Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
42. Ngidam Bubur Kacang Hijau


__ADS_3

Runi membuang nafas kesal melihat ibu mertuanya melenggang dengan angkuh ke sofa ruang keluarga. Sementara, Raka masih meringkuk di sana dengan santainya, seolah tak terjadi apa-apa. Artinya, Raka hanya berpindah tidur dari kamar tamu ke sofa ruang keluarga.


'Betul-betul suami tidak ada gunanya. Minimal belain aku di depan ibu kek,' batin Runi seraya bersungut-sungut.


Runi memutar tubuhnya. Ia melangkah dengan lemas ke dapur dengan membawa keranjang belanjaan yang dibawakan oleh ibu mertuanya.


Jujur saja, tubuh Runi masih merasa sedikit lemas. Kejadian yang ia lihat kemarin sore betul-betul masih membekas dalam ingatannya. Bagaimana Raka dan Widuri yang tanpa sehelai benang pun di badan mereka, tampak saling mendorong dan menghentak dengan suara yang terdengar sangat menjijikkan. Bagai kesetanan, mereka berdua saling menempel dan bergelut satu sama lain.


Ah, mengingat hal itu Runi kembali merasa mual. Ia bahkan tidak bisa tidur karena terus menangis semalam suntuk. Ia yakin matanya terlihat merah dan bengkak. Hanya saja, ibu mertuanya mana peduli? Bahkan Raka belum melihat bagaimana rupa wajahnya saat ini.


Yah, tapi yang Raka pedulikan hanya Widuri. Dirinya hanya terlihat sebagai orang ketiga di antara dua sejoli itu. Sungguh, betapa menyedihkan sekali hidupnya, harus masuk dalam kehidupan seorang pria yang bahkan belum selesai dengan masa lalunya.


Mengabaikan segala pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya, Runi terus melangkah ke dapur. Ia diminta untuk memasak, padahal tubuh Runi tengah merasa sangat tidak enak badan. Namun, yah! Ibu mertuanya itu pasti akan terus mengomel jika permintaannya tidak segera dituruti.


Sesampainya di ruang makan yang bergabung dengan dapur, Runi mendudukkan tubuhnya dengan lunglai di meja makan. Ia meletakkan hasil belanjaan ibu mertuanya di atas meja makan, lalu turut meletakkan kepalanya di sana.


Sungguh, kepalanya terasa sangat pusing. Perutnya sangat bergejolak. Butuh diisi, tetapi bukan dengan nasi. Lalu, apakah dalam kondisi begini ia harus memaksakan diri untuk memasak?


Sebuah menu terlintas di benak Runi. Ia ingin sekali bubur kacang hijau di Minggu pagi nan cerah ini. Perutnya tiba-tiba berkerucuk, air liurnya juga terasa ingin menetes. Semangkuk bubur kacang hijau hangat dengan sedikit santan cair dan susu kental manis rasa cokelat di atasnya, pasti terasa sangat lezat. Apalagi jika diberi taburan keju di atasnya.


Runi kembali menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa pusing dan mual yang mendera tubuhnya. Tapi, ia kembali merasa sebal begitu melihat tas belanjaan Aswini yang teronggok di depan wajahnya.


Dengan malas, ia mengecek isi kantung kresek itu. Ia masih memiliki setengah kilogram gula merah. Siapa tahu ada kacang hijau dan santan di sana. Siapa tahu, ia bisa sekalian memasak bubur kacang hijau.


Namun Runi harus mendengus kecewa. Dalam kantung belanjaan itu hanya ada seikat sayur kangkung, satu ons cabai rawit, sebungkus ayam potong seperempat kilogram, sebungkus tempe panjang, juga sebungkus bawang merah dan bawang putih.

__ADS_1


Namun, keinginan untuk menyicipi bubur kacang hijau panas dengan uap mengepul mendadak begitu menggebu. Ah, kan ada Raka! Ia bisa meminta tolong Raka untuk mencarikannya sebungkus bubur kacang hijau. Entah harus didapat dari mana!


"Mas Raka, ada yang jual bubur kacang hijau nggak?" Tanya Runi yang akhirnya memutuskan untuk mendekati Raka di sofa ruang keluarga. Tak terlihat Aswini di sana, mungkin sedang keluar sebentar.


Raka menggeliat pelan saat mendengar suara Runi yang datang mendekat, namun ia tidak juga terbangun. "Mas, tolong belikan bubur kacang hijau, dong," pinta Runi sambil kembali menggoyang-goyangkan lengan Raka.


Ya, meskipun semalam sempat marah-marah dan jujur saja Runi masih sangat jijik bahkan hanya dengan menatap wajah suaminya itu, namun saat ini ia sedang butuh bantuan Raka. Paling tidak, untuk mengisi perutnya yang keroncongan dan sedikit terasa mual.


"Hmm, ngantuk aku, Dek." Raka meracau dengan suara yang parau. Ia bahkan tidak membuka matanya sama sekali.


"Mas, tapi aku laper banget. Minta tolong belikan bubur kacang hijau, dong. Please!" pinta Runi sambil menggoyang-goyangkan lengan Raka lebih keras agar suaminya itu terbangun.


"Ngapain nyuruh-nyuruh Raka?!" Entah datang dari mana, Aswini muncul tiba-tiba dengan suaranya yang menggelegar. "Kamu kan disuruh masak! Kan tadi udah ibu belikan bahan masakan. Tinggal kamu masak aja toh, apa susahnya?"


"Habisnya, istrimu ini bukannya masak malah gangguin kamu tidur!" Aswini datang mendekat dengan menunjukkan wajah sangarnya.


"Maaf, Bu," Runi yang merasa bersalah kini hanya bisa meminta maaf. "Runi lapar, Bu. Kenapa kita nggak beli aja sih? Runi sekalian kepengin bubur kacang hijau."


"Kelamaan!" sergah Bu Aswini kasar. "Ibuk udah lapar! Lagian kamu mau nyuruh Raka? Enak amat kamu nyuruh-nyuruh anak saya!"


Runi hanya terdiam mendengar omelan Aswini untuknya. Hatinya mendadak terasa begitu sakit. Matanya terasa begitu panas dan mungkin sedetik lagi ia akan menangis.


"Dah sana, cepetan masak!" Aswini kembali melotot. Suaranya masih terdengar garang. "Udah tahu bangun tidur ngerasa lapar. Bukannya bangun pagi nyiapun sarapan malah sengaja bangun kesiangan! Istri macam apa kamu?!"


"Runi semalam nggak enak badan, Bu," Runi berkata lirih. Air matanya mulai merebak. Ia berharao hati mertuanya bisa sedikit melunak.

__ADS_1


"Iya, Bu. Raka pergi sebentar nyari sarapan buat kita, sekalian beli bubur kacang ijo buat Runi," kata Raka. Runi sedikit tersentuh sebetulnya. Artinya, Raka tidak cuek-cuek amat terhadapnya. Meskipun ia masih merasa kesal, namun setidaknya Raka masih mau menuruti permintaannya untuk membeli bubur kacang hijau.


"Halah! Nggak usah!" sergah Bu Aswini tegas. "Ibu udah beli sayuran. Sayang kalau nggak dimasak."


"Runi memang sakit dari semalam, Buk. Dia pusing dan muntah-muntah. Kayanya masuk angin," jelas Raka, mencoba membelokkan paksaan ibunya.


"Nggak usah diturutin, Raka! Kalau kamu manjakan dia seperti itu, lama-lama kebiasaan buat istri kamu ini. Seharusnya dia selalu bangun pagi ngurusin kamu, bukannya bangun kesiangan kaya gini! Gunanya dia sebagai istri apa, Raka?!" Aswini mengalihkan pandangannya kepada Runi. Ia berkata ketus, "Udah sana, cepetan masak. Ibu kan bilang sejak tadi kalau ibu udah lapar banget?"


"I-iya, bu." Runi menghela nafas panjang. Ia keluarkan secara perlahan untuk menetralkan rasa sakit yang menghujam batinnya. Runi membalikkan tubuhnya, lalu dengan terpaksa ia kembali ke dapur, untuk berkutat dengan sayuran mentah yang harus segera ia hidangkan untuk ibu mertua dan suaminya.


"Bikinkan kopi untuk Raka, Runi! Ibu teh anget aja," pinta Aswini sebelum Runi berlalu. Runi hanya mengangguk.


Usai menyajikan minuman untuk suami dan ibu mertuanya, Runi mulai memasak. Satu demi satu sayuran itu Runi cuci dan potong sesuai selera. Ia melakukan semuanya sendiri sementara ibu mertua dan suaminya entah sedang mengobrol tentang apa di ruang keluarga. Ia merasa begitu kesal karena Raka tak lagi membelanya.


Aroma sedap tercium begitu menyengat di indera penciuman Runi begitu bumbu masakan ia masukkan ke dalam wajan penggorengan. Namun tak lama, ia mulai merasa mual yang teramat menyiksa dan mengaduk-aduk lambungnya.


Karena tak tahan lagi menahan mual juga pusing yang mendera kepalanya, Runi mematikan kompor dan bersegera melarikan diri ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


GUBRAAAAAAAKKKK!!!


Suara berisik terdengar jelas bagi ibu dan anak yang tengah mengobrol di ruang keluarga.


"Ibu, suara apa itu?" Tanya Raka dengan dahi berkerut.


***

__ADS_1


__ADS_2