Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
13. Kedatangan Raka


__ADS_3

Raka datang saat istirahat siang karena Runi mengabari jika atap rumah mereka porak poranda. Ia juga sempat memanggil beberapa tukang untuk memperbaiki kerusakan itu.


"Kok bisa atap rumah kita sampai bolong begitu?" Tanya Raka dengan raut wajah heran begitu ia tiba di rumah dan segera memberi instruksi kepada beberapa tukang untuk segera menjalankan tugasnya masing-masing.


"Iya, sayang. Ada anjing jatuh terlempar di atap rumah kita," jawab Runi seraya mengangkat kedua bahunya. Tentu saja ia sama sekali tak tahu menahu akan adanya insiden tak terduga--seekor anjing terlempar jatuh di atap rumah mereka sehingga menyebabkan atap rumah mereka bolong dan porak poranda.


"Bagaimana bisa terjadi? Terlempar dari mana anjing ini?" Tanya Raka bingung. Ia melirik kesal pada Popo, karena menurutnya, Popo lah penyebab hancurnya genting dapur mereka. Bahkan beberapa serpihan genting mengotori dapur rumah mereka, saking kerasnya benturan itu terjadi.


"Guk!" Popo menyalak keras pada Raka karena merasa pria itu melempar pandangan benci padanya.


"Hish! Dasar anjing sialan!" omel Raka pada Popo. Ia melotot tak suka ke arah Popo, menyebabkan Popo kembali menyalak padanya. "Gila, anjing ini ngelawan, Dek!"


"Namanya Popo! Bukan 'anjing ini', sayang!" Runi tertawa seraya mengoreksi panggilan Raka pada anjing kecil itu. Ia duduk di kursi makan seraya memangmu Popo. Ia membelai lembut bulu Popo dengan hati-hati, karena takut akan mengenai bekas luka Popo yang belum mengering.


"Bodo amat siapa namanya. Yang jelas dia biang kerok karena udah bikin rumah kita porak poranda," umpat Raka kesal. Ia kembali melotot pada Popo, dan tak terima diperlakukan seperti itu, Popo pun kembali menyalak.


"Guk!"


"Kamu bisa lihat nggak, Dek? Dia ini anjing liar. Pokoknya setelah ini buang! Aku nggak mau ada dia di sini!" titah Raka sebal.


"Jangan dong, Mas. Dia masih sakit begini. Kasihan kalau sampai terlunta-lunta di luar sendiri." Runi berkata dengan memelas.


"Masa bodo, kamu kan tahu kalau aku nggak suka banget sama yang namanya anjing atau hewan berbulu lainnya. Pokoknya setelah ini, buang dia! Terserah mau kamu buang ke mana. Ke sungai kek, ke bukit kek, ke hutan kek, atau ke jalan. Yang penting nggak di rumah ini!"


"Ih, kamu kok tega sih, Mas? Lagian kenapa sebenci itu? Kamu kan nggak ada alergi bulu?"

__ADS_1


"Pokoknya yang namanya nggak suka, ya tetap nggak suka!" tandas Raka bersikukuh, membuat Runi mencebik kecewa.


"Ta-tapi nunggu dia sembuh dulu ya, Mas? Kasihan kalau di jalan kenapa-kenapa padahal dia belum sembuh, kan?" Runi memohon dengan wajah yang tak bisa ditolak.


"Huh!" Raka mendengkus kesal. Kekesalannya siang ini berlipat-lipat.


Paginya mulai berantakan karena ia sedikit bertengkar dengan Widuri. Kedatangan Widuri kemarin sore ke kediamannya bersama Runi rupanya berbuntut cemburu. Sedari pagi, gadis itu sudah mendiamkannya. Sapaannya di pesan tertulis jelas terkirim untuk Widuri, namun gadis itu sama sekali tidak meresponnya. Lalu rasa kesal Raka dilanjutkan dengan kabar mengagetkan dari Runi bahwa atap rumahnya berlubang karena kejatuhan anjing kecil yang entah meluncur dari mana, lalu dilanjutkan lagi dengan permintaan Runi untuk merawat anjing si4lan itu di rumah ini sampai sembuh benar. Padahal Runi tahu, ia sangat tidak menyukai anjing!


Namun tak tega melihat binar permohonan di wajah istrinya, maka ia pun mengalah. Dengan suara yang jauh lebih halus dari sebelumnya Raka berkata, "Ya sudah. Aku mau lihat kerjaan tukang dulu, setelah itu mau sekalian makan siang. Kamu masak apa, sayang?"


Runi tersenyum masam. Ia juga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia berkata seraya memasang wajah menyesal, "Aduh, maaf banget. Aku belum sempat masak, Mas. Kejadiannya tadi pagi dan aku langsung membawa Popo ke puskesmas. Ini baru pulang."


"Hish! Popo lagi, Popo lagi!" Raka mengomel seraya berlalu. "Dari pagi udah jengkel, pulang-pulang tambah jengkel tapi berusaha untuk melupakan semua ini, eh lagi-lagi anjing itu bikin gara-gara. Dasar anj1ng si4lan!"


"Iya, Mas! Maafin aku, ya! Mau aku masakin dulu sebelum berangkat?" Tawar Runi yabg merasa begitu bersalah. Ia memindahkan Popo dari pangkuannya ke atas kursi makan dan segera berlari kecil menyusul langkah suaminya.


Runi menyengir masam. Hanya maaf yang bisa ia ucaokan pada suaminya. "Maaf banget ya Mas? Nanti malem aku masakin yang enak deh. Mas mau dimasakin apa?"


"Nggak usah. Aku makan di luar aja." Raka bicara dengan nada ketus. Ia melanjutkan, "Tolong awasi tukangnya. Kalau pekerjaan mereka sudah selesai, berikan upahnya. Aku letakkan di dalam amplop, di atas kulkas."


"I-iya, Mas!" Runi mencebuk kecewa. Ia sedikit jengkel karena Raka bersikap sangat ketus padanya, tapi sebetulnya ia juga sadar karena ia juga sebetulnya salah.


Tanpa bisa Runi cegah lagi, motor besar itu pun berlalu dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan gadis itu mematung di depan pintu rumahnya, mengernyit keheranan.


Ia membatin, "Apa kesalahanku sebesar itu? Kenapa Mas Raka kelihatan marah sekali kepadaku?"

__ADS_1


***


"Hey, Popo! Sini, makan dulu!" Runi memanggil Popo agar datang mendekat padanya. Hari sudah siang dan ia baru sadar jika ia sama sekali belum memberi Popo makan apapun sejak pagi. Maka, ia pun memberi makan Popo berupa nasi dengan campuran daging cincang seadanya sesuai dengan bahan yang ia miliki di dalam lemari es.


"Makan yang banyak," kata Runi seraya membelai surai halus abu-abu di tubuh Popo. Dilihatnya, Popo mendekat ke piring kecilnya dengan enggan.


"Lho, kenapa diendus-endus doang?" Tanya Runi kecewa. "Makanannya nggak enak ya?"


Popo mendongak. Ia menggoyang-goyangkan ekornya sejenak, lalu kembali memakan apa yang Runi suguhkan untuknya.


"Nah, gitu dong! Makan yang banyak, ya?!" Runi tersenyum saat melihat Popo mulai makan dengan lahap. Setelah itu, ia bangkit lalu kembali melanjutkan kegiatan menjahitnya yang terhenti setengah hari.


Padahal tadi malam rencananya lemburnya juga harus tertunda karena Raka tiba-tiba mengajaknya bertanding gulat. Apa boleh buat, karena tadi malam dan pagi ini ia tak sempat menjahit, maka nanti malam ia harus bekerja keras untuk mengejar targetnya.


"Aaaah! Bekerja lagi!" Runi berseru semangat. Ia sedikit melajukan peregangan pada tangan dan kakinya, lalu kembali duduk di meja dan kursi kerjanya--untuk kembali menjahit.


"Fokus, Runi! Ayo, Semangat!" Pekiknya dalam hati. Lalu, Runi mulai menunduk untuk melanhutkan pekerjaan terakhirnya tadi malam.


Runi yang tengah bekerja dengan serius sesekali melirik ke bawah kakinya, di mana Popo sedang bergelung melingkar di kakinya.


Popo menggoyang-goyangkan ekornya, menyentuh dan menggelitik kaki Runi. Seolah berkata tanpa suara, 'Ada aku di sini.'


Gadis itu hanya tersenyum seraya sesekali mengajak bercanda dan menggelitik perut Popo dengan ibu jari kakinya. Jujur saja, keberadaan Popo di sini sedikit-banyak memberinya kehangatan. Entah siapa pemilik Popo sebelumnya, namun Runi mulai memiliki keinginan agar Popo ada di sini, menemaninya setiap hari.


Yah, meskipun ia tahu bahwa Raka, suaminya, sangat tidak menyukai Popo.

__ADS_1


***


__ADS_2