaka, dan Seruni."


Candra kembali terbelalak saat mendengar ucapan sang ayah.


"Ingat, jangan menggunakan kekuatanmu. Jika kamu melanggar, maka ayah akan menyegel kekuatanmu selama satu tahun."


***

__ADS_1


__ADS_2