Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
21. Sarapan untuk Raka


__ADS_3

"Hai, sayang! Ini sarapan untukmu!" seorang gadis berlari kecil dari pintu masuk dengan menenteng sebuah bungkusan cantik berwarna biru muda.


Raka mengecek keadaan samping kanan dan kirinya. Ia takut ada mata-mata yang mengawasi gerak geriknya di sini.


"Hei, lihatin apa, sih?" Tanya Widuri dengan nada yang sumringah. Wajar saja sumringah, satu malam tubuhnya di-charge full dengan beberapa kali pertempuran panas bersama Raka yang sudah empat tahun tidak mereka lakukan.


"Makasih, Duri sayang!" Mata Raka berbinar sekarang setelah ia merasa di sebelah kanan dan kirinya aman dari mata-mata. Wajar saja ia merasa khawatir, karena ia bekerja di perkebunan sawit milik ayah Widuri yang berada di perbukitan Xanthi, tak jauh dari desanya. Otomatis pasti banyak yang mengenal dirinya, dan statusnya yang telah memikah dengan Runi.


Karena saat bangun tidur tadi pagi ia berada di pelukan Widuri, namun saat ini gadis pujaannya itu juga sudah merelakan diri memasak untuknya. Tentu saja, Raka sangat bahagia karena Widuri sudah berusaha melakukan yang terbaik. Untuk alasan apa lagi juga bukan karena cinta?


"Tapi masakanku nggak enak. Aku kan jarang masak," aku Widuri seraya mencebik. "Ini aku bela-belain banget lho, masak sop buntut buat kamu. Mana masih pagi pula! Jam segini aku tuh biasanya masih molor tau nggak sih. Artinya, aku udah berusaha sekuat tenaga demi kamu lho, Ka! Awas kalau sampai kamu bilang nggak enak!"


Raka tertawa senang. Ia sangat tahu, meskipun Widuri dahulu hampir setiap hari memasak untuknya, namun sebetulnya Widuri sangat tidak pandai memasak. Lebih tepatnya, tidak suka. Tetapi demi Raka, meskipun ia tidak suka, tetap saja ia lakukan. Artinya, Widuri betul-betul berusaha melakukan yang terbaik untuk Raka. Bagaimana hati Raka tidak kembang kempis dibuatnya?


"Mana mungkun aku bilang nggak enak, orang kamu saja memasaknya dengan penuh cinta?" goda Raka seraya menyengir lebar. Apalagi saat Widuri mulai membuka lunch box di depan Raka itu, lalu menguarlah aroma sedap khas daging sapi yang terasa begitu menggoda. Yah, meskipun secara fisik tidak terlihat semenarik masakan Runi, istrinya, namun untuk aroma tentu saja tidak kalah. Sop ini sukses menggoda indera penciuman Raka.


"Ih, dasar gombal! Nggak mempan deh," ujar Widuri seraya mencebik. "Awas pokoknya kalau bilang nggak enak. Aku nggak bakal masakin buat kamu lagi!"


"Lho, jangan gitu. Aku suka kok sama masakan kamu. Selalu suka malahan," kata Raka menenangkan.

__ADS_1


"Beneran?" Widuri kini pun merasa sedikit melayang. "Kamu lho, emang paling pinter bikin hatiku terbang melayang!"


"Bukannya gombal, aku cuma membenarkan kok, Duri. Dari dulu aku selalu suka masakanmu kok. Ya, meskipun cuma mie rebus pakai telor aja," kata Raka yang sebenarnya berniat menenangkan. Hanya saja sepertinya ia salah berucap. Buktinya, Widuri langsung meninju lengan Raka kuat-kuat.


"Sukanya kok menghina!" Widuri kembali mencebik. "Emangnya si Runi nggak masak? Kenapa kamu minta dimasakin sama aku?"


Raka tersenyum masam. Ia memang melihat uap panas yang mengepul dari mangkuk sop yang Runi hidangkan padanya di meja makan tadi pagi. Tapi, entahlah. Untuk saat ini ia sedang tidak ingin mengobrol berlama-lama dengan Runi dan berduaan dengannya. Ia juga merasa tidak bernafsu sama sekali untuk bercinta dengan Runi, ataupun hanya sekedar makan masakan istrinya. Lebih tepatnya, Raka tengah menemui titik jenuh terhadap hubungan rumah tangganya dengan Runi, yang entah karena alasan apa.


"Lagi kepengin masakan kamu pokoknya," jawab Raka dengan nada manja.


Sebetulnya, ia tergoda dengan sop buntut buatan istrinya. Namun ia yang sedang malas melihat Runi pasca pertempuran panasnya dengan Widuri semalam suntuk, tadi pagi lebih memilih untuk pergi saja. Namun sialnya, karena terbayang-bayang dengan sup itu akhirnya dia meminta Widuri untuk memasak menu yang sama dengan yang Runi buatkan untuknya. Sayangnya Widuri sama sekali tidak tahu akan hal itu.


"Yaudah, makan dulu aja," kata Widuri seraya meletakkan satu buah luch box di meja kerja Raka. Tak lupa satu cup jus alpukat juga ia hidangkan di sana.


"Mau nganter sop ini ke papa," jawab Widuri dengan menenteng sebuah bingkisan lain berwarna merah seraya menyungging cengiran lebar di wajahnya. Gadis manis itu melanjutkan, "Papa udah sarapan sih. Cuman, papa kan belum pernah lihat aku bikin sup buntut sapi. Pasti papa happy banget deh."


"Happy atau sakit perut?" goda Raka sembarangan.


"Ihhh, sukanya ya, dasar! Menghina melulu!" kali ini, Widuri yang mencebik. "Awas nanti kalau sampai ketagihan!"

__ADS_1


"Hahaha. Ya udah deh sana. Tapi nanti ke sini lagi ya, temani aku!" Pinta Raka dengan wajah memelas.


"Iya deh, beres pokoknya!"


***


"Rambut siapa ini?!" Runi yang tengah memasukkan baju kotor dari keranjang cucian ke mesin cuci tampak terkejut saat melihat sesuatu yang mencurigakan dalam pandangannya. Beberapa lembar rambut ikal panjang menempel pada kaus santai yang Raka kenakan tadi pagi saat pulang.


Ia masih berusaha berpikir positif sehingga menyamakan dengan rambutnya sendiri. Namun rupanya saat ia sejajarkan, rambut yang menempel di baju Raka sangat berbeda dengan rambut miliknya. Sama-sama panjang, namun rambut yang ada dalam genggamannya itu ikal dan berwarna kecoklatan. Sedangkan rambutnya sendiri merupakan jenis yang lurus dan berwarna hitam legam.


"Tidak mungkin!" Runi mendesis frustasi. Segala macam pikiran buruk datang mendera, namun meskipun ia berusaha menepisnya, semua pikiran buruk itu tetap tidak mau pergi dari benaknya.


Runi memberanikan diri untuk mencium aroma parfum yang menempel di baju itu. Dan ya, seperti yang ia takutkan. Aroma parfum itu bukanlah aroma parfum seperti yang biasa dirinya maupun Raka gunakan sehari-hari. Bahkan meskipun Raka hobi mengoleksi parfum, semuanya adalah parfum pria yang beraroma maskulin! Bukan parfum wanita beraroma citrus dan segar seperti ini!


Seketika itu juga, Runi langsung terduduk dalam kalut yang tiba-tiba menyerangnya. Bukir kristal dari sudut matanya keluar tanpa bisa ia cegah. Sakit, rasanya sangat sakit! Entahlah, meskipun semua hanya masih berupa praduga, namun rasanya semua tanya berkecamuk menjadi satu dalam benaknya.


Tapi, betulkah Raka telah berkhianat darinya? Apakah itu sebabnya, Raka bersikap acuh tak acuh padanya sejak malam dan tadi pagi?


Meskipun semua bukti menunjukkan bahwa Raka telah bermain di belakangnya, namun ini baru dugaan! Ia tidak mungkin bisa serta merta menuduh Raka menyeleweng darinya jika belum ada bukti yang betul-betul konkret dan nyata.

__ADS_1


'Tidak mungkin Mas Raka ... Tidak mungkin!' Elak Runi dengan hati yang hancur.


***


__ADS_2