Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
43. Runi Hamil


__ADS_3

"Runi!" Raka memekik histeris saat melihat tubuh lemas Runi tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi. Ia melompat secepat mungkin untuk menangkap Runi, lalu membawa tubuh lemas itu dalam gendongan.


"Runi kenapa, Raka?" Aswini yang melihat Raka membawa Runi dalam langkah tergopoh ke dalam kamar, bertanya keheranan.


"Kan aku udah bilang, Bu. Runi lagi sakit sejak tadi malam. Jangan dipaksa ini dan itu, lah," kata Raka sambil membaringkan tubuh lemas Runi di atas kasur.


Aswini mendecakkan lidahnya. Ia merasa sangat kesal karena rupanya baru sepuluh menit sejak Runi menyajikan minuman kopi dan teh untuk ia dan Raka, menantunya itu sudah pingsan. Dalam waktu sesingkat itu, Runi pasti belum jadi memasak untuknya. Padahal ia sudah menyempatkan diri untuk berbelanja, dan saat ini ia merasa begitu lapar.


"Nih, pakein minyak angin buat mijit jari tangan sama kakinya," kata Aswini seraya meraih botol minyak angin di atas nakas kamar Raka dan Runi. Ia pun berdecak sebal melihat Runi yang menurutnya hanya berpura-pura oingsan untuk mengemis perhatian Raka.


Aswini hampir menyerahkan botol berwarna hijau tersebut kepada Raka, namun tiba-tiba netranya menangkap sebuah kantung plastik berwarna putih dengan tulisan 'Puskesmas Merbayu'.


"Ini minyak anginnya, Raka." Aswini menyerahkan apa yang tengah ia genggam untuk putranya tanpa melepaskan pandangan dari bungkusan puskesmas itu. Ia bertanya pada putranya, "Runi sakit apa, Raka?"


"Nggak tahu, Bu." Raka mulai mengolesi telapak tangan istrinya dengan minyak angin, lalu memijitnya perlahan. "Kayanya sih masuk angin. Dari tadi malam dia muntah-muntah terus."


Aswini mengerutkan kening. Sebersit pemikiran mulai muncul dalam benaknya, namun segera ia tepis jauh-jauh. Tidak, tidak Lalu sedetik kemudian, ia yang tak bisa menahan rasa ingin tahunya, mulai membuka bungkusan berwarna putih itu.


Di dalam kantung plastik itu terdapat beberapa strip obat-obatan. Namun saat melihat apa kandungannya, Aswini tampak begitu terkejut.


Sepuluh kaplet vitamin dengan kandungan asam folat, dan beberapa kaplet obat berwarna putih. Pemgalaman hamil dua orang anak membuatnya cukup yakin, vitamin apakah itu.


Aswini tak bisa serta merta percaya dengan apa yang ia lihat. Kedua matanya semakin merajalela untuk mencari jawaban dari pertanyaannya. Namun di atas nakas, ia tak menemukan apa-apa lagi. Aswini kembali menjalankan pencariannya di laci nakas. Dan tentu saja, ia menemukan sebuah buku catatan kehamilan berwarna pink di dalam laci tersebut.


Aswini menampilkan wajah terkejutnya begitu melihat setiap catatan yang tertuang di lembar pertama konsultasi dengan tanda tangan bidan Atun sebagai pencatatnya. Kedua bola matanya terbelalak. Rahangnya turun. Mulutnya terbuka lebar. Satu telapak tangan menutup mulutnya.


"Kenapa, Bu?" Raka bertanya saat melihat ekspresi aneh ibunya.


"Nggak papa," sahut Aswini seraya menutup buku KIA itu dengan gerakan cepat. Ia tidak mau Raka melihat informasi yang sudah ia baca.


Aswini mendecak kesal. Tidak seperti Raka, ia justru sangat tidak mengharapkan kehamilan Runi. Apalagi kehamilan yang didapatkan oleh wanita yang sama sekali ia restui untuk menjadi istri Raka. Dan melihat Raka yang terlihat begitu khawatir pada Runi, Aswini merasa kesal setengah mati.


Runi terlihat sangat pucat. Tentu saja, Raka terlihat cemas. Ia meraih sebuah selimut bulu yang terletak di dekat kaki Runi, lalu membuka lipatannya dan mengulurkan ke seluruh tubuh istrinya itu. Memastikan agar Runi tidak kedinginan.

__ADS_1


"Bu, aku mau panggil Bidan Atun sebentar. Kasihan Runi," kata Raka seraya bangkit lalu meraih kunci motor besarnya di atas nakas.


"Kok malah manggil bidan, Raka?" Aswini mencoba mencegah putranya pergi menjemlut sang bidan.


"Rumah Bidan Atun paling dekat, Bu. Saat ini Runi butuh bantuan tenaga medis. Kasihan kalau terlalu lama dibiarkan," kata Raka dengan raut wajah khawatir. Aswini terlihat sangat kesal dibuatnya.


Sebelum berlalu dan menghilang dari pandangan, Raka sempat berpesan kepada sang ibu. "Bu, nitip Runi sebentar, ya? Kalau bisa, tolong pijiti telapak tangan sama kaki Runi. Telapak tangannya dingin banget, kasian. Tolong ya, Bu. Biar dia cepat sadar."


Lagi-lagi, Aswini mendecak sebal. Ia menatap wajah pias Runi yang masih tak sadar di hadapannya, lalu ia segera melangkah ke lair kamar. Tak sedikitpun permintaan putranya itu ia pedulikan. Tak sudi ia menyentuh bagian manapun dari tubuh menantunya.


***


"Runi dah sadar belum, Bu?" Raka datang lima belas menit kemudian dan menemukan ibunya sedang duduk santai sambil memainkan ponsel di atas sofa ruang keluarga.


"Hmmm?" Aswini menolehkan wajah dan mengalihkan fokus dari ponselnya. "Apa, Raka?"


"Runi gimana, Bu? Udah sadar belum?" Ulang Raka saat ia mulai masuk. Di belakang Raka, mengekor seorang wanita paruh baya, seusia Bu Aswini.


"Belum. Tuh, masih tidur," sahut Aswini sekenanya. Raka semakin khawatir atas jawaban ibunya.


Aswini menyungging seringai miring saat Bidan Atun berjalan melewatinya. Tak menyapa sama sekali wanita itu, Aswini kembali asyik dengan ponselnya.


Berkebalikan dengan apa yang Aswini sampaikan, Raka menemukan Runi yang sudah sadar. Meski masih berbaring, Runi sudah sadar sembari memijati pelipisnya sendiri.


"Lho, sayang, kamu udah bangun?" Raka yang terkejut karena ibunya berkata Runi belum sadar, segera duduk di tepi ranjang Runi, lalu menyentuh dahi istrinya. Tentu saja, Runi menepisnya.


Raka berdiri untuk memberikan tempat pada Bidan Atun. Ia berkata kepada wanita itu, "Badan Runi agak anget, Bu."


"Sebentar, saya periksa dulu ya, Mbak Runi?" ucap Bidan Atun seraya menyentuh dahi Runi. ia bertanya, "Rasanya gimana, Mbak Runi?"


"Mual banget, Bu," jawab Runi lirih. Ia masih belum melepaskan tangannya dari pelipis. "Aku juga pusing. Kepalaku terasa berputar."


"Bisa duduk nggak?" Tanya Bidan Atun. Runi mengangguk. Ia berusaha bangkit, namun Raka sigap membantunya.

__ADS_1


"Wah, tensi Mbak Runi rendah sekali!" Bidan Atun berdecak heran saat ia memperhatikan jarum yang menunjuk angka pada tekanan darah Runi. "Padahal kemarin waktu periksa ke puskesmas Mbak Runi sehat kok. Memang sedikit mual juga kemarin, tapi tensinya nggak serendah ini, lho? Apa Mbak Runi masih susah makan?!"


Runi menyengir malu. Ia menjawab, "Iya, Bu. Saya lagi nggak bisa makan. Padahal obat anti mualnya diminum kok."


"Mbak Runi nggak boleh begini, lho! Perutnya tetap harus diisi. Jangan sampai dibiarkan kosong begini," omel Bu Atun dengan nada lembut.


Runi tersenyum penuh haru. Di saat orang-orang terdekatnya bersikap buruk terhadapnya, namun ia memiliki seorang tetangga yang sangat peduli terhadapnya.


"Iya, Bu." sahut Runi lirih.


"Ya udah. Kalau gitu, bilang dong Mbak Runi kepengin makan apa? Jangan diem aja, Mbak!"


Runi tersenyum kecut. Ekornya menangkap gesture Raka yang terlihat begitu salah tingkah.


"Udah bilang kok, Bu," ucap Runi lirih.


Bidan Atun menolehkan wajahnya pada Raka dan bertanya, "Lha, terus udah dicariin belum?"


Raka menggeleng tak mengerti. "Belum," jawabnya jujur.


"Aduduh," Bidan Atun mengelus dada, heran atas kemandirian Runi yang menurutnya terlalu berlebihan, atau justru Raka yang terlalu cuek. Ia beralih ke arah Runi kembali dan berkata, "Jangan semuanya dipendam sendiri, Mbak Runi. Coba deh bilang sama Mas Raka, Mbak Runi kepengin apa? Mumpung hamil lho, masa iya sih nggak akan dituruti sama suaminya?"


"Ha-hamil?!" Suara Raka terdengar begitu terkejut. Ia bahkan mengulang lagi pertanyanya, untuk meyakinkan diri bahwa apa yang ia dengar tidaklah salah. "Apa tadi kata Bu Bidan? Istri saya hamil, Bu?"


Bu Atun mengernyit bingung. Ia melempar pandangan bertanya kepada Runi dan Raka secara bergantian, lalu berakhir kembali kepada Runi. "Memangnya Mbak Runi belum cerita sama Mas Raka kalau Mbak Runi hamil?"


Runi menggeleng. Ia juga menundukkan wajahnya.


"Owalah!" Bidan Atun terkekeh pelan. "Mbak Runi pasti mau ngasih kejutan buat Mas Raka, sampai nunggu saat yang tepat untuk cerita. Iya kan, Mbak?"


"I-iya, Bu." Runi pun mengangguk dengan terpaksa.


'Akhirnya Mas Raka tahu,' gerutu Runi dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2