
Waktu menjelang tengah malam Raka habiskan untuk menjaga Runi, meskipun pria itu tidak bisa menyentuh Runi meski sedikitpun. Namun melihat Runi yang tengah sakit saat ini--muntah-muntah, lemas, tidak mau makan meski dipaksa, dan tidak mau bicara padanya, membuat Raka harus bisa menentukan prioritasnya.
Ponsel Raka sedari tadi menjerit keras. Entah berapa puluh pesan dan panggilan tak terjawab yang ia yakini dari Widuri, namun kali ini ia buat ponselnya dalam mode silent. Ia yakin Runi tidak akan curiga, kecuali jika ia nekat membuka pesan atau menerima panggilan dari Widuri tepat di depan istrinya yang sedang cemburu berat itu.
Runi sudah memejamkan mata dengan selimut yang menutupi tubuhnya rapat-rapat. Ternyata ia sudah meminum obat yang ia dapatkan entah dari mana, pikir Raka.
Raka tertunduk dalam di headboard ranjang tempat tidurnya. Menatap punggung Runi yang berbaring miring memunggunginya, ia berdecak bingung. Lalu, dengan amat perlahan, Raka mengambil ponsel yang ia simpan di saku celananya, yang sedari tadi ia pasang dalam mode silent.
Ah, betul saja! Seperti yang ia perkirakan, pesan dan panggilannya penuh oleh nama Widuri. Dan seperti magnet, hanya berselang sekian detik sejak Raka membuka ponselnya, panggilan itu masuk kembali. Atas nama Widuri.
"Raka!" Begitu panggilan itu Raka terima, suara Widuri sudah memekik dengan lantang di telinganya.
Raka menoleh gugup ke arah Runi yang sudah terlelap di sampingnya. Ia takut suara cetar Widuri akan mengganggu istirahat Runi. Maka, Raka segera bangkit dari tempat tidurnya, lalu melangkah keluar kamar. Ia mencari tempat yang aman, yang jauh dari batas pendengaran Runi. Meskipun Runi sudah tertidur, ia khawatir jika Runi bisa mendengarkan obrolan antara ia dan Widuri.
Kini, Raka merasa aman karena kini ia sudah menyendiri di teras belakang rumahnya, dekat dengan dapur. Jadi, Runi tak akan mungkin mendengar suara pekikan Widuri, apalagi Raka tidak me-loud speaker tombol suaranya.
"Iya, Duri." Raka menyapa Widuri dengan suara pelan. "Ada apa?"
"Hah? Ada apa kamu bilang?" Beo Widuri dengan nada mencemooh. Ia kemudian menagih janji yang sudah Raka ucapkan padanya sore tadi. "Sudah jam berapa ini? Katamu, kamu akan kembali lagi ke sini? Kenapa kamu membiarkanku menunggu?"
"A-anu, Duri. Malam ini sepertinya aku nggak bisa menemani kamu," ucap Raka penuh kebimbangan. "Aku nggak bisa datang. Maafin aku, sayang."
__ADS_1
"Huhhh!" Widuri mendengus kecewa. "Kamu tadi sudah janji, Raka! Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?"
"Maafin aku, Duri. Tapi, Runi lagi sakit. Dia muntah-muntah terus dari tadi. Kayaknya dia masuk angin. Tolong ngertiin aku, sayang," tutur Raka meminta pengertian.
"Caper doang kali," sergah Widuri kesal. "Kamu kok kepancing sih, biasanya juga nggak peduli kok sama dia! Dasar nyebelin!"
"Duri, tolonglah ngertiin aku," pinta Raka menghiba. "Besok aku ke sana lagi, kalau Runi sudah sembuh. Tapi malam ini aku nggak bisa, sayang. Maafkan aku."
"Nggak tahu, lah! Masa bodo!" Widuri menyahut dengan ketus. Lalu tanpa aba-aba, ia memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
Raka kembali menutup ponselnya begitu panggilan Widuri terputus. Ia menghela nafas panjang dan berat, lalu melangkah lagi memasuki rumahnya melalui pintu dapur.
Runi menjawab tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia hanya mengangkat segelas air putih yang berada dalam genggaman tangannya, lalu ia goyangkan pelan-pelan, menunjukkan pada Raka bahwa ia sedang meminum segelas air putih.
"Kamu haus?" Tanya Raka seraya berjalan mendekat. "Kenapa kamu nggak bilang padaku? Kan sebetulnya bisa aku ambilkan, sayang."
Raka sedikit merasa gugup sebenarnya, karena jarak antara kursi yang diduduki oleh Runi terletak tidak terlalu jauh dari titik tempat ia menerima telepon dari Widuri. Meskipun ia menjawab panggilan itu tidak dengan suara yang keras, tetapi dalam jarak sedekat ini, sudah pasti Runi bisa mendengar semua yang ia ucapkan, meski tidak dengan suara Widuri di seberang sana.
"Nggak usah memanggilku sayang, Mas. Aku jijik mendengarnya dari mulut kotormu," sindir Runi dengan begitu sadisnya.
"Hei. Jangan marah terus dong?" Raka kini menarik kursi ke sebelah Runi, lalu memijit tengkuk istrinya itu pelan. Ia bertanya untuk mengalihkan pembicaraan, "Kamu masih sakit nggak? Pusing? Mual? Lemes?"
__ADS_1
"Singkirkan tangan kamu," pinta Runi seraya menghindar, menepis tangan Raka yang mendarat di tengkuknya, lalu menjauhkan tubuhnya. Ia melanjutkan dengan nada yang rendah dan bergetar. Hampir menangis, namun sekuat tenaga ia tahan. "Jadi ini alasannya selama hampir dua minggu ini kamu berubah, Mas? Karena dia? Wanita yang selama ini aku anggap sebagai sahabat?"
Raka terdiam menunduk meresapi setiap cercaan yang Runi lontarkan. Terdengar begitu pedih, juga sarat akan luka yang mendalam.
"Aku baru tahu alasan kenapa kamu tidak pernah mau makan masakanku. Kamu tidak pernah tidur di rumah. Dan kamu ..." Tatapan Runi sangat terluka begitu ia akan melanjutkan ucapannya. "... Kamu tidak pernah sudi menyentuhku. Semua pasti karena kehadiran wanita itu kembali dalam hidupmu."
"Ma-maafkan aku." Raka yang sudah merasa tertodong, kini tidak tahu lagi harus membela diri dengan cara bagaimana. Bahkan semua percuma, Runi tidak akan mungkin bisa menerima setiap pembelaan dirinya. Karena memang benar, Raka telah berkhianat.
"Pergilah ke rumah selingkuhanmu, Mas. Aku sudah terbiasa di rumah sendiri saat tengah malam buta, seperti malam-malamku sebelumnya tanpa kamu. " Runi bicara sembari menyungging senyum getir setelah ia meminum seteguk air putih dari gelasnya. Karena ia hanya menuang setengah gelas air putih, maka minuman itu langsung tandas dalam satu kali tegukan.
"A-anu ..." Bagaikan orang bodoh, Raka bicara dengan tergagap. Ia tak bisa mengelak lagi karena sepertinya Runi sudah mengetahui semuanya. Seperti yang Widuri inginkan, sebetulnya. Ia hanya tinggal membuat Runi merasa kecewa, lalu pergi meninggalkannya. Jika rencana itu berhasil, ia bisa kembali pada Widuri dan merajut cinta bersama mantan kekasihnya itu kembali dari awal.
"Pergilah!" Runi berkata kembali dengan mata yang nanar dan penuh sorot kebencian. Ia bangkit dari kursinya, lalu melangkah ke dalam kamar. Raka mengikutinya.
Runi melengos kesal melihat Raka mengekor di belakangnya. Ia berniat merebahkan diri, namun mihat gerak-gerik Raka yang sepertinya tak akan pergi malam ini, membuat Runi merasa begitu jengkel sekaligus muak.
Runi mengambil masing-masing satu buah bantal, satu buah bantal guling, dan satu buah selimut. Ia berikan kepada Raka yang terus mengekor di belakangnya dan kini baru tiba di ambang pintu kamar.
Runi berkata, "Terserah kamu mau tidur di mana, Mas. Mau kembali ke rumah selingkuhan kamu, boleh. Mau tidur di rumah ini, juga silakan. Tapi maaf, aku tidak sudi tidur denganmu lagi. Jadi, silakan tidur di kamar lain."
***
__ADS_1