
"Ada apa gerangan ke sini, Tika?" Tanya Runi, yang sampai saat ini masih tak tahu apa maksud kedatangan Widuri kemari.
"Oh, ini." Widuri meraih tas selempang yang ia bawa. Dibukanya, lalu ia mengambil sebuah bingkisan yang ada di dalamnya.
"Tadi aku menanyakan pada ibuku, apakah ada penjahit yang rekomen di daerah sini. Dan ibuku bilang, kamu!" seru Widuri menunjuk ke arah Runi dengan pujian.
"Ah, berlebihan sekali! Aku juga masih banyak belajar kok!" Runi tertawa singkat.
"Pokoknya bantu aku, ya! Aku butuh gaun untuk menghadiri pernikahan sahabatku," pinta Widuri dengan nada memohon.
"Akan kamu pakai kapan gaun itu, Tika?" tanya Runi.
"Mungkin dalam waktu dua minggu ini, Runi. Bagaimana? Kamu bisa, kan?"
Runi terlihat berpikir. Ia melirik ke arah ruang kerjanya sejenak lalu berkata, "Sebentar, ya? Aku belum bisa janji kalau aku belum melihat buku catatanku. Aku ambil dulu."
Runi bangkit dengan sigap. Ia datang kurang dari satu menit kemudian dengan membawa sebuah buku catatan tebal miliknya.
Ia bertanya, "Kapan tadi kamu bilang, Tik? Dua minggu lagi?"
Widuri mengangguk. "Iya, temanku mengabari mendadak banget soalnya."
"Aduh, maaf banget, Tik! Aku kayaknya nggak bisa janji, Tika. Orderanku banyak sekali dan aku lumayan keteteran. Aku takut kalau nggak sanggup mengerjakan gaunmu."
"Ih, kok kamu gitu sih, Runi?" Widuri mencebik memelas. Wajahnya juga terlihat sangat putus asa. "Aku rela bayar dua kali lipat kok asal kamu mau mengerjakan gaunku tepat waktu."
"Bukan masalah uangnya, Tika." Runi berkata jujur. "Ini terkait janji. Aku takut kalau janjiku pada pelangganku yang lain jadi mundur, padahal deadline-nya sudah jelas tercatat di buku ini. Dan lagipula jika aku terlalu terburu-buru menjahit, aku takut hasil jahitanku tidak serapi biasanya."
"Please, Runi. Diselipin satu aja gaunku, masa nggak bisa, sih?" Lagi-lagi, Widuri bersikukuh membujuk Runi. "Aku udah lihat hasil jahitanmu, dan aku sangat menyukainya. Aku nggak mau pakai penjahit selain kamu, karena aku percaya kamu adalah penjahit terbaik di desa ini, Runi."
__ADS_1
Runi menghela nafas panjang lalu ia keluarkan secara perlahan melalui mulut. Ia tidak tahu pujian yang Widuri ucapkan tulus atau tidak untuknya. Bisa jadi hanya sekejar pujian kepada sesama sahabat saja, atau bisa juga betul-betul memuji setulus hati. Nyatanya sebagai penjahit muda, ia merasa masih perlu banyak belajar.
"Aku nggak sebaik itu, Tika. Jahitanku masih banyak yang acak-acakan. Aku masih perlu sering berlatih, sebetulnya. Apa yang ibu kamu ceritakan mungkin sedikit berlebihan."
"Idih, nggak usah merendah deh. Aku sudah melihat contoh pakaian yang ibuku jahitkan di sini. Dan aku suka, Runi! " Ucap Widuri sekali lagi penuh permohonan. "Jadi please, mau ya, jahitin baju buat aku?! Lagian aku tambah kurus dalam kurun waktu satu tahun ini. Aku sudah tidak punya baju yang layak karena rata-rata bajuku kedodoran semua!"
Memandang Widuri alias Tika, sahabat sekaligus rival lombanya saat perlombaan antar sekolah dasar dahulu kala yang kini memasang wajah memelas itu, rupanya ia tak tega. Toh rentang waktunya masih dua minggu lagi, mungkin ia masih bisa mempercepat targetnya dan menyelipkan gaun Widuri di daftar deadline-nya dalam dua minggu ini.
"Aku usahakan ya, Tik?" kata Runi dengan nada tak yakin. "Aku sebetulnya takut kalau nggak bisa memuaskan kamu. Makanya aku nggak bisa berjanji. Tapi ya, demi kamu akan aku coba deh."
"Waaah, beneran?" Mata indah Widuri berbinar terang. "Asyik, kamu emang sahabat yang baik, Runi!"
"Ah, biasa aja!" Runi tersipu malu. Hari ini entah sudah berapa kali Widuri memujinya. Ia merasa tidak pantas untuk disanjung-sanjung seperti itu.
"Ya sudah, sini aku ukur dulu badanmu, Tika!" seru Runi seraya mengajak Tika menuju ruang kerjanya yang terletak di sebelah ruang tamu.
Sambil melangkah ke ruang jahit, Widuri menyapukan seluruh penjuru rumah yang bisa dijangkau dengan pandangan matanya. Rumah ini minimalis dan tergolong sederhana. Namun, Widuri bisa merasakan kesejukan di dalamnya. Menurut Widuri, Raka sudah membangun istana yang nyaman dan indah untuk Runi. Dan mengingat hal itu, hati Widuri terasa tercubit dengan begitu sakit.
Ah, andai saja ia tidak melarikan diri empat tahun yang lalu! Mungkin saja kini ia yang menyandang predikat sebagai Nyonya Raka. Menempati rumah mungil nan sederhana ini, bercengkerama setiap hari dengan pria yang lembut dan penyayang seperti Raka.
Runi sedang mencatat satu demi satu ukuran lingkar masing-masing di bagian tubuh Widuri ketika pintu ruang tamu terbuka.
Kriiiiieeet!
Suara langkah kaki memasuki rumah itu, diikuti oleh sapaan lembut si pendatang. "Sayang! Aku pulang!"
Hati Widuri serasa mencelos. Suara ini terdengar sangat familiar bagi Widuri. Tapi apa yang pria itu katakan? 'Sayang', katanya? Cih! sungguh memuakkan!
"Iya, Mas! Sebentar! Ada tamu!" Seru Runi menjawab sapaan Raka. Maka, ia memohon ijin pada Widuri untuk menyambut suaminya pulang.
__ADS_1
"Sebentar ya, Tika! Suamiku pulang. Aku sambut dia dulu ke depan."
Widuri mengangguk kecil. Sebuah seringai masam tersungging di bibirnya.
"Hai, sayang! Ada tamu?" Sapa Raka lagi begitu istrinya muncul dari balik ruang jahitnya.
"Iya, Mas. Pelanggan baru, yang ternyata dia teman SD-ku. Dia juga tinggal di desa ini, lho!" seru Runi antusias. Ia mencium takzim tangan kanan Raka, lalu meminta tas selempang yang Raka bawa untuk ia bawakan.
"Oh ya? Siapa namanya? Kalau penduduk desa ini pasti aku kenal, dong?" tanya Raka seraya melepas sepatu kerjanya.
"Tika, Mas. Nama lengkapnya Cantika siapa, gitu. Aku kurang hafal, padahal dulu waktu SD sering ikut lomba bareng jadi rival antar sekolah," jawab Runi dengan antusias. Maka ia mengajak Raka menengok ruang kerjanya. "Coba tengok di ruang kerja yuk, Mas? Siapa tahu kamu kenal."
"Oh, oke!"
Dengan menggandeng mesra lengan Raka, Runi menuntun suaminya menuju ruang jahit. Begitu Raka tiba di ambang pintu dan dua mantan kekasih itu saling bertemu pandang, suasana kikuk seketika langsung mencuat.
"Hai, Raka!" sapa Widuri dengan senyum yang tersungging indah di bibirnya. Sementara Raka hanya tercengang dengam mata membola.
"Lho, benar kan, kalau kalian sudah saling mengenal?" ujar Runi puas. Ia tersenyum menatap Raka dan Widuri secara bergantian, namun tiba-tiba ia merasakan ketegangan yang begitu mencekam di antara dua orang ini.
"Wi-widuri?" kelu, lidah Raka menyebut nama belakang Widuri. Matanya nanar melihat sosok wanita ini.
Pertemuan mencengangkan ini sontak membuat Runi bertanya-tanya dalam hati.
Widuri? Bukankah gadis di hadapannya ini-yang notabene adalah sahabat masa kecilnya di sekolah dasar-adalah Cantika? Jujur, ia tak tahu nama lengkap Tika.
Lalu, apakah Cantika adalah Widuri?
Dan jika benar dia adalah Widuri, apakah ini adalah Widuri yang sama dengan Widuri yang disebutkan oleh Aswini, ibu mertua Runi beberapa hari yang lalu?
__ADS_1
"Siapa Widuri, Mas?" Tanya Runi dengan pandangan menyelidik.
***