Dihamili Pria Arogan ( Cahaya Di Ujung Kegelapan )

Dihamili Pria Arogan ( Cahaya Di Ujung Kegelapan )
Kamu ingin menikahi saya bukan !!!


__ADS_3

Ridzwan memang tidak mengerti tujuan eyang putrinya yang memintanya untuk datang kurang dari dua puluh lima menit, tapi apapun itu alasannya Ridzwan tetap melaksanakan apa yang di perintahkan eyang nya.


Beruntung kunci mobil Ridzwan yang memegang dan jika jalanan sedang normal hanya butuh waktu dua puluh menit untuk nya sampai di rumah sakit tempat Rania di rawat.


Ridzwan memacu mobil nya dengan kecepatan penuh berharap eyang putrinya bisa memberikan kabar baik untuknya, karena Ridzwan tau jika eyangnya sangat menyayangi dirinya dan juga ayahnya melebihi sayangnya pada om wildan.


" tinggal sepuluh menit lagi waktu yang Ridzwan punya untuk bisa sampai di ini " ucap Wildan pada ibunya, tapi tangannya menggenggam tangan Rania seolah sama sama memberikan kekuatan agar Ridzwan gagal untuk bisa datang tepat waktu.


" maafkan mas.. kalo bukan karena balas Budi mas tidak akan pernah mengorbankan cinta kita " ucap Wildan yang entah kenapa ini saat terakhir dirinya bisa sedekat ini dengan Rania.


" lalu apa yang harus Rania lakukan jika sampai Ridzwan datang ke rumah sakit " ucap Rania yang kini sudah duduk bersandar menghadap pintu kamarnya.


" kamu harus mau menikah dengan Ridzwan dan bantu dia untuk bisa sembuh dari mati surinya itu " ucap Bu sila yang bersikeras mendorong Rania untuk bisa mengobati cucunya.


" lalu jika Ridzwan sudah sembuh dia berhak meninggalkan saya iya ?" tanya Rania yang merasa hanya di manfaatkan untuk kesembuhan Ridzwan bukan tulus dari hati Ridzwan yang ingin menikahinya.


" kalo itu tergantung Klin berdua, atau jika memang kamu mau kamu bisa menikah dengan Wildan setelah Ridzwan sembuh.


" BU..." bentak Wildan yang merasa marah saat ibunya memandang rendah Rania di hadapan nya.


" baik lah kita lihat apa Ridzwan bisa.." belum selesai Rania mengucapkan semuanya pintu kamarnya sudah didorong dengan paksa dan munculah Onang yang dari tadi mereka bicarakan.


" iya eyang ada apa ?" tanya Ridzwan yang tiba tiba saja datang tepat di menit ke dua puluh lima.


Rania yang masih menggenggam tangan Wildan malah mempererat genggaman tangannya bahkan bukan hanya genggam tangannya saja yang kuat tapi air mata nya juga yang mengalir semakin deras.


" ran, kamu sudah mau menikah dengan ku ?" tanya Ridzwan langsung sambil menatap Rania dan tak lama tatapannya turun ke tangan Rania dan Wildan yang masih bertaut.


" Wil .. " Bu sila seolah menagih apa yang di ucapkan anak tirinya jika Ridzwan bisa datang sebelum waktu yang iya tentukan.

__ADS_1


" sayang .. " Wildan mengecup punggung tangan Rania yang masih iya genggam dengan erat.


" kamu tau apa itu takdir " ucap Wildan yang untuk kedua kalinya harus melepaskan cinta nya untuk orang lain tapi kali ini terasa begitu berat untuk Wildan lakukan.


Rania mengangguk sambil berurai air mata. andai Wildan tau jika ini adalah cinta pertama yang Rania rasakan seumur hidupnya, tapi tragisnya cinta itu tidak bisa bersatu meski mereka saling mencintai.


" dan kamu harus percaya jika memang kita berjodoh, selama apapun dan sejauh apapun kita melangkah dan melewati kehidupan ini kelak tuhan pasti bisa mempersatukan dengan jalan yang tidak akan kita sangka sangka "


ucap Wildan sambil mencium kening Rania tepat di hadapan Ridzwan dan juga Bu sila andai mereka tidak di liputi rasa egois dalam diri, mereka pasti bisa melihat bagaimana cinta diantara Rania dan juga Wildan yang selain menguatkan satu sama lain.


Tapi sayang keegoisan keduanya sudah membuatkan mata hati mereka, terlebih Ridzwan yang tiba tiba saja merasa cemburu dengan apa yang di lakukan om nya pada Rania.


" sudah om, Rania akan menikah dengan Ridzwan" ucap Ridzwan sambil melepaskan genggaman tangan keduanya.


Setelah tautan tangannya terlepas, wildan pun beranjak dari duduknya dan kini berdiri tepat di hadapan ibu yang iya anggap ibu kandung nya tapi ternyata hanya ibu tiri yang kini sedang meminta balasan atas kasih sayang yang iya berikan selama ini.


" ini adalah harga terakhir yang Wildan bayar atas setiap kasih sayang yang pernah ibu berikan dan juga Wildan rasakan selama ini " ucap Wildan sambil menatap ibu yang begitu iya sayangi.


" mas pamit sayang .. semoga kamu selalu di berikan kekuatan dari setiap orang yang ingin berusaha menzalimi kamu " ucap Wildan tanpa ingin berpamitan dengan ibunya atau pun keponakan nya.


Rania hanya bisa memejamkan matanya dan membiarkan cairan bening mengalir di sela sela matanya.


Sedangkan Bu sila yang melihat kepergian Wildan sejujurnya merasa kasihan dengan keputusan yang iya ambil yang begitu merugikan Wildan, tapi iya harap jika suatu saat Wildan bisa memahaminya.


" baik lah.. kamu ingin menikahi saya bukan? " ucap Rania sambil menghapus kasar air mata yang terus saja mengalir di pipinya.


" ayo kita menikah dan kita selesaikan semuanya dengan cepat, jika perlu saya akan seperti ja Lang yang menjajakan diri di hadapan kamu agar kamu puas menghancurkan saya " ucap Rania sambil bangkit dari tempat tidur nya setelah melepaskan jarum infus nya.


Tanpa memperdulikan Ridzwan dan juga Bu sila, Rania pergi meninggalkan ruangannya dan meski sempat tertahan oleh suster tapi saat Ridzwan mengangkat tangannya memberi kode jika iya akan membereskan semuanya, akhirnya Rania bisa pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah Wildan.

__ADS_1


Sampai di lobi rumah sakit Rania pun memilih menggunakan taksi untuk bisa sampai di rumah Wildan untuk membawa Raja pergi dari sana, Sedangkan Bu sila dan Ridzwan masih mengikuti Rania dari belakan mobil taksi yang Rania tumpangi.


" ibu ..." Raja dan Talia berebut memeluk Rania yang mendadak pulang, tapi Raja dan Talia tidak melihat ayahnya di belakang ibu mereka, karena penasaran akhirnya Talia pun menanyakan keberadaan ayahnya.


" Bu ayah.. mana ?" tanya Talia, sedangkan Rania hanya bisa menarik Talia kedalam pelukan nya,menyalurkan semua rasa luka yang baru saja di goreskan oleh Bu sila dan juga Ridzwan.


" ibu titip ayah, maaf jika selama ini ibu pernah marah atau mungkin nyakitin Kaka " ucap Rania sambil membelai wajah gadis yang sudah iya anggap putrinya.


" mungkin ini saatnya ibu dan Raja untuk pergi, jangan tanya kemana ibu akan pergi " ucap Rania yang masih membelai pipi Talia.


" tapi yang harus kakak tau jika ibu sayaaaang banget sama Kaka dan ayah.." ucap Rania yang kembali memeluk Talia bahkan kini keduanya sudah berurai air mata.


" kakak bisa nelpon ibu kapanpun, dan jangan lupa selalu ingatkan ayah untuk tidak telat makan "


" ibu sayang sama Kaka sama ayah..."


Setelah mengucapkan itu Rania pun memanggil Raja yang kini sedang duduk sambil memegang robot yang di belikan Wildan saat ulang tahun pertamanya.


" ayo sayang kita pulang " ucap Rania tanpa menjelaskan apapun pada Raja.


" ibu sama Raja pamit ya.. kakak harus bisa jaga diri dan jaga ayah juga ya.." ucap Rania sambil mencium kening Talia begitu lama.


Meski lumayan berjarak tapi Ridzwan dan Bu sila bisa melihat Talia dan Rania yang sudah sangat begitu dekat, tapi tak mengubah apapun mereka seolah menutup hati atas apa yang mereka lihat.


" ayo ..saya sudah siap...


✍️✍️✍️ apa Rania akan diam saja saat Ridzwan kembali melukainya terlebih luka itu Ridzwan berikan di hatinya yang paling dalam..🤔🤔 lagian egois banget sih 😤😤


Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi.


Love you moreeeee 😍😍🌹


__ADS_2