
Raka datang mendekat dengan tiba-tiba. Bibirnya menyapu milik Widuri dengan begitu tiba-tiba, padahal pintu ruang tamu Widuri baru saja tertutup.
"Ah, Raka! Apa yang kamu ... Hmmmmmh!!!" Widuri yang terkejut, hanya bisa mengeluarkan suara syahdu saat bibir Raka menutup mulutnya dengan lembut.
Di sela-sela serangan Raka yang begitu tiba-tiba, Widuri tersenyum. Ia tahu, Raka sangat merindukannya. Ia tahu betapa dahsyatnya cinta Raka yang masih terpendam sangat dalam di relung hati pria itu padanya. Ia bisa menilai betapa besarnya cinta dan kerinduan Raka hanya dengan menatap sorot mata mendamba yang Raka lemparkan padanya, semenjak pertemuan pertama mereka beberapa hari yang lalu setelah empat tahun lamanya.
"Baju kamu basah sekali, Raka. Apa kamu kehujanan?" tanya Widuri dengan nada khawatir saat pagutan bibir mereka berhenti sejenak. Ia sedikit terengah-engah, dan kini meminta jeda sejenak dengan dua kening yang saling bertaut dalam nafas yang masih menyatu. Namun ia bisa merasakan betapa basahnya baju yang kini Raka kenakan.
"Raka, baju kamu basah! Kamu bisa sakit! Ayo, ganti baju dulu!" Pinta Widuri seraya menjauhkan wajahnya. Ia bermaksud mengajak Raka untuk berganti pakaian, karena di rumah ini masih banyak terdapat memory yang tersimpan antara ia dan Raka di masa lalu, termasuk banyak barang dan baju milik Raka.
Raka tak menjawab dan tentu saja membuat Widuri mendengus sebal. Bahkan ia mulai membaui aroma nafas Raka yang rupanya berbau alkohol menyengat. Ia bertanya kembali, "Hei, lagipula kamu bau alkohol. Apa kamu mabuk, Raka?"
"Hmmm." Namun Raka hanya menjawab dengan gumaman pelan. Lebih tepatnya, ia tak peduli sama sekali.
"Raka, jawab aku! Apa kamu mabuk?!" Widuri bertanya kembali dengan cemas. Ia sangat tahu kebiasaan Raka saat dulu masih bersamanya. Raka hanya akan meminum alkohol, bahkan hingga mabuk berat jika ia tengah memiliki beban masalah yang begitu berat dalam pikirannya. "Jawab pertanyaanku, Raka? Kenapa kamu mabuk? Kamu ada masalah apa?! Ceritakan padaku, Raka!"
Raka tak menjawab. Ia merasa begitu tak berguna sekarang. Ia mencintai Widuri, sangat. Cinta mereka bahkan sudah tumbuh sejak usia mereka masih begitu belia. Widuri juga merasakan hal yang sama dengannya. Hanya saja, Widuri pergi tanpa kata saat itu, meninggalkannya dalam rasa kalut yang begitu luar biasa.
"Kamu, Duri. Semua karena kamu. Kamu telah membuatku menjadi sefrustasi ini." Raka menjawab dengan nada yang teramat lirih. Tentu saja, Widuri mengernyit bingung.
__ADS_1
"Lho, kenapa aku? Apa yang telah aku lakukan pada dirmu, Raka?"
Raka kembali terdiam tanpa jawaban. Ia tenggelam dalam kabut yang menggelayut gelap di wajahnya. Ia menyorot sendu kedua mata Widuri dengan kerinduan yang masih begitu membara. Sorot matanya haus akan cinta dan kasih sayang Widuri yang selama empat tahun ini masih terbayang di setiap malamnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Raka! Apa kamu mabuk? Apa yang sedang kamu pikirkan hingga kamu terlihat sekacau ini?!"
"Kamu." Raka menjawab singkat. "Kamu yang selalu ada dalam pikiranku. Kamu memenuhi otakku. Kamu ada di sini, dan di sini," jawab Raka seraya menunjuk kepalanya senditi, lalu berpindah ke dada, tepat di jantungnya.
"Oh ya?" Widuri tersipu malu. Lalu, Widuri menyunggingkan seringai di wajahnya. Ia meraba lembut bibir tipis Raka, membuat indera peraba di wajah Raka meremang seketika. Widuri kembali berkata, "Aku pun sama, aku juga selalu mengingat dirimu."
Widuri menatap dalam kedua bola mata Raka secara bergantian dengan pandangan yang begitu sayu. Pun sama dengan Raka, sorot mata pria itu terlihat begitu sendu. Widuri tahu, Raka sedang menahan rasa yang bergejolak tak menentu di dalam dada. Raka sangat mencintainya. Pria itu juga sangat merindukannya! Dan empat tahun waktu yang memisahkan mereka, cukup menjadi bukti bahwa cinta yang bersemayam di hati Raka masih teramat besar untuknya.
"Ya, aku tahu." Widuri menjawab seraya menyungging senyum miring dan menunjuk dada Raka. "Aku tahu, di sini, di hatimu. Selalu ada namaku."
Widuri tak menjawab lagi. ia merasa sangat puas. Semua sudah sangat jelas baginya. Sorot mata yang Raka pancarkan untuknya tidak bisa berbohong. Raka masih sangat mencintainya!
"Aku ingin memilikimu!" Raka kembali berbisik dengan nada yang kali ini terdengar begitu menuntut. Ia menekan tubuh ramping Widuri ke arah dinding, dan kembali menc1um bibir Widuri dengan penuh cinta.
Widuri merespon dengan baik apa yang Raka lakukan pada dirinya. Raka, tentu saja semakin merasa begitu bersemangat. Jiwa kelaki-lakiannya meronta hebat tatkala mengetahui wanita yang saat ini masih bertahta di hatinya, memberikan respon positif terhadap semua yang ia berikan.
__ADS_1
Ya, cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Gayung yang ia lemparkan masih mendapatkan sambutan dari wanita yang ternyata namanya masih mendominasi sebagian besar tempat di dasar hatinya.
Raka tersenyum dalam kabut gairah. Ia bertanya, "Apa kamu menginginkanku, Duri?"
"Tentu saja! Aku selalu menginginkanmu, Raka! Dulu, sekarang, dan di masa depan!" Widuri mengangkat kepalanya. Tangannya yang sedari tadi bebas, kini menarik tengkuk Raka mendekat padanya. Ia kembali memberikan dekapan penuh cinta, menc1umnya tanpa ampun seakan tak memberi Raka kesempatan untuk bernafas.
"Malam ini, tolong habiskan bersamaku, Raka!" pinta Widuri dengan sorot mata yang terlihat mendung. "Aku ... Aku sangat merindukan dirimu!"
Namun, apa yang Widuri harapkan tidak semudah itu ia dapatkan jawabannya. Permohonannya hanya mendapatkan tatapan kosong dari Raka.
"Kamu tidak akan pulang malam ini, kan, Raka?" Widuri bertanya sekali lagi dengan mencengkeram kerah Raka. Hingga dua kali wanita itu bertanya, namun Raka tidak segera memberinya jawaban. Widuri bertanya lagi. "Jawab pertanyaanku, Raka! Kamu akan tetap di sini, menemaniku malam ini, kan?"
Bukannya menjawab atau mengiyakan permintaan Widuri, kini Raka yang masih berada di atas tubuh Widuri, kembali mendekatkan wajahnya. Namun Widuri membuang wajahnya begitu saja karena reaksi Raka tidak seperti yang ia inginkan.
"Menjauh dariku, Raka! Kamu sangat menyebalkan!" seru Widuri seraya mendorong pelan dada bidang Raka menjauh dari tubuhnya. Namun ia yang masih berada di bawah dalam posisi berbaring, jelas kalah jauh dari segi tenaga dibandingkan dengan Raka. Karena saat ini, Raka masih kokoh mengungkung tubuh mungil Widuri, tepat berada di atasnya.
"Tidak!" Raka menolak mentah-mentah perintah Widuri. "Aku ... Aku mau kamu!"
Tentu saja Raka menolak permintaan konyol Widuri. Saat ini gairahnya sudah berada di ujung tanduk dan ia butuh menyalurkannya dengan wanita yang sangat ia cintai. Raka sudah terlalu lama menahan diri. Ia begitu menginginkan Widuri namun sedari kemarin hanya bisa menyalurkan hasratnya kepada Runi, istrinya sendiri. Ia kini tak rela jika Widuri lolos begitu saja dari hadapannya.
__ADS_1
"Aku ... Aku ..." Dalam keraguan, Raka tak bisa menyelesaikan ucapannya.
***