Dicintai Serigala Bunian

Dicintai Serigala Bunian
19. Raka Tidak Pulang (21+)


__ADS_3

"Tidak!" Tolak Raka mentah-mentah saat Widuri memintanya untuk menjauh.


Widuri sudah berbaring di bawah kungkungan tubuhnya, menunggunya untuk beraksi! Apakah ia bisa membiarkan Widuri yang sudah menyerahkan diri seperti ini begitu saja, padahal Raka jelas sangat menginginkan dirinya! B3rcinta dengannya! Menikmati setiap inci tubuhnya!


"Aku bilang, menjauh dariku, Raka!" pinta Widuri sekali lagi pada Raka, melemparkan pandangan sebal pada pria yang masih sangat ia cintai itu. Ia bahkan menyilangkan tubuhnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menahan dada Raka agar menjauh darinya.


"Apa kamu tidak menginginkanku?" Raka bertanya dengan pandangan kecewa dan terhina. Widuri yang sedari tadi menyambutnya dengan gairah yang sama, namun kini tiba-tiba sikap gadis itu berubah menjadi acuh tak acuh pada dirinya.


"Apa kamu pikir aku mau melakukan itu dengan laki-laki yang juga memberikan hati dan tubuhnya untuk wanita lain, Raka? Tentu saja tidak. Kamu salah besar!" Widuri berkata dengan seringai masam di bibirnya, masih dalam posisi yang menggoda imannya.


Sebetulnya, Widuri sangat menginginkan Raka malam ini juga. Tubuh Raka, juga hati dan jiwanya. Widuri sama sekali tidak berniat menolak Raka. Ia bahkan merasa hatinya begitu sakit tatkala Raka terlihat kecewa begitu mendengar penolakannya.


Namun rasa egois yang bersarang dalam hati membuat ia menginginkan hati dan tubuh Raka hanya menjadi miliknya! Bukan milik wanita manapun, apalagi milik Runi, wanita culun yang sedari kecil selalu merebut predikat juara yang seharusnya ia terima!


Bukankah sudah cukup Runi merebut kejuaraan yang menjadi miliknya, di masa lalu? apakah semua predikat juara itu masih belum cukup, sehingga kini Runi juga lah yang akan memenangkan hati Raka, menjadikan Raka miliknya, dan menjadi satu-satunya ratu di hati Raka?


Tidak, Widuri tidak akan pernah rela!

__ADS_1


"Aku hanya mau kamu, Duri!" Raka menggeram dengan suara yang terdengar berat. Karena mengiyakan permintaan Widuri, jelas ia tak bisa! "Aku sudah terlalu lama menahan diri! Please, aku sudah tak tahan lagi!"


"Oh, begitu ya?" Widuri kembali memberikan seringai saat melihat Raka yang begitu tersiksa sekarang. Raka mati-matian menahan hasratnya yang sepertinya sudah berada di puncak. Ia jelas memiliki gairah yang sama, hanya saja ia tidak mau membagi tubuh Raka dengan wanita lain. Ia tak sudi! Apalagi, si Runi, gadis polos dan culun yang selama masa sekolah dulu selalu merebut gelar juara yang seharusnya bisa Widuri dapatkan!


"Lalu, bisakah kamu memberikan malam ini untukku, Raka?" Widuri bertanya dalam bisikan. Ia mengangkat wajahnya dan menghembuskan nafas di ceruk leher Raka, mengetes seberapa kuat Raka memendam gairahnya.


Bagi Raka yang tengah berada di atas, suara lirih itu terdengar begitu menggoda.


Widuri yang masih saja merasa tak putus asa, kini melanjutkan bicara dengan suara nyaris berbisik. Ia melontarkan sebuah sebuah ajakan, "Habiskan malam ini di sini, bersamaku. Tak tahukah kamu, jika aku sangat merindukanmu? Berikan seluruh hati dan waktumu untukku, Raka! Maka aku ..."


Widuri menyeringai, "Aku akan membuatmu selalu teringat akan malam yang kita habiskan bersama, kali ini."


Widuri tak merasa putus asa. Ia menyunggingkan sebuah seringai aneh, lalu kembali menarik tengkuk Raka agar mendekat padanya. Ia  mendekatkan wajahnya kembali--memberi c1uman lembut dan memabukkan pada bibir Raka, sesuatu yang sangat ia inginkan dan rindukan selama ini. Dan meskipun empat tahun telah berlalu karena ia pernah tergoda untuk mengejar cinta lelaki lain, namun nyatanya, sentuhan Raka yang paling bisa membuatnya mabuk kepayang hingga menjadi segila ini.


Widuri tersenyum miring melihat Raka memejamkan mata, terlihat menikmati c1uman lembut dan dalam yang ia berikan.


"Bermalamlah di sini, Raka. Habiskan malam ini denganku," pinta Widuri lagi dalam bisikan yang begitu lirih dan menggoda, sementara bibirnya masih setengah menempel pada bibir Raka. Hembusan nafas Widuri terasa begitu memburu, membuat gairah Raka kembali terbakar.

__ADS_1


Maka, Raka tak tahan lagi. Sekuat tenaga ia menolak godaan Widuri dan berusaha mengingat penantian Runi di rumah, namun nyatanya ia kalah dengan hawa nafsunya.


Malam itu, Raka benar-benar tak pulang. Ia menghabiskan malam yang indah bersama Widuri, tak hanya sekali, namun dalam beberapa kali pertempuran panas, seolah beberapa kali pertempuran itu dilakukan untuk membayar empat tahun mereka yang terbuang percuma. Pertempuran yang pada akhirnya terjadi kembali setelah empat tahun penantian panjang, yang akhirnya berakhir dengan begitu menggebu di malam syahdu ini.


Sebuah pertempuran yang meninggalkan Runi, istrinya yang setia, yang tengah menanti kepulangan sang suami di rumah mungil mereka, dengan hati yang diliputi ribuan tanya yang berkecamuk di dalam dada.


***


Di rumah Runi, desa yang sama. Rumah Penjahit Seruni. Malam ini, Runi bekerja lembur untuk melanjutkan progres menjahitnya. Ia masih giat memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melanjutkan progres menjahitnya sejak sang suami pergi pukul sepuluh malam tadi. Lumayan, ia belum mengantuk sama sekali dan waktu yang luang ini bisa ia gunakan untuk bekerja. Deadline telah melambai-lambai!


Tadi sepulang bekerja, Raka pergi sebelum sempat makan hasil masakannya. Raka bahkan tak melirik masakannya sama sekali--sesuatu yang belum pernah Raka lakukan sebelumnya. Karena biasanya, Raka selalu antusias setiap kali hasil masakan Runi terhidang untuknya di meja makan.


Lalu, Runi merasa jika risau kini semakin mengganggu pikirannya. Setiap detik yang berlalu terasa begitu menyiksa. Ia kembali menghela dan mengembuskan nafas panjang saat sesekali melirik jam dinding yang terpasang di ruang kerjanya.


Meskipun malam ini ia dapat bekerja lembur tanpa gangguan berarti dari Raka yang meminta jatah darinya, namun rupanya rasa gelisah semakin menderanya, karena sang suami yang tadi pergi dengan begitu buru-buru dan terlihat begitu emosi, hingga pukul satu dini hari tak jua menampakan batang hidungnya.


"Mas Raka pergi ke mana, sih? Kenapa sampai jam satu belum pulang-pulang juga? Dan kenapa dihubungi nomornya malah nggak aktif?" Tanya Runi sembari menguap. Rasa kantuk mulai datang menyerang, namun ia berniat tak ingin beranjak tidur sebelum suaminya pulang. Meskipun ia tahu Raka bisa membuka pintu ruang tamu karena membawa kunci cadangan, namun Runi yang terbiasa menyambut kepulangan Raka setiap kali suaminya itu bekerja, tak bisa serta merta mengabaikannya.

__ADS_1


Maka, Runi kembali memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya, meskipun sebetulnya rasa kantuk mulai membuat matanya terasa berat.


***


__ADS_2