Dihamili Pria Arogan ( Cahaya Di Ujung Kegelapan )

Dihamili Pria Arogan ( Cahaya Di Ujung Kegelapan )
Mulai Mencurigai...


__ADS_3

Andai saja Rania mengikuti saran suaminya untuk di temani, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi dimana sekarang Rania sedang menjalani operasi di bagian kelapa karena benturan keras yang Rania alami akibat kecelakaan tadi.


" om.. bagaimana bisa Rania sampai tertabrak mobil ?" tanya Ridzwan yang baru saja tiba setelah dikabari oleh om wildan sedangkan mutia merasa bersalah karena Rania akan pergi menemui nya sehingga Rania jadi seperti ini.


" om juga tidak tau, yang om tau Rania menghubungi om di nomor darurat yang om pasang khusus untuk Rania " ucap Wildan sambil menatap ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup.


" Kita doakan saja semoga Rania bisa kuat melewati semua ini " ucap Wildan yang juga menguatkan hatinya.


" om... maafkan Mutia " ucap Mutia dengan wajah yang tertunduk lesu.


" jika bukan karena ingin bertemu dengan Mutia, Rania tidak akan sampai seperti ini " ucap Mutia.


Ridzwan yang melihat wajah penyesalan Mutia pun meraih pinggang Mutia.


" semuanya sudah takdir sayang dan aku yakin jika Rania bisa melewatinya " ucap Ridzwan.


" om apa harus Mutia memberi kabar pada Tante Lucia ?" Wildan menatap Mutia saat mendengar nama wanita yang sudah mengusik ketenangan Rania.


" apa kamu yakin jika itu ibu Rania ?" tanya Wildan sambil menatap tajam Mutia.


" Mutia yakin om, meski untuk memastikannya harus ada tes yang harus Rania dan Tante Lucia lewati, tapi Mutia sangat yakin akan hal itu " ucap Mutia lagi.


" lalu kemana saja Tante mu itu selama ini ?" tanya Wildan yang sedikit penasaran.


" Tante mengira jika Rania telah meninggal dua puluh tahun lalu " ucap Mutia menjelaskan apa yang iya ketahui.


" apa kamu tau cerita detailnya ?" tanya Wildan berharap bisa mengetahui apa yang selama ini di sembunyikan rania.


" maaf om.. Mutia tidak tau pasti, tapi yang mutia tau Tante Lucia kehilangan Rania saat kecil dan di temukan dalam keadaan telah meninggal dunia " ucap Mutia.


" huhhh " Wildan memejamkan matanya karena sepertinya masalah Rania tidak lah sesederhana ini, bahkan kini Rania sampai terluka seperti ini.


" tapi sebaiknya Tante Lucia kita beritahu, karena jika memang ada yang ingin menyakiti Rania kita bisa saling menjaga Rania " ucap Mutia yang tidak ingin kehilangan kesempatan mendekat kan tantenya dengan Rania.


" tapi bagaimana jika orang orang di sekeliling Tante kamu tidak menerima Rania dan malah ingin menyakiti Rania ? apa kamu bisa bertanggung jawab ?" tanya Wildan lagi.

__ADS_1


Mutia pun membetulkan apa yang di ucapkan om Wildan tadi karena saat Rania masih baik baik saja mereka tidak yakin jika Rania adalah Dyandra yang hilang, apa lagi ini Rania yang saat ini terluka parah.


" keluarga nona Rania ?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi Rania.


" saya suaminya dok " ucap Wildan yang kini sudah berada di depan dokter yang menangani Rania.


" nona rania kekurangan banyak darah, dan kebetulan golongan darah nona Rania di rumah sakit ini sedang menipis jadi keluarga nya harus mencari golongan darah yang sama, dan kami membutuhkannya segera " ucap dokter yang tadi menangani Rania.


Wildan terhuyung ke belakang saat mendengar penjelasan dokter tapi Mutia sigap langsung menghubungi Tante nya karena bagaimana pun Tante Lucia harus tau kondisi anaknya terlebih Rania kekurangan banyak darah.


" halo Tante .. bisa datang ke rumah sakit Harapan ?" tanya Mutia yang sedang di tatap oleh om Wildan.


" ada apa sayang ? kamu baik baik saja kan ?" tanya Tante Lucia yang memang sangat menyayangi Mutia.


" nanti Mutia jelaskan, yang pasti Mutia tunggu Tante di rumah sakit sekarang " ucap Mutia yang tak ingin membuat tantenya semakin khawatir.


" ok.. Tante berangkat sekarang ya " ucap Tante Lucia sambil menutup sambungan telepon nya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit yang di tunjukan Mutia.


" sayang mau kemana ?" tanya pak Wilman yang baru saja masuk ke kamarnya.


" mau ketemu Mutia, Mutia menunggu ku sekarang " ucap Tante Lucia singkat.


" luci berangkat dulu ya " ucap Tante Lucia, tak ingin tinggal diam pak Wilman pun mengikuti istrinya meski dari jarak yang aman agar istrinya tidak menyadari keberadaan nya.


" vit apa kmu tau kemana warga membawa Rania ?" tanya pak Wilman yang sedang mengemudikan mobilnya sambil menelpon anak buahnya.


" maaf pak saya tidak tau karena saya langsung meninggalkan lokasi agar warga tidak menyadari saya berada di lokasi " ucap Vito apa adanya.


Tanpa banyak berbicara pak Wilman langsung menutup sambungan telepon setelah mendengar penjelasan dari anak buahnya.


" Rumah sakit Harapan ?" ucap pak wilman saat melihat istrinya memasuki pelataran rumah sakit TK ingin ketinggalan jejak Wilman terus mengikuti istrinya masih dengan jarak yang aman.


Tante Lucia pun mulai memasuki rumah sakit setelah mendapatkan arahan dari Mutia melalui sambungan telepon nya yang baru saja tersambung.


" sayang.. kamu ngga papa kan ?" tanya Tante Lucia yang kini sudah berada di hadapan Mutia Ridzwan dan juga Wildan.

__ADS_1


" Mutia ngga papa Tante " ucap Mutia sambil menggenggam tangan tantenya.


" tapi Rania sedang membutuhkan donor darah " ucap Mutia dengan wajah tertunduk.


" Rania ? kenapa dengan Rania ?" tanya Tante Lucia sambil memegang kedua lengan Mutia.


" ada yang mencoba menyakiti Rania " ucap pak Wildan yang dari tadi hanya diam saja.


" apa maksud kamu ?" tanya Tante Lucia pada laki laki yang iya tau dekat dengan anaknya.


" Rania menghubungi saja lewat panggilan darurat tapi belum juga saya datang Rania sudah tertabrak mobil saat akan menyelamatkan diri " ucap pak Wildan yang sedari tadi merangkai kejadian yang di alami Rania meski hanya tebakannya saja.


" sekarang Rania membutuhkan donor darah, dan saya harap jika anda memang ibu kandungnya darah anda dan Rania cocok sehingga anda bisa mendonorkan darah anda untuk istri saya " ucap Wildan tegas.


" baik lah saya akan mendonorkan darah saya untuk Dyandra karena memang darah saya dan Dyandra sama " ucap Tante Lucia yakin jika Rania memang anaknya yang hilang dulu.


Tante Lucia pun di antar oleh suster untuk melakukan transfusi darah setelah melakukan kecocokan antara dirinya dan juga Rania.


Sedangkan di ruang yang sama tapi tanpa ada yang menyadari pak Wilman terus memantau apa yang terjadi di sana seolah menunggu semua orang lengah menjaga Rania yang masih kritis.


" bukan kah itu om Wilman ?" tanya Mutia saat mengenali sosok suami dari tantenya.


" siapa sayang ?" tanya Ridzwan sambil mengikuti arah mata istrinya.


" aku seperti melihat suami dari Tante Lucia, tapi kenapa seolah olah dia sedang memantau kita ?" tanya Mutia sambil pura pura melihat ke sembarang arah.


" maksud kamu apa ?" tanya pak Wildan yang tak sengaja mendengar ucapan Mutia pada Ridzwan.


" entah lah om... tapi yang pasti kita harus ekstra hati-hati menjaga Rania karena sepertinya apa yang om ucapkan pada Tante tadi ada benarnya " ucap Mutia yang merasa jika suami dari tantenya punya niat tidak baik pada Rania.


" lihat saja jika sampai dia berani menyentuh Rania, akan ku patahkan tangannya...


✍️✍️✍️hai....hai...hai... maaf ya up-nya masih belum lancar...


Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi.


Love you moreeeee 😍😍🌹


__ADS_2