
"Tuan, Pulanglah. Anda di mana? Apakah Anda baik-baik saja?"
Sebuah panggilan telepati masuk ke batin Candra setelah seminggu lebih ia tidak membuka tabir mata batinnya. Dan benar saja, ada cukup banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari siapa saja. Ayahanda, ibunda, asisten setianya, dan entah beberapa orang lagi.
"Tuan, di manakah Anda selama satu minggu ini? Saya sangat mengkhawatirkan Anda, Tuan. Begitu pula dengan seluruh penghuni istana." Panggilan itu muncul lagi meski Candra tak kunjung membalasnya.
Untuk sejenak, Candra tidak menggubris pesan itu. Ia tengah marah dengan seluruh anggota keluarga maupun istana. Ia yang bermaksud menyendiri dan mengasing di sini dengan tujuan untuk mencari ketenangan, justru harus mendapat kesialan karena diserang oleh musuh bebuyutannya. Tentu saja, untuk kembali ke istana dan menemui ayahnya, setitik rasa gengsi mendominasi benaknya.
"Tuan, Saya mohon. Ibunda Ratu sangat mengkhawatirkan Anda."
"Tolong sampaikan pada semuanya, Bayu. Aku baik-baik saja." Tak tega dengan Bayu yang terus saja berisik, Candra pun menjawab panggilan itu.
"Tidak bisa, Tuan. Yang Mulia Baginda Raja Suryapati dan Ratu Dahayu sudah mengetahui tentang penyerangan terhadap Tuan dan saya beberapa hari yang lalu. Dan mereka begitu khawatir atas kondisi Anda."
Candra mendengkus kesal. Mati-matian ia berusaha menyembunyikan keberadaannya dari orang istana yang selalu sibuk menyuarakan tentang perjodohannya. Tapi sekarang, Bayu, asistennya sendiri, sudah begitu gegabah membocorkan situasi yang mereka hadapi beberapa hari yang lalu.
"Dasar, ember sekali mulut kamu itu! Kenapa juga harus laporan, apalagi kepada ayah dan ibu. Lagipula, aku baik-baik saja, Bayu! Kamu jangan sok khawatir padaku seperti mereka lah," gerutu Candra.
"Bagaimana saya tidak khawatir, Tuan. Saat itu saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana Anda terkena panah emas dari Pangeran Gentala dan terlempar keras ke dunia manusia."
"Ah, itu." Candra menyengir masam mengingat kejadian naas yang menimpanya beberapa hari yang lalu. Ia harus kalah dari musuh bebuyutannya! Sungguh tidak keren.
"Namun saya sangat menyesal mengapa saat itu saya tidak segera mengejar Anda, Tuan. Saya memang tidak berguna," ucap Bayu penuh sesal.
"Tidak usah sok peduli padaku jika saat itu kondisimu jauh lebih memprihatinkan dari padaku," ucap Candra dengan nada menghina.
Candra menggeram marah. Mendengar apa kata Bayu membuat emosinya kembali naik pitam. Gentala adalah musuh bebuyutannya dari golongan bunian ular. Selain karena memang sejak kecil mereka sudah saling membenci, Candra juga dianggap oleh Gentala sebagai pria perebut kekasihnya, yaitu Narlita, gadis yang dijodohkan oleh ayah dan Ibu Candra dari golongan bunian serigala, golongan yang sama dengannya.
Hingga kejadian naas beberapa hari yang lalu pun terjadi. Candra dengan ditemani oleh Bayu sedang melarikan diri ke Bukit Xanthi yang sepi dan damai. Ia butuh mengasingkan diri dari hiruk pikuk keributan istana karena ayah dan ibunya terus gencar menjodohkannya dengan Putri Narlita, namun sialnya rombongan pasukan Gentala yang berjumlah ratusan dari bunian ular menyerangnya dengan tiba-tiba, mengeroyok dirinya dan Bayu yang hanya berdua saja tanpa pasukan yang melindungi mereka.
Pertarungan sengit antara Candra dan Gentala dan juga pasukan mereka tak dapat dielakkan. Candra yang masa bodoh, dihadapkan dengan Gentala yang begitu membenci Candra karena telah merebut hati gadis pujaannya. Candra yang tidak sedang berada dalam mood menyerang, hanya menghindar ke sana dan kemari dari serangan Gentala yang membabi buta. Dia pikir, Gentala tidak akan seserius itu menyakitinya dan Bayu. Namun saat ia melihat Bayu yang akhirnya terkapar tak berdaya di puncak bukit, menjadi terpecah perhatiannya. Dan saat itulah, panah emas Gentala berhasil menembus dadanya, membuat ia terlempar jauh ke dunia manusia.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan." Bayu berkata lirih. Ia sungguh merasa bersalah. Ia yang seharusnya bertugas melindungi Candra, namun justru ia tak bisa berbuat apa-apa saat tuannya tengah membutuhkan bantuannya.
***
Lalu pagi itu, Bayu memanggil lagi melalui pesan telepati. Setelah penolakan Candra yang meminta agar Bayu tidak perlu mengkhawatirkan dirinya, rupanya Bayu tidak menyerah begitu saja.
"Baginda Raja mencari Anda," Kata Bayu dalam pesannya.
"Tolong sampaikan kepada ayah dan ibu bahwa aku baik-baik saja."
"Tapi, Tuan. Yang Mulia ibunda Ratu sedang sakit."
Pesan kedua tentu saja tidak mungkin Candra abaikan. Ibunda tercintanya sakit, lalu bagaimana ia masih bisa abai?
"Sakit apa, Bayu?" Candra akhirnya membalas pesan telepati tersebut.
"Entahlah. Ibunda Ratu hanya menangis terus sejak kepergian Anda satu bulan yang lalu, tidak mau makan, juga tidak mau minum."
"Suruh ibunda makan, Bayu. Itu termasuk salah satu tugasmu."
"Saya tidak berani menyuruh Ratu, Tuan," jawab Bayu dengan berkelit.
Haish! Nggak Tuan, Nyonya, juga ajudan, semua sama saja menyebalkannya. Bersandiwara dengan apik dan kompak demi membuatnya merasa iba lalu berakhir luluh.
"Udah lah. Bilang saja aku lagi liburan. Suntuk banget di rumah terus dengerin omelan ayah yang menyuruhku menikah," pinta Candra dengan sedikit mengomel.
"Ta-tapi, Tuan..."
"Tapi apa?"
"Ibunda Ratu sebenarnya sakit keras."
__ADS_1
"Sakit apa lagi?" Candra bertanya gusar. Belum ada satu menit yang lalu Bayu berkata bahwa Ibunda Ratu Dahayu hanya tidak mau makan saja. Lalu sekarang ia berkata bahwa ibundanya sakit keras. Sandiwara macam apa ini?
"Ya... Itu ... Anu ..."
Hmmm, tuh kan, Bayu tidak bisa menjawab! Candra pun menggerutu kesal.
"Kamu nggak bisa melihat aku lagi cuti ya?" Omel Candra pada asisten pribadinya itu. "Lama-lama rese juga ya kamu, minta dihukum nyapu halaman istana kayaknya deh."
"Maaf, tuan. Tapi saya hanya menuruti perintah dari Baginda Raja Suryapati dan Ratu Dahayu," ucap Bayu membela diri.
"Lho kok kamu manutnya sama ayahanda dan ibunda? Bukannya yang memberi kamu gaji bulanan adalah aku?" Candra mengomel dengan jengkel sekaligus gemas.
"Ta-tapi, Baginda Raja dan Ratu juga rajin memberi saya bonus tahunan, Tuan. Saya juga sangat berhutang budi pada mereka."
"Hmmm, jadi begitu?" Candra menggeram jengkel. "Dah lah. Besok aku minta ayah dan ibu untuk tidak usah memberimu bonus tahunan."
"Ja-jangan, Tuan! Saya butuh uang," rengek Bayu di seberang sana.
"Ya kalau gitu, kamu minta gaji bulanan aja sama ayah dan ibu, dan bekerja dengan setia saja sama mereka. Nanti aku mau cari asisten baru lagi yang nggak berpihak sama yang lainnya," ancam Candra sebal.
"Yah, kok gitu sih, Tuan! Jangan begitu dong!" Bayu kembali memohon. Meski berada nun jauh di sana, namun Candra tahu jika Bayu tengah merajuk padanya.
"Lha bagaimana? Kamu nggak bisa diajak kompromi sih? Kamu sekarang sangat menyebalkan, tidak seperti dulu," keluh Candra.
"Maaf, Tuan. Tapi, ini betul-betul darurat." Bayu kembali berkata. Candra sampai mengerutkan alisnya karena kata 'darurat' itu.
"Darurat bagaimana?" tanya Candra.
"Kemarin keluarga Putri Narlita dari kerajaan Kalingga datang. Mereka mencari Anda, Tuan."
***
__ADS_1