
"Bagaimana kondisimu, Putraku?" Tanya Raja Suryapati saat menjenguk Candra yang kini sedang membaringkan diri di kamarnya. Wajah Candra sangat pucat saat itu, bahkan sejak ia pulang kemari tadi pagi.
"Baik-baik saja, ayah." Candra bangkit segera begitu melihat ayahnya datang lalu segera duduk di tepi ranjag tempat ia berbaring. Ia mendudukkan tubuhnya diiringi oleh ringis kesakitan di wajahnya.
"Hati-hati dalam bergerak, putraku. Lukamu belum menutup sempurna," kata Ratu Dahayu yang juga duduk di sebelah suaminya. Raka mencebik dalam diam. Ibundanya tampak segar bugar, namun Bayu mengatakan jika Ratu dahayu sedang sakit keras. Sebetulnya yang berbohong itu Bayu, atau ibundanya?
"Oh ya, ibunda. Terima kasih atas perhatiannya," sahut Candra masih dengan ringisan kesakitannya.
"Apa yang kamu rasakan? Apa sakit?" tanya Raja Suryapati dengan perasaan khawatir. Biasanya, putra tunggalnya ini adalah anak yang kuat dan bandel. Melihatnya meringis kesakitan seperti ini, sepertinya luka yang dialami oleh Candra benar-benar serius.
"Tidak, ayah. Biasa saja. Tidak terlalu sakit," jawab Candra berbohong.
Sejujurnya, Candra merasa sangat sakit di seluruh tubuhnya, terutama dada sebelah kirinya. Memang pada dasarnya tubuh Candra tidak terbiasa dengan rasa sakit karena di saat cisera, ia selalu bisa meregenerasi sel-sel tubuhnya yang rusak dengan cepat. Namun tidak untuk kali ini. Tubuhnya betul-betul terasa sekarat. Ia merasa begitu lemah, pusing, mengantuk, dan tak bertenaga. Apalagi jika dirinya tengah berada dalam wujud manusia seperti ini, yang tentu membutuhkan tenaga yang lebih besar.
"Cepatlah sembuh, Putraku. Hukuman dari ayah segera menantimu," kata Raja Suryapati sambil menyeringai. Seketika itu juga, rasa merinding menyeramkan menjalar di benak Candra.
"Ta-tapi saya masih sakit, Ayahanda. Mengapa Anda sudah tega membicarakan tentang hukuman untuk saya?" tanya Candra seraya mencebik memelas.
Untuk sesaat, Candra merasa sangat menyesal dengan jawaban yang ia berikan baru saja yang mengatakan bahwa lukanya tidak sakit lagi. Akibatnya, sang ayah sudah mengultimatumnya tentang sebuah hukuman. Kini, Candra berusaha memperlihatkan ekspresi kesakitan yang berlebihan pada wajahnya karena bermaksud membuat sang ayah merasa iba padanya.
__ADS_1
"Tentu saja agar kamu merasa kapok, putraku!" ucap sang raja dengan menekankan kata-katanya, seolah tidak terpengaruh dengan ekspresi kesakitan putranya. "Tidak masalah jika kamu pergi, tapi jangan sampai berbulan-bulan lamanya tanpa bisa dihubungi! Apa kamu lupa jika kamu masih memiliki rumah sebagai tempatmu untuk pulang dan orang tua yang masih mengkhawatirkan dirimu?"
Candra kembali meringiskan wajahnya. ia merasa sedikit nelangsa, tentunya. Tadi pagi ia sudah dimarahi oleh sang ibunda habis-habisan. Namun kemunculan sang ayah saat ini tidak membuat semuanya menjadi lebih baik. Yah, namun setidaknya jauh lebih baik, tidak meledak-ledak seperti biasanya. Mungkin saja karena ia sedang mengalami cidera yang cukup parah.
Meski demikian, belum saja lukanya sudah sembuh dan menutup sempurna. Namun sang ayah sudah mengatakan perihal ancaman untuk memberi sebuah hukuman untuknya. Yah, ayahanda tercintanya memang sekeras itu. Harap maklum, namanya juga putra mahkota.
"Tentu saja saya ingat, ayah. Tolong maafkan saya yang begitu ceroboh ini," ucap Candra dengan memasang wajah memelas.
Sesungguhnya ia ingin mengutarakan perihal alasannya pergi dari rumah. Yaitu karena ayah dan ibunya memaksakan perjodohan antara dirinya dengan Putri Narlita, sementara ia sangat menentang perjodohan itu. Namun rasanya saat ini situasi dan kondisinya sedang sangat tidak tepat. Selain itu pada saat ini, dirinya juga sedang tidak memiliki kekuatan untuk berdebat. Tenaganya pergi entah ke mana. Tubuhnya terasa sangat lemas. Mungkin saja karena pengaruh dari cidera yang ia alami, atau juga karena bisa ular yang dioleskan pada panah yang tertancap di dadanya.
"Tidak ada kata maaf untuk anak bandel sepertimu, putraku." Raja Suryapati berkata dengan suara bariton khasnya. Ratu Dahayu di sampingnya mengusap pelan lengan suaminya agar tidak terlalu emosi pada putra mereka yang masih terlihat lemah itu.
"Siap. Mengerti, Ayah!"
"Oke, oke. Istirahatlah. Nikmati waktu senggangmu." Raja Suryapati menepuk pundak Candra dua kali sebelum berlalu.
Ratu Dahayu yang masih tertinggal di belakang, kini tersenyum dan berkata, "Betul kata ayahmu, putraku sayang. Beristirahatlah. Tabib Arman akan datang dua kali dalam satu hari untuk memeriksa lukamu, putraku."
Candra tersenyum getir. Ya, dia harus menjalani entah beberapa hari, beberapa minggu, atau bahkan beberapa bulan ke depan masa karantina ini. Ia tahu betul watak ayah dan ibundanya yang sangat protektif padanya. Ya, selalu putra tunggal sekaligus putra mahkota, sejak kecil ia sudah diperlakukan bagaikan boneka yang teramat istimewa dan seolah-olah tak diijinkan untuk terluka barang seujung kuku pun.
__ADS_1
***
Hari-hari berlalu sejak Popo menghilang. Runi yang sudah terbiasa dengan keberadaan Popo yang selalu menghiburnya, kini kembali kesepian. Apalagi, sikap Raka kepadanya kini betul-betul dingin. Jika biasanya Raka akan meminta hak kepada Runi paling lama tiga hari, namun ini sudah satu minggu berlalu dan Raka sama sekali tidak terlihat membutuhkan dirinya.
Tanda tanya dalam benak Runi semakin besar. Meskipun sekuat hati Runi berusaha menyangkal keanehan demi keanehan yang suaminya tampilkan, namun ia yang sudah menyimpan kecurigaan terhadap suaminya, kini semakin bertanya-tanya.
"Betulkah Raka sudah berkhianat dariku? Tetapi, dengan siapa?" pikir Runi resah.
Runi pernah mencuri dengar pembicaraan antara Raka dan Aswini tentang kembalinya Widuri. Aswini juga seolah-olah terlihat seperti sangat mendukung Raka kembali pada wanita yang bernama Widuri itu. Padahal sudah jelas, Raka sudah menikah!
Satu fakta lagi, Raka pernah meracau dalam tidurnya memanggil nama Widuri. Tapi, apakah Widuri yang dimaksud oleh Raka dan Aswini adalah Widuri yang sama dengan Cantika Widuri, teman lain SD yang selalu menjadi rivalnya saat setiap perlombaan antar sekolah dulu?
"Tidak, Tidak!" Runi menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengelak memungkinan itu. Widuri sudah memiliki kekasih! Jadi, tidak mungkin ia yang menjadi selingkuhan Raka. Bisa jadi, jika memang benar Widuri yang ia dan Raka maksud adalah Widuri yang sama, pasti justru Raka yang mencintai Widuri secara satu pihak. Widuri sudah memiliki kekasih dan ia tidak akan mungkin melirik Raka.
Widuri wanita yang pintar, berkelas, dan berpendidikan tinggi. Tidak sepeeti dirinya yang hanya tamatan SMK di kota kecamatan. Selain itu, Widuri juga sangat cantik dan menawan. Seorang gadis sekelas Widuri tidak mungkin menjadi wanita pengganggu rumah tangga orang lain. Apalagi rumah tangganya yang notabene adalah sahabat masa kecil Widuri.
"Tapi, siapa wanita itu?" Runi resah karena terus menyimpan tanda tanya besar di benaknya.
Hari demi hari terus berlalu dalam resah yang semakin menyiksa batin Runi. Namun ia juga kehilangan Popo, anjing kecil yang selalu menemani dan menghiburnya dalam sepi. Anjing kecil abu-abu itu menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi. Tentu saja, Runi merasa sangat kehilangan karena Popo menghilang begitu saja tanpa aba-aba sama sekali.
__ADS_1
***