Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
30. Curhatan Bidan Atun


__ADS_3

"Wah, selamat, Mbak Runi! Akhirnya setelah menunggu satu tahun, Tuhan memberikan amanah lagi untuk Mbak Runi dan Mas Raka," kata Bidan Atun usai ia memeriksa kandungan Runi.


"Makasih banyak, Bu Atun. Saya juga senang banget," Kata Runi terharu.


"Usia kandungannya baru tujuh minggu, Mbak. Panjenengan sudah hampir telat dua bulan, tapi kok ya nggak kerasa gitu lho. Untung aja bayinya nggak kenapa-kenapa," omel Bidan Atun dengan tertawa.


"Iya nih, bu bidan. Saking kacaunya siklus menstruasi saya, saya sampai nggak sadar bulan ini halangan atau belum," aku Runi seraya menyengir bersalah.


"Dicek dulu ya, detak jantungnya. Detak jantung bayi bisa terdengar mulai usia lima minggu sebenarnya, hanya saja masih terdengar begitu lambat. Tapi karena ini sudah tujuh minggu, mari kita dengarkan, ya? Siapa tahu udah bisa kedengeran jelas. "


Runi mengangguk pasrah. Matanya mulai berkaca saat Bidan Atun menempelkan alat pendeteksi denyut jantung janin ke perut Runi yang masih begitu rata. Dadanya bergejolak hebat saat dinginnya ujung alat itu menyentuh kulit perutnya dengan lembut.


"Kedengeran nggak?" Tanya Bidan Atun seraya mengerlingkan wajahnya pada Runi.


"Kedengeran, Bu!" Runi menyahut antusias. ia tak bisa lagi menahan rasa haru di dalam dadanya. Karena saat ini, seorang bayi betul-betul telah hidup di dalam rahimnya!


"Nah, mulai sekarang, Mbak Runi harus jaga kesehatan, jangan terlalu lelah," kata Bidan Atun sambil menyiapkan buku kehamilan berwarna pink dari dalam lemarinya. Runi mendengarkan dengan seksama dan bu bidan mulai menuliskan hasil pemeriksaan kehamilan Runi di buku tersebut.


"Nama lengkapnya siapa, Mbak?" Tanya Bidan Atun sambil mengisikan data diri Runi di buku catatan kehamilan.


"Arunika Swasti, Bu."


"Usia?"


"Dua puluh empat tahun."


"Pekerjaan Mbak Runi apa?"

__ADS_1


"Emmm, saya njahit aja sih bu, di rumah. Tapi tulis aja, Ibu rumah tangga, Bu."


"Suaminya mas Raka siapa ya? Saya mah nggak ingat nama lengkapnya," kelakar Bidan Atun seraya tertawa.


"Naraka Bagaskara, Bu."


"Usia Mas Raka berapa?" Tanya Bu Atun lagi.


"Dua puluh tujuh tahun."


"Pekerjaan?"


"Karyawan swasta, Bu."


"Oh, di bagian keuangan perusahaan sawitnya Pak Baskara, ya?" tanya Bidan Atun, namun kali ini tidak dalam mode menulis.


"Hmmm, ya, ya, ya. Aswini itu, ibunya Raka, temen saya waktu masih gadis, loh," kata Bu Atun seraya membuka beberapa lembar buku catatan itu untuk menuju halaman pemeriksaan pertama. Tanpa Runi duga, Bidan Atun bertanya, "Bawel nggak dia jadi mertua?"


"Ahhh, enggak kok, Bu Bidan!" Runi menyengir kaget. Ia tidak menyangka akan diserang begitu telak seperti ini. Meskipun ia tahu jawabannya, namun membicarakan keburukan mertuanya sendiri di depan orang asing rasanya sungguh tidak etis.


"Dia dulu bawel banget, Mbak! Dia selalu berusaha melampaui apa yang temannya miliki. Dan kalau bisa , dia selalu berusaha untuk merebutnya!"


"Ah, masa sih, Bu?" Runi yang tidak tahu harus menanggapi apa, hanya menimpali seperti itu.


"Iya, Mbak. Kalau temannya baju baru, besoknya dia pasti punya baju yang lebih bagus dari itu. Kalau ada yang pakai jam mahal, besoknya dia pasti beli jam yang lebih mahal lagi. Dan kalau temannya punya pacar baru yang ganteng, dia pasti kepanasan dan berusaha mendekati cowok itu. Banyak lah, contohnya! Saya sebagai teman aja sampai geleng-geleng kepala, bingung mau nasehatin dia dengan cara bagaimana."


"Oh, saya ceritain ya, Mbak, apa yang bikin saya sangat marah sama Aswini. Jika dia melakukan banyak kesalahan, saya sebagai teman berusaha menasihati dan memaklumi. Tapi, ada satu kesalahan fatal yang nggak bisa saya tolerir lagi."

__ADS_1


"Apa itu, Bu?" Karena penasaran, mau tak mau Runi bertanya.


Bidan Atun menghela nafasnya panjang. Ia terlihat seperti tengah membuka luka lamanya secara paksa. Runi sempat merasa sungkan, namun bukankah Bu Bidan sendiri yang membuka pembicaraan dan mengajak Runi ikut masuk ke dalamnya?


Lanjut bidan Atun, "Dulu Aswini itu pernah gangguin mantan suami saya. Dan si4lnya, mantan suami saya kok ya mau sama dia. Untung aja kami belum sempat punya anak. Akhirnya, karena perselingkuhan yang Yudhis dan Aswini lakukan itu semakin lama semakin jauh, ya akhirnya saya mengalah, to? Untuk apa saya mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat itu? Bisa-bisa mati muda saya, Mbak!"


"Akhirnya, Aswini nikah sama Yudhistira, bapaknya si Raka itu. Tapi ya namanya juga takdir kali ya? Ternyata, si Yudhis itu nggak lama juga kok umurnya. Raka naik kelas satu SMP bapaknya udah nggak ada. Si Ratna, adik Raka itu malah baru kelas dua SD. Ya, meskipun saya kasihan sama Raka dan Ratna karena jadi anak yatim, tapi kok ya saya nggak ada rasa kasihan blas tuh sama si Aswini! Habisnya, dia gangguin suami orang, malah akhirnya hidup menjanda!"


Runi kembali tersenyum masam. Baru kali ini ia mendengar masa lalu tentang ibu mertuanya, dan lelaki macam apa mendiang ayah Raka itu. Namun ia tak berani banyak berkomentar, karena tentu saja rasanya tidak etis membicarakan keburukan keluarga sendiri di depan orang yang asing baginya.


"Saya itu sudah cukup memendam rasa sakit hati, Mbak Runi! Yudhis itu dulunya adalah lelaki yang baik dan penyayang. Dia selalu perhatian sama saya, meskipun saya belum bisa memberi dia keturunan. Tapi sejak kedatangan Aswini dalam hidu pkami, sikap Yudhis berubah seratus delapan puluh derajat! Dia nggak pernah peduli lagi sama saya. Ngajak ngomong aja nggak pernah, apalagi ngajak nganu-nganuan. Hih, blas! Saya nggak pernah dipedulikan, Mbak!" curhat Bidan Atun panjang lebar.


Runi merasa sedikit tersentil. Namun sayangnya Bidan Atun masih ingin bicara.


"Yah, namanya juga hadiah untuk orang yang sabar. Akhirnya saya menemukan pria yang mencintai saya apa adanya. Meskipun saya janda, dia tidak peduli. Kami menikah dan hidup bahagia. Kami punya empat anak, dan rasanya hidup saya sekarang sudah sangat sempurna, Mbak Runi!"


"Duh, lah. Malah nggosip! Untung aja nggak ada antrian!" Bidan Atun memukul pelan keningnya sendiri begitu menyadari bahwa ia tengah melakukan pencatatan kehamilan pada Runi. "Sampai mana tadi, Mbak?"


"Belum sampai mana-mana, Bu. Tadi Bu Bidan baru mencatat tentang data-data pribadi saya," jawab Runi sungkan.


"Hahah, maaf, maaf. Sebentar, saya selesaikan dulu catatan pemeriksaannya Mbak Runi."


Bidan Atun kembali berkutat dengan buku pink tersebut. Ia mencatat beberapa informasi penting meliputi perkiraan hari lahir, denyut jantung, keluhan yang Runi sampaikan pada kedatangannya kali ini. Ia juga memberikan beberapa vitamin untuk mendukung perkembangan otak dan jaringan si jabang bayi.


"Silakan Mbak Runi, ini buku catatannya. Silakan disimpan, dibaca juga beberapa informasi pentingnya, lalu dibawa lagi saat Mbak Runi periksa kehamilan lagi kemari. Rolong dijaga dedek bayinya, karena Mbak Runi pernah punya riwayat keguguran, maka Mbak Runi harus ekstra hati-hati agar kejadian yang sama tidak terulang lagi," pesan Bidan Atun panjang lebar.


"Baik. Makasih banyak, Bu Bidan."

__ADS_1


***


__ADS_2