
"Aku serius, Duri!" seru Raka frustasi. "Tolong, jangan ragukan perasaanku padamu. Aku masih sangat mengharapkanmu!"
"Cih! Simpan kembali kata-kata bullsh1tmu, Raka! Aku tidak mempan lagi dengan bujuk rayumu!" Widuri mendecih kesal. Air matanya masih tumpah ruah membanjir membasahi pipinya. Meskipun sekuat tenaga ia berusaha membenci Raka, namun nyatanya ia tak bisa. Hatinya masih menginginkan Raka, sangat!
"Aku tidak bohong, Duri! Aku serius!" lagi-lagi, Raka berseru memohon. Gurat penyesalan terukir jelas di wajah tampannya. Ya, ia menyesal sudah memilih untuk menikah dengan Runi, wanita yang hanya ia jadikan pelampiasan cinta saat Widuri pergi menjnggalkannya.
"Hentikan omong kosongmu, Raka!" Widuri mengangkat tangannya ke udara untuk mencegah Raka bicara lagi. Ia meraih selembar tissue untuk membersit ingusnya yang keluar dari hidung sehingga mengganggunya bicara. Ia melanjutkan, "Saat kita pertama kali bertemu, kupikir kamu memang betul-betul masih mencintaiku. Tapi nyatanya, aku lihat dengan kedua mataku sendiri betapa mesranya kamu dan istrimu kemarin sore. Kalian bahkan saling memanggil satu sama lain dengan panggilan 'sayang'! Lalu, kamu masih bisa berkata bahwa pernikahan kalian tidak bahagia? Kamu pikir aku bodoh, Raka?! Kamu pikir aku percaya? Hah?!"
Hening menyeruak. Baik Raka dan Widuri, keduanya sama-sama hanyut dalam pemikirannya masing-masing.
"Aku tidak akan pernah percaya lagi akan semua ucapanmu, Raka!" Widuri melempar pandangan sadis. "Bukankah kamu yang berkata sendiri padaku beberapa waktu yang lalu, bahwa kepulanganku saat ini sangat terlambat?"
"Maafkan aku. Itu semua tidak benar, Duri! Apa yang aku katakan saat itu hanya karena aku terlalu terkejut melihatmu datang! Itu hanyalah emosi sesaat!" ucap Raka menghiba.
"Bullsh1t, Raka! Aku sama sekali tidak percaya!" Widuri tertawa dengan nada sumbang. Ia melanjutkan, "Apakah kamu tahu, Raka? Aku berlari begitu jauh untuk berlari pulang padamu. Aku masih sangat berharap kamu masih akan menjadi rumah tempatku untuk berpulang. Tapi ternyata, kamu sudah membangun rumah impian bersama Runi. Melupakanku! Mengabaikanku! Meninggalkanku! Lalu kamu pikir aku masih mau percaya?! Mimpi kamu, Raka!"
Raka terdiam menunduk, sementara Widuri masih begitu berapi-api. Nafasnya memburu, seolah masih banyak kata yang belum sanggup ia ungkapkan untuk meluapkan amarahnya.
"Makan dulu, Duri. Dari tadi kamu belum makan," ucap Raka seraya menarik sepiring nasi pesanan Widuri.
Widuri tersenyum miring. Ia bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba lalu berkata, "Aku nggak lapar. Aku pulang dulu!"
Raka bertanya cepat saat ia melihat Widuri melangkah keluar dari arepa bangku mereka duduk memesan makanan. Nasi soto Raka baru habis separuh porsi. Bahkan Widuri sama sekali belum menyentuh satu pun makanan dan minuman yang ia pesan. Lalu kini, ia pergi?
__ADS_1
"Duri, tunggu!" Raka melompat cepat ke arah mana Widuri melangkah. Ia menangkap pergelangan tangan Widuri lalu menariknya kuat untuk mencegah gadis itu pergi darinya. "Jangan pergi dulu, aku mohon! Kamu bahkan belum makan!"
"Aku nggak nafsu makan, Raka. Melihatmu, aku jadi mual." Widuri berkata sadis.
Raka tercengang. Widuri yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Widuri yang ia kenal dahulu kala. Widuri yang dulu sangat lembut dan penyayang terhadapnya. Gadis itu tidak pernah berlaku kasar.
"Ka-kamu pulang sama siapa?" Tanya Raka yang tak rela Widuri pulang saat ini. "Kamu datang bersamaku, maka pulanglah bersamaku juga!"
"Aku tidak mau berduaan dengan laki-laki yang hatinya tidak tahu tertuju pada siapa, Raka!" Widuri bicara dengan tangan teracung ke depan dada Raka. Ia berkata dengan mata melotot yang menyorot menakutkan. "Cobalah tanyakan pada hatimu. Siapa yang kamu pilih, Raka! Runi, si cewek culun itu, atau aku?"
Diam. Ya, hanya diam yang sanggup Raka tampilkan untuk saat ini. Lidahnya betul-betul kelu. Pertanyaan Widuri terasa begitu menjebak, dan ia tidak bisa menjawabnya.
"Nah, betul, kan! Kamu tidak bisa menjawabnya, Raka!" Widuri bersedekap seraya tersenyum miring. Ia berkata pelan, "Mungkin memang artinya, sudah cukup. Kamu sudah menjadi milik Runi. Jadi, jangan pernah dekati aku lagi, Raka!"
"Maka, jawab pertanyaanku, Raka!" Widuri berteriak penuh emosi yang berkobar di matanya. "Siapa yang lebih kamu cintai, aku, atau dia?!"
Raka terdiam. Ia menunduk, tak berani mengangkat wajahnya untuk melawan tatapan tajam Widuri ke arahnya.
"Jawab aku, Raka!" setengah menangis , Widuri berteriak frustasi. Raka menegakkan wajahnya, ditatapnya Widuri yang sudah bercucuran air mata.
"Jawab aku! Siapa yang lebih kamu cintai, aku atau dia?!"
Raka menghela nafas panjang. Perlahan ia lepaskan, lalu ia menjawab, "Kamu, Duri. Aku sangat mencintaimu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku."
__ADS_1
"Jangan bicara terlalu muluk untukku jika kamu tidak bisa memegang ucapanmu, Raka! Selama kamu masih bersamanya, maka di mataku, kamu tetaplah milik wanita itu. Dan jika memang kamu lebih memilih dia dibandingkan diriku ..." Widuri mengangkat kedua bahunya bersamaan. Ia melanjutkan. Ia menghela nafasnya kemudian untuk membebaskan perasaan sesak yang menghimpit dadanya. " ... Aku sadar diri dan lebih baik aku pergi, Raka!"
"Tidak, Duri! Kamu salah! Aku tidak pernah lebih memilih dia dibanding kamu!" seru Raka memohon. Ia meraih tangan Widuri lalu menggenggamnya erat-erat lalu ia bawa ke dalam dekapan dadanya.
Merasa jijik karena merasa pengakuan cinta Raka terdengar begitu bullsh1t di telinganya, Widuri menarik tangannya kembali agar terbebas dari genggaman Raka. Namun mendengar apa yang Raka ucapkan baru saja, ia tersenyum miring. Meskipun ia tak serta merta bisa mempercayai apa yang Raka ucapkan, namun setidaknya ia bisa menilai seberapa besar keseriusan Raka dalam sorot matanya.
Tapi tentu saja, ia butuh pembuktian! Ia tidak bisa hanya menerima bujuk rayu semata, tanpa sesuatu yang bisa membuatnya yakin.
Dan atas pernyataan Raka kali ini, tentu saja ia membutuhkan bukti yang nyata! Bukti yang kuat, yang bisa meruntuhkan rasa ketidak percayaannya terhadap janji-janji Raka.
Widuri maju satu langkah. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Raka, lalu berkata dengan bisikan yang nyaris tak terdengar.
"Tak usah banyak bicara Raka! Aku butuh bukti."
Singkat, padat, dan jelas. Ucapan Widuri terdengar begitu lugas di indera pendengaran Raka.
"Bu-bukti apa yang kamu inginkan dariku, Duri?" Tanya Raka tak mengerti. "Ayo, katakanlah padaku. Hm?!"
Widuri menyunggingkan senyum miring. Ia semakin menantikan pembuktian Raka, apa betul Raka masih sangat mencintainya dan rela meninggalkan Runi, istrinya yang baru dinikahinya selama satu tahun ini.
Widuri berkata, "Buktikan semua ucapanmu tadi, Raka! Buktikan padaku, bahwa semua yang kamu katakan baru saja bukan sebuah omong kosong semata! Buktikan, jika kata-katamu layak untuk aku percayai!"
"Jika tidak ..." Widuri menggigit bibirnya. Bersuara lirih dengan air mata yang merebak, ia melanjutkan bicara, "... aku akan meninggalkanmu, lagi."
__ADS_1
***