Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
33. Terkuak (21+)


__ADS_3

Suara cekikikan di ruang sebelah itu terdengar makin intens di indera pendengaran Runi. Gadis itu merasa begitu mati kutu sekarang, karena apa yang penjaga tadi katakan bahwa kedatangannya ini tidak akan mengganggu kebersamaan antara Widuri dan kekasihnya.


Namun buktinya apa? Bagaimana mungkin Runi bisa menerobos masuk sementara Widuri sedang menikmati waktu yang begitu menyenangkan bersama kekasihnya. Runi merasa ia hadir di waktu dan tempat yang salah. Di sini, saat ini, ia bagaikan pengganggu saja.


Apakah Runi lebih baik pergi saja dan meninggalkan bungkusan jahitannya di meja ruang tamu? Namun sudah kepalang tanggung. Dia sedikit penasaran dengan kekasih Widuri, dan tentu saja ia ingin memastikan sendiri Widuri yang disebutkan oleh ibu mertuanya, dan Widuri yang Raka sebutkan saat tengah mengigau itu, betulkah Cantika Widuri, sahabat masa kecilnya.


Meskipun dari motor yang terparkir di halaman depan dan sepatu kerja yang tertata rapi di dekat pintu masuk, semua adalah persis dengan milik Raka. Namun, Runi tetap berusaha berpikir positif. Bukan, bukan Widuri Cantika yang Aswini dan Raka maksud. Juga, bukan Raka suaminya yang berada di dalam, meski motor dan sepatu yang mirip dengan suaminya ada persis di depan rumah Widuri.


Suara cekikikan itu menghilang lagi. Namun karena ia tidak mendengar suara langkah kaki siapapun yang meninggalkan ruang sebelah yang Runi tebak adalah ruang keluarga, maka Runi yakin, kedua orang itu masih berada di sana yang entah tengah melakukan aktivitas apa.


Sayup-sayup terdengar suara musik mengalun di ruang sebelah. Hmm, mungkin mereka berdua tengah menyetel televisi. Namun, tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka.


Rasa penasaran yang begitu tinggi membuat Runi tak bisa mengendalikan dirinya. Mungkin rasanya, bagi orang lain, ia begitu lancang karena nekat menyelidiki siapa pria yang tengah berkunjung ke rumah Widuri. Namun, jika tidak sekarang, lalu kapan lagi ia akan tahu?


Runi sudah lama menanyakan kepada Widuri siapakah kekasih sahabatnya itu, namun Widuri hanya mengatakan jika lelaki itu adalah pria yang masih tinggal di desa yang sama dengan mereka berdua. Lalu, Runi sudah memendam rasa penasaran sejak beberapa hari belakangan ini mengenai sosok Widuri yang dimaksud oleh ibu mertua dan suaminya.


"Apakah ketakutan yang aku rasakan ini beralasan?"


"Apakah lebih baik aku pulang saja dan tidak usah terlalu ikut campur dengan urusan orang lain? Karena biar bagaimanapun, semua manusia di bumi ini memiliki hak untuk menjaga privasi mereka masing-masing?"


"Tapi rasanya, jika aku tidak mencari tahu sekarang, maka aku tidak akan bisa tidur nanti malam. Ya, aku pasti akan merasa sangat menyesal jika sore ini tidak bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri, siapakah identitas pria dan wanita yang ada di sebelah ruangan kali ini."

__ADS_1


"Apakah benar, pasangan yang ada di ruangan sebelah adalah pasangan yang berada di pikiran burukku, yang selalu menghantui setiap malamku dalam kurun waktu beberapa hari ini?"


"Hmm, bagaimana sikapku seharusnya? Haruskah aku mengetuk pintu dan berpura-pura baru datang? Ah, tidak, tidak. Jika seperti itu, maka pria yang ada di sebelah Tika bisa saja memiliki kesempatan untuk kabur begitu aku memperdengarkan suaraku. Aku tidak akan bisa menangkap basah seandainya pria yang sedang bersama dia adalah Raka!"


"Sepertinya, mengetuk pintu bukanlah pilihan yang bagus. Aku memilih untuk mengintip saja."


Setelah pergolakan batin yang ia rasakan, Runi yang merasa begitu penasaran kini bangkit dari kursinya. Ia berdiri di balik tirai kain pemisah antara ruang tamu dan ruang sebelah. Ya, keberadaannya di ruang tamu tidak akan dengan mudah disadari oleh pemilik rumah karena memang terdapat sebuah tirai kain yang menjadi pemisah di antara kedua ruang itu.


"Sedang apa mereka?" Batin Runi sambil memicingkan matanya demi bisa mengintip aktivitas yang sepasang manusia itu lakukan di dalam sana.


Lalu darahnya terasa begitu mendidih saat ia melihat pemandangan tak senonoh yang terjadi di hadapannya dengan mata kepalanya sendiri. Seorang pria yang kini bertelanjang dada, sedang berada dalam posisi tubuh di atas, mengungkung tubuh seorang wanita yang berada di bawahnya.


Pria itu merendahkan wajahnya yang entah melakukan apa, namun Runi sudah cukup dewasa dan cerdas untuk bisa tahu adegan apa yang terjadi di ruang sebelah.


Pikiran buruknya tidak bisa pergi jua dari benaknya. Semua hal terlalu mirip dengan apa yang Runi kenal!


Motor besar yang terparkir di halaman, sepatu kerja yang tertata dengan rapi di teras depan, kaos kaki hitam dengan sedikit motif batik di sisi samping, punggung kekar dengan otot berurat itu, lalu rambut hitam legam itu, semua mirip dengan milik Raka, suaminya!


Dan bahkan, Widuri yang ibu mertuanya sebutkan, juga Widuri yang Raka racaukan usai berc1nta dengannya. Dan jangan lupakan juga beberapa helai rambut ikal panjang kecoklatan yang menempel di kaos santai yang Raka kenakan saat ia pulang dari alasan lemburnya. Parfum beraroma citrus menyegarkan yang ia baui dari pakaian dan jaket yang Raka kenakan!


Apakah semua ini ada hubungannya?

__ADS_1


Runi berusaha menghubungkan seluruh benang merah itu. Namun semakin semua terhubung, Runi semakin kuat berusaha mengelak semua kebenaran itu. Bahkan hingga kini seluruh bukti ada di depan matanya, ia tetap menolak fakta itu sekuat tenaga.


Runi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia berusaha menampik semua pikiran buruk dalam benaknya, namun rasanya semua terlalu kebetulan untuk menjadi sebuah kemustahilan.


"Apakah aku yang terlalu bodoh dan naif, atau memang aku yang terlalu mudah curiga?" batin Runi dengan gelisah.


Runi yang kini sudah mulai merasa lemas dengan dada yang bertalu demikian kencang, tak bisa lagi mengawasi adegan di ruang seberang. Ia merasa begitu takut, sungguh! Ia takut menghadapi kenyataan, bahwa benar pria di ruang sebelah yang tengah mencumbu dengan sahabatnya sendiri adalah Raka, pria yang sudah satu tahun ini resmi menjadi suaminya.


"Ah, ya! Dan satu lagi, pria itu, betulkah adalah ayah dari bayi berusia tujuh minggu yang tengah aku kandung saat ini?" Runi bertanya nanar dalam hatinya.


"Tidak, tidak mungkin! Raka tidak mungkin berbuat setega itu padaku!" Elak Runi dalam hati, menampik pikiran buruk itu kuat-kuat.


Namun semua penolakan yang ia pasang kuat-kuat untuk membentengi dirinya itu kini pecah berkeping-keping tatkala suara Widuri terdengar begitu mendayu-dayu. Sangat lembut, namun justru kelembutan itu berhasil meluluhlantakkan pertahanan diri Runi yang ia bangun sekuat tenaga.


"Aduh, geli, Raka! Jangan nakal, dong! Tolong berhenti!"


Dan Runi merasakan dunianya berhenti tiba-tiba.


***


Rekomendasi cerita seru : author Sery

__ADS_1



__ADS_2