
Raka telah berangkat ke kantor sepuluh menit sebelum pukul setengah delapan. Raka menyempatkan diri untuk mengecup kening dan bibir Runi sebelum berangkat, sehingga semua khawatir yang bersarang dalam dada Runi seketika menghilang.
Runi melambai pada Raka tubuh yang mengecil terbawa motor besarnya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum, seolah-olah ia telah lama menemukan barang kesukaan miliknya yang telah lama menghilang. Dan betul saja, sekelumit kelembutan Raka pagi ini berhasil membuatnya terbuai.
Ya, Raka hanya sedang lelah bekerja saja. Suaminya itu pasti sering lembur karena memang betul saat ini sedang panen sawit. Pambukuan hasil penjualan sawit dari perkebunan raksasa dengan luas ratusan hektar milik Pak Baskara tentu saja bernilai milyaran rupiah dalam satu kali panen.
Runi melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya begitu tubuh Raka menghilang dengan motor besarnya di balik tikungan. Ia sudah sarapan bersama Raka baru saja, namun ia tak bisa memaksa lambungnya untuk menerima banyak makanan. Rasa mual masih menyergapnya, namun ia berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan isi lambungnya di hadapan Raka. Ia takut nafsu makan Raka akan hilang, padahal lagi ini Raka sudah mau menyantap makanan hasil masakannya.
Saat berniat menyingkirkan piring dan gelas kotor bekas makan Raka yang rupanya licin tandas tanpa sisa, tanpa sengaja Runi membaui aroma lele mangut di piring itu. Tak ayal lagi, rasa mual kembali menyergapnya. Ia pontang-panting lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut, tak hanya sekali, namun berkali-kali hingga asam lambungnya yang terasa pahit itu ikut keluar.
Runi terengah-engah di lantai kamar mandi. Sungguh, ia tak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Apakah karena ia sudah terlalu memforsir tubuhnya bekerja terlalu keras? Di samping terpaksa lembur di malam hari karena pekerjaannya yang menumpuk, ia memang menderita kesulitan tidur karena tidak ada Raka di sampingnya. Suaminya itu bahkan terlihat begitu aneh akhir-akhir ini. Mulai dari rontokan rambut yang menempel di kaos Raka, parfum segar citrus yang bukan parfum milik Raka, baju yang sering bergonta-ganti padahal Runi tahu betul jika itu bukan milik suaminya, dan belum lagi Raka yang sering pulang malam atau bahkan tidak pulang sama sekali.
Namun, yah. Runi berusaha berbesar hati untuk tidak memikirkan apapun yang buruk lagi. Toh, pada akhirnya jika ia sakit seperti ini, yang rugi siapa lagi jika bukan dirinya sendiri?
"Pekerjaanku masih banyak. Aku harus memeriksakan diri ke dokter agar cepat sembuh," pikir Runi penuh tekad.
***
"Apa kamu masih sering begadang?" Dokter Ditya bertanya saat memeriksa tubuh lemas Runi di atas bed pasien. Ia saat itu terjadwal piket pagi di Puskesmas Merbayu.
"Iya, Dok. Kalau nggak begadang nanti kerjaan saya nggak selesai-selesai, hehehe," timpal Runi.
__ADS_1
"Hmmm, tekanan darah kamu rendah sekali, Runi," kaya Dokter Ditya saat memeriksa tensi Runi. Ia bertanya, "Apa kamu lagi diet, apa gimana?"
"Enggak, Dok. Ngapain aku pakai diet-dietan segala," elak Runi seraya tertawa.
"Bisa bangun?" Tanya Dokter Ditya saat pemeriksaan itu selesai ia lakukan. Runi mengangguk pelan, lalu dokter Ditya mempersilakan Runi kembali duduk di atas kursi periksa. Ia kembali bertanya, "Hmmm, tapi badan kamu lemes banget, Runi. Apa kamu jarang makan?"
"Oh, itu. Anu, Dok. Aku memang lagi nggak nafsu makan."
"Lah, kok bisa?" Tanya Dokter Ditya dengan kening yang berkerut. "Makan lah, badanmu itu sudah kurus seperti ini, Runi. Tidak usah pakai diet-diet segala."
"Nggak niat diet juga sebenarnya sih, dok. Aku cuma merasa agak mual aja selama beberapa hari ini."
"Udah dua hari sih, Dok. Tapi biasanya nggak separah ini. Mualnya masih bisa aku tahan, paling cuma ngerasa sedikit pusing aja. Badanku juga terasa lemes, males ngapa-ngapain," jawab Runi.
"Hmmm." Dokter Ditya bergumam pelan. Kemudian, ia bertanya menyelidik, "Kapan terakhir kali kamu menstruasi?"
"Ah, itu!" Runi terkesiap dan jantungnya berdebar tak karuan. Sebersit harap muncul dalam benaknya, menyuarakan sebuah jawaban atas segala doanya selama satu tahun ini atas hadirnya seorang makhluk mungil dalam rahimnya. Tapi, apakah benar ini saatnya?
"Kapan terakhir kamu halangan, Runi?" Dokter Ditya bertanya lagi karena setelah ditanya, Runi hanya terbengong.
"A-aku ..." Runi tergagap saat ia mencari-cari tanggal menstruasi terakhirnya. "Jadwal menstruasiku sedikit berantakan, Dok. Tanggalnya tidak pernah tentu setiap bulannya. Bahkan aku sering tidak menstruasi dalam rentang waktu satu atau dua bulan. Jadi ... Jadi ... Aku tidak tahu pasti kapan terakhkir kali aku menstruasi."
__ADS_1
"Hmmm," Dokyer Ditya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bangkit dari kursi kerjanya menuju sebuah lemari. Ia mengambil sesuatu berwarna putih dari dalam sana, lalu menyerahkannya kepada Runi. "Cobalah cek menggunakan alat ini. Setelah itu, segera beritahu saya apa hasilnya."
Runi menerima benda pipih kecil itu dengan tangan dan dada yang berdebar. Ia bukannya belum pernah melihat benda itu. Justru di awal-awal pernikahannya, hampir setiap bulan ia selalu menggunakannya. Bahkan di bulan kedua pernikahan, hasil alat ini juga sudah menunjukkan positif. Hanya saja, janin yang bersemayam dalam rahimnya hanya sanggup bertahan selama delapan minggu saja.
Beberapa bulan setelah mengalami keguguran, Runi masih gigih melakukan test kehamilan. Namun karena hasil yang ia dan Raka inginkan tidak kunjung datang, maka setengah tahun belakangan ini ia sudah tidak terlalu peduli dengan hamil atau tidak dirinya.
***
Air mata Runi merebak begitu hasil test alat itu persis seperti yang ia duga. Runi merasa begitu ingin menangis.
Garis dua! Sesuatu yang sudah begitu ia dan Raka tunggu selama satu tahun ini, sejak pernikahan mereka satu tahun yang lalu, dan sejak ia kehilangan janin dalam rahimnya sepuluh bulan yang lalu.
Runi keluar dari kamar mandi. Ia mendekat ke meja Dokyer Ditya dan dengan bergetar, tangannya mengulurkan hasil tesplack yang ia bawa.
"Hmmm," Dokter Ditya tersenyum masam pada hasil test yang Runi bawa. Ia merasa begitu miris, karena gadis sepolos dan secantik Runi harus memiliki suami seperti Raka. Padahal ia tahu, betapa setianya Raka pada Widuri. Ditya juga tahu, bagaimana dalamnya hubungan antara Raka dan Widuri saat mereka masih berpacaran dahulu kala. Dan saat ini begitu mendengar Widuri kembali, Dokter Ditya tidak bisa menjamin jika cinta Raka pada Widuri sudah menghilang seutuhnya.
Dokyer Ditya berkata pada Runi, "Tunggulah di kursi tunggu, Runi. Nanti kamu akan dipanggil di poli kandungan. Kamu akan diperiksa oleh bidan yang saat ini bertugas, yaitu Bidan Atun."
"Terima kasih banyak, Dok!" ucap Runi seraya berlalu.
***
__ADS_1