Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
32. Kekasih Widuri


__ADS_3

Runi tiba di sebuah rumah mewah bercat putih gading. Rumah ini memiliki halaman yang cukup luas dengan taman bunga yang terawat dengan cukup apik dan rapi di beberapa sudut halaman. Sebuah ayunan dengan bahan kayu jati dan ukiran unik juga terdapat di teras rumah, menambah kesan antik dan klasik rumah milik putri juragan sawit tersebut.


"Nyari siapa, Neng?" Tanya seorang pria dengan sura bariton, menggunakan logat yang terdengar seperti logat dari daerah lain. Sepertinya ia bekerja di sini, tetapi berasal dari daerah lain.


Runi terkejut lalu menoleh ke arah laki-laki itu dengan cepat. Pria itu berusia sekitar lima puluh tahun dengan tubuh yang kekar dan besar. Meskipun sudah terlihat berumur, namun otot di tubuhnya membuat laki-laki itu terlihat jauh lebih muda dari usianya. Hmmm, sepertinya ia adalah penjaga di rumah ini.


"Ini beneran rumahnya Cantika Widuri kan, Pak?" Tanya Runi pada pria itu. "Saya baru pertama kali datang ke sini."


"Non Duri?" Tanya penjaga tadi memastikan.


"Iya, Pak. Biasanya dipanggil Duri atau Widuri," jawab Runi.


"Oh, pasti si eneng ini teman sekolah ya?" Tebak si pria.


Runi mengangguk. "Iya, Pak. Saya kenal Tika waktu kami masih sama-sama SD."


"Hmm, pantesan. Biasanya yang manggil nama Tika itu teman-teman sekolahnya. Kalau keluarga atau temn dekat biasanya memanggil nama Duri atau Widuri," penjaga itu.


Tentu saja, jawaban ini merupakan jawaban yang sedikit membuat Runi merasa tercubit. Bagaimana tidak? Raka, suami Runi, adalah salah seorang yang memanggil Tika dengan sebutan 'Widuri'. Apakah itu artinya, Raka memiliki hubungan sedekat itu dengan Widuri?


'Ah, tapi tidak mungkin,' tampik Runi dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya meski sedikit ragu.

__ADS_1


"Iya, Pak." Runi yang sedang merasa bertanya-tanya, bingung harus menimpali ucapan penjaga itu seperti apa. Lalu ia kembali bertanya, "Apakah bapak penjaga rumah ini? Betulkah ini rumahnya Tika?"


"Iya bener, Neng. Ini rumahnya," jawab pria itu. Ia bertanya, "Ada urusan apa datang kemari?"


"Ini, Pak." Runi mengambil tas kertas yang ia gantung di cantelan motornya, lalu ia tunjukkan pada pria itu. "Saya mau nganterin jahitan buat Tika. Dia ada di rumah nggak, Pak?"


"Owalah, nganter jahitan, toh. Masuk aja, Neng. Non Tika ada kok di dalam. Cuma memang lagi ada tamu aja dianya."


"Wah, lagi ada tamu ternyata," beo Runi dengan nada sungkan. Ia pun menyodorkan bungkusan yang ia bawa kepada si penjaga.  "Kalau gitu saya nitip aja jahitan punya Tika, Pak. Saya juga salah kok karena nggak ngabarin dia dulu kalau mau datang ke sini."


"Halah, orang yang datang ini cuma pacarnya Non Duri kok, Neng." Penjaga itu kembali berkata. "Nggak papa, si eneng masuk aja. Nggak akan mengganggu kok, orang pacarnya itu memang udah setiap hari kerjaannya datang kemari. Bahkan malam juga sering nginep di sini."


"Oh ya?" Runi mengerutkan kedua alisnya. Meski kata sang penjaga ia tidak mengganggu kebersamaan antara Duri dan kekasihnya, tetapi ia masih merasa sangsi. Ia khawatir jika nantinya, Widuri maupun kekasihnya akan merasa tidak nyaman dengan kedatangan Runi yang sungguh tiba-tiba ini.


"Beneran lho ini Pak, saya masuk?" Tanya Runi memastikan. "Saya nggak bakalan nanggung kalau nanti bapak dimarahin sama Tika karena nyuruh saya masuk dan bakal ganggu mereka lho, ya?!"


"Hahaha, si eneng bisa aja," kelakar sang penjaga. Ia pun kembali berkata untuk meyakinkan Runi lalu menepuk dadanya sendiri, "Udah, si eneng tenang aja. Saya yang bakal tanggung jawab."


"Beneran lho, Pak." Sahut Runi seraya tertawa. "Saya masuk lho ini, karena bapak yang nyuruh."


"Udah biasa Neng. Pacar Non Duri udah sering banget datang ke sini, jadi kalau ada tamu juga kadang dia sering nimbrung bareng. Biasa aja kok, Neng. Dah, buruan masuk aja, keburu sore. Nanti malah nggak puas ngobrol sama Non Durinya kalau cuman sebentar," kata pak penjaga memberi saran.

__ADS_1


"Baik, Pak. Makasih ya, sebelumnya," kata Runi seraya membungkukkan badannya dan berterima kasih kepada pria itu karena telah memberikan akses padanya untuk memasuki rumah Widuri. Tadinya ia merasa sungkan, namun karena pak penjaga mengijinkannya, juga karena ia juga memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi mengenai siapa kekasih Widuri, maka ia pun menurut juga.


Pikiran Runi berkelana. Ia dan Raka tinggal di desa ini. Begitu juga Widuri dan kekasihnya. Jika nanti mereka berdua menikah, lalu tinggal di desa ini, maka nantinya mereka berempat  bisa hidup bertetangga. Alangkah menyenangkannya bertetangga dengan Widuri, mengingat pribadi Runi yang cukup introvert sehingga tidak mudah bergaul. Dengan adanya Widuri, ia merasa memiliki teman yang bisa diajak bicara. Apalagi, Widuri tidak pernah membedakan status sosial. Meskipun Runi berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, namun Widuri tetap mau berteman dengannya.


Runi melangkah kaki dengan ringan menuju teras rumah Widuri. Netranya sempat berkeliling menyapu seluruh halaman rumah sahabatnya itu, namun tiba-tiba rasa terkejut menyergap pikirannya.


Cukup jauh dari tempat ia berdiri, sebuah motor besar terparkir di sebuah pohon mangga. Ia mengenal motor itu, sungguh. Namun, apakah itu betul-betul motor yang ia kenal? Sayangnya, tidak ada helm yang bertengger di atas kaca spion. Jadi, ia tidak bisa mencocokkan apa betul pemilik helm dan motor itu sesuai dengan yang ada dalam bayangannya.


Runi hampir mendekat ke motor itu untuk memastikan plat nomornya. Namun, tiba-tiba pikiran positif mencegah ia membayangkan macam-macam. Di desa ini, tidak hanya satu orang yang memiliki motor merek dan warna itu, kan? Bisa jadi, itu adalah milik orang lain. Bukan milik seseorang yang ia kenal.


Runi memilih untuk mengabaikan rasa penasarannya. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju teras rumah Widuri. Namun di teras, netranya kembali terbelalak. Ia menemukan sebuah sepatu kerja dengan kaos kaki hitam bermotif batik di sisi luar, persis seperti yang ia kenal selama ini.


Tidak, tidak mungkin! Sepatu dan kaos kaki sejenis itu pasti banyak yang punya, kan? Tidak mungkin hanya satu orang saja yang memilikinya dari jutaan manusia di muka bumi ini.


Maka, Runi kembali memilih abai dan terus melangkahkan kakinya. Kini, ia sudah tiba di teras rumah Widuri. Pintu ruang tamu itu terbuka, namun ia tidak mungkin masuk begitu saja. Ia sempat mengetuk pintu dan berharap Widuri datang untuk menyambutnya, namun rupanya tidak ada siapa-siapa di dalam.


Runi memutuskan untuk duduk saja di ruang tamu. Dan hanya berselang beberapa menit, ia mendengar suara cekikikan dari sepasang muda mudi yang datang mendekat, namun sepertinya tidak lewat ruang tamu ini. Melainkan, melewati ruang keluarga yang juga memiliki akses ke halaman.


Runi tersenyum canggung. Widuri sedang bersama kekasihnya, ternyata. Apakah Runi datang mengganggu kebersamaan mereka?


***

__ADS_1


Promosi cerita keren lainnya : Author Ethaloona



__ADS_2