Dihamili Pria Arogan ( Cahaya Di Ujung Kegelapan )

Dihamili Pria Arogan ( Cahaya Di Ujung Kegelapan )
Usaha tidak akan pernah Mengkhianati Hasil


__ADS_3

Meski berat Rania harus tega meninggalkan Raja karena dirinya harus kuliah dan juga bekerja di kantor Wildan, bukan karena nepotisme Rania bisa bekerja di sana tapi karena kepintaran dan kecerdasan yang Rania miliki.


Beruntung Wildan mengenalkannya pada bi Uun yang pernah menjaga Talia saat kecil dulu.


" bi.. Ani titip Raja ya .. " ucap Rania sambil menyerahkan Raja ke tangan bi Uun yang sangat cekatan dan terampil dalam mengasuh anak kecil.


Mungkin jika bukan karena pertanyaan Wildan waktu itu, yang menanyakan kesiapan dirinya jika nanti bertemu dengan Ridzwan maka Rania tidak akan pernah berada di sini.


Di kampus yang sama dengan Ridzwan tapi Rania tetap menggunakan nama Ani sesuai yang di sampaikan Wildan agar Ridzwan tidak langsung menyadari keberadaan Rania di kampus nya


" ayo saya antar " ucap Wildan bahkan di dalam sana ada Talia yang juga akan berangkat sekolah.


" Bu .. Raja mana ?" tanya Talia yang membuka kaca jendela mobil belakang.


" Raja sama bi Uun " ucap Rania sambil mendudukkan diri di samping Wildan.


" bapak sama Talia udah sarapan ?" tanya Rania pada dua orang yang sangat baik padanya selama ini.


" udah mkan roti " ucap Talia sambil. cemberut.


" saya tadi kesiangan jadi ngga sempet bikin sarapan " ucap Wildan mencari alasan.


" ini buat Talia dan ini buat bapak.. di makan ya " Rania memberikan masing masing satu box bekal sarapan yang sengaja di buat Rania karena memang semalam Wildan sudah memberitahu bahwa pagi ini dirinya akan mengantar nya ke kampus.


Tak butuh waktu lama Rania sudah sampai di kampus setelah mengantar kan Talia lebih dulu ke sekolah nya.


" terima kasih pak.. maaf selalu merepotkan bapak selama ini " ucap Rania yang begitu menghormati Wildan yang memang benar benar menjaganya selama ini.


" sama sama, saya ikhlas membantu kamu selama ini "

__ADS_1


" sudah sana masuk nanti keburu ketemu Ridzwan lagi " ucap Wildan lagi.


Rania pun turun dari mobil Wildan tapi tanpa di duga Ridzwan juga baru saja memarkirkan mobilnya tepat di samping berdirinya Rania.


" ya tuhan kenapa harus bertemu dia pagi ini " ucap Rania sambil menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan buku yang iya bawa.


Ridzwan dengan angkuhnya berjalan mendahului Rania tanpa menyadari jika orang yang selama ini iya cari kini berada di dekatnya


" hai an .. kenapa muka Lo di tutup gitu " tanya teman Rania yang baru beberapa Minggu iya kenal.


" ngga papa mut " ucap Rania pada temannya Mutia.


" gue duluan ya lagi nyusun skripsi nih doain ya " ucap Mutia pada Rania yang ternyata adik tingkat Mutia di kampusnya.


" ok semangat Ya, mudah mudahan skripsi nya lancar "


" aamiin .. doain temen gue juga ya Ridzwan untuk bisa bareng wisudanya.


" muttt ayo kita kan mau ketemu pembimbing skripsi " ucap Ridzwan yang masih belum mengenali Rania yang ada di hadapannya.


" iya.. " Mutia pun pergi meninggalkan Rania yang pura pura menunduk saat Ridzwan berbalik dan menatap Mutia.


Begitulah Rania yang masih harus main petak umpet dengan Ridzwan agar tidak langsung bertemu. bukan karena Rania takut pada Ridzwan tapi Rania ingin saat Ridzwan melihat dirinya Rania sudah bisa berdiri sendiri bersama dengan Raja putranya.


Tiga tahun pun berlalu begitu cepat, terlebih setelah Ridzwan lulus dari kampus nya pergerakan Rania kini terasa ringan karena sudah tidak harus bersembunyi lagi.


Rania lulus dengan nilai cumlaude bahkan dalam pekerjaan pun Rania kini sudah menjabat sebagai manajer di kantor Wildan.


" ibuuu.." Talia berlari dan memeluk Rania di hadapan semua orang di acara kelulusan Rania. Rania pun menyambut pelukan Talia bahkan mencium kening Talia penuh sayang.

__ADS_1


" selamat ya " ucap Wildan sambil menuntun Raja yang kini sudah berusia tiga tahun setengah.


" terima kasih pak " ucap rania dan tak lama berjongkok di hadapan Raka putra tampannya.


" anak ibu ganteng banget.. siapa yang pilihan baju " tanya Rania karena Rania merasa tidak pernah membelikan pakaian ini untuk Raka.


" ayah " ucap Raja sambil menunjuk Wildan yang kini merangkul Talia.


" hari spesial baju nya juga harus spesial dong " ucap Talia sambil merangkul wanita yang sudah tiga tahun ini menjadi ibunya.


" ayo kita rayakan hari ini sekalian kita akan bertemu dengan keluarga saya " ucap Wildan yang langsung menggendong Raja Menuju mobilnya berada sedangkan Rania dan Talia berjalan di belakang mereka.


" pak memang kita mau makan dimana ?" tanya Rania yang kini sudah duduk di samping Wildan yang sedang mengemudikan mobilnya, sedangkan Raja dan Talia duduk di kursi belakang.


" ketemu keluarga besar saya " ucap Wildan, karena menurut nya ini adalah waktu yang tepat Rania menapakkan diri di hadapan Ridzwan dan juga ayahnya.


" kita mau ketemu sama Om ridz " mendengar nama ridz membuat Rania langsung menatap Wildan yang juga kini sedang menatapnya.


" menurut saya ini waktu yang tepat untuk kamu muncul di hadapan mereka semua " ucap Wildan sambil tetap mengemudikan mobilnya menuju tempat pertemuan keluarga nya.


" tapi jika mereka menanyakan apa hubungan kita berdua, apa yang harus Rania jawab " ucap Rania yang sebenarnya sangat malu menanyakan hal ini pada Wildan.


" biar itu jadi urusan saya, kamu percayakan sama saya " ucap Wildan yang kini sudah memarkirkan mobilnya di sebuah restoran mewah di kota itu.


" tapi Rania malu " ucap Rania yang benar saja tangannya sudah sangat dingin bahkan mukanya juga pucat.


" ta.. ajak Raka turun lebih dulu " ucap Wildan mengarahkan Talia.


" kamu tau kan tempat pertemuan kita di ruang mana ?" tanya Wildan pada putrinya yang sudah biasa ikut dalam pertemuan keluarga.

__ADS_1


" iya yah Talia tau, ayo dek " Talia pun menuntun Raka untuk turun dari mobilnya menuju ruangan yang bisa mereka gunakan saat makan di restoran ini.


Setelah melihat Talia sudah memasuki restoran itu, Wildan pun kini menatap Rania yang masih saja gugup dengan tang. yang saling meremas.


__ADS_2