
"A-aku?" Runi bertanya tak mengerti. Mengapa harus ia yang tidur di kamar tamu?
"Iya, kamu! Harusnya kamu yang tidur di ruang tamu, bukan Raka! Apa kamu tidak ingat jika rumah ini didirikan di atas tanah warisan dari mendiang ayahnya Raka? Dan dari mana biaya yang digunakan untuk membangun rumah ini jika bukan dari gaji bulanan anak saya?!" omel Bu Aswini kesal.
Runi menelan saliva dengan susah payah. Sedikit rasa kecewa sudah pasti ia rasakan. Melihat anak dan menantunya tidur terpisah, bukannya bertanya tentang permasalahan apa yang tengah Raka dan Runi hadapi, namun justru ibu mertuanya itu meributkan tentang siapa yang harus tidur di mana? Bahkan membawa-bawa masalah warisan dan gaji bulanan juga.
Bukankah sudah menjadi kewajiban Raka sebagai seorang suami jika ia harus menyediakan sandang, pakan, dan papan untuk istrinya? Lalu apakah jika suami memiliki gaji bulanan yang digunakan untuk membiayai pembangunan rumah mereka, lantas rumah ini menjadi hak sang suami seutuhnya? Lalu, apa fungsi Raka sebagai suami jika memang harus demikian keadaannya?
"Raka sama Runi nggak bertengkar, Buk." Raka yang sebenarnya merasa malas dan masih ingin bergelung dalam selimut dan kasur kamar tamu itu kini terpaksa bangkit dari posisi nyamannya.
"Lalu, kenapa kalian tidur di kamar yang berbeda?" tanya Bu Aswini dengan pandangan dan nada bicara yang menyelidik. "Lihat lho, Raka! Kasur kamar tamu tidak setebal dan seempuk kasur di kamar utama. Kalau badan kamu sakit semua gimana?"
"Aduh, ibuk, jangan lebai deh!" Raka berjalan melewati ambang pintu di mana sang ibu berdiri. Ia menggaruk kepalanya, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. "Ibu itu selalu lebai, deh. Raka kan cowok. Raka udah terbiasa tidur di tikar. Di kursi. Di lantai. Nggak masalah lah kalau Raka harus tidur di ruang tamu."
"Tapi kamu yang membeli semua fasilitas nyaman yang ada di kamar kamu, Raka! Kamar kalian kan ber-AC. Ada televisi juga. Ukuran kamar ini juga luas. Beda sama kamar tamu kalian yang sumpek, sempit, dan nggak ada AC-nya! Ibu nggak suka kamu tidur di kamar lain, padahal kamu yang membeli semua fasilitas itu! Dan ini kan rumah kamu, Raka! Kamu yang berhak mengatur kamu tidur di mana! Jangan mau kalau Runi mengusir kamu keluar kamar!" sergah Bu Aswini, masih tetap tak terima anaknya tidur di kamar tamu.
__ADS_1
Lagi-lagi, Runi hanya bisa mengelus dada. Hatinya terasa begitu sakit. Memang benar semua fasilitas itu Raka yang membelinya. Raka juga yang mengangsur pinjaman Bank sejak awal mereka menikah agar mereka berdua bisa mendirikan dan menempati rumah sederhana, mungil, namun nyaman ini, dengan uang gaji bulanannya. Hasilnya, baru enam bulan sejak menikah, mereka bisa hidup terpisah dari Aswini dan Ratna, adik Raka yang kini baru berusia 18 tahun dan tengah menjalani tahun terakhir di sekolah menengah atas.
Namun, Runi juga memiliki andil dalam keluarga ini. Untuk memenuhi keperluan dapur, gaji Raka sudah habis. Runi cukup bijaksana untuk tidak meminta uang ini dan itu, dan ia mengijinkan Raka menggunakan sisa gajinya untuk kehidupan Raka sehari-hari di kantor. Runi tahu, Raka masih membutuhkan sisa gajinya untuk membeli makan siang dan sekedar cemilan, bensin, pulsa, kuota, dan terkadang kemeja, celana, dan sepatu kerja. Apalagi yang namanya lelaki, pasti membutuhkan uang yabg tidak sedikit juga untuk merawat motornya. Uang gaji Raka juga Runi kira masih lebih dari cukup untuk sekedar menongkrong bersama teman-temannya, menyalurkan hobi, berjalan-jalan, dan melakukan kesenangan lainnya.
Sepertinya, Bu Aswini tidak tahu jika Runi lah yang memenuhi kebutuhan rumah dan dapur dengan penghasilannya dari hasil menjahit. Mulai dari belanja kebutuhan dapur, listrik, gas, beras, dan lauk-pauknya, semua adalah Runi yang memenuhi. Bahkan Raka selalu meminta untuk dimasakkan sesuatu yang enak-enak dan selama ini, Runi lah yang berbelanja. Lalu, dari mana mertuanya itu bisa mengatakan ini adalah rumah Raka jika dirinya juga ikut andil dalam menyejahterakan hidup Raka?
"Apa jika Mas Raka yang mengangsur rumah ini dan membeli segala perabotnya, lantas rumah ini jadi milik Mas Raka, Bu?" Runi bertanya dengan wajah kesal. "Saya kan istri Mas Raka, Bu. Sudah kewajiban Mas Raka untuk memberi saya tempat tinggal yang layak. Dan sebetulnya saya juga punya andil, Bu. Saya yang setiap hari belanja kebutuhan dapur. Mas Raka hanya memberi uang belanja sepersekian persen dari apa yang kami habiskan dalam satu bulan ini."
"Halah, pinter ngeles aja kamu tuh bisanya!" Bu Aswini mengibaskan tangan kanannya tepat di depan wajah Runi. Ia mengangkat hasil belanjanya dari pasar desa, lalu ia letakkan begitu saja pegangannya ke tangan Runi. "Nih, ibuk baru belanja. Kamu itu nggak pernah masak. Buktinya apa? Raka selalu makan di rumah ibuk kaya orang kelaparan. Mana ibuk percaya kalau kamu setiap hari belanja untuk keperluan dapur?"
Merasa sangat tak terima, Runi berkata pada ibu mertuanya, "Runi masak terus buat Mas Raka setiap hari kok, Buk! Tanya aja sama Mas Raka kalau nggak percaya."
"Kalau kamu masak, kenapa dalam waktu dua minggu Raka sering mampir untuk sarapan di rumah ibuk? Waktu istirahat pun Raka sering mampir ke rumah untuk sekedar numpang makan siang!"
Kali ini, Runi benar-benar kecewa. Apa yang ia berikan untuk Raka setiap hari betul-betul tak ada harganya. Raka bahkan bersikap seolah Runi tidak pernah becus melayaninya. Bahkan kini saat istrinya tengah diserang oleh Aswini, Raka sebagai putranya, masih bisa tidur di tengah prahara panas seperti ini. Tak terlihat peduli sama sekali.
__ADS_1
"Runi masak terus kok, Bu. Cuma, mungkin Mas Raka terlalu terburu-buru pergi ke kantor jadi nggak sempat sarapan," kata Runi membela diri. Ia melirik jengkel ke arah Raka yang tidur di sofa dan tak ada sedikitpun niatan untuk membelanya.
"Nggak usah membela diri, Runi!" Bu Aswini masih saja mengomel. "Pagi ini ibuk datang dan melihat sendiri kalau kamu baru bangun tidur padahal waktu sudah beranjak siang. Coba ibu tanya, apa kamu sudah masak? Apa sudah ada makanan yang tersaji untuk sarapan pagi Raka?!"
Runi menggeleng pelan. Bu Aswini, tentu saja bertambah jengkel. Ia bertanya dengan mata melotot, "Kamu nggak bisa lihat jam, Runi? Ini udah jam setengah delapan pagi!"
"Maaf, Buk. Runi salah," ucap Runi seraya menundukkan kepalanya. "Badan Runi agak terasa kurang enak sejak semalam. Jadi, Runi nggak bisa tidur dan ujung-ujungnya malah kesiangan. Tapi Runi tahu kok kalau ini hari Minggu, jadi Runi agak sedikit santai."
Pembelaan diri Runi justru menambah kesal Aswini. Ia semakin marah pada menantunya itu dan berseru, "Istri macam apa kamu ini? Bangun kesiangan, belum mandi, belum masak, dan suami nggak diurus dan malah diusir tidur di kamar lain? Malah niat santai-santai aja tanpa mengurus suami!"
"Maaf, Bu." Hanya ucapan maaf lah yang sanggup Runi haturkan saat ini. "Runi salah."
"Nggak ada maaf-maaf!" Bu Aswini melangkah mendekati putranya ke sofa ruang keluarga, namun kedua matanya masih melirik ke arah menantunya dengan pandangan jengkel. "Cepetan masak. Nggak pakai lama. Ibuk laper banget!"
***
__ADS_1