
Desa Merbayu, Rumah Penjahit Seruni, sore harinya.
Runi sudah meminum vitamin kehamilan yang ia dapatkan dari puskesmas tadi pagi. Ia berkali membaca buku catatan kehamilannya. Tulisan tangan Bidan Atun yang hanya terdiri dari beberapa baris saja seolah-oleh tidak ada bosan-bosannya Runi baca. Bahkan ia bisa tanpa sadar menyunggingkan senyum lebarnya, saking tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ah, Mas Raka! Dia harus tahu!" Runi memekik dengan semangat. Ia baru sadar bahwa seharusnya ada pihak lain yang turut merayakan kebahagiaan ini. Yaitu Raka, suaminya. Yah, meskipun dalam kurun waktu hampir dua minggu ini Raka terlihat berubah menjadi begitu dingin padanya, namun mungkin begitu mendengar kabar tentang kehamilan Runi, Raka bisa kembali bersikap hangat seperti dulu.
Namun, Runi pun berperang batin. Ia bingung antara mengabari Raka saat ini juga melalui pesan tertulis, atau nanti saja begitu Raka pulang. Karena, bercerita secara langsung akan jauh lebih menyenangkan daripada hanya melaluo pesan tertulis. Bicara langsung, Runi bisa melihat ekspresi wajah suaminya dengan jelas, bahagia atau tidaknya, dan terkejut atau tidaknya.
Ya, nanti malam saja!
Namun sekian menit berlalu, Runi kembali merasa gelisah. Ia merasa sangat tak sabar ingin segera memberikan kabar gembira ini kepada suaminya.
Runi meraih ponselnya. Ia membuka fitur pesan lalu mengetik beberapa patah kata dengan gerakan yang begitu cepat.
Runi : [Mas, nanti pulang cepat nggak?]
Diam, tak ada jawaban. Runi menghela nafas panjang, lalu ia mmhembuskan secara perlahan. Rasa trauma akibat diabaikan oleh Raka selama beberapa hari ini kembali menyeruak dalam benaknya. Lagi-lagi, meskipun tadi pagi mereka sudah berc1nta dengan panas dan saling meluapkan rasa rindu masing-masing, namun rupanya Runi masih merasa begitu takut jika Raka akan kembali mendiamkannya.
Tanpa kenal putus asa, Runi kembali menuliskan pesan untuk suaminya.
__ADS_1
Runi : [Mas, Aku punya kejutan untukmu. Tolong pulang cepat, ya? Jangan lembur. Aku mohon.]
Runi kembali meletakkan ponselnya dengan kecewa karena pesannya tidak segera dijawab atau hanya sekedar dibuka oleh suaminya. Namun, ia mencoba bersabar.
"Mungkin saja Mas Raka lagi sibuk banget sama kerjaannya," batin Runi berusaha menenangkan diri. "Ya, lagipula memang sekarang lagi masa panen. Wajar saja jika penjualan sawit Pak Baskara sedang pesat-pesatnya. Tentu saja tim keuangan, termasuk Raka, sedang mengalami masa yang sedang sibhk-sibuknya untuk mencatat pembukuan keuntungan hasil penjualan."
***
Runi membuka catatan pekerjaannya. Ah, rupanya dua belas hari berlalu sejak kedatangan Widuri kemari untuk menjahit dress pesta yang akan digunakan sebagai brides maid di acara pernikahan sahabat Widuri. Sesuai dengan janji Runi, dress untuk Widuri dan juga kemeja batik dengan nada warna yang sama sudah jadi sebelum deadline yang Widuri minta.
Runi sudah menyetrika satu stel baju couple pesanan Widuri dan menatanya dengan apik dan cantik di sebuah plastik zip lock khusus pakaian. Dimasukannya ke dalam sebuah tas kertas bergambar hati, lalu ia mulai bersiap untuk berangkat ke rumah Widuri sore ini juga.
Ya, lagipula Runi tengah merasa begitu jenuh. dalam kegiatan sehari-hari, Runi hanya berkutat dengan mesin jahit, kain, benang, kancing, dan gunting. Ia merasa jarang sekali mengobrol dengan manusia kecuali saat tukang sayur datang ke rumahnya, atau sekedar menyapa tetangga yang lewat di depan rumah. Pribadinya yang begitu introvert membuat ia jarang sekali bisa berbaur dengan orang lain.
Namun, berbeda halnya dengan Widuri. Sejak kecil mereka sudah sering bersama, terutama saat ada event perlombaan antar sekolah. Pribadi Runi yang pendiam tidak mudah berbaur itu cukup terhibur dengan pribadi Widuri yang lincah, ceria, dan ceriwis. Widuri pun, meskipun berasal dari keluarga berada, tidak pernah membeda-bedakan teman. Gadis itu pun selalu menempel ke sisi Runi dibanding dengan anak yang lain.
Saat tengah menyiapkan motornya di halaman rumah, seperti yang sudah-sudah, untuk sejenak, Runi menyempatkan diri mencari-cari Popo ke sana dan kemari. Sayang sekali, sejak beberapa hari yang lalu Popo menghilang bagaikan ditelan bumi.
Di setiap waktu, Runi selalu berharap bisa menemukan Popo yang entah tengah berlari dari ujung manapun halaman rumahnya, lalu menyongsong mnnyambutnya dengan lari kecil yang menggemaskan. Atau mungkin, ia mengharapkan keberadaan Popo di sebuah sudut teras dengan ekor yang bergoyang kesana dan kemari, dengan telinga yang berdiri tegak, menyambutnya dengan antusias.
__ADS_1
Yah, sekali lagi semua hanya bayangan. Popo betul-betul menghilang tanpa jejak. Yah, padahal Runi cukup terhibur dengan keberadaan Popo. Apalagi saat ini Raka betul-betul dingin dan acuh tak acuh padanya. Raka jarang sekali mengajaknya mengobrol, dan seingat Runi, sudah sejak satu minggu yang lalu, Raka hampir selalu pulang malam atau bahkan menginap di kantor. Sudah sepuluh hari pula Raka tidak pernah lagi meminta haknya sebagai suami dan baru pagi tadi Raka kembali menyentuhnya.
Runi mulai menjalankan motornya perlahan. Ia harus ekstra hati-hati dalam bergerak maupun berkendara, karena saat ini ia memiliki sosok makhluk mungil tak berdosa yang turut hidup menumpang nutrisi di rahimmya. Sosok bayi mungil yang pastilah masih berukuran begitu kecil. Mungkin saat ini ia masih sebesar biji kopi.
"Sehat-sehat ya anakku," kata Runi pada bayinya. Satu tangannya memegang stang motor dan satu tangan mengelus perutnya dengan lembut.
Rumah Widuri masih berada di beberapa tikungan lagi. Mungkin tinggal beberapa menit berkendara, ia akan segera tiba di sana.
Namun belum juga sampai, tiba-tiba di tepi jalan, Runi melihat sesosok anjing berwarna putih keabu-abuan sedang bersembunyi di balik dahan pohon besar. Ia kemudian berlari menjauh ke balik lebatnya pepohonan begitu mendengar deru motor Runi datang mebdekat. Ya, meskipun masih satu desa, namun desa Merbayu ini berada di kawasan perbukitan. Antara satu rumah dengan rumah yang lain lumayan jauh jaraknya. Runi pun tidak semua mengenal siapa tetangganya satu persatu, saking luasnya desa ini.
Ah, benarkah anjing yang tadi sembunyi di balik pohon lalu berlarian sekelebat dalam pandangannya itu adalah Popo, anjing yang jatuh ke genting rumahnya dan mengalami cidera akibat luka panah yang cukup parah?
Runi menghentikan laju motornya di tepi jalan desa. Ia sempat melangkahkan kakinya beberapa meter untuk memastikan apakah benar anjing yang baru ia lihat itu adalah Popo. Namun, rupanya anjing itu sudah menghilang dari pandangan begitu Runi turun dari motornya.
Ah, ya sudah. Mungkin saja itu bukanlah Popo, melainkan anjing lain. Karena kalau betul itu Popo, biasanya Popo akan segera berlalu menghambur ke pelukan Runi dan menggesekkan bulu halusnya di sana, membuat Runi merasa geli sekaligus hangat.
"Ah, Popo. Kamu ada di mana sekarang?" tanya Runi penuh rasa kehilangan.
__ADS_1
***