
Candra mendengkus kesal. "Mau ngapain sih mereka datang? Ya baguslah kalau aku lagi nggak ada. Malas juga aku jika harus menemui mereka." kata Candra.
"Tapi, Tuan. Masalahnya ..." ucapan Bayu terputus.
"Apa masalahnya?" Tanya Candra kesal karena Bayu terlihat semakin bertele-tele.
"Ma-masalahnya, Ayahanda Raja Suryapati sudah menyetujui perjodohan ini. Ba-bahkan mereka semua juga sudah menentukan tanggal pernikahan Anda dengan Putri Narlita, Tuan!" jelas Bayu takut-takut. Suaranya terdengar bergetar, lirih, dan tersendat.
"Hah?! Apa?!" Candra menggeram marah. "Mengapa ayah setega itu padaku? Aku tidak mau menikah, Bayu! Aku tidak mau dijodohkan! Titik!"
"Iya, Tuan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa," kata Bayu pasrah.
"Ya seharusnya bisa dong," sergah Raka, mencebik jengkel. "Paling tidak kamu harus menyampaikan pendapatku. Kamu kan tahu kalau aku nggak suka sama si Narlita itu! Kalau kamu saja diam, lalu apa fungsi kamu sebagai asisten?"
"Putri Narlita, Tuan," ujar Bayu mengoreksi. Ia bahkan tidak terlihat peduli pada Candra yang saat ini tengah mengomel padanya. "Anda bisa dimarahi eh Yang Mulia Baginda Raja Suryapati jika hanya memanggil nama pada tuan Putri Narlita."
"Masa bodo. Aku nggak peduli pokoknya," timpal Candra dengan wajah cemberut. Ia melanjutkan omelannya, "Seharusnya kamu bisa memberi masukan bahwa aku nggak mau dijodohkan, apalagi dengan Narlita! Kalau kamu nggak bisa membelaku, lalu apa kegunaanmu?"
"Saya mana berani, Tuan?" Bayu berkata lirih dan pasrah. "Raja Suryapati kan ... Galak."
"Ah, dasar cemen lu!" omel Candra kembali. Ia terkekeh keras saat mendengar pengajuan Bayu baru saja. Ya, ayahanda tercintanya memang sangat galak dan menyebalkan. Untuk masalah yang satu ini, ia sangat setuju dengan pendapat Bayu. Betapa diktatornya Raja Suryapati, hampir seluruh penjuru negeri sudah mengetahuinya. Apalagi, anak dan semua penghuni istana.
Bayu yang tak peduli jika majikannya tengah mengomel padanya, kini memberi masukan, "Tuan, menurut saya, jika Anda memang tidak setuju dengan perjodohan ini, maka pulanglah segera."
__ADS_1
"Tidak, tidak!" Candra menepis saran dari Bayu. "Aku masih kesal dengan ayah, Bayu! Aku masih tenang berada di sini tanpa harus mendengarkan omelan ayah setiap hari."
"Tapi, Tuan! Jika Anda tidak segera pulang, maka hari dan tanggal pernikahan antara Anda dan Putri Narlita akan segera ditentukan. Akibatnya, Anda akan semakin sulit untuk menghindar."
"Lho, bagaimana bisa?!" Candra mengomel tak terima. "Ayah jangan semena-mena begitu, dong! Aku ini juga punya hak untuk memilih apa yang aku inginkan dalam hidupku. Kenapa juga sih, ayah suka sekali mengaturku?!"
***
"Guk!" Candra menyalak pelan. Ia merasa sedikit bingung. Di satu sisi, ia mendapatkan kabar jika perjodohannya telah ditentukan. Bayu juga mengatakan jika Yang Mulia Ratu Dahayu, Ibunda Candra tercinta, tengah sakit karena memikirkan kepergian Candra yang tiba-tiba.
Namun di sisi lain, wanita muda yang saat ini telah ia anggap sebagai tuan tengah membutuhkan hiburan.
Kini, ia berada di sebuah rumah, dengan menemani seorang wanita yang tengah menangis dengan menangkup kedua tangannya ke wajah, dengan tubuh duduk menekuk lutut di kamar mandi.
"Guk!" Tak menyerah, kini Candra mengusel tubuhnya yang berbulu lembut ke kaki wanita itu. Ia menggesek-gesekkan tubuhnya, semata-mata agar perhatian wanita itu kembali tercurah padanya.
Berhasil! Wanita itu mendongak, melepaskan tangkupan kedua tangannya dari wajah. Terlihatlah sudah, betapa merah wajah itu, dengan mata yang begitu basah dan sembab.
Wajah ayu itu tersenyum. Ia meraih tubuh kecil Candra lalu ia rengkuh dalam dekapnya. Dibawanya Candra ke dalam peluknya, seperti tengah memeluk sebuah boneka anjing yang empuk dan lucu.
"Popo? Ada apa?" Tanya Runi dengan mata yang basah. Bahkan kini Popo yang sudah berada dalam pelukan Runi, merasakan bulu abu-abu nan lembut miliknya mulai basah oleh air mata kesedihan gadis malang itu.
Popo menggesekkan wajahnya di sana. Menyelinap dalam harum tubuh Runi, menyelipkan setitik kehangatan di sana.
__ADS_1
"Guk!" Popo kembali menyalak pelan dalam pelukan itu. Seolah berkata kepada tuannya, "Jangan menangis, Runi, ada aku di sini."
Runi, meski dengan wajah sedihnya, berusaha menyunggingkan senyum untuk Popo. Selama beberapa hari ini, hanya anjing ini lah yang bisa menghiburnya. Sementara Raka, sang suami, sedikit demi sedikit telah berubah. Sikapnya jauh berbeda, tak selembut dan semanis dulu padanya. Bahkan beberapa malam yang lalu seusai mereka menghabiskan malam bersama, Raka mengigau, menyebut nama wanita lain di dalam mimpinya.
"Tapi, mungkinkah Mas Raka sejahat itu padaku? Tapi, mengapa? Apa dosaku padanya? Adakah kesalahan yang sudah aku lakukan sehingga membuat dia berpaling dariku? " Tanya Runi dengan batin yang amat tersiksa oleh ribuan tanya.
Tangis Runi kembali jatuh demikian derasnyadi tubuh Popo, seolah ingin meminta keringanan pada anjing kecil itu, juga semangat agar segera lupa dari risau yang mengusik batinnya.
***
Runi sudah menyelesaikan beberapa progres menjahitnya siang ini. Meskipun tengah mwrasa terluka dan bersedih karena sikap Raka tadi pagi dan beberapa keanehan yang ia tangkap baru-baru ini, namun Runi tidak mau hanya berdiam diri saja untuk menangisi kepedihannya. Hidup harus terus berjalan bukan?
Alasan pertama, semua tanda tanya yang menghantui pikirannya baru-baru ini masihlah dugaan. Yang kedua, hidup harus terus berjalan dan ia memiliki beberapa tanggung jawab yang harus ia selesaikan. Orderan menjahitnya masih melambai dan kemarin sore ia masih mendapatkan dua pelanggan yang menitipkan jahitan padanya. Ia tidak mungkin meninggalkan semua amanah yang diberikan okeh seluruh pelanggan kepadanya hanya karena ia sedang merasa gundah dan patah hati bukan?
Untung saja, dua pelanggan itu mau mengerti dan memahami antrian. Mereka tidak memaksakan kapan jahitan mereka harus segera jadi karena memang baju yang mereka pesan tidak akan digunakan dalam waktu yang mendadak. Yah, untung saja. Setidaknya, Runi tidak harus memaksakan diri untuk bekerja lembur demi menyelesaikan tanggung jawabnya .
Demi menghilangkan rasa kalut yang menderanya dengan begitu menyiksa, Runi pun mencari kesibukan ini dan itu. Sedari pagi ia sudah berkutat di dapur untuk memasak sup buntut daging kesukaan Raka, mencuci baju dan piring kotor, juga bebersih di setiap sudut rumah. Kini, ternyata wakth sudah beranjak siang hari. Saatnya bagi Runi untuk meluruskan kaki dan punggungnya yang terasa begitu pegal.
Tapi tentu saja, ia butuh Popo! Tapi ke manapun ia melangkahkan kaki di seluruh penjuru rumah, ia tak menemukan eksistensi Popo.
"Popo, kamu di mana?"
***
__ADS_1