
KEESOKAN HARINYA, SORE HARI.
"Uugh! Akhirnya selesai juga hukuman dari ayah!" Candra masuk dengan langkah gontai ke dalam paviliunnya sendiri sambil melakukan beberapa peregangan di punggung, tangan dan kakinya.
Hukuman yang Candra jalani selama beberapa hari ini full sejak pagi hingga sore, rupanya membuat Candra merasa begitu lelah. Namun meskipun harus menjalani aktivitas fisik dalam jangka waktu tertentu, ia juga butuh beristirahat. Meski aktivitas fisik itu diperlukan agar pemulihan cidera Candra lebih cepat, namun ia tetap tidak diperkenankan juga jika sampai berlebihan. Karena bukannya cepat sembuh, justru cidera yang berada tepat di samping jantung itu akan semakin bertambah parah.
Tabib Arman tahu kapan waktu Candra harus beristirahat untuk tidak terlalu memforsir tenaganya. Terkadang ia muncul untuk memberi Candra peringatan, karena tuan mudanya itu tidak boleh mengabaikan istirahatnya. Meskipun Raja Suryapati sedikit mengerjai Candra dengan hukuman fisik agar tidak mengulangi lagi perbuatannya yang kabur dari istana selama berbulan-bulan dengan memutus komunikasi, yang namanya ayah, tetap saja tidak ingin putra tercintanya itu terlalu lelah hingga memperlambat penyembuhan luka bekas panahnya.
"Untungnya sudah selesai, Tuan. Jadi besok Anda sudah bebas dari hukuman ini," kata Bayu yang sedari tadi mengekor di belakang Candra tanpa ada gunanya.
"Diam kamu. Nggak mau bantuin, dasar asisten menyebalkan nggak ada gunanya," omel Candra dengan kesal. Bibirnya mengerucut. Bagi Candra, tidak ada yang lebih menyebalkan dibandingkan keberadaan Bayu saat ini di sampingnya. Tak membantunya sama sekali, menggodanya setiap saat, melemparnya pandangan mencemooh namun berpura-pura polos, dan hanya berdiam diri sepanjang waktu.
"Saya hanya menjalankan perintah Yang Mulia Raja Suryapati, Tuan. Saya tidak berani melawan perintah beliau, karena memang saya dilarang untuk memberikan bantuan sekecil apapun pada Anda," ujar Bayu membela diri. Candra hanya melayangkan pandangan tak suka pada asistennya itu.
"Ck, alasan aja kamu itu! Aku tahu kalau kamu hanya menggodaku!" Sergah Candra jengkel. Ia duduk di atas sebuah kursi kayu berukir serigala mengaum, lalu meletakkan punggungnya di sana. "Aku ingin istirahat, Bayu. Tolong tinggalkan aku."
"Baik, Tuan." Setelah memberi bungkukan kecil untuk Candra, Bayu pun berlalu dan menutup pintu paviliun Aster, paviliun miliknya. Ya, Raja Suryapati memberinya hukuman untuk membersihkan beberapa paviliun di istana, tetali tidak dengan paviliun miliknya sendiri. Hmmm, sungguh menyebalkan!
Candra kembali melangkahkan kakinya ke pembaringan. Sungguh, ia merasa begitu lelah karena sudah dua hari ini ia beraktivitas fisik yang luar biasa. Membersihkan beberapa halaman paviliun istana hanya dengan tenaga manual, tentu saja, selain berhasil membakar kalorinya, juga berhasil membuatnya begitu lelah.
Namun sebelum berbaring, Candra terbiasa melakukan semedi terlebih dahulu. Membiarkan jasadnya tetap berada di sini, sedangkan jiwanya melanglang buana, berpetualang mencari sesuatu yang ia inginkan.
__ADS_1
***
DESA MERBAYU, DI SEBUAH SORE YANG KELABU
Jiwa Candra tengah berada di halaman sebuah rumah semi permanen dengan desain minimalis sederhana. Tentu saja, rumah seorang gadis yang selama beberapa hari menjadi tuannya. Gadis yang telah menolongnya dari cidera parah akibat terkena panah emas beracun milik Gentala. Dan mungkin, ia berada dalam kondisi yang lebih darurat jika saja gadis itu tidak menolongnya. Dan tentu saja, layaknya seekor serigala yang memiliki sifat serupa anjing pada umumnya, Candra mulai merindukan tuannya.
Gadis itu mulai mengeluarkan motornya. Candra menyalak pelan saat melihat gadis itu mengendarai motornya keluar rumah. Entah akan menuju ke mana, Candra mulai berlari cepat untuk mengikutinya.
Candra terus berlari kecil mengikuti motor itu hingga tiba di sebuah hutan dengan pepohonan yang menyembul lebat di sana-sini. Ia tak bisa untuk mengabaikan keberadaan tuannya. Ingin memunculkan diri, tetapi ia tahu bahwa ia masih berada dalam masa hukuman. Ia tidak bisa membawa serta raganya ke sini karena ayahandanya tengah menyegel raganya untuk tidak melampaui gerbang istana. Ia juga tidak mau diberi hukuman yang jauh lebih menyebalkan lagi jika nekat meloloskan diri. Jadi, Candra hanya bisa mengawasi tuannya meski hanya dari kejauhan saja.
Namun rupanya, Runi menyadari kehadiran Candra yang ia kenal sebagai Popo. Gadis itu menghentikan motornya begitu melihat bayangan Popo di balik sebuah dahan pohon besar, lalu mulai melangkah pelan mencari sosok Popo yang selama ini sangat ia rindukan. Namun sayang, Popo menghilang secepat kilat sehingga Runi yang akhirnya mencebik kecewa, harus kembali melanjutkan perjalanannya.
***
Gadis itu menangis di atas motornya yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Ia tak bisa merasakan apa-apa lagi kecuali lara hati yang menghujam jantungnya semakin dalam akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya.
Rintik hujan mulai terasa semakin deras. Namun, Runi masih saja melaju tanpa berniat sedikitpun untuk berteduh.
Runi tiba di sebuah jembatan. Sungai Kalingga mengalir deras di bawahnya. Ia menghentikan laju motornya, lalu melangkah pelan menuju ke tepi jembatan. Arus sungai Kalingga serasa melambai-lambai di bawah sana, memintanya untuk terjun--menyerahkan tubuhnya.
Seketika, Runi merasa bimbang. Hatinya remuk redam. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi saat ini. Tidak ada yang bisa ia percayai selain Raka, suaminya. Namun naas, suami yang selama ini selalu bersikap lembut dan penyayang itu, yang selalu menjadi tempat baginya untuk berkeluh kesah, dengan tidak berperikemanusiaan, kini telah bermain serong di belakangnya! Mengkhianati dirinya, juga jabang bayi yang kini mulai bertumbuh dalam rahimnya.
__ADS_1
Mengingat tentang bayi kecilnya yang tak berdosa, air mata Runi kembali merebak. Betapa malangnya bayi mungil ini, harus memiliki seorang ayah yang tega mengkhianati mereka berdua!
"Tidak, Raka tidak berhak atas bayi ini! Ini anakku!" pekik Runi kuat-kuat dalam hatinya.
Lagi dan lagi, kedua ekor mata Runi menangkap pemandangan mencekam deras aliran sungai Kalingga di bawah kakinya. Sungguh menggiurkan sekaligus menakutkan baginya! Mungkin jika ia mengakhiri hidupnya kali ini, tidak akan ada yang akan merasa kehilangan. Bukan hanya dirinya, tapi juga bayi yang ia kandung. Dan lagipula, ia tidak perlu lagi merasakan lara hati yang kian menyiksa batinnya.
Runi tidak memiliki satupun kerabat yang akan menangisi kepergiannya. Ibu mertuanya juga pernah mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mengakui cucunya yang terlahir dari rahim Runi. Dan Raka, suaminya sendiri? Pria br3ngs3k itu pasti akan tertawa terbahak-bahak menyambut kepergiannya karena ia bisa lebih leluasa untuk melanjutkan hubungan terlarangnya bersama sang kekasih hati.
Runi sudah menaikkan kedua kakinya ke tepi jembatan. Sembari memejamkan mata, ia menikmati sepoi angin yang disertai gerimis besar semakin membasahi tubuh ringkihnya. Menikmati sisa waktu yang ia miliki di dunia ini sebelum ia pergi, dengan menjatuhkan tubuhnya di derasnya aliran sungai Kalingga.
Namun sayup-sayup, suara gonggongan anjing yang ia kenal, menyadarkan khayalnya. Runi membuka mata.
"Popo?!" Panggil Runi dengan terkejut. Ia melihat di tepi tebing, kedua bola mata Popo berpendar merah, mengawasinya dengan tatapan yang begitu nyalang.
"Gukkkk!"
***
Rekomendasi novel menarik :
__ADS_1