Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
45. Bujukan Aswini


__ADS_3

Runi bisa mendengar jelas perdebatan antara ibu dan anak itu dari dalam kamar. Meski Raka sudah menutup pintu, namun sayangnya ia tidak menutup hingga rapat. Dan yang namanya pintu kayu, tetap saja suara dari luar sana bisa menyelinap masuk melalui celah manapun.


Mata Runi memanas. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa dicegah. Raka memang terdengar membelanya, namun rasa bencinya terhadap suaminya itu sudah terlanjur muncul dan tidak bisa ia hapus begitu saja.


Raka memang terdengar bahagia begitu mendengar kabar kehamilan Runi. Namun apalah arti kebahagiaan itu jika ternoda oleh perselingkuhan yang secara nyata dilakukan oleh Raka? Dan Runi melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri. Raka benar-benar bermain gila dengan wanita lain.


"Egoiskan ibu jika ingin kamu hidup berdua saja dengan ibu, Nak? Tanpa ayah, dan tanpa nenek kamu? Tidak ada yang menginginkan kita, sayang. Bahkan kita menghilang pun, tidak akan ada yang akan merasa kehilangan," ucap Runi pada bayinya yang masih belum merespon di dalam sana. Meski ia tahu bayinya sehat karena Bidan Atun mengatakan demikian, namun ukuran bayinya itu masih sangat kecil, hingga gerak selincah apapun belum bisa terasa olehnya.


"Ibu maunya kamu sama Widuri, Raka!" Sayup-sayup, suara ibu mertuanya terdengar begitu menusuk hati. "Selama ini ibu berharap, mumpung cewek kampungan itu belum hamil, kamu ceraikan dia kembali menjalin hubungan dengan Widuri. Tapi apa yang terjadi, dia malah hamil, Raka! Terus, mau gimana lagi sekarang? Apa yang akan kamu lakukan ke depannya?"


Runi menggigit bibirnya kuat-kuat demi menahan tangis. Ah, tidak! Pantang baginya untuk menangisi orang yang jelas-jelas tidak mengharapkan kehadirannya lagi. Bahkan, sejak kemarin sore saat ia menangkap basah Raka yang sedang memadu kasih dengan Widuri, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk segera pergi meninggalkan Raka sejauh-jauhnya, bersama bayi mereka.


"Jawab lertanyaan ibu, Raka!" suara Aswini kembali terdengar meninggi. Apalagi, tidak ada jawaban apapun yang Raka berikan untuknya.


"Raka tidak bisa memilih, Bu." akhirnya, suara Raka lirih terdengar setemah sekian lama suaminya itu terdiam. Runi mendecih dalam hati mendengar jawaban Raka yang terdengar sangat tidak tegas.


"Kamu harus bisa memilih! Runi dan Widuri itu jelas memiliki kelas yang berbeda, Raka! Dulu boleh lah kamu memilih Runi, karena Widuri pergi meninggalkan kamu bertahun-tahun lamanya. Tapi sekarang dia kan sudah kembali! Dia masih single, dia juga memiliki masa depan yang cerah karena akan mewarisi usaha sawit raksasa Pak Baskara! Selain itu, Widuri juga mengakui kalau dia masih sangat mencintai kamu."


Raka terdiam. Aswini merasa gemas dan kembali melanjutkan, "Ayolah, Raka! Tinggalkan Runi dan raihlah hati Widuri. Ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk bersatu kembali, Raka! Sebelum dia ada yang memiliki!" bujuk Aswini dengan nada yang mulai melunak.


"Runi hamil, Bu. Aku tidak bisa meninggalkan dia," jawab Raka dengan suara yang bergetar lirih. "Kami sudah menunggu bayi ini satu tahun lamanya. Aku tidak bisa mengabaikannya. Dia ... Dia anak kami, Bu. Cucu ibu."

__ADS_1


Runi tidak tahu apakah yang Raka ucapkan itu tulus atau tidak. Setelah melihat sendiri bagaimana panasnya cinta Raka untuk Widuri kemarin, rasanya ia sudah kehabisan maaf untuk suaminya itu. Tapi jika Raka memintanya bertahan demi buah hati mereka berdua, apakah Runi bisa melakukannya?


"Cih!" Aswini berdecih kesal. "Ibu tidak mau mendapatkan cucu dari cewek kampungan itu! Jika dia lahir pun, ibu tidak akan mau menganggapnya senagai cucu!"


"Jangan begitu, Bu! Bayi itu ... Dia darah dagingku. Darah daging bapak dan ibu juga," kata Raka, mencoba membela keluarga kecilnya.


Aswini tertawa sumbang. Ia betul-betul.tidak menyukai sosok Runi. "Coba kamu jawab, Raka! Apa kamu mencintai istri kamu? Tidak, kan?!"


Untuk sejenak, Runi ingin mendengar jawaban Raka, 'Ya! Aku sangat mencintai Runi, Bu!'


Tapi sayang, pertanyaan itu hening tanpa jawaban. Hari Runi kembali merasa bagaikan tercabik. Apa betul selama ini Raka tidak mencintainya sama sekali? Raka bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu!


"Kalau alasan kamu tidak bisa meninggalkan Runi adalah karena dia sedang hamil, maka kita bisa melenyapkan bayi itu, Raka!" ujar Aswini dengan seringai sinis di wajahnya.


Pintu kamar itu tertutup kembali begitu Raka memastikan jika Runi sudah tidur dengan nyenyak. Kali ini Runi bisa mendengar suara pintu yang menjeglek rapat.


Runi mendesah kecewa saat suara obrolan antara ibu dan anak itu tidak terdengar lagi. Ya, sepertinya Raka telah membawa ibunya menjauh dari sana karena takut pokok bahasan penting yang tengah mereka bicarakan terdengar oleh Runi, sosok tak dianggap yang menjadi penyusup dalam keluarga mereka.


***


Ditinggalkan sendiri di dalam kamar, kini wajah Runi mendadak pucat pasi. Apa ia salah dengar? Benarkah ibunda Raka, alias nenek kandung dari jabang bayinya ini mengatakan hal mengerikan seperti itu?

__ADS_1


Runi mencoba mengulang kembali rekaman suara Aswini dalam otaknya yang belum lama ia curi dengar. Meskipun rasanya tidak yakin karena terdengar begitu kejam, namun rasanya telinga Runi masih berfungsi dengan normal.


'Kita bisa melenyapkan bayi itu!'


Betul, kan, kalimat itu yamg Aswini ucapkan? lalu, apa yang ibu mertuanya maksud sebagai 'Melenyapkan bayi itu?'


Sungguh, Runi tidak bisa memikirkan kemungkinan lainnya. Apakah ia akan diminta untuk menggugurkan bayinya? Ataukan yang lebih parah lagi, ia akan dicelakai agar bayinya lenyap?


"Tidak! Tidak boleh!" Runi mendesis panik. Secara naluri, ia menyentuh dan mengusap perutnya sendiri. Ia sudah menunggu kehadiran jabang bayi dalam perutnya ini satu tahun lamanya. Ia tidak mau siapapun mengambil bayinya! Ia tidak mau kehilangan lagi!


"Apa kita benar-benar harus pergi, Nak?" tanya Runi penuh keraguan.


"Nenekmu sangat tidak menyukai kehadiran kita. Dan ayahmu ..." Runi tersenyum getir. Ia merasa dijebak oleh cinta Raka selama ini. Ia pikir, Raka benar-benar mencintainya. Tidak tahunya, ia menikah dengan pria yang memiliki masa lalu belum usai.


Lanjut Runi, " ... Ayah kamu mengkhianati cinta kita. Dia menjalin cinta dengan mantan kekasihnya. Dia ... Dia sudah tidak peduli pada kita."


Runi menghela nafas panjang. "Okey, Nak. Kita siapkan saja semuanya pelan-pelan. Ibu akan melindungimu, Nak. Ibu tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dari sisi ibu! Kita akan pergi. Kita tinggalkan saja ayah dan nenekmu itu. Kita berhak hidup damai dan bahagia, Nak!"


***


Rekomendasi cerita seru

__ADS_1



__ADS_2