Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
25. Obrolan Suami Istri


__ADS_3

"Kita tidak bisa semata-mata menyerang kawanan bunian ular dan mencetuskan perang hanya karena ini, Ratuku," kata Raja Suryapati saat sang istri mengadu pada suaminya perihal luka yang diderita oleh putera mahkota mereka.


Saat itu, Sang Raja baru saja menjalankan rapat rahasia dengan para punggawa kerajaan tentang penempatan personil pengamanan di beberapa perbatasan yang harus diperketat, karena menurut informasi, pasukan musuh beberapa kali menyeberang daerah teritorial kawasan Kerajaan Cendana tanpa ijin. Dan karena saking sibuknya, Raja Suryapati belum sempat menengok putra mereka yang baru saja pulang setelah beberapa bulan yang lalu kabur dari rumah. Dan yang lebih mengejutkan adalah, beberapa hari yang lalu ia mendengar Bayu pulang dalam keadaan terluka parah, serta mengabarkan bahwa Candra, putra mahkota dari kerajaan Cendana, telah menghilang.


"Tapi, Yang Mulia. Apa yang Pangeran Gentala lakukan pada putera kita bukanlah hal yang sepele. Ia dan pasukannya memanah dengan bisa ular yang dioleskan pada mata panah mereka. Jika sampai hujaman anak panah itu meleset sedikit saja hingga ke jantung Candra, maka putera kita tidak akan selamat," keluh Ratu Dahayu dengan rasa khawatir yang semakin berkecamuk dalam dadanya.


"Ya, aku tahu." Raja Suryapati tampak menimbang. Kelingnya berkerut dan kedua alisnya tampak bertaut. Tapi, Ratuku. Saat ini, jika dibandingkan dengan pasukan dari bunian ular, maka kita pasti sudah kalah jumlah. Aku tidak bisa serta merta mengorbankan rakyat dan pasukanku hanya karena urusan pribadi antara Candra dan Gentala, yang ternyata adalah urusan percintaan antar anak muda saja."


"Hhhhh." Ratu Dahayu menghela nafas panjang. Raut wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat, namun rupanya sang suami tidak satu suara dengannya. Padahal biasanya, Raja Suryapati akan segera meradang jika seseorang atau sesepihak sudah menyinggung tentang penyerangan terhadap sesuatu miliknya. Entah itu keluarga, rakyat, tahta, maupun batas teritorial kekuasaan. Suaminya itu juga biasanya tidak akan lantas tinggal diam seperti ini.


"Ratuku, tolong jangan risau." Raja Suryapati bergeser dan mengambil tempat duduk di samping Ratu Dahayu. "Kita akan selesaikan saja semua ini dengan cara kekeluargaan."


"Tapi, Yang Mulia. Yang Pangeran Gentala inginkan adalah Putri Narlita. Sementara, Putri Narlita adalah calon istri tunggal dari putra kita. Dengan adanya insiden pemanahan ini yang jelas seperti betul-betul berniat mencelakai Candra dan juga Bayu, menurut saya, Pangeran Gentala betul-betul mencintai Putri Narlita. Saya rasa, Pangeran Gentala tak akan membiarkan Putri Narlita lolos begitu saja, Yang Mulia," kata Ratu Dahayu.


Raja Suryapati berdecak heran dan sedikit menggelengkan kepalanya. Sedikit kerut mulai terlihat di kening, tanda ia tengah berpikir keras.

__ADS_1


Ia berkata, "Aku heran, Ratuku. Apa yang Pangeran Gentala cari dari sosok Putri Narlita? Sementara dari segi jenis, mereka jelas adalah dua makhluk yang berbeda species. Yang satu ular, dan satu lagi adalah serigala. Satu reptil, dan satu lagi adalah jenis mamalia. Yang satu berkembang biak dengan cara bertelur, dan yang lainnya dengan cara melahirkan. Jika bersatu pun, mereka tidak akan bisa berkembang biak dan menghasilkan keturunan."


"Ya, namanya juga anak muda, Yang Mulia. Mungkin Pangeran Gentala tidak peduli asal muasal dari Putri Narlita atau bagaimana cara untuk menghasilkan keturunan. Saya akui, Purti Narlita adalah seorang gadis, ehm, maksud saya seekor gadis yang sangat cantik dan berwawasan luas. Siapapun yang melihatnya bisa segera jatuh cinta meski hanya dari pandangan pertama. Dia hanya berpegang teguh pada cinta yang berkembang dalam hatinya," ucap Ratu Dahayu mengutarakan pendapatnya.


"Bisa jadi," timpal Raja Suryapati seraya mengangguk setuju. "Namanya juga anak muda. Hanya saja, aku sangat heran kepada putra kita, Ratuku."


"Heran bagaimana, Yang Mulia? Apa yang membuat Anda merasa risau?" Tanya Ratu Dahayu.


"Tidak, aku tidak merasa risau sama sekali. Aku hanya sedikit heran pada pola pikir putra kita. Putri Narlita sangat cantik, baik, dan lemah lembut. Ia juga cerdas dan sangat berpendidikan. Namun semenjak pertunangan mereka lima tahun yang lalu hingga detik ini, Candra masih belum terlihat tertarik kepadanya sama sekali. Apa dia tidak normal atau bagaimana? Aku hanya takut jika dia tidak menyukai perempuan, Ratuku," kata Raja Suryapati penuh keheranan.


"Nah itu dia, Ratuku." Raja Suryapati mengusap-usap lengannya yang baru saja bebas dari cubitan kecil sang ratu. Lalu ia segera melanjutkan, "Kalau dia itu memang cowok normal, kenapa bisa dia tidak bisa menyukai gadis seperti Putri Narlita yang sangat cantik, luwes, dan berpendidikan?"


"Ya, itu juga yang membuat saya tak habis pikir dengan apa yang ada di benak Candra, Yang Mulia. Putra kita itu hanya berkata jika ia sama sekali tidak mencintai Putri Narlita," tukas Ratu Dahayu.


"Hmm, heran sama anak itu. Lagipula usia putra kita sudah cukup dewasa, Ratuku. Sudah tujuh ratus tahun. Mau menunggu hingga berapa tahun lagi agar dia bisa serius untuk menikah?" ujar Raja Suryapati gemas.

__ADS_1


"Ah, betul. Putra kita memang sudah dewasa, Yang Mulia. saya juga sudah sangat ingin menggendong cucu," imbuh Ratu Dahayu.


"Menurutku, kita harus lebih tegas lagi untuk memaksa putra kita melanjutkan perjodohan ini, Ratuku. Dia sudah dewasa dan sudah lima tahun ini menjalankan perjodohan. Aku ingin dia lebih serius lagi pada hubungan mereka," kata Raja Suryapati.


"Emmm," Dahi Ratu Dahayu terlihat berkerut seakan tidak setuju dengan usul suaminya. Ia berkata untuk melanjutkan, "Menurut saya, kita diamkan dulu perjodohan ini, Yang Mulia. Alasannya, putra kita masih dalam masa perseteruan dengan Pangeran Gentala. Saya takut kalau Candra dan Putri Narlita bergerak cepat dalam menjalani hubungan mereka, Pangeran Gentala justru akan mencetuskan serangan yang lebih besar lagi untuk putra kita, atau bahkan untuk kawanan kita. Karena menurut informasi dari Yang Mulia Raja, pasukan kita sedang kalah jumlah jika dibandingkan dengan pasukan ular. Saya takut jika nanti kita akan kewalahan menghadapi mereka atau bahkan kalah telak."


"Ah, kamu benar, Ratuku. Kita harus cermat memikirkan semuanya." Raja Suryapati mengangguk setuju.


"Hmmm, tunggulah saja hingga pintu hati putra kita terketuk, Yang Mulia." Ratu Dahayu berkata untuk menenangkan. Lanjutnya, "Lagipula, Candra pergi selama berbulan-bulan karena marah akibat kita terus mendesaknya meneruskan perjodohan ini. Jika terus didesak, saya takut dirinya akan pergi lagi, Yang Mulia."


"Ya, ya, ya. Kamu benar, Ratuku." Selanjutnya Raja Suryapati bertanya karena setelah berbulan lamanya, ia belum pernah melihat wajah putranya lagi semenjak cowok bandel itu pergi dari rumah. "Lalu bagaimana sekarang kondisi putera kita?"


"Baik-baik saja, Yang mulia. Anak nakal itu sudah dipindahkan ke paviliunnya sendiri dan tengah menjalani perawatan rumahan secara intensif di sana. Tabib Arman akan datang dua kali sehari dalam beberapa hari ke depan untuk mengontrol dan memberi obat bagi luka Candra di dadanya," jawab Ratu Dahayu dengan nada menenangkan.


"Ya, setelah ini aku akan menengoknya. Aku harus memastikan putraku dalam keadaan baik-baik saja. Dan aku juga harus memastikan, dia tidak akan minggat lagi dari istana. Kalau sampai itu terjadi, kita harus menyegel kekuatannya. Biar dia kapok sekalian."

__ADS_1


***


__ADS_2