
"Popo?! Apakah itu kamu?" Runi yang sempat tertegun, segera turun dari tepian jembatan. Ia mengusap air matanya yang terasa sedikit pedas dan berembun karena memang ia tengah menangis seraya menikmati guyuran air hujan dari langit.
Runi menajamkan mata. Dan dengan begitu jelasnya, ia melihat Popo di sana, di tepi tebing terjal, berdiri memandangnya dengan sorot matanya yang berkilat merah terang. Telinga anjing itu berdiri tegak, seperti tengah bersikap siaga.
Betulkah Popo yang tengah mengawasinya, tak jauh dari titik tempat ia berdiri di tepi jembatan? Tapi, untuk apa anjing kecil itu di sana? Bukannya bersegera menghambur ke pelukan Runi seperti biasanya? Apa yang tengah anjing itu lakukan di tengah hujan deras di petang hari in?
Runi tak yakin jika sosok anjing kecil itu adalah Popo. Untuk memastikannya, maka ia berjalan mendekat. Sedikit merasa ragu karena tadi pun ia sempat merasa salah lihat, kali ini ia juga tidak yakin apakah yang ia lihat betul-betul Popo, atau hanya bayangannya semata.
"Popo?!" Runi memanggil Popo kembali. Menyusuri tepi jembatan, lalu hingga tiba di tepian sungai. Menyibak beberapa rimbun daun yang doyong menutupi pandangnya, untuk mencari, siapa tahu ada sosok Popo di sana.
Namun, rupanya, nihil. Popo tidak ada di mana-mana. Anjing kecil itu tidak muncul dalam pandangan matanya.
Runi mengusap matanya yang basah karena terkena air hujan bercampur dengan air matanya sendiri. Ia menyentuh perutnya yang masih sangat rata setelah itu, kemudian tersenyum miris. Ya, mungkin Popo hanya sedang melindungi ia dan bayinya, meskipun hanya berupa bayang tak nyata. Ia tidak ingin Runi terluka dan mengakhiri hidupnya sendiri dengan begitu bodohnya.
"Maafkan ibu, Nak." Runi yang merasa bersalah karena sempat berpikiran bodoh untuk mencelakakan dirinya sendiri dan bayinya, kini menangis lagi untuk meminta maaf.
Menghembuskan nafas kecewa, Runi kembali membalikkan badannya. Ia berjalan lunglai menuju motornya yang masih berdiri tegak di tepi jalan, lalu berdiam diri sejenak di sana seraya menikmati hujan yang tercurah cukup deras di seluruh tubuhnya.
Menangis, terluka, dan kecewa. Ya, mungkin Popo yang baru saja ia lihat bukanlah berupa wujud nyata, melainkan hanya sekedar halusinasinya semata. Namun ia tahu jika Popo, meski hanya berupa bayangan, telah menyelamatkan ia dan bayinya dari kebodohan untuk mengakhiri hidup mereka.
Kini, hanya tangis pilu yang bisa Runi lakukan sekarang. Menangisi nasibnya, juga nasib jabang bayi yang ada di dalam rahimnya. Memikirkan tentang betapa kejam dunia ini pada mereka berdua. Bahwa semesta, tak pernah berpihak pada mereka. Bahkan Raka, satu-satunya sosok yang Runi percaya selama ini, suami yang sangat ia cintai sekaligus ayah kandung dari janin yang tengah ia kandung saat ini, telah berkhianat dengan begitu gilanya dengan sahabat Runi sendiri.
***
RUMAH WIDURI
__ADS_1
Saat itu, Raka dan Widuri baru saja melakukan aktivitas panas di sofa ruang keluarga. Menghabiskan sore nan syahdu dengan alunan musik yang terdengar dari televisi Widuri, yang kebetulan tengah menampilkan acara musik. Langit menumpahkan hujan dengan curah hujan yang cukup deras. Bagi dua insan yang tengah dimabuk cinta suasana sore yang cukup dingin dan syahdu ini paling enak dihabiskan untuk memadu asmara.
Namun rupanya, saking asyiknya, mereka tak menyadari jika langit mulai menggelap. Mereka sama-sama tertawa saat mengakhiri aktivitas mereka, lalu saling mengecup satu sama lain kemudian saling berpelukan.
"Hari sudah gelap ternyata. Nggak terasa sama sekali karena aku ada di sini," kata Raka seraya memandangi langit dari jendela ruang keluarga.
"Iya. Lagian, kamu kan baru aja pulang kerja, Raka! Baru juga sembilan puluh menit sejak kamu pulang," sahut Widuri seraya tersenyum. Raka pun demikian.
"Di dekatmu, waktu rasanya cepat sekali berlalu. " Raka kembali berkata gombal. Ia kembali tergoda atas bibir ranum Widuri yabg merah merekah di bawah kungkungan tubuhnya, lalu ia mulai menurunkan wajahnya lagi.
Widuri tertawa. Ia mencubit keras-keras pinggang Raka karena berniat menc umbunya kembali. Padahal, hari sudah mulai petang!
"Eling, Raka. Udah petang. Lampu belum pada dinyalakan, dan jendela juga belum ditutup," kata Widuri masih dengan tertawa.
"Ah, iya. Udah petang ternyata." Raka memutar tubuh dan mengubah posisinya menjadi duduk di sebelah Widuri.
"Aku tutup korden sama nyalain lampu dulu, ya?" kata Widuri seraya melangkahkan kaki. Raka mengangguk. Dengan malas, ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa empuk milik Widuri. Setelah sehari penuh bekerja, tubuhnya terasa lunglai. Apalagi, ia juga baru saja nenghabiskan cukup banyak tenaga saat tengah memadu cinta dengan Widuri. Namun, lelah rupanya tak jadi soal. Karena bersama Widuri, semangatnya selalu tumbuh kembali.
"Lho, ini apa, Raka?" Tanya Widuri saat ia akan menutup korden ruang tamunya. Otomatis, ia melewati meja ruang tamu di mana bingkisan dari Runi berupa tas kertas bergambar hati tergeletak di atas meja.
"Ada apa, sayang?" Raka mengernyitkan kedua alisnya bingung dari ruang keluarga.
"Ini, Raka. Ada bingkusan untukku. Tapi aku yakin, ini bukan milikku," kata Widuri seraya meraih bingkisan tersebut tanpa membukanya.
"Hati-hati, sayang. Siapa tahu kiriman dari orang jahat," eling Raka dengan waspada. Ia segera bangkit untuk melihat bungkusan apa yang Widuri maksud.
__ADS_1
Raka tiba di ruang tamu dalam sekejap. Saat kedua matanya mengikuti arah pandang Widuri, setitik keraguan dalam hatinya tiba-tiba mencuat. Ia merasa begitu mengenal bingkisan yang terlihat tak asing dalam pandangan matanya. Tapi, bingkisan apa itu?
Tidak, tidak! Tas kertas bergambar hati ini bukankah milik Runi? Ia selalu membungkus hasil jahitannya dengan pembungkus cantik berwarna merah hati itu untuk para pelanggannya.
Apakah benar ini Runi? Namun jika itu benar Runi, di mana gadis itu sekarang?
"Ini jahitan milik kita yang aku jahitkan di Runi, sayang," kata Widuri seraya membuka bingkisan itu yang masih terpasang plastik zip lock khusus pakaian. "Sepertinya tadi dia ke sini."
"Ah, Ru-runi?!" Raka mendadak terkesiap. Jadi benar itu dia? "Betulkah Runi yang datang ke sini? Atau dia hanya menitipkan pada Mang Cecep di depan?"
"Entahlah." Widuri menyahut seraya mengedikkan bahunya.
Raka mendadak merasa gusar. Ia berlari ke pos penjaga di pintu gerbang tanpa berkata apapun pada Widuri. Ia bermaksud menanyakan pada Mang Cecep, apakah ada gadis yang mengantar jahitan kemari baru-baru saja.
Tubuh Raka mematung dalam guyuran hujan deras. Widuri menyusulnya dengan memegang sebuah payung dalam telapak tangannya, namun sebelum ia melangkah dari terasnya, Raka sudah kembali.
Di teras depan rumahnya, ia bertanya pada Raka, "Ada apa, Raka?"
"Runi. Dia ... Dia kemari." jawab Raka dengan gelisah.
"Lalu?"
"Sepertinya ... Aku harus pulang. Maaf, Duri!"
***
__ADS_1